(1) Kewenangan Pemerintah mencakup kewenangan dalam bidang politik luar negeri, pertahanan dan keamanan, peradilan, moneter dan fiskal, agama serta kewenangan bidang lain.
(2) Kewenangan bidang lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1), meliputi kebijakan tentang perencanaan nasional dan pengendalian pembangunan nasional secara makro, dana perimbangan keuangan, sistem administrasi negara dan lembaga perekonomian negara, pembinaan dan pemberdayaan sumber daya manusia, pendayagunaan sumber daya alam serta teknologi tinggi yang strategis, konservasi dan standardisasi nasional.
(3) Kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dikelompok dalam bidang sebagai berikut:
1. Bidang Pertanian
a. Pengaturan pemasukan atau pengeluaran benih/bibit dan penetapan pedoman untuk penentuan standar pembibitan/pembenihan pertanian.
b. Pengaturan dan pengawasan produksi, peredaran, penggunaan dan pemusnahan pestisida dan bahan kimia pertanian lainnya, obat hewan, vaksin, sera, antigen, semen beku dan embrio ternak.
c. Penetapan standar pelepasan dan penarikan varietas komoditas pertanian.
d. Penetapan pedoman untuk penentuan standar teknis minimal rumah potong hewan, rumah sakit hewan, satuan pelayanan peternakan terpadu.
e. Penetapan norma dan standar pengadaan, pengelolaan dan distribusi bahan pangan.
f. Penetapan standar dan prosedur pengujian mutu bahan pangan nabati dan hewani.
g. Penetapan norma dan standar teknis pemberantasan hama pertanian.
h. Pengaturan dan penetapan norma dan standar teknis pelayanan kesehatan hewan.
2. Bidang Kelautan …
2. Bidang Kelautan
a. Penetapan kebijakan dan pengaturan eksplorasi, konservasi, pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam perairan di wilayah laut di luar perairan 12 (dua belas) mil, termasuk perairan nusantara dan dasar lautnya serta Zona Ekonomi Eksklusif dan landas kontinen.
b. Penetapan kebijakan dan pengaturan pengelolaan dan pemanfaatan benda berharga dari Kapal tenggelam di luar perairan laut 12 (dua belas) mil.
c. Penetapan kebijakan dan pengaturan batas-batas maritim yang meliputi batas-batas daerah otonom di laut dan batas-batas ketentuan hukum laut internasional.
d. Penetapan standar pengelolaan pasisir pantai dan pulau-pulau kecil.
e. Penegakan hukum di wilayah laut di luar perairan 12 (dua belas) mil dan di dalam perairan 12 (dua belas) mil yang menyangkut hal spesifik serta berhubungan dengan internasional.
3. Bidang Pertambangan dan Energi
a. a. Penetapan kebijakan intensifikasi, diversifikasi, konservasi, dan harga energi.
b. Penetapan kebijakan jaringan transmisi (grid) nasional/regional listrik dan gas bumi.
c. Penetapan standar pemantauan dan penyelidikan bencana alam dan geologi.
d. Penetapan standar penyelidikan umum dan standar pengelolaan sumber daya mineral dan energi, serta air bawah tanah.
e. Penetapan kritera wilayah kerja usaha termasuk distribusi ketenagalistrikan dan pertambangan.
f. Penetapan penyediaan dan tarif dasar listrik, bahan bakar minyak, bahan bakar gas, dan gas bumi di dalam negeri.
g. Pengaturan survei dasar geologi dan air bawah tanah skala lebih kecil atau sama dengan 1:250.000, penyusunan peta tematis dan inventarisasi sumber daya mineral dan energi serta mitigasi bencana geologi.
h. Pengaturan pembangkit, transmisi dan distribusi ketenagalistrikan yang masuk dalam grid nasional dan pemanfaatan pembangkit listrik tenaga nuklir serta pengaturan pemanfaatan bahan tambang radio aktif.
i. Pemberian izin usaha inti minyak dan gas mulai dari eksplorasi sampai dengan pengangkutan minyak dan gas bumi dengan pipa lintas Propinsi.
j. Pemberian izin usaha inti listrik yang meliputi pembangkitan listrik Propinsi, transmisi dan distribusi.
k. Pemberian izin usaha non inti yang meliputi depot lintas Propinsi dan pipa transmisi minyak dan gas bumi.
