Peraturan Badan ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahui, memerintahkan pengundangan Peraturan Badan ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik INDONESIA.
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 21 Oktober 2024
Plt. KEPALA BADAN METEOROLOGI,
KLIMATOLOGI, DAN GEOFISIKA,
Œ
DWIKORITA KARNAWATI
Diundangkan di Jakarta pada tanggal Д
PLT. DIREKTUR JENDERAL PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KEMENTERIAN HUKUM REPUBLIK INDONESIA,
Ѽ
ASEP N. MULYANA
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2024 NOMOR Ж
LAMPIRAN I PERATURAN BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA
NOMOR 5 TAHUN 2024 TENTANG PENGAMATAN DAN PENGELOLAAN DATA KEMAGNETAN BUMI
TATA CARA PENGAMATAN KEMAGNETAN BUMI
I.
Pengamatan Magnet Bumi Absolut A. Persiapan Pengamatan
1. Petugas melakukan pengecekan ada atau tidak fenomena badai magnetik, dengan cara:
a. Mengecek K-Indeks pada laman Badan;
b. Jika saat pengamatan absolut terjadi gangguan pada fluxgate magnetometer sehingga sulit mendapatkan nilai 0, maka mengecek kembali lingkungan sekitar pilar absolut apakah terdapat sumber gangguan magnet bumi; dan
c. Jika tidak ada sumber gangguan magnet bumi di sekitar pilar absolut, tetapi masih sulit mendapatkan nilai 0, maka mengecek kembali sinyal variometer apakah terdapat badai magnet bumi atau tidak.
2. Petugas melakukan sinkronisasi jam digital dengan waktu pada variometer.
B. Levelling Theodolite
1. Petugas melakukan levelling pada theodolite menggunakan gelembung levelling yang panjang di bawah teleskop. Putar badan theodolite secara horizontal sampai gelembung tersebut sejajar dengan dua sekrup kaki di bawah dasar theodolite. Sesuaikan dua sekrup kaki tersebut secara bersamaan, putar salah satu sekrup kaki searah jarum jam dan lainnya berlawanan arah jarum jam hingga gelembung berada di tengah-tengah skala.
Gambar 1. Langkah pertama levelling
2. Petugas memutar badan theodolite secara horizontal sejauh 180°dan menunggu gelembung hingga stabil. Petugas mencatat di mana gelembung berhenti. Umumnya, gelembung tidak akan berhenti di tengah-tengah skala. Hal ini karena gelembung levelling mempunyai sebuah error, bahkan ketika theodolite dalam posisi level, gelembung tetap memiliki offset. Offset ini adalah error level. Petugas menyesuaikan 2 (dua) sekrup kaki yang sama dengan sebelumnya hingga gelembung berada setengah jalan seperti Gambar 2.
Gambar 2. Langkah kedua levelling
3. Petugas memutar kembali badan theodolite sejauh 180° kembali ke posisi awal dan memastikan bahwa gelembung berada pada posisi yang sama seperti level error pada langkah 2. Jika tidak, ulangi dari langkah pertama, menggunakan posisi gelembung saat ini.
Gambar 3. Langkah ketiga levelling
4. Petugas memutar badan theodolite 90° dan menggunakan sekrup kaki ke 3 (tiga) untuk mengatur gelembung pada posisi yang sama pada level error pada langkah 3.
Gambar 4. Langkah keempat levelling
5. Petugas memutar theodolite 180° dan menunggu gelembung stabil.
Gelembung seharusnya berada pada posisi level error seperti langkah 3 dan langkah 4. Jika tidak, ulangi kembali dari step pertama menggunakan posisi gelembung saat ini. Dengan mengulangi langkah 2 hingga langkah 5, hal ini memungkinkan untuk melevelkan theodolite sedemikian rupa sehingga gelembung tetap pada posisi level error yang sama ketika theodolite diputar 360°.
Gambar 5. Langkah kelima levelling.
C. Pembacaan Theodolite
Gambar 6. Bagian theodolite Zeiss (sebelah kiri) dan theodolite WILD T1 (sebelah kanan)
1. Theodolite Zeiss
Gambar 7. Layar tampilan skala pada theodolite Zeiss
a. Gunakan kenop tengah (CSS) untuk memilih pembacaan skala secara horizontal (titik ke arah bawah) atau vertikal (titik ke arah atas). Dua skala tersebut dapat dibedakan pada layar pembacaan skala. Jika pembacaan horizontal maka layar berwarna biru dan jika vertikal layar berwarna kuning.
b. Gunakan kenop paling atas pada sisi theodolite (vernier adjust) untuk mengatur garis-garis pada skala Vernier. Nilai pada kotak sebelah kanan pada layar tampilan skala hanya akan valid ketika garis-garis sebelah atas dan bawah pada kotak sebelah bawah layar sejajar.
c. Baca derajat dari kotak sebelah kiri atas pada layar tampilan skala. Bacalah angka yang tampil penuh pada kotak. Pada contoh Gambar 7, sebagian angka untuk 198 dan seluruh angka untuk 199 tampil pada kotak. Pembacaan yang benar untuk skala derajat pada gambar tersebut yaitu 199°.
d. Baca nilai puluhan dari menit dari kotak tengah pada layar tampilan skala dan baca satuannya pada kotak sebelah kiri di bagian kanan.
Sehingga pada Gambar 7 nilai menit pembacaaannya adalah 28’.
e. Bacalah detik angka dari garis skala pada kotak sebelah kanan di bagian kanan. Nilai detik pembacaan pada Gambar 7 adalah 47”.
2. Theodolite WILD T1
Gambar 8. Layar tampilan skala pada theodolite WILD T1
a. Skala pembacaan horizontal dan vertikal tampil secara bersamaan sehingga pemilihan manual diperlukan. Pembacaan skala horizontal memiliki warna kuning pada layar dan skala vertikal berwarna putih.
b. Gunakanlah kenop paling atas (vernier adjust) untuk mengatur garis tunggal diantara pasangan garis tetap pada skala derajat.
Nilai skala pada kotak sebelah kanan pada layar akan benar ketika garis tunggal ini tepat di posisi tengah.
c. Baca derajat horizontal pada kotak sebelah kiri bawah atau kotak ‘Hz’, ketika garis tunggal secara tepat berada di tengah-tengah pasangan garis tetap.
d. Baca menit pembacaan dari kotak sebelah kanan. Sehingga, nilai pembacaan pada Gambar 8 yaitu 28’.
e. Baca detik pembacaan dengan menginterpolasi posisi segitiga yang berada pada nilai. Pada Gambar 8, segitiga berada 2/3 antara 45” dan 48” sehingga nilai pembacaan detik yaitu 47”.
D. Penggunaan Theodolite untuk Menentukan Titik yang Sudah Diketahui
1. Petugas melepaskan klem horizontal dan memutar badan theodolite dengan tangan sampai nilai derajat yang diperlukan tampil pada kotak sebelah kiri di layar pembacaan skala.
2. Petugas mengunci kembali theodolite dengan klem horizontal dan menggunakan kenop Horizontal Fine Adjust untuk memutar theodolite secara halus sampai nilai puluhan dari menit yang diperlukan tampil pada salah satu kotak di tengah layar pembacaan skala.
3. Petugas menggunakan kenop teratas pada sisi theodolite atau Vernier Adjust untuk mengatur nilai satuan menit dan detik yang diperlukan pada kotak sebelah kanan di layar pembacaan skala.
4. Petugas menggunakan kenop horizontal fine adjust untuk mensejajarkan garis-garis yang ada di bawah kotak tengah pada layar pembacaan skala.
