PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
BERAKHIRNYA PERSETUJUAN
Persetujuan ini akan tetap berlaku sampai diakhiri oleh salah satu Negara pihak pada Persetujuan. Masing-masing Negara pihak pada Persetujuan dapat mengakhiri Persetujuan tersebut dengan menyampaikan pemberitahuan tertulis tentang berakhirnya Persetujuan kepada Negara pihak pada Persetujuan yang lain melalui saluran diplomatik, sekurang-kurangnya 6 (enam) bulan sebelum berakhirnya tahun takwin sesudah tahun 1991. Dalam hal penetapan atau tahun pajak yang dimulai pada atau setelah 1 Januari tahun takwin berikutnya pada saat pemberitahuan berakhirnya Persetujuan diberikan. SEBAGAI BUKTI para penanda tangan dibawah ini, yang telah diberi kuasa yang sah oleh masing-masing Pemerintah, telah menandatangani Persetujuan ini.
DIBUAT dalam rangkap Dua di Kualalumpur tanggal 12 September tahun 1991 dalam Bahasa Malaysia, Bahasa INDONESIA dan Bahasa Inggeris, yang ketiganya adalah sama.
Dalam hal terjadi perbedaan penafsiran dan pelaksanaan dari Persetujuan ini teks dalam Bahasa Inggeris yang akan digunakan.
UNTUK PEMERINTAH
ttd
J.B. Sumarlin Menteri Keuangan
UNTUK PEMERINTAH MALAYSIA
ttd
Anwar Ibrahim Menteri Keuangan
PROTOKOL
1. Pada saat penanda tanganan Persetujuan antara Pemerintah Republik INDONESIA dan Pemerintah Malaysia untuk Penghindaran Pajak Berganda dan Pengelakan Pajak Atas Penghasilan;
kedua pemerintah telah menyetujui bahwa ketentuan-ketentuan berikut akan merupakan satu bagian integral dari Persetujuan ini.
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
2. Dalam hubungan dengan Pasal 3 "pengertian-pengertian umum" telah dipahami bahwa pengertian wilayah yang diatur dalam ayat 1(a) dan ayat 1(b) tidak termasuk setiap bagian dari wilayah atau lautan dimana kedua negara pihak pada Persetujuan mempunyai masalah untuk diselesaikan.
3. Dalam hubungan dengan ayat 2(h) Pasal 5 "bentuk usaha tetap", telah dipahami bahwa batas waktu 3 bulan terhadap suatu perakitan atau proyek instalasi yang dilakukan oleh seseorang selain daripada kontraktor utama.
4. (a) Dalam hubungan dengan ayat 1 Pasal 7 "laba Usaha", juga tidak ada dalam Pasal ini yang akan melindungi Negara pihak pada Persetujuan dari pengenaan pajak atas laba yang diperoleh dari:
(i) penjualan barang-barang atau barang dagangan dalam bentuk yang sama atau sejenis seperti yang terjual melalui bentuk usaha tetap dalam Negara pihak pada Persetujuan; atau
(ii) kegiatan usaha lainnya yang dilakukan di Negara tersebut yang sama atau sejenis seperti yang dilakukan melalui bentuk usaha tetap dalam Negara pihak pada Persetujuan tersebut;
ditetapkan bahwa penjualan-penjualan tersebut atau kegiatan usaha lainnya jelas tidak semata-mata diadakan melalui bentuk usaha tetap tersebut untuk maksud mengurangi pajak bentuk usaha tetap tersebut.
(b) Dalam hubungan dengan Pasal 7 "laba Usaha", tidak ada dalam Persetujuan ini yang akan mempengaruhi pelaksanaan setiap UNDANG-UNDANG dari Negara pihak pada persetujuan sehubungan dengan pajak penghasilan atau laba dari setiap usaha asuransi yang dilakukan bahwa jika UNDANG-UNDANG yang terikat juga berlaku di Negara pihak pada Persetujuan pada tanggal penanda tanganan Persetujuan ini dirubah (jika tidak dalam hal ; pengaruh yang kurang sehingga tidak mempengaruhi perilaku umum) Negara-negara akan berkonsultasi dengan setiap negara lainnya untuk menyatakan pendapat terhadap setiap perubahan ayat ini yang mungkin cocok.