4. Bidang …
4. Bidang Kehutanan dan Perkebunan
a. Penetapan kriteria dan standar pengurusan hutan, kawasan suaka alam, kawasan pelestarian alam, taman buru, dan areal perkebunan.
b. Penetapan kriteria dan standar inventarisasi, pengukuhan dan penatausahaan kawasan hutan, kawasan suaka alam, kawasan pelestarian alam dan taman buru.
c. Penetapan kawasan hutan, perubahan status dan fungsinya.
d. Penetapan kriteria dan standar pembentukan wilayah pengelolaan hutan, kawasan suaka alam, kawasan pelestarian alam dan taman buru.
e. Penyelenggaraan pengelolaan kawasan suaka alam, kawasan pelestarian alam dan taman buru termasuk daerah aliran sungai di dalamnya.
f. Penyusunan rencana makro kehutanan dan perkebunan nasional, serta pola umum rehabilitasi lahan, konservasi tanah, dan penyusunan perwilayahaan, desain, pengendalian lahan dan industri primer perkebunan.
g. Penetapan kriteria dan standar tarif iuran izin usaha pemanfaatan hutan, provisi sumber daya hutan, dana reboisasi, dan dana investasi untuk biaya pelestarian hutan.
h. Penetapan kriteria dan standar produksi, pengolahan, pengendalian mutu, pemasaran dan peredaran hasil hutan dan perkebunan termasuk perbenihan, pupuk dan pestisida tanaman kehutanan dan perkebunan.
i. Penetapan kriteria dan standar perizinan usaha pemanfaatan kawasan hutan, pemanfaatan dan pemungutan hasil, pemanfaatan jasa lingkungan, pengusaha pariwisata alam, pengusahaan taman buru, usaha perburuan, penangkaran flora dan fauna, lembaga konservasi dan usaha perkebunan.
j. Penyelenggaraan izin usaha pengusahaan taman buru, usaha perburuan, penangkaran flora dan fauna yang dilindungi dan lembaga konservasi, serta penyelenggaraan pengelolaan kawasan suaka alam, kawasan pelestarian alam taman buru termasuk daerah aliran sungai di dalamnya.
k. Penyelenggaraan izin usaha pemanfaatan hasil hutan produksi dan pengusahaan pariwisata alam lintas Propinsi.
l. Penetapan kriteria dan standar pengelolaan yang meliputi tata hutan dan rencana pengelolaan, pemanfaatan, pemeliharaan, rehabilitasi, reklamasi, pemulihan, pengawasan dan pengendalian kawasan hutan dan areal perkebunan.
m. Penetapan kriteria dan standar konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya yang meliputi perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan secara lestari di bidang
kehutanan dan perkebunan.
n. Penetapan …
n. Penetapan norma, prosedur, kriteria dan standar peredaran tumbuhan dan satwa liar termasuk pembinaan habitat satwa migrasi jarak jauh.
o. Penyelenggaraan izin pemanfaatan dan peredaran flora dan fauna yang dilindungi dan yang terdaftar dalam apendiks Convension on International Trade in Endangered Species (CITES) of Wild Fauna and Flora.
p. Penetapan kriteria dan standar dan penyelenggaraan pengamanan dan penanggulangan bencana pada kawasan hutan dan areal perkebunan.
5. Bidang Perindustrian dan Perdagangan
a. Penetapan kebijakan fasilitas, pengembangan dan pengawasan perdagangan berjangka komoditi.
b. Penetapan standar nasional barang dan jasa di bidang industri dan perdagangan.
c. Pengaturan persaingan usaha.
d. Penetapan pedoman perlindungan konsumen.
e. Pengaturan lalu lintas barang dan jasa dalam negeri.
f. Pengaturan kawasan berikat.
g. Pengelolaan kemetrologian.
h. Penetapan standar industri dan produk tertentu yang berkaitan dengan keamanan, keselamatan umum, kesehatan, lingkungan dan moral.
i. Penetapan pedoman pengembangan sistem pergudangan.
j. Fasilitas kegiatan distribusi bahan-bahan pokok.
6. Bidang Perkoperasian
a. Penetapan pedoman akuntansi koperasi dan Pengusaha Kecil dan Menengah.
b. Penetapan pedoman tata cara penyertaan modal pada koperasi.
c. Fasilitas pengembangan sistem distribusi bagi koperasi dan Pengusaha Kecil dan Menengah.
d. Fasilitas kerjasama antar koperasi dan pengusaha kecil dan menengah serta kerjasama dengan badan usaha lain.
