PENGANGKATAN BENDA MUATAN KAPAL TENGGELAM
(1) Pengangkatan BMKT dilakukan melalui tahapan:
a. pengambilan BMKT; dan
b. pemindahan BMKT.
(2) Pengangkatan BMKT sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) harus dilakukan penanganan BMKT.
(3) Pengangkatan BMKT sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dilakukan oleh Pelaku Usaha.
(1) Pengambilan BMKT sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) huruf a dilakukan melalui penyelaman.
(2) Penyelaman sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan memperhatikan:
a. kondisi BMKT;
b. ekosistem laut; dan
c. keselamatan manusia.
(1) Kondisi BMKT sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) huruf a merupakan gambaran awal BMKT dan lingkungan di sekitarnya.
(2) Gambaran awal BMKT dan lingkungan di sekitarnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan dalam perencanaan Pengangkatan BMKT.
(3) Gambaran awal BMKT dan lingkungan di sekitarnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit memuat:
a. jenis BMKT;
b. jumlah BMKT;
c. kedalaman BMKT; dan
d. letak/posisi BMKT.
(1) Ekosistem laut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) huruf b meliputi terumbu karang, ikan, dan/atau lamun di dalam area kerja pengambilan BMKT sesuai koordinat yang ditetapkan.
(2) Terhadap ekosistem laut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan identifikasi:
a. luasan terumbu karang, populasi ikan, dan/atau lamun; dan
b. dampak pengambilan BMKT terhadap ekosistem laut.
(3) Identifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) dilakukan oleh tenaga ahli yang memiliki kepakaran di
bidang ekosistem laut.
(4) Tenaga ahli sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus memiliki sertifikat penyelaman.
(1) Keselamatan manusia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) huruf c terdiri atas:
a. tenaga kerja di atas kapal;
b. tenaga kerja yang melakukan pengambilan BMKT;
dan
c. masyarakat yang melakukan kegiatan di sekitar lokasi pengambilan BMKT.
(2) Dalam rangka keselamatan manusia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam melakukan pengambilan BMKT harus:
a. dilengkapi dengan prasarana dan sarana yang paling sedikit meliputi:
1. peralatan keselamatan dan kesehatan kerja (K3); dan
2. unit medical check up.
b. dilaksanakan sosialisasi atau pemberitahuan kepada masyarakat yang melakukan kegiatan di sekitar lokasi pengambilan BMKT.
(1) Pemindahan BMKT sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) huruf b dilakukan dari kapal ke tempat Penyimpanan BMKT.
(2) Pemindahan BMKT sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a. Pengepakan BMKT; dan
b. pengangkutan.
(3) Pemindahan BMKT sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara hati-hati untuk mencegah kerusakan BMKT.
(1) Pengepakan BMKT sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) huruf a dilakukan dalam rangka persiapan pemindahan dari kapal ke Tempat Penyimpanan BMKT.
(2) Pengepakan BMKT sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan untuk mencegah benturan fisik BMKT dengan menggunakan media Pengepakan BMKT yang aman.
(3) Media Pengepakan BMKT sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berupa:
a. alat pembungkus;
b. keranjang plastik;
c. kontainer plastik;
d. kontainer besi; dan/atau
e. kayu.
(4) Pengepakan BMKT sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikelompokkan sesuai dengan jenis dan material BMKT.
(1) Pengangkutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) huruf b dilakukan dalam rangka memindahkan BMKT yang telah dilakukan Pengepakan BMKT dari kapal ke Tempat Penyimpanan BMKT.
(2) Pengangkutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menggunakan kendaraan angkut di darat, laut, dan/atau udara.
(3) Pengangkutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit memperhatikan:
a. moda transportasi; dan
b. jarak dan waktu tempuh.
(4) Pelaksanaan pengangkutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus didampingi oleh:
a. Polsus PWP-3-K; dan
b. petugas yang ditunjuk oleh Direktur Jenderal atau pejabat yang ditunjuk.
(1) Penanganan BMKT sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) dilakukan di:
a. kapal; dan
b. gudang penyimpanan.
(2) Penanganan BMKT di kapal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dilakukan dengan cara:
a. pembersihan;
b. perendaman; dan
c. Pengepakan BMKT.
(3) Penanganan BMKT di gudang penyimpanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dilakukan dengan cara:
a. perendaman lanjutan;
b. pengklasifikasian;
c. pemberian identitas; dan
d. Penyimpanan BMKT.
(4) Penanganan BMKT di kapal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan gudang penyimpanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b harus menjaga keutuhan BMKT sesuai dengan kondisi pada saat ditemukan.