(d) Dalam hubungan dengan pasal 7 "Laba Usaha", tidak ada dalam Pasal ini yang akan mencegah Negara pihak pada Persetujuan dari pengenaan, bagian dari pajak penghasilan usaha, pajak tambahan setelah pajak atas keuntungan dari bentuk usaha tetap, ditetapkan bahwa pengenaan pajak ini tidak akan melebihi 12,5%.
5. Dalam hubungan dengan Pasal 10 "Dividen":
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
(a) Tidak ada dalam Pasal ini yang mengatur ketentuan-ketentuan yang termuat dalam setiap kontrak Bagi Hasil yang berhubungan dengan eksploitasi dan produksi minyak dan gas alam yang telah dirundingkan dengan Pemerintah INDONESIA atau Perusahaan Minyak Negara INDONESIA yang berhubungan, ditetapkan bahwa Perusahaan yang berkedudukan di Malaysia menerima penghasilan dari kontrak bagi hasil akan diberlakukan baik dalam hubungan dengan perpajakan yang terhutang atas badan usaha dari negara ketiga penerima penghasilan dari suatu kontrak bagi hasil yang sama.
(b) Pasal VII dari Persetujuan antara Pemerintah Malaysia dan Pemerintah Singapura atas Penghindaran Pajak Berganda dan Penghindaran Pengelakan Atas Pajak Penghasilan yang ditanda tangani di Singapura pada tanggal 26 Desember 1968, yang akan menjadi suatu pertimbangan.
6. Dalam hubungan dengan Pasal 11, 12, 16 dan 18 istilah "badan menurut UNDANG-UNDANG " berarti setiap badan kerja sama terlepas dari nama seperti yang sudah dikenal, yang digabungkan menurut ketentuan-ketentuan yang sudah dikenal, yang digabungkan menurut ketentuan-ketentuan Perundang-undangan tertulis dan merupakan suatu kewenangan umum atau suatu perantara atau suatu agen dari:
(a) Pemerintah Malaysia atau setiap negara federasi tetapi tidak termasuk pejabat daerah dan badan usaha yang tergabung dalam UNDANG-UNDANG Badan Usaha tahun 1965;
(b) Pemerintah Republik INDONESIA tetapi tidak termasuk pejabat daerah dan badan usaha yang tergabung dibawah UNDANG-UNDANG No. 9 tahun 1969 jo PERATURAN PEMERINTAH No. 12 tahun 1969.
SEBAGAI BUKTI para penanda tangan dibawah ini, yang telah diberi kuasa yang sah oleh masing-masing Pemerintah, telah menandatangani Persetujuan ini.
DIBUAT dalam rangkap dua di Kuala Lumpur tanggal 12 September tahun 1991 dalam Bahasa Malaysia, Bahasa INDONESIA dan Bahasa Inggeris, yang ketiganya adalah sama.
Dalam hal terjadi perbedaan penafsiran dan pelaksanaan dari persetujuan ini teks dalam Bahasa Inggeris yang akan digunakan.
UNTUK PEMERINTAH
ttd PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
J.B. Sumarlin Menteri Keuangan
UNTUK PEMERINTAH MALAYSIA
ttd
Anwar Ibrahim Menteri Keuangan
LAMPIRAN II: KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 1992
PERJANJIAN DI ANTARA KERAJAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN KERAJAAN MALAYSIA BAGI MENGELAKKAN CUKAI DUA KALI DAN MENCEGAH PELARIAN FISKAL BERKENAAN DENGAN CUKAI-CUKAI ATAS PENDAPATAN
Kerajaan Republik INDONESIA dan Kerajaan Malaysia berhasrat untuk membuat suatu Perjanjian bagi mengelakkan cukai-cukai dua kali dan mencegah pelarian fiskal berkenaan dengan cukai-cukai atas pendapatan, telah bersetuju seperti berikut:
Perkara 1
BIDANG KUASA
Perjanjian ini hendaklah terpakai bagi orang-orang yang menjadi pemastautin satu daripada atau kedua-dua Negara Pejanji.
Perkara 2
CUKAI-CUKAI YANG DILIPUTI
1. Perjanjian ini hendaklah terpakai kepada cukai-cukai atas Pendapatan yang dikenakan oleh Negara Pejanji, tanpa mengira caranya cukai-cukai itu dikenakan.
2. Cukai-cukai yang menjadi perkara Perjanjian ini ialah:
(a) di INDONESIA, cukai pendapatan (pajak penghasilan); (kemudian daripada ini PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
disebut sebagai "cukai INDONESIA").