5. Petugas mengecek kembali derajat menit, detik dan memastikan sesuai dengan nilai yang diperlukan. Jika belum sesuai, maka menggunakan horizontal fine adjust untuk memutar theodolite hingga sesuai.
Catatan:
Untuk mengatur teleskop pada pembacaan vertikal, lakukan prosedur yang sama seperti di atas namun gunakan klem vertikal dan vertical fine adjust.
E. Penggunaan Theodolite untuk Menentukan Deklinasi dan Inklinasi
1. Petugas melakukan pembacaan titik tetap dengan cara melepaskan kedua klem vertikal dan horizontal theodolite, lalu memutar teleskop kurang lebih mengarah ke titik tetap. Telescope sight dapat digunakan untuk membidik titik tetap secara kasar.
2. Petugas mengunci kembali klem theodolite vertikal dan horizontal serta menggunakan kenop fine adjustment untuk menyelaraskan garis silang pada teleskop ke titik tetap.
3. Petugas memfokuskan teleskop untuk melihat titik tetap secara jelas dengan memfokuskan garis silang menggunakan cincin pemutar yang ada di eyepiece teleskop, kemudian menggunakan cincin pemutar besar yang ada di badan teleskop untuk memfokuskan bidikan titik tetap.
4. Di atas cemin pada sisi badan theodolite terdapat lingkaran vertikal yang menonjol. Jika lingkaran tersebut berada di sebelah kiri ketika membidik titik tetap menggunakan teleskop, maka pembacaannya disebut circle left (CL). Jika lingkaran tersebut berada di sebelah kanan, maka pembacaannya disebut circle right (CR). Baca nilai skala dengan pembacaan horizontal seperti yang dijelaskan pada bagian B dan asisten pengamat mencatat nilai tersebut pada form pengamatan.
5. Petugas melepaskan klem horizontal dan memutar badan theodolite sejauh 180°.
6. Petugas melepaskan klem vertikal dan membalikkan teleskop sehingga teleskop kembali membidik titik tetap, tetapi dengan lingkaran vertikal berada di sisi yang berlawanan. Ulangi langkah 1 sampai dengan 4.
Catatan:
Tiap set dari CR dan CL dilakukan 1 atau 2 kali dengan segera sebelum pembacaan deklinasi dan sekali setelahnya untuk mengecek bahwa theodolite tidak bergerak selama dilakukan pengamatan
7. Setelah pembacaan titik tetap selesai, lakukan pengukuran deklinasi.
Hubungkan kabel sensor magnetometer pada theodolite ke kotak elektronik dan nyalakan.
8. Pembacaan komponen West Up (WU).
a. Petugas melepaskan klem vertikal dan horizontal dan mengarahkan teleskop ke arah barat (west) dengan sensor magnetometer di atas teleskop dan teleskop dalam keadaan level/mendatar;
b. Pada skala pembacaan vertikal arahkan teleskop pada nilai 90° 00’ 00’’, menggunakan kenop paling atas pada sisi theodolite (vernier adjust) untuk mengatur garis-garis pada skala vernier (nilai menit dan detik 00). Pada nilai tersebut teleskop pada posisi mendatar;
c. Petugas mengunci klem vertikal;
d. Petugas memutar badan theodolite ke kiri atau kanan hingga nilai bacaan magnetometer dekat dengan nilai 0, kemudian mengunci klem horizontal;
e. Petugas menggunakan horizonal fine adjust untuk memutar theodolite secara halus hingga pembacaan magnetometer mendekati nilai 0. Hal ini merupakan kesempatan yang baik untuk mengecek noise magnetic karena benda magnetik apapun harus berada cukup jauh dari sensor, sehingga tidak mengganggu pembacaan pada magnetometer. Ketika sudah stabil, Petugas memberikan aba-aba kepada asisten Petugas untuk mencatat waktu.
f. Petugas mencatat jam, menit, dan detiknya dalam UTC (gunakan penunjuk waktu/jam yang telah disesuaikan) dan nilai skala pembacaan horizontal pada kolom WU pada form pengamatan.
9. Pembacaan komponen East Down (ED)
a. Petugas melepaskan klem vertikal dan membalikkan teleskop sehingga menghadap ke timur (east) dan sensor magnetometer berada di bawah teleskop. Setting pembacaan skala vertikal dengan nilai 270° 00’ 00” menggunakan kenop paling atas pada sisi theodolite (vernier adjust) untuk mengatur garis-garis pada skala vernier (nilai menit dan detik 00);
b. Petugas mengunci klem vertikal;
c. Petugas menggunakan horizontal fine adjust untuk memutar theodolite secara halus hingga pembacaan magnetometer mendekati nilai 0 atau tunggu waktu tepat menunjukan menit baru (pada detik 00). Kemudian, Petugas memberikan aba-aba kepada Petugas untuk mencatat waktu.
d. Petugas mencatat jam, menit, dan detiknya dalam UTC waktu pengukuran dan nilai skala pembacaan horizontal pada orientasi ED.
10. Pembacaan komponen West Down (WD)
a. Petugas melepaskan klem horizontal dan memutar theodolite sejauh 180° sehingga mendekati arah barat (west) dengan sensor magnetometer di bawah teleskop;
b. Setting nilai skala vertikal 270° 00’ 00” menggunakan kenop paling atas pada sisi theodolite (vernier adjust) untuk mengatur garis- garis pada skala Vernier (nilai menit dan detik 00);
c. Petugas memutar badan theodolite ke kiri atau kanan hingga nilai bacaan magnetometer dekat dengan nilai 0;
d. Petugas mengunci klem horizontal;
e. Petugas menggunakan horizontal fine adjust untuk memutar theodolite secara halus hingga pembacaan magnetometer
mendekati nilai 0 atau tunggu waktu tepat menunjukan menit baru (pada detik 00). Kemudian, Petugas memberikan aba-aba kepada Petugas untuk mencatat waktu.
f. Petugas mencatat jam, menit, dan detiknya dalam UTC waktu pengukuran dan nilai skala pembacaan horizontal pada orientasi WD.
11. Pembacaan komponen East Up (EU)
a. Petugas melepaskan klem vertikal dan membalikan teleskop sehingga mengarah ke timur (east) dengan sensor magnetometer berada di atas teleskop;
b. Setting pembacaan skala vertikal dengan nilai 90° 00’ 00” menggunakan kenop paling atas pada sisi theodolite (vernier adjust) untuk mengatur garis-garis pada skala Vernier (nilai menit dan detik 00);
c. Petugas mengunci klem vertikal;
d. Petugas menggunakan horizontal fine adjust untuk memutar theodolite secara halus hingga pembacaan magnetometer mendekati nilai 0 atau tunggu waktu tepat menunjukan menit baru (pada detik 00). Kemudian, Petugas memberikan aba-aba kepada Petugas untuk mencatat waktu.
e. Petugas mencatat jam, menit, dan detiknya dalam UTC waktu pengukuran dan nilai skala pembacaan horisontal pada orientasi EU.
12. Petugas melakukan pengukuran kembali titik tetap dan mencatat pada formulir pengamatan.
13. Petugas menghitung rata-rata dari WU, ED, WD, dan EU untuk mendapatkan nilai meridian pertama, kemudian, meridian kedua diperoleh dengan menambah atau mengurangi rata-rata tersebut dengan 180°. Petugas mencatat nilai meridian tersebut ke formulir pengamatan.