7. Bidang Penanaman Modal Pemberian izin dan pengendalian penanaman modal untuk usaha berteknologi strategis yang mempunyai derajat kecanggihan tinggi dan beresiko tinggi dalam penerapannya, meliputi persenjataan, nuklir dan rekayasa genetika.
8. Bidang Kepariwisataan
a. Penetapan pedoman pembangunan dan pengembangan kepariwisataan.
b. Penetapan pedoman kerjasama Internasional di bidang kepariwisataan.
c. Penetapan standar dan norma sarana kepariwisataan.
9. Bidang Ketenagakerjaan …
9. Bidang Ketenagakerjaan
a. Penetapan kebijakan hubungan industrial, perlindungan pekerja dan jaminan sosial pekerja.
b. Penetapan standar keselamatan kerja, kesehatan kerja, higiene perusahaan, lingkungan kerja dan ergonomi.
c. Penetapan pedoman penentuan kebutuhan fisik minimum.
10. Bidang Kesehatan
a. Penetapan standar nilai gizi dan pedoman sertifikasi teknologi kesehatan dan gizi.
b. Penetapan pedoman pembiayaan pelayanan kesehatan.
c. Penetapan standar akreditasi sarana dan prasarana kesehatan.
d. Penetapan pedoman standar pendidikan dan Pendayagunaan tenaga kesehatan.
e. Penetapan pedoman penggunaan, konservasi, pengembangan dan pengawasan tenaman obat.
f. Penetapan pedoman penapisan, pengembangan dan penerapan teknologi kesehatan, dan standar etika penelitian kesehatan.
g. Pemberian izin dan pengawasan peredaran obat serta pengawasan industri farmasi.
h. Penetapan persyaratan penggunaan bahan tambahan (zat aditif) tertentu untuk makanan dan penetapan pedoman pengawasan peredaran makanan.
i. Penetapan kebijakan sistem jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat.
j. Survailans epidemiologi serta pengaturan pemberantasan dan penanggulangan wabah, penyakit menular dan kejadian luar biasa.
k. Penyediaan obat esensial tertentu dan obat untuk pelayanan kesehatan dasar sangat esensial (buffer stock nasional).
11. Bidang Pendidikan dan Kebudayaan
a. Penetapan standar kompetensi siswa dan warga belajar serta pengaturan kurikulum nasional dan penilaian hasil belajar secara nasional serta pedoman pelaksanaannya.
b. Penetapan standar materi pelajaran pokok.
c. Penetapan persyaratan perolehan dan penggunaan gelar akademik.
d. Penetapan pedoman pembiayaan penyelenggaraan pendidikan.
e. Penetapan persyaratan penerimaan, perpindahan, sertifikasi siswa, warga belajar dan mahasiswa.
f. Penetapan persyaratan pemintakatan/zoning, pencarian, pemanfaatan, pemindahan, penggandaan, sistem pengamanan dan kepemilikan benda cagar budaya serta persyaratan
penelitian arkeologi.
g. Pemanfaatan …
g. Pemanfaatan hasil penelitian arkeologi nasional serta pengelolaan museum nasional, galeri nasional, pemanfaatan naskah sumber arsip, dan monumen yang diakui secara internasional.
h. Penetapan kalender pendidikan dan jumlah jam belajar efektif setiap tahun bagi pendidikan dasar, menengah dan luar sekolah.
i. Pengaturan dan pengembangan pendidikan tinggi, pendidikan jarak jauh serta pengaturan sekolah internasional.
j. Pembinaan dan pengembangan bahasa dan sastra INDONESIA.
12. Bidang Sosial
a. Penetapan pedoman pelestarian nilai-nilai kepahlawanan, keperintisan dan kejuangan serta nilai-nilai kesetiakawanan sosial.
b. Penetapan pedoman akreditasi lembaga penyelenggaraan pelayanan sosial.
c. Penetapan pedoman pelayanan dan rehabilitasi serta bantuan sosial dan perlindungan sosial penyandang masalah kesejahteraan sosial.
d. Pengaturan sistem penganugerahan tanda kehormatan/jasa tingkat nasional.
e. Pengaturan sistem penyelenggaraan pelayanan sosial termasuk sistem jaminan dan rehabilitasi sosial.
f. Pemeliharaan Taman Makam Pahlawan Nasional.