(b) di Malaysia:
(i) cukai pendapatan dan cukai keuntungan berlebihan;
(ii) cukai pendapatan tambahan, yaitu, cukai pembangunan; dan (iii) cukai pendapatan petroleum;
(kemudian daripada ini disebut sebagai "cukai Malaysia");
3. Perjanjian ini hendaklah juga terpakai bagi apa-apa cukai yang serupa atau yang sebahagian besarnya sama dengan ditandatangani sebagai tambahan kepada, atau sebagai ganti, cukai-cukai yang sedia ada. Pihak berkuasa yang kompeten bagi Negara-negara Pejanji hendaklah memberitahu satu sama lain tentang apa-apa perubahan penting yang telah dibuat dalam UNDANG-UNDANG Percukaian mereka masing-masing.
Perkara 3
TARIF AM
1. Bagi maksud-maksud Perjanjian ini, melainkan jika konteksnya menghendaki makna yang lain:
(a) istilah "INDONESIA" terdiri dari Wilayah Republik INDONESIA sebagaimana yang ditarifkan dalam undang-undangnya, dan sebahagian daripada Pelantar Benua dan lautan yang bersepadan, yang ke atasnya Republik INDONESIA mempunyai pemerintahan berdaulat, hak-hak lain menurut UNDANG-UNDANG antarbangsa;
(b) istilah "Malaysia" artinya Persekutuan Malaysia dan termasuklah mana-mana kawasan yang bersepadanan dengan perairan Wilayah Malaysia yang, menurut UNDANG-UNDANG antar bangsa, telah atau mungkin kemudian dari pada ini ditetapkan di bawah UNDANG-UNDANG Malaysia mengenai pelataran benua sebagai suatu kawasan yang didalamnya Malaysia boleh menjalankan hak-hak berkenaan dengan penyelidikan dan pengekploitas sumber-sumber alamnya, sama ada yang hidup atau tak hidup, didasar laut dan tanah bawah perairan superjasen;
(c) istilah "Negara Pejanji" dan "Negara Pejanji yang satu lagi" artinya INDONESIA atau Malaysia mengikut kehendak konteksnya;
(d) istilah "cukai" artinya cukai INDONESIA atau cukai Malaysia, mengikut PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
kehendak konteksnya;
(e) istilah "orang" termasuk seseorang individu, suatu syarikat dan lain-lain kumpulan orang yang disifatkan sebagai entiti bagi maksud-maksud cukai;
(f) istilah "syarikat" artinya sesuatu pertumbuhan perbadanan atau sesuatu entiti yang disifatkan sebagai suatu pertumbuhan perbadanan bagi maksud-maksud cukai;
(g) istilah "perusahaan suatu Negara Pejanji" dan "perusahaan Negara Pejanji yang satu lagi" masing-masingnya berarti suatu perusahaan yang dijalankan oleh seorang pemastautin suatu Negara Pejanji dan sesuatu perusahaan yang dijalankan oleh pemastautin Negara Pejanji yang satu lagi;
(h) istilah "rakyat" artinya:
(i) mana-mana individu yang memiliki kewarganegaraan atau kerakyatan sesuatu Negara Pejanji;
(iii) mana-mana orang di sisi UNDANG-UNDANG, perkongsian, pertumbuhan dan apa-apa entiti lain daripada UNDANG-UNDANG yang berkuat kuasa dalam Negara Pejanji;
(j) istilah "lalulintas antar bangsa" artinya apa-apa pengakuan oleh suatu kapal atau pesawat udara yang dikendalikan oleh perusahaan suatu Negara Pejanji, kecuali apabila kapal atau pesawat udara itu dikendalikan semata-mata di antara tempat-tempat dalam Negara Pejanji yang satu lagi itu;
(k) istilah "pihak berkuasa yang kompeten" artinya:
(i) mengenai INDONESIA, Menteri Kewenangan atau wakilnya yang diberikuasa;
(ii) mengenai Malaysia, Menteri Kewenangan atau wakilnya yang diberikuasa;
2. Pada pemakaian Perjanjian ini oleh suatu Negara Pejanji, apa-apa istilah yang tidak ditarifkan di dalamnya hendaklah, melalikan jika konteksnya menghendaki makna yang lain, mempunyai arti yang sama seperti di bawah UNDANG-UNDANG Negara Pejanji itu berkenaan dengan cukai-cukai yang Perjanjian ini terpakai baginya.