14. Setelah pengukuran deklinasi selesai, selanjutnya Petugas melakukan pengukuran inklinasi.
15. Pembacaan komponen North Up (NU)
a. Petugas melepaskan klem horizontal dan memutar badan theodolite ke arah utara (north) dengan sensor magnetometer berada di atas teleskop;
b. Petugas menggunakan pembacaan skala horizontal dan mengarahkan ke nilai pembacaan meridian pertama serta gunakan kenop paling atas pada sisi theodolite (vernier adjust) untuk mengatur garis-garis pada skala vernier agar nilai menit dan detiknya sesuai dengan nilai meridian pertama;
c. Petugas mengunci klem horizontal;
d. Petugas melepaskan klem vertikal dan memutar teleskop ke atas atau bawah hingga pembacaan magnetometer mendekati nilai 0;
e. Petugas mengunci klem vertikal;
f. Petugas menggunakan vertical fine adjust untuk menggerakan teleskop secara halus hingga pembacaan magnetometer mendekati nilai 0 atau tunggu sampai waktu tepat menunjukan menit baru (detik 00), kemudian, Petugas memberikan aba-aba kepada Petugas untuk mencatat waktu;
g. Petugas mencatat jam, menit, dan detiknya dalam UTC waktu pengukuran dan nilai skala pembacaan horizontal pada orientasi NU (North Up) di formulir pengukuran;
h. Petugas mengambil data magnetik intensitas total (komponen F) dari peralatan PPM overhauser (proton stasioner) pada waktu
yang sama dengan pembacaan NU, lalu ditambahkan dengan nilai site difference (dapat dilakukan setelah selesai pengukuran).
16. Pembacaan komponen South Down (SD)
a. Petugas melepaskan klem vertikal dan membalikkan teleskop sehingga menghadap ke selatan dengan sensor magnetometer berada dibawah;
b. Petugas melepaskan klem vertikal dan memutar teleskop ke atas atau bawah hingga pembacaan magnetometer mendekati nilai 0;
c. Petugas mengunci klem vertikal;
d. Petugas menggunakan vertical fine adjust untuk menggerakan teleskop secara halus hingga pembacaan magnetometer mendekati nilai 0 atau tunggu sampai waktu tepat menunjukan menit baru (detik 00), kemudian, Petugas memberikan aba-aba kepada Petugas untuk mencatat waktu.
e. Petugas mencatat jam, menit, dan detiknya dalam UTC waktu pengukuran dan nilai skala pembacaan horisontal pada orientasi SD;
f. Petugas mengambil data magnetik intensitas total (komponen F) dari peralatan PPM overhauser (proton stasioner) pada waktu yang sama dengan pembacaan SD, lalu ditambahkan dengan nilai site difference (dapat dilakukan setelah selesai pengukuran).
17. Pembacaan komponen North Down (ND)
a. Petugas melepaskan klem horizontal dan memutar badan theodolite sejauh 180° sehingga menghadap utara kembali, namun dengan sensor magnetometer berada di bawah;
b. Petugas menggunakan pembacaan skala horizontal dan mengarahkan ke nilai pembacaan meridian kedua, serta menggunakan kenop paling atas pada sisi theodolite (vernier adjust) untuk membantu mengatur garis-garis pada skala vernier agar nilai menit dan detiknya sesuai dengan nilai meridian kedua;
c. Petugas mengunci klem horizontal;
d. Petugas melepaskan klem vertikal dan memutar teleskop ke atas atau bawah hingga pembacaan magnetometer mendekati nilai 0;
e. Petugas mengunci klem vertikal;
f. Petugas menggunakan vertical fine adjust untuk menggerakan teleskop secara halus hingga pembacaan magnetometer mendekati nilai 0 atau tunggu sampai waktu tepat menunjukan menit baru (detik 00), kemudian Petugas memberikan aba-aba kepada Petugas untuk mencatat waktu.
g. Petugas mencatat jam, menit, dan detiknya dalam UTC waktu pengukuran dan nilai skala pembacaan horisontal pada orientasi ND di formulir pengukuran;
h. Petugas mengambil data magnetik intensitas total (komponen F) dari peralatan PPM overhauser (proton stasioner) pada waktu yang sama dengan ND, lalu ditambahkan dengan nilai site difference (dapat dilakukan setelah selesai pengukuran).
18. Pembacaan komponen South Up (SU)
a. Petugas melepaskan klem vertikal dan membalikkan teleskop sehingga menghadap ke selatan dengan sensor magnetometer berada di atas;
b. Petugas melepaskan klem vertikal dan memutar teleskop ke atas atau bawah hingga pembacaan magnetometer mendekati nilai 0;
c. Petugas mengunci klem vertikal;
d. Petugas menggunakan vertical fine adjust untuk menggerakan teleskop secara halus hingga pembacaan magnetometer mendekati nilai 0 atau tunggu sampai waktu tepat menunjukan
menit baru (detik 00), kemudian, Petugas memberikan aba-aba kepada Petugas untuk mencatat waktu.
e. Petugas mencatat jam, menit, dan detiknya dalam UTC waktu pengukuran dan nilai skala pembacaan horisontal pada orientasi SU;
f. Petugas mengambil data magnetik intensitas total (komponen F) dari peralatan PPM overhauser (proton stasioner) pada waktu yang sama dengan pembacaan SU, lalu ditambahkan dengan nilai site difference (dapat dilakukan setelah selesai pengukuran).
F. Pengukuran Site Difference (Pengukuran dilakukan 1 bulan sekali pada minggu awal setiap bulannya)
1. Petugas melepaskan peralatan theodolite DIM dari pilar absolut dan meletakkannya secara berjauhan minimal sekitar 5 meter;
2. Petugas memasang sensor PPM (proton precession magnetometer) portable pada tiang/pilar absolut dengan ketinggian yang sama dengan posisi theodolite;
3. Petugas menyalakan peralatan PPM;
4. Setting waktu dalam format UTC dan melakukan sinkronisasi dengan ntp.bmkg.go.id;
5. Setting cycling pengukuran dengan nilai terendah (1 detik lebih baik);
6. Setting pengukuran base station;
7. Petugas memulai pengukuran minimal selama 1 jam;
8. Setelah selesai, mematikan alat dan melakukan download file hasil pengukuran tersebut;
9. Petugas menghitung selisih nilai medan intensitas total (F) dengan cara mengurangkan hasil pengukuran pilar absolut dikurangi data overhauser pada waktu yang sama (dalam orde detik).
𝐹𝑑𝑖𝑓𝑓= 𝑎𝑣𝑒𝑟𝑎𝑔𝑒(𝐹𝑝𝑖𝑙𝑎𝑟(𝑥) − 𝐹𝑜𝑣𝑒𝑟ℎ𝑎𝑢𝑠𝑒𝑟(𝑥))
II. Pembuatan Baseline untuk Data Quasi-Definitive dan/atau Data Definitive Magnet Bumi Pembuatan baseline untuk quasi-definitive dan/atau data definitive magnet bumi dilakukan oleh Petugas dengan rincian sebagai berikut:
a. Data Provisional menggunakan baseline sementara yang diperoleh selama pengamatan 7 (tujuh) hari.
b. Data Quasi Definitive menggunakan baseline sementara yang diperoleh selama pengamatan minimal 3 (tiga) bulan.
c. Data Definitive menggunakan baseline final yang diperoleh selama pengamatan 1 (satu) tahun.
Berdasarkan rincian tersebut di atas, berikut tata cata pembuatan baseline untuk quasi-definitive dan/atau data definitive magnet bumi dilakukan oleh Petugas dengan rincian sebagai berikut:
a. Petugas setelah melakukan penginputan data pengamatan absolut, kemudian membuat baseline dengan cara membuka file yang berisi hasil pengamatan absolut (PYSTR dengan ekstensi *.txt) dan/atau file baseline (ekstensi *.blv) pada program MagPy: Main Menu → File → Open File → pilih data.