13. Bidang Penataan Ruang
a. Penetapan tata ruang nasional berdasarkan tata ruang Kabupaten/Kota dan Propinsi.
b. Penetapan kriteria penataan perwilayahan ekosistem daerah tangkapan air pada daerah aliran sungai.
c. Pengaturan tata ruang perairan di luar 12 (dua belas) mil.
d. Fasilitas kerjasama penataan ruang lintas Propinsi.
14. Bidang Pertanahan
a. Penetapan persyaratan pemberian hak-hak atas tanah.
b. Penetapan persyaratan landreform.
c. Penetapan standar administrasi pertanahan.
d. Penetapan pedoman biaya pelayanan pertanahan.
e. Penetapan Kerangka Dasar Kadastral Nasional dan pelaksanaan pengukuran Kerangka Dasar Kadastral Nasional Orde I dan II.
15. Bidang Permukiman
a. Penetapan pedoman perencanaan dan pengembangan pembangunan perumahan dan permukiman
b. Penetapan pedoman konservasi arsitektur bangunan dan pelestarian kawasan bangunan bersejarah.
c. Penetapan pedoman pengawasan dan pengendalian pembangunan perumahan dan permukiman.
d. Penetapan pedoman teknis pengelolaan fisik gedung dan rumah negara.
16. Bidang Pekerjaan Umum …
16. Bidang Pekerjaan Umum
a. Penetapan standar prasarana dan sarana kawasan terbangun dan sistem manajemen konstruksi.
b. Penetapan standar pengembangan konstruksi bangunan sipil dan arsitektur.
c. Penetapan standar pengembangan prasarana dan sarana wilayah yang terdiri atas pengairan, bendungan besar, jembatan dan jalan beserta simpul-simpulnya serta jalan bebas hambatan.
d. Penetapan persyaratan untuk penentuan status, kelas dan fungsi jalan.
e. Pengaturan dan penetapan status jalan nasional.
17. Bidang Perhubungan
a. Penetapan standar rambu-rambu jalan dan pedoman penentuan lokasi pemasangan perlengkapan jalan dan jembatan timbang.
b. Penetapan standar laik jalan dan persyaratan pengujian kendaraan bermotor serta standar pendaftaran kendaraan bermotor.
c. Penetapan standar teknis dan sertifikasi sarana Kereta Api serta sarana dan prasarana angkutan laut, sungai, danau, darat dan udara.
d. Penetapan persyaratan pemberian Surat Izin Mengemudi kendaraan bermotor.
e. Perencanaan umum dan pembangunan Jaringan Jalan Kereta Api Nasional serta penetapan spesifikasi jaringan lintas dan klasifikasi jalur Kereta Api dan pengawasannya.
f. Perencanaan makro jaringan jalan bebas hambatan.
g. Penetapan tarif dasar angkutan penumpang kelas ekonomi.
h. Penetapan pedoman lokasi pelabuhan penyeberangan lintas propinsi dan antar negara.
i. Penetapan lokasi bandar udara lintas Propinsi dan antar negara.
j. Penetapan lintas penyeberangan dan alur pelayaran internasional.
k. Penetapan persyaratan pengangkutan bahan dan atau barang berbahaya lintas darat, laut dan udara.
l. Penetapan rencana umum jaringan fasilitas kenavigasian, pemanduan dan penundaan kapal, sarana dan prasarana
penjagaan dan penyelamatan serta penyediaan sarana dan prasarana di wilayah laut di luar 12 (dua belas) mil.
m. Penetapan standar pengelolaan dermaga untuk kepentingan sendiri di pelabuhan antara propinsi/ internasional.
n. Penetapan …
n. Penetapan standar penentuan daerah lingkungan kerja perairan atau daerah lingkungan kerja pelabuhan bagi pelabuhan-pelabuhan antar Propinsi dan internasional.
o. Penerbitan izin kerja keruk dan reklamasi yang berada di wilayah laut di luar 12 (dua belas) mil.
p. Pengaturan rute, jaringan dan kapasitas penerbangan.
q. Pengaturan sistem pendukung penerbangan di bandar udara.