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
Perkara 4
PEMASTAUTIN
1. Bagi maksud-maksud Perjanjian ini, istilah "pemastautin bagi suatu Negara Pejanji" artinya:
(a) dalam hal INDONESIA, seseorang yang bermastautin dalam INDONESIA bagi maksud-maksud cukai INDONESIA.
(b) dalam hal Malaysia, seseorang yang bermastautin dalam Malaysia bagi maksud-maksud cukai Malaysia; dan
Jika, oleh sebab peruntukan-peruntukan perenggan 1, seseorang individu adalah pemastautin di kedua-dua Negara Pejanji, maka statusnya hendaklah ditentukan seperti berikut:
(a) dia hendaklah disiratkan sebagai pemastautin Negara di mana dia mempunyai tempat kediaman tetap yang tersedia baginya. Jika dia mempunyai tempat kediaman tetap yang tersedia baginya di kedua-dua Negara, maka dia hendaklah disitatkan sebagai pemastautin Negara yang dengannya perhubungan pribadi dan ekonominya adalah lebih rapat (pusat kepentingan perlu);
(b) jika Negara di mana dia mempunyai pusat kepentingan perlunya tidak dapat ditentukan, atau jika dia tidak mempunyai tempat kediaman tetap yang tersedia baginya dalam salah satu Negara di mana dia mempunyai tempat tinggal yang lazim;
(c) jika dia mempunyai tempat tinggal yang lazim di kedua-dua Negara atau tidak mempunyai tempat tinggal yang lazim di salah satu Negara, pihak-pihak berkuasa yang kompeten bagi Negara-Negara Pejanji itu hendaklah menyelesaikan soal ini dengan cara persetujuan bersama.
3. Jika, oleh sebab perenggan 1, seseorang yang lain daripada seorang individu adalah pemastautin di kedua-dua Negara Pejanji, pihak-pihak berkuasa yang kompeten di kedua-dua Negara Pejanji hendaklah dengan persetujuan bersama berusaha untuk menyelesaikan soal itu dengan memberi perhatian kepada pengurusan sehari ke seharinya, tempat di mana ia diperbadankan atau selainnya ditubuhkan dan apa-apa faktor lain yang relevan.
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
(a) penyenggaraan suatu tempat perniagaan yang tetap semata-mata bagi tujuan pembelian barang-barang atau dagangan, atau bagi mengumpul maklumat, untuk perusahaan itu;
(b) penyenggaraan suatu tempat perniagaan yang tetap semata-mata bagi maksud menjalankan, apa-apa aktiviti lain yang bersitat persediaan atau tambahan untuk perusahaan itu.
4. Suatu perusahaan bagi Negara Pejanji hendaklah disitatkan sebagai mempunyai suatu establismen yang tetap dalam Negara Pejanji yang satu lagi sekiranya:
(a) ia menjalankan aktiviti-aktiviti penyeliaan dalam Negara yang satu lagi itu selama lebih daripada enam bulan berkaitan dengan suatu pembinaan, pepasangan atau proyek pemasangan yang sedang diusahakan dalam Negara yang satu lagi itu; atau
(b) sebahagian Dasar kelengkapan yang berada dalam Negara yang satu lagi itu sedang digunakan atau dipasang oleh, bagi atau di bawah kontrak dengan;
perusahaan itu.
5. Seseorang (selain daripada seorang proker, ejen komisen am atau mana-mana ejen lain yang bertaraf bebas yang baginya perenggan 6 terpakai) yang bertindak dalam suatu Negara Pejanji bagi pihak suatu perusahaan Negara Pejanji yang satu lagi hendaklah disifatkan sebagai suatu establismen tetap dalam Negara yang mula-mula disebut itu jika:
(a) ia mempunyai, dan lasimnya menjalankan dalam Negara Pejanji yang mula-mula disebut itu, suatu kuasa untuk membuat kontrak atas nama perusahaan itu, melainkan jika aktiviti-aktivitinya adalah terhad kepada membeli barang-barang atau dagangan untuk perusahaan itu;
(b) ia menyenggara dalam Negara Pejanji yang mula-mula disebut itu suatu stok barang-barang atau dagangan kepunyaan perusahaan daripada mana ia selalunya memenuhi pesanan-pesanan bagi pihak perusahaan itu; atau
(c) ia mengilang atau memproses dalam Negara Pejanji yang mula-mula disebut bagi perusahaan itu barang-barang atau dagangan kepunyaan perusahaan itu.