Gambar 9. Load data hasil pengamatan absolut pada program MagPy
b. Tunggu hingga muncul grafik titik-titik pengamatan absolut.
Gambar 10. Grafik titik-titik pengamatan absolut.
c. Petugas melakukan fitting baseline melalui tab Analysis dan mengklik Fit.
Tersedia empat macam metode untuk fitting data, yaitu spline, polynomial, linear least-squares, dan mean.
Gambar 11. Metode fitting data
d. Menggunakan metode polynomial dan memilih orde polinomialnya.
Pemilihan orde polinomial harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak terjadi overfitting atau underfitting.
Gambar 12. Contoh baseline overfitting. Baseline tidak stabil dan terlalu mengikuti pola perubahan titik-titik pengamatan absolut (data terlalu fluktuatif)
Gambar 13. Contoh baseline underfitting. Baseline stabil namun tidak mengikuti pola perubahan titik-titik pengamatan absolut
Gambar 14. Contoh baseline yang baik. Baseline stabil dan mengikuti pola perubahan titik-titik pengamatan absolut namun perubahan yang diikuti adalah perubahan jangka panjangnya, bukan perubahan dalam jangka pendek.
e. Petugas memeriksa logbook, jika terdapat peristiwa atau kegiatan yang menyebabkan pergeseran baseline (pemasangan sensor, reorientasi sensor, perubahan titik tetap, dan lain-lain), maka membuat diskontinuitas baseline dengan memasukkan tanggal dan waktu berlakunya baseline (sejak data pertama hingga data terakhir sebelum peristiwa terjadi), kemudian mengklik Apply.
Gambar 15. Membuat diskontinuitas baseline.
Jika terjadi reorientasi sensor pada tanggal 13 Juni 2018 jam 09.00 UTC, maka membuat 2 (dua) baseline seperti berikut:
Gambar 16. Langkah untuk membuat 2 (dua) baseline.
Hasilnya adalah sebagai berikut:
Gambar 17. Hasil dari pembuatan dua baseline
Jika fitting baseline dianggap belum baik dan kita ingin me-reset fitting baseline, klik tab Data dan klik Restore data.
f. Jika fitting baseline dianggap sudah baik, simpan data baseline dengan cara:
File → Export data → simpan sebagai file BLV
Gambar 18. Export data baseline.
g. Pembuatan baseline ini harus dilakukan setiap selesai melakukan pengamatan absolut dan menginputnya ke dalam program MagPy.
h. Petugas menyimpan data quasi-definitive dan/atau data definitive, dengan cara melakukan load data provisional yakni:
Main Menu → File → Open File → pilih data dengan ekstensi psec.sec atau pmin.min
i. Pada tab Analysis klik tombol Baseline dan klik Adopt Baseline
Gambar 19. Adopt Baseline.
Akan muncul window Adopted baseline, klik OK.
Gambar 20. Tampilan jika hasil adopt baseline berhasil
j. Petugas melakukan koreksi data provisional dengan mengklik tab Data dan mengklik “Baseline Corr” maka data akan berubah nilainya.
k. Sebelum menyimpan data, cek nilai Delta F dengan cara mengklik tab Analysis dan mengklik Delta F. Pastikan grafik Delta F tidak membentuk trend kenaikan atau penurunan dan nilainya ± 5 nT untuk data menitan dan ± 2.5 nT untuk data detikan.
Gambar 21. Grafik Delta F
l. Petugas menyimpan data dengan cara: File → Export data → pilih format IAGA.
m. Petugas melakukan export data ke folder baru dengan cara: mengklik “Change directory” dan pilih folder “D:\Database\Tahun\Bulan\IAGA\qsec” untuk data detikan atau “D:\Database\Tahun\Bulan\IAGA\qmin” untuk data menitan Quasi Definitive, dan folder “D:\Database\Tahun\Bulan\IAGA\dsec” untuk data detikan atau “D:\Database\Tahun\Bulan\IAGA\dmin” untuk data menitan Definitive. Data yang sudah dimasukan pada folder tersebut akan otomatis tersinkron ke server data magnet bumi di Badan.
n. Petugas mengklik pada bagian Export Options. Pada bagian “Name(s) end with..” isikan dengan qmin.min jika data adalah data menitan, dan qsec.sec jika data dalam interval sampling satu detik dengan tipe Quasi- Definitive dan dmin.min atau dsec.sec jika datanya tipe Definitive.
III. Pembuatan Laporan Quality Control Pengamatan Magnet Bumi Absolut Badan melakukan quality control pengamatan magnet bumi absolut terhadap nilai deklinasi, inklasi, dan medan total magnet dengan rincian sebagai berikut:
a. Sudut Deklinasi (D) yakni sudut antara utara sebenarnya dan jarum kompas (utara magnet);
b. Sudut Inklinasi (I) yakni sudut kemiringan antara jarum kompas dengan bidang horizontal; dan
c. Medan magnet total (F) yakni menunjukkan besarnya medan vektor magnet total.
IV. Quality Control Data Hasil Pengamatan Magnet Bumi Absolut Quality control dilakukan atas data hasil pengamatan magnet bumi absolut yang dikirimkan oleh pihak yang melakukan pengamatan magnet bumi absolut.
Kegiatan quality data dimaksud dilaksakan dengan tata cara sebagai berikut:
a. Petugas membuka laman monitoring hasil pengamatan magnet bumi absolut pada link berikut: http://202.90.198.224:8181/absolute/
Gambar 22. Laman data hasil pengamatan magnet bumi absolut.
b. Login dengan menggunakan username dan password khusus untuk user dari Badan.
c. Petugas memilih menu sesuai dengan nama stasiun yang ingin dilakukan quality control data hasil pengamatan absolutnya.
Gambar 23. Tampilan menu sesuai dengan nama stasiun.
d. Petugas memastikan bahwa nilai deviasi pengamatan komponen D dan I magnet bumi kurang dari 1° dan nilai deviasi pengamatan komponen F magnet bumi kurang dari 50 nT.
e. Apabila nilai komponen D, I dan F tidak memenuhi kriteria sebagaimana dimaksud dalam huruf d, maka Petugas menghubungi stasiun yang bersangkutan untuk mengulangi pengamatan absolut dan mengirimkan kembali data hasil pengamatan absolut pada laman yang dikelola oleh Badan. Jika nilai telah memenuhi kriteria, maka quality control data selesai.
Plt. KEPALA BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI, DAN GEOFISIKA,
Ttd.
DWIKORITA KARNAWATI
LAMPIRAN II PERATURAN BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA
NOMOR 5 TAHUN 2024 TENTANG PENGAMATAN DAN PENGELOLAAN DATA KEMAGNETAN BUMI
FORMAT PENGUMPULAN DATA
I.
Konversi dan Pengiriman Data RAW Variasi Harian Magnet Bumi Menjadi Format IAGA-2002 ke Server Badan A. Petugas memastikan file IAGA-2002 dengan resolusi 1 detik dan 1 menit terbentuk otomatis di folder “D:\Database\Tahun\Bulan\IAGA\vsec” untuk data 1 detik, dan folder “D:\Database\Tahun\Bulan\IAGA\vmin” untuk data 1 menit. Data ini otomatis terbentuk setiap hari dan unggah setiap 5 menit serta telah menggabungkan data variometer dan data overhauser menjadi satu file.