(5) Dalam hal penanganan BMKT sebagaimana dimaksud pada ayat (4) tidak sesuai dengan kondisi pada saat ditemukan maka dilakukan pencatatan dalam berita acara yang ditandatangani manajer lapangan Pelaku Usaha dan Polsus PWP-3-K.
(6) Berita acara sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dengan format tercantum dalam Lampiran II yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
(1) Pembersihan BMKT di kapal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (2) huruf a dilakukan untuk:
a. identifikasi awal material BMKT; dan/atau
b. mengeluarkan pasir, lumpur, dan/atau algae yang menempel pada BMKT.
(2) Pembersihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan cara:
a. menyemprot;
b. menyiram;
c. menyikat; dan/atau
d. mengayak.
(3) Pembersihan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan dengan menggunakan air laut.
(4) Terhadap BMKT yang telah dibersihkan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan perhitungan jumlah dan Pencatatan BMKT.
(1) Perendaman BMKT di kapal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (2) huruf b merupakan kegiatan lanjutan setelah dilakukan pembersihan BMKT.
(2) Perendaman BMKT di kapal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan untuk menjaga kondisi BMKT dari perubahan lingkungan.
(3) Perendaman sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan menggunakan air laut dan/atau air tawar yang ditempatkan di dalam wadah tertentu.
Pengepakan BMKT sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat
(2), ayat (3), dan ayat (4) berlaku secara mutatis mutandis dengan Pengepakan BMKT sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (2) huruf c.
(1) Perendaman lanjutan BMKT di gudang penyimpanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (3) huruf a dilakukan untuk menghilangkan kadar garam dalam BMKT.
(2) Perendaman lanjutan BMKT sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan menggunakan air tawar yang diganti secara rutin.
(1) Pengklasifikasian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (3) huruf b disusun berdasarkan:
a. material;
b. kategori; dan
c. ukuran BMKT.
(2) Material sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a berupa bahan baku BMKT.
(3) Kategori sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b berupa jenis, fungsi, motif, dan/atau atribut BMKT.
(4) Ukuran BMKT sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf c paling sedikit berupa panjang, lebar, tinggi, ketebalan dan/atau diameter BMKT.
(1) Pemberian identitas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat
(3) huruf c merupakan lanjutan dari pengklasifikasian BMKT.
(2) Pemberian identitas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui:
a. pengodean; dan
b. pelabelan.
(1) Pengodean sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat
(2) huruf a dituangkan dalam basis data.
(2) Pengodean sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) memuat:
a. nama provinsi;
b. nama perairan;
c. material;
d. submaterial;
e. kategori;
f. subkategori; dan
g. nomor urut BMKT.
(3) Basis data sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit memuat:
a. pengodean sebagaimana dimaksud pada ayat (2);
b. tahun pengangkatan;
c. pelaku usaha yang melakukan Pengangkatan BMKT;
d. titik koordinat lokasi pengambilan BMKT;
e. penanggalan sejarah BMKT; dan
f. foto BMKT.
(4) Pengodean sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) tercantum dalam Lampiran III yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
(1) Pelabelan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2) huruf b merupakan kode BMKT yang dicetak dan ditempelkan pada BMKT.
(2) Kode BMKT sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dikonversi ke dalam sistem barcode.
(1) Penyimpanan BMKT sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (3) huruf d meliputi:
a. Pengepakan BMKT; dan
b. penataan.
(2) Pengepakan BMKT sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dilakukan untuk keperluan melindungi BMKT dari kerusakan.
(3) Pengepakan BMKT sebagaimana dimaksud pada ayat (2) menggunakan media berupa:
a. alat pembungkus;
b. keranjang plastik;
c. kontainer plastik;
d. kontainer besi; dan/atau
e. kayu.
(4) Pengepakan BMKT sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dikelompokkan sesuai dengan jenis dan material BMKT.
(5) Penataan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dilakukan untuk kerapihan, estetika, efisiensi ruang, dan kemudahan pencarian.
(1) Penanganan BMKT di gudang penyimpanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1) huruf b harus dilakukan pada gudang penyimpanan yang layak dan aman.
(2) Gudang penyimpanan yang layak dan aman sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memiliki kriteria yang tercantum dalam Lampiran IV yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
(1) Pencatatan BMKT dan Pendokumentasian BMKT dilakukan terhadap Pengambilan BMKT sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) huruf a dan Pemindahan BMKT sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) huruf b.