Perkara 5
ESTABLISMEN TETAP PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
1. Bagi maksud-maksud Perjanjian ini, istilah "establismen tetap" artinya suatu tempat perniagaan yang tetap di mana kesemua atau sebahagian daripada perniagaan perusahaan itu dijalankan.
2. Istilah "establismen tetap" hendaklah termasuk terutama sekali:
(a) suatu tempat pengurusan;
(b) suatu cawangan;
(c) suatu pejabat;
(d) suatu kilang;
(e) suatu waksyop;
(f) suatu lombong, suatu telaga minyak atau gas, suatu kuari atau tempat lain bagi pengeluaran sumber-sumber alam termasuklah kayu atau keluaran hutan yang lain;
(g) suatu kebun atau ladang;
(h) suatu tapak bangunan atau pembinaan, pepasangan atau projek pemasangan yang sedia ada selama lebih daripada enam bulan;
(i) memberi perkhidmatan, termasuk perkhidmatan-perkhidmatan perundingan, oleh suatu perusahaan melalui pekerjaan atau orang lain (selain daripada seorang ejen yang bertaraf bebas dalam erti peranggan 6) di mana aktiviti-aktiviti jenis itu berterusan (bagi projek yang sama atau berkaitan) dalam Negara Pejanji yang satu lagi bagi suatu tempoh atau tempoh-tempoh yang agregartnya lebih dari tiga bulan dalam mana-mana tempoh sua belas bulan.
3. Istilah "establismen tetap" tidak boleh disifatkan sebagai termasuk:
(a) penggunaan kemudahan-kemudahan semata-mata bagi tujuan penyimpanan atau pameran barang-barang atau dagangan kepunyaan perusahaan itu;
(b) penyenggaraan suatu stok barang-barang atau dagangan kepunyaan perusahaan itu semata-mata bagi tujuan penyimpanan atau pameran;
(c) penyenggaraan suatu stok barang-barang atau dagangan kepunyaan perusahaan itu semata-mata bagi tujuan pemprosesan oleh suatu perusahaan yang lain;
4. Suatu perusahaan bagi suatu Negara Pejanji tidak boleh disifatkan sebagai mempunyai establismen tetap dalam negara Pejanji yang satu lagi itu hanya karena ia menjalankan perniagaan dalam Negara yang satu lagi itu melalui seorang broker, ejen komisen am atau mana-mana ejen lain yang bertaraf bebas, jika orang-orang sedemikian bertindak dalam perjalanan biasa perniagaan mereka.
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
Walaupun bagaimanapun, apabila aktiviti-aktiviti ejen itu dijalankan kesemuanya atau hampir kesemuanya bagi pihak perusahaan itu, ia tidak boleh dianggap sebagai ejen yang bertaraf bebas dalam pengertian perenggan ini.
5.Hakikat bahwa suatu syarikat yang menjadi pemastautin suatu Negara Pejanji mengawal atau dikawal oleh suatu syarikat yang menjadi pemastautin Negara Pejanji yang satu lagi itu atau yang menjalankan perniagaan dalam Negara Pejanji yang satu lagi itu (sama ada melalui suatu establismen tetap atau selainnya), tidak boleh dengan sendirinya menjadikan mana-mana satu syarikat itu suatu establismen tetap bagi syarikat yang satu lagi itu.
Perkara 6
PENDAPATAN DARIPADA HARTA HAK ALIH
1. Pendapatan yang diperolehi oleh seorang pemastautin suatu Negara pejanji daripada harta tak alih yang terletak dalam Negara Pejanji yang satu lagi boleh dicukai dalam Negara Pejanji yang satu lagi itu.
2. Bagi maksud-maksud Perjanjian ini, istilah "harta tak alih" hendaklah ditakrifkan mengikut UNDANG-UNDANG Negara Pejanji di mana harta itu terletak. Bagaimanapun, istilah ini hendaklah termasuk harta tambahan kepada harta tak alih, ternakan dan kelengkapan yang digunakan dalam pertanian dan kehutanan, hak-hak yang peruntukan-peruntukan UNDANG-UNDANG am berkenaan dengan harta tanah terpakai baginya, usufruk bagi harta tak alih dan hak-hak kepada pembayaran boleh-ubah atau tetap sebagai balasan kerana mengusahakan, atau hak untuk mengusahakan, longgokan galian, telaga minyak atau telaga gas, kuari-kuari dan tempat lain bagi pengeluaran sumber-sumber alam termasuklah kayu atau hasil-hasil hutan yang lain.