Gambar 1. Folder data IAGA-2002
B. Jika data tidak terbentuk, Petugas melakukan konversi data secara manual dengan membuka command prompt, dengan cara:
1. Data periode detik D: → pindah ke drive D.
Cd programs → pindah ke folder programs di drive D.
Python to_IAGA_sec.py 0 → konversi ke IAGA-2002 1 detik untuk hari ini.
Python to_IAGA_sec.py 1 → konversi ke IAGA-2002 1 detik data 1 hari yang lalu.
Python to_IAGA_sec.py 2 → konversi ke IAGA-2002 1 detik data 2 hari yang lalu.
Angka di belakang menunjukkan hari ke berapa dari hari ini yang akan dikonversi ke format IAGA-2002. Jika lebih dari 2 hari, menyesuaikan angka dibelakang dengan selisih hari yang dimaksud.
2. Data periode menit D: → pindah ke drive D.
Cd programs → pindah ke folder programs di drive D.
Python to_IAGA_min.py 0 → konversi ke IAGA-2002 1 menit untuk hari ini.
Python to_IAGA_min.py 1 → konversi ke IAGA-2002 1 menit data 1 hari yang lalu.
Python to_IAGA_min.py 2 → konversi ke IAGA-2002 1 menit data 2 hari yang lalu.
Angka di belakang menunjukkan hari ke berapa dari hari ini yang akan dikonversi ke format IAGA-2002. Jika lebih dari 2 hari, menyesuaikan angka dibelakang dengan selisih hari yang dimaksud.
Gambar 2. Proses konversi data.
Output data yang dihasilkan dari proses konversi manual ini memiliki direktori yang sama dengan proses konversi otomatis.
C. Proses konversi data variometer ke format 1min, 1s, dan raw berjalan otomatis menggunakan Task Scheduler. Jika terjadi kendala seperti proses konversi tidak berjalan, maka melakukan konversi secara manual menggunakan command prompt dengan cara:
D: → pindah ke drive D cd sync_data → pindah ke folder sync_data di drive D python konversi.py 0 → konversi ke format 1min, 1s, dan raw untuk hari ini python konversi.py 1 → konversi ke format 1min, 1s, dan raw data 1 hari yang lalu python konversi.py 2 → konversi ke format 1min, 1s, dan raw data 2 hari yang lalu Angka di belakang menunjukkan hari ke berapa dari hari ini. Jika lebih dari 2 hari, menyesuaikan angka dibelakang dengan selisih hari yang dimaksud.
D. Proses pengiriman data 1min, 1s, raw, IAGA-2002 1 menit atau IAGA- 2002 1 detik juga berjalan secara otomatis menggunakan Task Scheduler.
Jika terjadi kendala seperti proses konversi tidak berjalan, maka melakukan konversi secara manual menggunakan command prompt dengan cara:
D: → pindah ke drive D cd sync_data → pindah ke folder sync_data di drive D Double klik file upload.bat Catatan:
Pastikan file upload.bat tidak teridentifikasi sebagai virus/malware oleh antivirus yang terinstall di komputer.
II.
Konversi Data Magnet Bumi Format IAGA-2002 Menjadi Format IAFV (INTERMAGNET) serta Pembacaan Data Menggunakan Aplikasi GM- CONVERT dan IMCDVIEW.
A. Aplikasi IMCDView yang dimaksud berbasis java dan terhimpun menjadi satu bundel installer yang disebut INTERMAGNET Software Installer.
Adapun INTERMAGNET Software Installer ini (wajib) membutuhkan Java SE Development Kit minimal versi 11, sehingga jika belum terpasang di Personal Computer (PC), maka INTERMAGNET Software Installer sebelumnya tidak akan dapat terpasang (menunjukkan pop-up message error). Adapun perangkat lunak Java SE Development Kit versi 11 tersebut dapat diunduh di halaman berikut :
https://www.oracle.com/java/technologies/javase/jdk11-archive- downloads.html
Gambar 3. Tampilan Website Oracle
Setelah diunduh, maka pasang perangkat lunak Java SE Development Kit tersebut ke PC dengan mengikuti prosedur.
B. Petugas menyiapkan file instalasi INTERMAGNET Software Installer dan melakukan instalasi aplikasi (jika belum terpasang di PC). Aplikasi IMCDView tersedia di laman INTERMAGNET pada halaman berikut:
https://geomag.bgs.ac.uk/data_service/intermagnet/home.html Memilih installer yang mencakup keseluruhan dari aplikasi INTERMAGNET yang dibutuhkan (utamanya adalah gm-convert dan IMCDView), yakni INTERMAGNET Software Installer :
Gambar 4. Unduh INTERMAGNET Software Installer
Jika sudah diunduh, memasang aplikasinya hingga selesai dengan mengikuti prosedurnya. Jika sudah terinstal, maka folder instalasinya akan berisikan data sebagai berikut:
Gambar 5. Tampilan folder perangkat lunak INTERMAGNET Software Installer
C. Buka aplikasi “gm_convert-1.6”, klik Next pada langkah 1 seperti di bawah ini :
Gambar 6. Langkah 1 penggunaan perangkat lunak gm_convert-1.6
D. Selanjutnya memilih folder yang telah berisikan data magnet definitive berformat IAGA-2002, kemudian centang opsi “Select IAGA-2002 format files” seperti gambar di bawah ini. Hal ini dilakukan karena Lampiran Peraturan Badan ini menjelaskan cara konversi data magnet format IAGA-2002 ke format IAF (INTERMAGNET Archive Format). Namun jika ingin melakukan konversi dari file dengan format lain, maka centang file dengan format yang bersangkutan (misal .cdf, DKA, dll). Kemudian klik tombol Next.
Gambar 7. Langkah 2 penggunaan perangkat lunak gm_convert-1.6.
E. Kemudian, pilihlah file-file data magnet definitive berformat IAGA-2002 (pada contoh Lampiran Peraturan Badan ini digunakan file IAGA-2002 per menit berekstensi .dmin) yang akan dikonversikan menjadi file binary berformat IAF, kemudian klik Next
Gambar 8. Langkah 3 penggunaan perangkat lunak gm_convert-1.6.
F. Pilih INTERMAGNET archive (CD/DVD) format pada kolom Output Format:
Gambar 9. Langkah 4 penggunaan perangkat lunak gm_convert-1.6.
Pilih (browse) folder tempat menyimpan file hasil konversinya. Pilih persentase banyaknya data yang hilang (missing) yang diizinkan untuk dapat dirata-ratakan (secara default 10%). Kemudian pada panel INTERMAGNET Archive Format Options, dapat dipilih output yang ingin dihasilkan (secara opsional).
Gambar 10. Tampilan INTERMAGNET Archive Format Options
Pilihlah opsi As Found in Source Data. Lalu, klik Next.
G. Tunggu aplikasi menyelesaikan konversi datanya hingga selesai.
Gambar 11. Langkah 5 penggunaan perangkat lunak gm_convert-1.6.
H. Selanjutnya, klik Finish
Gambar 12. Langkah 6 penggunaan software gm_convert-1.6.
I.
File yang sudah dikonversi akan tersimpan pada folder yang telah dipilih sebelumnya (sesuai Langkah 6).
Gambar 13. Data terbentuk pada folder yang telah dipilih.
J. File yang telah tersimpan, dapat dibaca atau di-plot menggunakan aplikasi IMCDView. Caranya adalah dengan membuka aplikasi IMCDView pada folder instalasi INTERMAGNET Software Installer.