r. Penetapan standar kawasan keselamatan operasi penerbangan dan penetapan kriteria batas kawasan kebisingan serta daerah lingkungan kerja bandar udara.
s. Pengaturan tata ruang udara nasional, jaringan pelayanan lalu lintas udara, batas yuridiksi ruang udara nasional, dan pembagian pengendalian ruang udara dalam Upper Flight Information Region.
t. Pelaksanaan pelayanan navigasi penerbangan.
u. Sertifikasi peralatan dan fasilitas penunjang operasi penerbangan.
v. Penetapan standar teknis peralatan serta pelayanan meteorologi penerbangan dan maritim.
w. Penerbitan lisensi dan peringkat tenaga teknis penerbangan.
x. Pemberian izin usaha penerbangan.
y. Penetapan standar laik laut dan laik udara serta pedoman keselamatan kapal dan pesawat udara, auditing manajemen keselamatan kapal dan pesawat udara, patroli laut dan bantuan pencarian dan pertolongan (Search and Rescue), penyidikan, penanggulangan kecelakaan, bencana kapal dan pesawat udara.
z. Pengaturan Pos Nasional.
aa.
Pengaturan Sistem Pertelekomunikasi Nasional.
ab.
Pengaturan sistem jaringan pengamatan meteorologi dan klimatologi.
ac.
Pemberian izin orbit satelit dan frekuensi radio kecuali radio dan televisi lokal.
ad.
Pemberian jasa meteorologi dan klimatologi.
ae.
Pengaturan dan penetapan pedoman pengelolaan bantuan pencarian dan pertolongan (Search and Rescue) serta penyelenggaraan SAR Nasional.
18. Bidang Lingkungan Hidup
a. Penetapan pedoman pengendalian sumber daya alam dan pelestarian fungsi lingkungan.
b. Pengaturan pengelolaan lingkungan dalam pemanfaatan sumber daya laut di luar 12 (dua belas) mil.
c. Penilaian …
c. Penilaian analisis mengenai dampak lingkungan bagi kegiatan-kegiatan yang potensial berdampak negatif pada masyarakat luas dan atau menyangkut pertahanan dan keamanan, yang lokasinya meliputi lebih dari satu wilayah sengketa Propinsi, kegiatan yang berlokasi di wilayah dengan Negara lain, di wilayah laut di bawah 12 (dua belas) mil dan berlokasi di lintas batas negara.
d. Penetapan baku mutu lingkungan hidup dan penetapan pedoman tentang pencemaran lingkungan hidup.
e. Penetapan pedoman tentang konservasi sumber dalam alam.
19. Bidang Politik Dalam Negeri dan Administrasi Publik
a. Penetapan kebijakan sistem tata laksana aparatur negara.
b. Penetapan kebijakan akuntabilitas aparatur negara.
c. Penetapan pedoman tata laksana pelayanan publik.
d. Penetapan pedoman ketentraman dan ketertiban umum.
e. Penetapan pedoman penyelenggaraan perlindungan masyarakat.
f. Penetapan pedoman kesatuan bangsa.
g. Penetapan standar dan prosedur mengenai perencanaan, pengangkatan, pemindahan, pemberhentian, penatapan pensiun, gaji, tunjangan, kesejahteraan, hak dan kewajiban, serta kedudukan hukum pegawai negeri sipil dan pegawai negeri sipil di Daerah.
h. Penetapan pedoman penanggulangan bencana.
i. Pengaturan dan penyelenggaraan Sistem Sandi Negara.
j. Penyelesaian perselisihan antar Propinsi.
k. Penyelenggaraan pemilihan umum.
l. Fasilitas penyelenggaraan pendidikan dan pengembangan sistem politik.
m. Penegakan hak asasi manusia.
n. Pelaksanaan mutasi kepegawaian antar propinsi.
o. Penetapan dan penyelenggaraan kearsipan nasional.
p. Penetapan dan penyelenggaraan statisitik nasional.
q. Penetapan dan penyelenggaraan pemetaan dasar nasional.
r. Penetapan jumlah jam kerja dan hari libur nasional.
s. Penetapan pedoman administrasi kependudukan.