Kapal, bot dan pesawat udara tidak boleh dianggap sebagai harta tak alih.
3. Peruntukan-peruntukan perenggan 1 hendaklah juga terpakai terhadap pendapatan yang diperolehi daripada penggunaan secara langsung, penyewaan atau penggunaan harta tak alih dalam apa-apa cara lain.
4. Peruntukan-peruntukan perenggan 1 dan 3 hendaklah juga terpakai terhadap pendapatan daripada harta tak alih sesuatu perusahaan dan terhadap pendapatan daripada harta tak alih yang digunakan bagi pelaksanaan perkhidmatan-perkhidmatan profesional.
Perkara 7
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
KEUNTUNGAN PERNIAGAAN
1. Keuntungan suatu perusahaan suatu Negara Pejanji hendaklah dikenakan cukai hanya dalam Negara itu, melainkan jika perusahaan itu menjalankan perniagaan dalam Negara Pejanji yang satu lagi itu melalui suatu establismen tetap yang terletak di dalamnya. Jika perusahaan itu menjalankan perniagaan seperti yang disebut terdahulu, maka keuntungan perusahaan itu boleh dicukai dalam Negara yang satu lagi itu tetapi hanya atas sekian banyak daripada keuntungan itu yang boleh dikaitkan dengan establismen tetap itu.
2. Tertakluk kepada peruntukan-peruntukan perenggan 3, jika sesuatu perusahaan bagi suatu Negara Pejanji menjalankan perniagaan dalam Negara Pejanji yang satu lagi melalui suatu establismen tetap yang terletak di dalamnya, maka hendaklah, dalam tiap-tiap Negara Pejanji, dikaitkan dengan establismen tetap itu keuntungan yang dijangka mungkin diperolehi olehnya jika ianya suatu perusahaan yang berlainan dan bersaingan yang menjalankan aktiviti-aktiviti yang sama atau serupa di bawah keadaan-keadaan yang sama atau serupa dan berurusan dengan sepenuh kebebasan dengan perusahaan yang lainnya menjadi suatu establismen tetap.
3. Pada menentukan keuntungan suatu establismen tetap, maka hendaklah dibenarkan sebagai potongan perbelanjaan, termasuk perbelanjaan menjalankan kerja dan pentadbiran am, yang akan boleh ditolak jika establismen tetap itu adalah suatu perusahaan bebas, setakat mana perbelanjaan menjalankan kerja dan pentadbiran am itu diperuntukkan dengan munasabahnya kepada establismen tetap itu atau di tempat lain.
4. Jika maklumat itu didapati oleh pihak berkuasa yang kompeten adalah tidak mencukupi bagi menentukan keuntungan yang hendak dikaitkan dengan establismen tetap sesuatu perusahaan, tiada apa-apa jua dalam Perkara ini boleh menyentuh pemakaian mana-mana UNDANG-UNDANG Negara itu berhubungan dengan penentuan liabiliti cukai seseorang itu dengan menggunakan budi bicara atau pembuatan sesuatu anggaran oleh pihak berkuasa yang kompeten, dengan syarat bahawa UNDANG-UNDANG itu hendaklah terpakai, setakat mana maklumat yang didapati oleh pihak berkuasa yang kompeten itu membenarkan, menurut prinsip Perkara ini.
5. Tiada apa-apa jua keuntungan boleh dikaitkan dengan suatu establismen tetap hanya kerana establismen tetap itu membeli barang-barang atau dagangan untuk perusahaan itu.
6. Bagi maksud perenggan-perenggan di atas, keuntungan yang hendak dikaitkan PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
dengan establismen tetap itu hendaklah ditentukan dengan cara yang sama dari setahun ke setahun melainkan terdapat sebab yang baik dan mencukupi sebaliknya.
7. Jika keuntungan termasuk butiran-butiran tentang pendapatan yang diuruskan dengan secara bersaingan dalam perkara-perkara lain dalam Perjanjian ini, maka peruntukan-peruntukan perkara-perkara tersebut tidak boleh terjejas oleh peruntukan-peruntukan perkara ini.