Gambar 14. Buka software IMCDView
K. Setelah dibuka, maka tampilan aplikasinya adalah sebagai berikut.
Gambar 15. Tampilan awal perangkat lunak IMCDView.
L. Aplikasi IMCDView digunakan untuk melihat grafik variasi medan magnet bumi / Indeks K, baik dari data magnet format IAGA-2002, IAF, Indeks-K (format DKA), atau format INTERMAGNET lainnya. Untuk dapat melihat grafik variasi medan magnet bumi ini, import terlebih dahulu ke data dalam aplikasi IMCDView dengan cara Klik Database pada toolbar > Pilih Import Data.
Gambar 16. Import data untuk melihat grafik variasi harian
M. Kemudian, klik Next
Gambar 17. Langkah 1 penggunaan perangkat lunak IMCDView.
N. Pilih folder yang berisikan data IAF yang ingin di-import ke dalam aplikasi IMCDView ini.
Gambar 18. Langkah 2 penggunaan perangkat lunak IMCDView.
Hasil konversi IAF terletak pada folder yang sama dengan file input-nya.
Kemudian, klik Next.
Gambar 19. Tampilan data format IAGA-2002 dan IAF dalam satu folder.
O. Selanjutnya, melakukan pemilihan data magnet yang akan di-import.
Pilih dengan cara mencentang file-nya. Semua file magnet berformat IAGA-2002 dan IAF di atas telah tercentang otomatis karena pada langkah sebelumnya sudah dilakukan cek/centang pada opsi file tersebut. Jika sudah dipilih, klik Next.
Gambar 20. Langkah 3 penggunaan perangkat lunak IMCDView
P. Kemudian, tunggu sampai proses konversi file selesai (hingga 100%). Klik Next
Gambar 21. Langkah 4 penggunaan perangkat lunak IMCDView File berformat IAF hasil konversi menggunakan gm-convert File berformat IAGA-2002 (.dmin) sebelum dikonversi menjadi file
Q. Lalu, pilih folder tempat penyimpanan data yang akan ditampilkan.
Centang add data source to main program, agar data masuk ke database aplikasi IMCDView. Kemudian, klik Next.
Gambar 22. Langkah 5 penggunaan perangkat lunak IMCDView
R. Selanjutnya, klik Finish
Gambar 23. Langkah 6 penggunaan peangkat lunak IMCDView
S. Pada menu utama aplikasi, pilih View > Explorer Window. Pilih direktori dari folder yang berisikan data yang muncul pada tab “INTERMAGNET CD Explorer” nya. Jika pada tab “INTERMAGNET CD Explorer” belum muncul direktori folder menuju file yang telah di-import (seperti di atas), maka lakukan penambahan data kembali.
Gambar 24. Tampilan ketika belum muncul direktori file yang telah di import
T. Penambahan data IMPORT dapat dilakukan dengan klik Database > Select Data Source. Kemudian klik Select Directory.
Gambar 25. Tahapan untuk penambahan data import.
U. Kemudian akan muncul pop-up message dan juga tab baru seperti berikut
Gambar 26. Tampilan pop-up message
Pada Gambar 26 di atas menunjukkan bahwa direktori file Import sudah masuk ke dalam database aplikasi IMCDView. Adapun pop-up message Database Error List di atas akan menunjukkan pesan error yang kosong jika telah sukses dikonversi. Selanjutnya, klik OK.
Gambar 27. Tampilan pop-up message database error list.
V. Ulangi lagi langkah pada huruf S, yakni pilih View > Explorer Window, maka data direktori file yang di-import telah muncul pada tab “INTERMAGNET CD Explorer”:
Gambar 28. Tampilan tab INTERMAGNET CD Explorer
W. Lakukan breakdown pada direktori penyimpanan
Gambar 29. Tampilan breakdown direktori penyimpanan
Data dengan format IAF akan muncul dengan format SSSDDMMM.bin (SSS = Kode stasiun, DD = angka tanggal, MMM = nama singkatan bulan). Kemudian data dapat dilihat Grafik per komponennya dengan memilih menu Data Plot. Selesai.
Gambar 30. Tampilan grafik data magnet bumi.
Catatan:
Jika lupa akan folder yang berisikan data import, maka dapat melakukan scan data magnet yang telah di-import agar secara otomatis terinput dengan cara klik menu View > Database Explorer dari aplikasi IMCDView. Scan data dapat dilakukan pada awal aplikasi dibuka (startup) berikut
Gambar 31. Tampilan untuk melakukan scan data
Plt. KEPALA BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI, DAN GEOFISIKA,
Ttd.
DWIKORITA KARNAWATI
LAMPIRAN III PERATURAN BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA
NOMOR 5 TAHUN 2024 TENTANG PENGAMATAN DAN PENGELOLAAN DATA KEMAGNETAN BUMI
TATA CARA ANALISIS DATA KEMAGNETAN BUMI
I.
Pembuatan Laporan Quality Control Data Quasi-Definitive dan Data Definitive Magnet Bumi.
A. Load data quasi defitinitive dan atau definitive dengan format IAGA-2002 ke dalam MagPy dan memastikan tidak ada noise, spike atau jump yang masih ada di data tersebut.
B. Untuk melakukan quality control data baseline, load data dengan format BLV dan pastikan tidak ada outlier pada titik-titik pengamatan absolut, dan baseline yang terbentuk tidak overfitting atau underfitting. Cek jika ada diskontinuitas pada baseline.
Gambar 32. Contoh baseline overfitting.
Baseline tidak stabil dan terlalu mengikuti pola perubahan titik-titik pengamatan absolut (baseline fluktuatif)
Gambar 1. Contoh baseline underfitting.
Baseline stabil namun tidak mengikuti pola perubahan titik-titik pengamatan absolut
Gambar 2. Contoh baseline yang baik.
Baseline stabil dan mengikuti pola perubahan titik-titik pengamatan absolut namun perubahan yang diikuti adalah perubahan jangka panjangnya, bukan perubahan dalam jangka pendek.
C. Untuk pengiriman data ke INTERMAGNET, ada struktur data yang harus diikuti, yakni:
a. Data magnet bumi definitive satu tahun dengan format IAF (Intermagnet Archive Format) yang dibagi menjadi 12 bulan (ada 12 file dalam satu tahun);
b. Data baseline tahunan dengan format BLV;
c. Data rata-rata tahunan dengan format IYFV (Intermagnet Yearmean Format Value);
d. Data K-Indeks satu tahun dengan ekstensi .dka;
e. File teks berisi informasi metadata stasiun dan peralatan pengamatan;
Seluruh file dari poin a hingga poin e disatukan dalam satu folder dengan nama folder adalah kode stasiun.
D. Untuk membuat data definitive dengan format IAF, load data magnet bumi definitive dengan format IAGA-2022 dan pilih data selama satu bulan.
E. Simpan data dengan cara :
File →Export data→pilih format IAF lalu klik Write.
Gambar 3. Export data menjadi format IAF
Ulangi hal yang sama untuk data pada bulan-bulan berikutnya.
F. Setelah data sudah disusun sebagaimana langkah 3, cek data definitive tersebut menggunakan MagPy. Klik Extra dan pilih Check Definitive Data
Gambar 4. Tampilan menu Extra
Pilih folder berisi file-file pada langkah 3.
Gambar 5. Tampilan menu Checking definitive data
Lalu Klik Run Check G. Proses pengecekan data akan dilakukan dalam beberapa tahap. Pastikan tidak ada error pada setiap tahap yang ditandai dengan warna hijau jika pada tahap tersebut tidak ada masalah, warna oranye jika terdapat peringatan (cek dan catat peringatan yang muncul). Jika ada masalah atau data error maka akan muncul warna merah (cek dan catat error yang muncul).