20. Bidang Pengembangan Otonomi Daerah
a. Penetapan syarat-syarat pembentukan Daerah dan kriteria
tentang penghapusan, penggabungan, dan pemekaran Daerah.
b. Penetapan kebijakan perubahan batas, nama dan pemindahakn ibukota Daerah.
c. Penetapa pedoman perencanaan daerah.
d. Penetapan pedoman susunan organisasi perangkat Daerah.
e. Penetapan pedoman formasi perangkat Daerah.
f. Penetapan pedoman tentang realokasi pegawai.
g. Penetapan pedoman tata cara kerjasama Daerah dengan lembaga/badan luar negeri.
h. Penetapan …
h. Penetapan pedoman kerjasama antar Daerah/Desa dan antar Daerah/desa dengan pihak ketiga.
i. Penetapan pedoman pengelolaan kawasan perkotaan dan pelaksanaan kewenangan Daerah di kawasan otorita dan sejenisnya.
j. Penetapan pedoman satuan polisi pamong praja.
k. Penetapan pedoman dan fasilitas pembentukan asosiasi Pemerintah Daerah dan asosiasi DPRD.
l. Penetapan pedoman mengenai pengaturan desa.
m. Penetapan pedoman dan memfasilitasi pembentukan dan pengelolaan Badan Usaha Milik Negara/Desa.
n. Penetapan pedoman Tata Tertib DPRD.
o. Pengaturan tugas pembentukan kepada Daerah dan Desa.
p. Pengaturan tata cara pencalonan, pemilikan, pengangkutan, pertanggungjawaban dan pemberhentian serta kedudukan keuangan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah.
q. Pengaturan kedudukan keuangan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.
r. Pembentukan dan pengelolaan Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah.
s. Penetapan pedoman penyusunan, perubahan. dan perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.
t. Penetapan pedoman pengurusan, pertanggungjawaban, dan pengawasan keuangan Daerah.
u. Pengaturan pedoman dan fasilitasi pengelolaan pendapatan Asli Daerah dan sumber pembiayaan lainnya.
21. Bidang Perimbangan Keuangan
a. Penetapan pedoman tentang realokasi pendapatan asli daerah yang besar dan terkonsentrasi pada Kabupaten/Kota tertentu untuk keseimbangan penyelenggaraan pembangunan guna kesejahteraan masyarakat di Propinsi.
b. Penetapan pedoman pinjaman dari dalam negeri dan luar negeri oleh Pemerintah Daerah.
22. Bidang Kependudukan
a. Penetapan pedoman mobilitas kependudukan.
b. Penetapan pedoman kebijakan pengendalian angkat kelahiran dan penurunan angkat kematian ibu, bayi dan anak.
c. Penetapan pedoman dan fasilitasi peningkatan kesetaraan dan keadilan gender.
d. Penetapan pedoman pengembangan kualitas keluarga.
e. Penetapan pedoman perlindungan dan penghapusan tindak kekerasan terhadap perempuan, anak dan remaja.
23. Bidang Olah Raga
a. Pemberian dukungan untuk pembangunan sarana dan prasarana olah raga.
b. Penetapan pedoman pemberdayaan masyarakat olah raga.
c. Penetapan kebijakan dalam penentuan kegiatan-kegiatan olah raga nasional/internasional.
24. Bidang Hukum dan …
24. Bidang Hukum dan Perundang-undangan
a. Pembinaan hukum dan peraturan perundang-undangan nasional.
b. Pengesahan dan persetujuan Badan Hukum.
c. Pengesahan di bidang Hak atas Kekayaan Intelektual.
d. Pengaturan dan pembinaan terhadap lembaga pemasyarakatan.
e. Pengaturan dan pembinaan di bidang keimigrasian.
f. Pengaturan dan pembinaan di bidang kenotariatan.
25. Bidang Penerangan
a. Penetapan pedoman penyelenggaraan penyiaran.
b. Penetapan pedoman peredaran film dan rekaman video komersial.
c. Penetapan pedoman kebijakan pencetakan dan penerbitan publikasi/dokumen pemerintah/negara.