Perkara 8
PERKAPALAN DAN PENGANGKUTAN UDARA
1. Keuntungan yang diperolehi daripada pengendalian kapal atau pesawat udara dalam lalulintas antarbangsa hendaklah dikenakan cukai hanya dalam Negara Pejanji di mana terletaknya tempat pengurusan yang berkesan perusahaan itu.
2. Walau apapun peruntukan-peruntukan perenggan keuntungan yang diperolehi oleh suatu perusahaan Negara Pejanji daripada pengendalian kapal dalam lalulintas antarbangsa boleh cukai di Negara Pejanji yang satu lagi itu boleh dikurangkan dengan suatu amaun yang bersamaan dengan 50 peratus.
3. Walau apapun peruntukan-peruntukan perenggan 1 dan 2 dan Perkara 7, keuntungan yang diperbolehi oleh suatu perusahaan Nengara Pejanji daripada pelayaran kapal atau pesawat udara yang maksud utama pelayaran itu ialah untuk mengangkut penumpang atau barang-barang di antara tempat-tempat dalam Negara Pejanji yang satu lagi hendaklah dicukai di Negara Pejanji yang satu lagi itu.
4. Perenggan 1 dan 2 hendaklah juga terpakai kepada bahagian keuntungan daripada pengendalian kapal atau pesawat udara yang diperolehi oleh seorang pamastautin suatu Negara Pejanji melalui penyertaan dalam suatu kumpulan, suatu perniagaan bersama atau dalam suatu Agensi pengendalian Antarbangsa.
Perkara 9
PERUSAHAAN PERSEKUTU
Jika
(a) suatu perusahaan suatu Negara Pejanji menyertai secara langsung atau secara tidak langsung dalam pengurusan, pengawalan atau modal sesuatu perusahaan PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
Negara Pejanji yang satu lagi itu; atau
(b) orang-orang yang sama menyertai secara langsung atau secara tidak langsung dalam pengurusan, pengawalan atau modal sesuatu perusahaan suatu Negara Pejanji yang satu lagi itu, dan dalam mana-mana satu hal itu syarat-syarat adalah dibuat atau dikenakan di antara kedua-dua perusahaan itu dalam hubungan perdagangan atau kewangannya yang berlainan daripada syarat-syarat yang dijangka dibuat di antara. perusahaan-perusahaan tak berkait, maka apa-apa keuntungan yang sepatutnya, jika tidak kerana syarat-syarat itu, terakru kepada salah satu daripada perusahaan-perusahaan itu, tetapi, oleh kerana syarat-syarat tersebut, tidak terakru sedemikian, bolehlah dimasukkan dalam keuntungan perusahaan perusahaan itu dan cukai dengan sewajarnya.
Perkara 10
DIVIDEN
1. Dividen yang dibayar oleh suatu syarikat yang menjadi pemastautin suatu Negara Pejanji kepada seorang pemastautin bagi Negara Pejanji yang satu lagi boleh dicukai dalam negara yang satu lagi itu.
2. Dividen yang dibayar oleh suatu syarikat yang menjadi pemastautin Malaysia kepada seorang pemastautin INDONESIA yang adalah pemunya benefisialnya hendaklah dikecualikan daripada apa-apa cukai di Malaysia yang boleh dikenakan ke atas dividen-deviden sebagai tambahan kepada cukai yang boleh dikenakan mengenai pendapatan syarikat itu. Tiada apa-apa jua dalam perenggan ini boleh menyentuh peruntukan-peruntukan UNDANG-UNDANG Malaysia yang dibawahnya cukai berkenaan dengan dividen yang dibayar oleh suatu syarikat yang menjadi pemastautin Malaysia yang daripadanya cukai Malaysia telah, atau disifatkan telah, dipotong boleh diselaraskan dengan merunjuk kepada kadar cukai yang bersesuaian dengan tahun taksiran Malaysia selepas sahaja tahun taksiran dalam mana dividen itu telah dibayar.
3. Dividen yang dibayar oleh suatu syarikat yang menjadi pemastautin INDONESIA kepada seorang pemastautin Malaysia boleh dicukai di INDONESIA mengikut UNDANG-UNDANG INDONESIA, tetapi jika penerima itu adalah pemunya benetisial dividen-dividen itu, cukai yang dikenakan sedemikian tidak boleh melebihi 15 peratus daripada amaun kasar dividen-dividen itu.