H. Proses pengecekan ini dilakukan dalam tujuh tahap:
a. Pengecekan folder dan file
b. Pengecekan file dan informasi header
c. Pengecekan isi dan konsistensi data menitan
d. Pengecekan isi dan konsistensi data detikan
e. Pengecekan baseline
f. Pengecekan file rata-rata tahunan dan konsistensi dengan metadata
g. Pengecekan indeks aktivitas kemagnetan bumi
Klik Continue untuk melangkah ke tahap-tahap selanjutnya
Gambar 6. Contoh hasil pengecekan pada data yang baik
Gambar 7. Contoh hasil pengecekan pada data yang terdapat error
I.
Hasil pengecekan dapat disimpan dengan klik Save.
II.
Pembuatan Laporan Quality Control Data Variasi Harian Magnet Bumi.
A. Petugas membuka aplikasi Magpy lalu load data baseline dengan format BLV Main Menu → File → Open File → pilih data baseline (.BLV).
B. Load data variasi dengan format IAGA-2002 (vsec untuk data 1 second dan vmin untuk data 1 menit) di folder “D:\Database\Tahun\Bulan\IAGA\vsec” atau “D:\Database\Tahun\Bulan\IAGA\vmin”.
Main Menu → File → Open File → pilih data
Gambar 8. Load data variasi pada aplikasi MagPy
C. Petugas melakukan pengecekan jika terdapat data yang mengalami gangguan
Gambar 9. Pengecekan data yang mengalami gangguan
D. Petugas menghilangkan data yang terganggu (berupa spike) dengan flagging. Klik tab Flag, pilih Flag Outlier lalu masukkan nilai Threshold dan lebar window, lalu klik Apply.
Gambar 10. Tools Flag untuk menghilangkan data yang mengalami terganggu
E. Tunggu hingga muncul titik kuning pada data yang terganggu. Lalu klik Drop Flagged
Gambar 11. Menghilangkan data yang mengalami terganggu
F. Jika data yang terganggu tidak terpilih secara otomatis, ulangi langkah 3 dengan mengatur nilai Threshold dan lebar window yang berbeda hingga data yang terganggu terpilih untuk dihapus.
Gambar 12. Data yang telah bebas gangguan
G. Jika gangguan data berupa jump, identifikasi besarnya offset di masing- masing komponen. Ubah tampilan data menjadi komponen XYZ dengan klik tab Data dan pada bagian “Select components” klik HDZ kemudian klik XYZ.
Gambar 13. Pilihan komponen XYZ untuk mengubah tampilan data
Berikut contoh data yang teridentifikasi besarnya offset di komponen X sebesar 30 nT, komponen Y sebesar -15 nT dan komponen Z sebesar 20 nT pada tanggal 1 April 2019 mulai dari pukul 09:54:00 UTC hingga 13:20:00 UTC.
Gambar 14. Data yang mengalami gangguan jump
H. Klik tab Analysis dan klik Offsets. Pilih Apply offsets to : timerange dan masukkan starting tanggal 1 April 2019 pukul 09:54:00 UTC dan ending tanggal 1 April 2019 pukul 13:20:00 UTC. Pada kolom xyz, isikan nilai offset sebesar nilai offset pada langkah 7 dikalikan -1. Lalu klik Apply.
Gambar 15. Analisis data yang mengalami gangguan jump
I.
Tampilan data akan berubah dan data kembali normal.
Gambar 16. Tampilan data yang normal setelah analisis data yang mengalami gangguan jump
30 nT -15 nT 20 nT
J. Jika data yang terganggu berupa random noise dan rentang waktunya panjang, zoom pada bagian data yang terganggu
Gambar 17. Tampilan data yang mengalami gangguan pada rentang waktu yang Panjang
K. Tombol Zoom ada dibagian bawah kiri window aplikasi magpy.
Gambar 18. Tools Zoom di bagian kiri bawah window
L. Klik Flag Selection, pilih komponen yang akan di tandai dan pilih “3:
remove data” untuk menghapus bagian tersebut. Pada bagian Comment isikan keterangan sumber gangguan data tersebut jika diketahui. Jika tidak, isikan “Sumber gangguan tidak diketahui”. Lalu klik Apply.
Gambar 19. Menghapus data yang mengalami gangguan
M. Petugas memastikan data pada window yang terpilih tadi berubah warna menjadi merah
Gambar 20. Tampilan data yang akan dihapus berubah menjadi merah
N. Klik Drop flagged untuk menghapus bagian tersebut.
Gambar 21. Tampilan data yang telah dihapus
O. Jika masih ada bagian data yang mengalami gangguan (random noise), ulangilah langkah pada huruf J sampai dengan huruf N.
P. Jika data sudah bersih, masukkan informasi baseline sementara dengan cara klik tab Analysis, kemudian klik tombol Baseline dan klik Adopt Baseline.
Gambar 22. Memasukkan informasi baseline sementara
Q. Akan muncul window Adopted baseline, klik OK.
Gambar 23. Tampilan jika informasi baseline sementara berhasil dimasukkan
R. Petugas melakukan koreksi data variasi dengan klik tab Data dan klik “Baseline Corr” maka data akan berubah nilainya.
S. Sebelum menyimpan data, cek nilai Delta F dengan cara klik tab Analysis dan klik Delta F. Pastikan grafik Delta F tidak membentuk trend kenaikan atau penurunan dan nilainya ± 5 nT untuk data menitan dan ± 2.5 nT untuk data detikan.
Gambar 24. Pengecekan nilai Delta F sebelum penyimpanan data
T. Simpan data ini dengan cara:
File → Export data → pilih format IAGA U. Export data ke folder baru dengan klik “Change directory” dan pilih folder “D:\Database\Tahun\Bulan\IAGA\psec” untuk data detikan atau “D:\Database\Tahun\Bulan\IAGA\pmin” untuk data menitan
Gambar 25. Penyimpanan data
V. Klik pada bagian Export Options. Pada bagian “Name(s) end with..” isikan dengan pmin.min jika data adalah data menitan, dan psec.sec jika data dalam interval sampling satu detik.
Gambar 26. Penamaan file yang akan disimpan
W. Klik Apply dan klik Write.
X. Proses pengecekan atau quality control dan penyimpanan data menjadi data provisional (pmin dan psec) ini dilakukan setiap hari, meskipun pada data variasi (vsec dan vmin) tidak didapati adanya gangguan.
Data provisional yang sudah dimasukkan ke folder “D:\Database\Tahun\Bulan\IAGA\psec” dan “D:\Database\Tahun\Bulan\IAGA\pmin” akan otomatis tersinkron ke server data magnet bumi di Badan Catatan: Jika sampling rate data overhauser di UPT adalah 1 detik, maka data provisional yang diolah adalah data detikan (*.psec) dan menitan (*.pmin). Namun, jika sampling rate data overhauser di UPT lebih besar dari 1 detik, maka data provisional yang diolah hanya data menitan (*.pmin).
III.
Pengolahan Data Magnet Bumi Absolut.
A. Instalasi XMAGPY
1. Petugas memasang program magpy-1.0.0 dengan cara meng-klik dua kali pada ikon aplikasi seperti gambar dibawah ini, lalu tunggu sampai instalasi selesai.