(2) Pencatatan BMKT dan Pendokumentasian BMKT sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a. Pencatatan BMKT dan Pendokumentasian BMKT pada saat pengambilan BMKT;
b. Pencatatan BMKT dan Pendokumentasian BMKT pada saat di kapal; dan
c. Pencatatan BMKT dan Pendokumentasian BMKT pada saat pemindahan dari kapal ke Tempat Penyimpanan BMKT.
(1) Pencatatan BMKT dan Pendokumentasian BMKT pada saat pengambilan BMKT sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (2) huruf a dilakukan oleh penyelam yang melakukan pengambilan BMKT.
(2) Pencatatan BMKT dan Pendokumentasian BMKT pada saat pengambilan BMKT sebagaimana dimaksud ayat (1) dilakukan pada setiap penyelaman.
(3) Penyelam sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencatat BMKT dengan menggunakan:
a. komputer selam; dan
b. alat tulis.
(4) Komputer selam sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a paling sedikit memuat informasi:
a. lokasi penyelaman;
b. tanggal penyelaman;
c. kondisi cuaca saat penyelaman;
d. waktu penyelaman;
e. kedalaman;
f. jarak pandang dalam air;
g. arus; dan
h. suhu perairan.
(5) Alat tulis sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b digunakan oleh penyelam untuk mencatat informasi paling sedikit:
a. peralatan yang digunakan;
b. kondisi cuaca saat penyelaman;
c. nomor Transek Kuadran; dan
d. jenis, material, dan jumlah BMKT yang diambil.
(6) Informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dan ayat
(5) selanjutnya dituangkan ke dalam log book harian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (10).
(1) Pencatatan BMKT dan Pendokumentasian BMKT pada saat di kapal sebagaimana dimaksud Pasal 22 ayat (2) huruf b dilakukan oleh penyelam atau petugas yang ditujuk oleh Pelaku Usaha.
(2) Pencatatan BMKT dan Pendokumentasian BMKT pada saat di kapal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan setelah pembersihan BMKT.
(3) Penyelam dan/atau petugas yang ditujuk oleh Pelaku Usaha sebagaimana dimaksud ayat (1) mencatat BMKT menggunakan:
a. alat tulis; dan/atau
b. alat pengolah data.
(4) Pencatatan BMKT dan Pendokumentasian BMKT pada saat di kapal sebagaimana dimaksud pada ayat (2) paling sedikit meliputi:
a. asal lokasi pengangkatan BMKT;
b. jumlah BMKT;
c. jenis BMKT;
d. material BMKT; dan
e. nomor keranjang/kontainer penyimpanan.
(1) Pencatatan BMKT dan Pendokumentasian BMKT pada saat pemindahan dari kapal ke Tempat Penyimpanan BMKT sebagaimana dimaksud Pasal 22 ayat (2) huruf c dilakukan oleh Pelaku Usaha.
(2) Pencatatan BMKT dan Pendokumentasian BMKT pada saat pemindahan dari kapal ke Tempat Penyimpanan BMKT sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan pada saat BMKT diturunkan dari kapal dan pada saat BMKT tiba di Tempat Penyimpanan BMKT.
(3) Pelaku Usaha sebagaimana dimaksud ayat (1) melakukan Pencatatan BMKT dan Pendokumentasian BMKT menggunakan:
a. alat tulis; dan/atau
b. alat pengolah data.
(4) Pencatatan BMKT dan Pendokumentasian BMKT pada saat pemindahan dari kapal ke Tempat Penyimpanan BMKT sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit memuat:
a. asal lokasi pengangkatan BMKT;
b. jumlah BMKT;
c. jenis BMKT;
d. material BMKT;
e. waktu Pencatatan BMKT;
f. moda transportasi;
g. ukuran BMKT; dan
h. tujuan/lokasi Tempat Penyimpanan BMKT.
(1) Pendokumentasian BMKT sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (2) dilakukan melalui pengambilan foto.
(2) Pendokumentasian BMKT melalui pengambilan foto sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan untuk keperluan basis data BMKT.
(3) Pengambilan foto sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan pada sisi depan, atas, dan bawah.
(4) Selain menggunakan foto, Pendokumentasian BMKT sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat juga menggunakan video.
(1) Hasil Pencatatan BMKT dan Pendokumentasian BMKT sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat
(2) dilaporkan kepada Direktur Jenderal setiap 14 (empat belas) hari kalender.
(2) Hasil Pencatatan BMKT dan Pendokumentasian BMKT sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan verifikasi keabsahan data oleh:
a. petugas yang ditunjuk oleh Direktur Jenderal atau pejabat yang ditunjuk; dan
b. Polsus PWP-3-K.
(3) Hasil verifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dengan format tercantum dalam Lampiran V dan Lampiran VI yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.