4. Istilah "dividen" sebagaimana yang digunakan dalam Perkara ini artinya pendapatan daripada syer-syer atau hak-hak lain, yang bukan tuntutan hutang, menyertai dalam keuntungan, serta juga pendapatan daripada hak-hak PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
perbadanan yang lain yang tertakluk kepada layanan percukaian yang mana seperti pendapatan daripada syer-syer mengikut UNDANG-UNDANG di Negara di mana syarikat yang membuat pengagihan itu adalah pemastautin.
5. Peruntukan-peruntukan perenggan 1, 2 dan 3 tidak boleh terpakai jika pemunya benefisial dividen itu, yang menjadi pemastautin suatu Negara Pejanji, menjalankan perniagaan dalam Negara Pejanji yang satu lagi, di mana syarikat yang membayar dividen itu adalah pemastautin, melalui suatu establismen tetap yang terletak di dalamnya, dan pemegangan yang berkenaan dengannya dividen-dividen itu dibayar yang ada kaitan secara berkesan dengan establismen tetap itu. Dalam hal yang sedemikian, peruntukan-peruntukan Perkara 7 hendaklah terpakai.
6. Jika suatu syarikat yang menjadi pemastautin suatu Negara Pejanji memperolehi pendapatan atau keuntungan daripada Negara Pejanji yang satu lagi itu, maka Negara Pejanji yang satu lagi itu tidak boleh mengenakan apa-apa cukai keatas dividen yang dibayar oleh syarikat itu kepada orang-orang yang bukan pemastautin Negara Pejanji yang satu lagi itu, atau membolehkan keuntungan syarikat yang tak diagihkan dikenakan suatu cukai atas keuntungan yang tidak diagihkan, walaupun jika dividen yang dibayar atau keuntungan yang tidak diagihkan itu keseluruhannya atau sebahagiannya terdiri daripada pendapatan atau keuntungan yang terbit dalam Negara yang satu lagi itu.
Perkara 11
BUNGA
1. Bunga yang terbit dalam suatu Negara Pejanji dan dibayar kepada seorang pemastautin Negara Pejanji yang satu lagi itu boleh dicukai dalam Negara Pejanji yang satu lagi itu.
2. Walau bagaimanapun, bunga itu boleh dicukai dalam Negara Pejanji di mana bunga itu terbit, dan mengikut UNDANG-UNDANG Negara Pejanji itu, tetapi jika penerimanya adalah pemunya benefisial bunga itu, maka cukai yang dikenakan sedemikian tidak boleh melebihi 15 peratus daripada amaun kasar bunga itu.
3. Walau apapun peruntukan-peruntukan perenggan 2, bunga yang seorang pemastautin INDONESIA adalah berhak mendapat faedahnya hendaklan dikecualikan daripada cukai Malaysia jika pinjaman atau keterhutangan lain yang berkenaan dengan bunga itu dibayar adalah suatu pinjaman yang diluluskan sebagaimana yang ditakrifkan dalam seksyen 2(1) Akta Cukai Pendapatan 1967 bagi Malaysia.
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
4. Walau apapun peruntukan-peruntukan perenggan 2 dan 3, Kerajaan sesuatu Negara Pejanji hendaklah dikecualikan daripada cukai yang diperolehi oleh Kerajaan daripada Negara yang satu lagi itu.
5. Bagi maksud-maksud perenggan 4, istilah "Kerajaan":
(a) dalam hal INDONESIA artinya Kerajaan Republik INDONESIA dan hendaklah termasuk:
(i) pihak-pihak berkuasa tempatan;
(ii) badan-badan berkanun;
(iii) Bank INDONESIA (Bank Pusat INDONESIA); dan
(IV) apa-apa institusi, yang mana modalnya dimiliki sepenuhnya oleh Kerajaan
atau pihak-pihak berkuasa tempatan atau badan-badan berkanun, sebagaimana dipersetujui dari semasa ke semasa di antara pihak-pihak berkuasa yang kompeten bagi Negara-negara Pejanji.
(b) dalam hal Malaysia artinya Kerajaan Malaysia dan hendaklah termasuk:
Kutipan:
LEMBARAN LEPAS SEKRETARIAT NEGARA TAHUN 1992 PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com