Gambar 27. Pemasangan program magpy 1.0.0.exe
2. Petugas melakukan update versi xmagpy ke dalam versi 1.1.6 dengan cara:
a. Klik Start Menu → App → Magpy → command
Gambar 28. Update xmagpy ke dalam versi 1.1.6 menggunakan command prompt
b. Klik kanan command → run as administrator
Gambar 29. Update xmagpy dengan cara run as administrator menu command
c. Ketik perintah berikut “pip install geomagpy==1.1.6” dalam command prompt.
Gambar 30. Update xmagpy dengan cara ketik perintah update pada command prompt.
B. Penginputan Data Pengamatan Absolut Menggunakan Xmagpy
1. Petugas membuka program xmagpy melalui start menu, lalu klik kanan dan pilih run as administrator.
Gambar 31. Menjalankan aplikasi xmagpy
2. Setelah terbuka maka akan muncul tampilan utama program xmagpy, selanjutnya klik Menu Bar DI, kemudian klik Open input sheet
Gambar 32. Membuka formulir input data.
3. Petugas mengisi metadata pengamatan absolut yang berupa Display angle as: decimal / dms, observer (nama pengamat), kode IAGA stasiun, dan lainnya seperti gambar berikut:
Gambar 33. Formulir input data absolut.
Gambar 34. Formulir input data absolut yang telah terisi oleh metadata peralatan
4. Petugas mengisi formulir azimuth pertama
Gambar 35. Formulir input azimuth pertama yang terdiri dari 2 (dua) formulir pengamatan
5. Petugas mengisi formulir pengamatan deklinasi/horizontal
Gambar 36. Form pengamatan deklinasi yang terdiri dari 2 (dua) form pengamatan
6. Petugas mengisi form azimuth kedua
Gambar 37. Formulir input azimuth kedua yang terdiri dari 2 (dua) form pengamatan.
7. Petugas mengisi formulir pengamatan inklinasi/vertical
Gambar 38. Form pengamatan inklinasi yang terdiri dari 2 (dua) form pengamatan.
8. Petugas mengisi formulir untuk nilai total intensity (F)
Gambar 39. Formulir untuk nilai total intensity (F) yang terdiri dari 2 formulir pengamatan.
9. Petugas mengklik save. Selesai
Gambar 40. Tampilan apabila data pengamatan absolut telah tersimpan
C. Pengolahan Data Absolut Menggunakan Xmagpy
1. Pada panel sebelah kanan atas, klik menu DI.
Gambar 41. (a) Tampilan menu DI. (b) Tampilan menu Vario/Scalar (a) (b)
2. Klik tombol DI data, arahkan menuju file input yang sudah tersimpan sesuai point B.
Gambar 42. File input merupakan file yang terbentuk ketika telah melakukan prosedur point B
Klik tombol Vario/Scalar, arahkan ke folder di mana kita menyimpan data format IAGA-2002 dengan ekstensi kita tulis *.sec untuk format data per detik. Kemudian klik continue.
Plt. KEPALA BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI, DAN GEOFISIKA,
Ttd.
DWIKORITA KARNAWATI
LAMPIRAN IV PERATURAN BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA
NOMOR 5 TAHUN 2024 TENTANG PENGAMATAN DAN PENGELOLAAN DATA KEMAGNETAN BUMI
FORMAT PELAPORAN A. DATA MAGNET BUMI HARIAN
1. Format data dalam bentuk file text / ASCII
2. Data yang harus diisi:
Nama Instansi : diisi dengan nama instansi yang melakukan pengamatan magnet bumi Lintang : diisi dengan lintang geografis tempat melakukan pengukuran Bujur : diisi dengan bujur geografis tempat melakukan pengukuran Elevasi : diisi dengan elevasi tempat melakukan pengukuran Tanggal : diisi dengan tanggal pengukuran Komponen : diisi dengan komponen magnet bumi yang diukur Data : diisi dengan data magnet bumi yang diukur beserta waktu dalam UTC
3. Contoh Laporan:
Nama Instansi : Universitas Jawa Tengah Lintang
: -6.2518 Bujur
: 102.5684 Elevasi
: 125 meter Tanggal
: 25 Juli 2024 Komponen : X, Y, Z, F Data
:
Waktu (UTC)
X
Y
Z
F 01:00:00
41000.25
210.54
-6521.21
42521.23 01:01:00
41000.26
210.55
-6521.22
42521.24 01:02:00
41000.23
210.51
-6521.29
42521.22 ……………………………………………………
B. DATA MAGNET BUMI ABSOLUT
1. Format data dalam bentuk file Excel
2. Data pengamatan magnet bumi absolut diisi sesuai dengan form standar
3. Data yang diisi antara lain:
Observatorium :
diisi dengan nama observatorium tempat melakukan pengamatan absolut Hari dan Tanggal :
diisi dengan hari dan tanggal pengamatan absolut Koordinat :
diisi dengan bujur dan lintang observatorium tempat melakukan pengamatan absolut
Pengamat :
diisi dengan nama pengamat Peralatan Pengamatan :
diisi dengan nama peralatan DIM dan proton magnetometer yang digunakan untuk pengamatan Site Diff | Azimuth TT :
diisi dengan nilai site difference (selisih nilai medan magnet total antara pilar pengamatan absolut dengan pilar proton magnetometer, jika ada) dan azimuth titik tetap CR :
pembacaan skala horizontal dari titik tetap dengan posisi sensor diatas CL :
pembacaan skala horizontal dari titik tetap dengan posisi sensor dibawah WU :
pembacaan nilai deklinasi pada posisi sensor West Up dan waktu dalam UTC ED :
pembacaan nilai deklinasi pada posisi sensor East Down dan waktu dalam UTC WD :
pembacaan nilai deklinasi pada posisi sensor West Down dan waktu dalam UTC EU :
pembacaan nilai deklinasi pada posisi sensor East Up dan waktu dalam UTC Meridian 1 :
diisi dengan nilai rata-rata pembacaan di WU, ED, WD, dan EU Meridian 2 :
diisi dengan nilai back-azimuth dari meridian 1 NU :
pembacaan nilai inklinasi pada posisi sensor North Up dan waktu dalam UTC SD :
pembacaan nilai inklinasi pada posisi sensor South Down dan waktu dalam UTC ND :
pembacaan nilai inklinasi pada posisi sensor North Down dan waktu dalam UTC SU :
pembacaan nilai inklinasi pada posisi sensor South Up dan waktu dalam UTC F Total :
pembacaan nilai medan magnet total dari Proton Magnetometer
*Format terlampir dapat disesuaikan dengan kebutuhan.
Form Pengamatan Absolut
Observatorium
: … Hari dan Tanggal
: … Koordinat
: Lintang … dan Bujur …
Pengamat
: Mr/Ms.
Peralatan Pengamatan
: DIM (merk) dan PPM (merk) Site Diff | Azimuth TT
:
Deklinasi Pembacaan Titik Tahap Awal
° ‘ “
° ‘ “ CR
CL
Circle Waktu (UTC) F Total
° ‘ “ HH MM SS WU
00
ED
00
WD
00
EU
00
° ‘ “
° ‘ “ Meridian 1
Meridian 2
Pembacaan Titik Tetap Akhir
° ‘ “
° ‘ “ CR
CL
Inklinasi Circle Waktu (UTC) F Total
° ‘ “ HH MM SS NU
00
SD
00
ND
00
SU
00
C. PENGUMPULAN DATA Data hasil pengamatan, baik data magnet bumi harian maupun absolut dikirimkan berupa lampiran file melalui media email bgp@bmkg.go.id dalam kesempatan pertama.
*Format terlampir dapat disesuaikan dengan kebutuhan.
Plt. KEPALA BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI, DAN GEOFISIKA,
Ttd.
DWIKORITA KARNAWATI