(4) Kewenangan Pemerintah yang berlaku di berbagai bidang selain kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (3) meliputi:
a. penetapan kebijakan untuk mendukung pembangunan secara makro;
b. penetapan pedoman untuk menentukan standar pelayan minimal dalam bidag yang wajib dilaksanakan oleh Kabupaten/Kota;
c. penetapan kriteria penentuan dan perubahan fungsi ruang kawasan/lahan dalam rangka penyusunan tata ruang;
d. penyusunan rencana nasional secara makro;
e. penetapan persyaratan akreditasi lembaga pendidikan dan sertifikasi tenaga profesional/ahli serta persyaratan jabatan;
f. pembinaan dan pengawasan atas penyelenggaraan Otonomi Daerah yang meliputi pemberian pedoman, bimbingan, pelatihan, arahan dan supervisi;
g. penetapan pedoman pengelolaan dan perlindungan sumber daya alam;
h. pengelolaan dan penyelenggaraan perlindungan sumber daya alam di wilayah laut di luar 12 (dua belas) mil;
i. pengaturan penerapan perjanjian atau persetujuan internasional yang disahkan atas nama negara;
j. penatapan standar pemberian izin oleh Daerah;
k. pengaturan ekspor impor dan pelaksanaan perkarantinaan;
l. penanggulangan wabah dan bencana yang berskala nasional;
m. penetapan arah dan prioritas kegiatan riset dan teknologi termasuk penelitian dan pengembangan teknologi strategis dan berisiko tinggi;
n. penetapan kebijakan sistem informasi nasional;
o. penetapan persyaratan kualifikasi usaha jasa;
p. pengaturan sistem lembaga perekonomian negara.
Pasal 3 …
(1) Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom mencakup kewenangan dalam bidang pemerintahan yang bersifat lintas Kabupaten/Kota serta kewenangan dalam bidang pemerintahan tertentu lainnya, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9, UNDANG-UNDANG Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah.
(2) Kewenangan bidang tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) adalah perencanaan dan pengendalian pembangunan regional secara makro, pelatihan bidang tertentu, alokasi sumber daya manusia potensial, penelitian yang mencakup wilayah Propinsi, pengelolaan pelabuhan regional, pengendalian lingkungan hidup, promosi dagang dan budaya/pariwisata, penanganan penyakit menular dan hama tanaman dan perencanaan tata ruang Propinsi.
(3) Selain kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan pelayanan minimal yang wajib dilaksanakan oleh Kabupaten/ Kota, Propinsi dapat melaksanakan kewenangan yang tidak atau belum dapat dilaksanakan oleh Kabupaten/Kota.
(4) Kewenangan Kabupaten/Kota di bidang tertentu dan bagian tertentu dari kewenangan wajib dilaksanakan oleh Propinsi dengan kesepakatan antar Kabupaten/Kota dan Propinsi.
(5) Kewenangan Propinsi sebagaimana dimaksud pada ayat
(2), dikelompokkan dalam bidang sebagai berikut:
1. Bidang Pertanian
a. Penetapan standar pelayanan minimal dalam bidang pertanian yang wajib dilaksanakan oleh Kabupaten/Kota.
b. Penetapan standar pembibitan/perbenihan pertanian.
c. Penetapan standar teknis minimal rumah potong hewan, rumah sakit hewan, dan satuan pelayanan peternakan terpadu.
d. Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia aparat pertanian teknis fungsional, keterampilan dan diklat kejuruan tingkat menengah.
e. Promosi ekspor komoditas pertanian unggulan daerah Propinsi.
f. Penyediaan dukungan kerjasama antar Kabupaten/Kota dalam bidang pertanian.
g. Pengaturan dan pelaksanaan penanggulangan wabah hama dan penyakit menular di bidang pertanian lintas Kabupaten/Kota.
h. Pengaturan penggunaan bibit unggul pertanian.
i. Penetapan kawasan pertanian terpadu berdasarkan kesepakatan dengan Kabupaten/Kota.
j. Pelaksanaan penyidikan penyakit di bidang pertanian lintas Kabupaten/Kota.
k. Penyediaan dukungan pengendalian eradikasi organisme pengganggu tumbuhan, hama dan penyakit di bidang pertanian.
l. Pengaturan …
l. Pengaturan penggunaan air irigasi.
m. Pemantauan, peramalan dan pengendalian serta penanggulangan eksplosi organisme pengganggu tumbuhan dan penyakit di bidang pertanian.
n. Penyediaan dukungan pengembangan perekayaan teknologi perikanan serta sumber daya perairan lainnya.
o. Pengendalian terhadap pelaksanaan pemberantasan penyakit ikan di darat.
p. Pengendalian eradikasi penyakit ikan di darat.
2. Bidang Kelautan
a. Penataan dan pengelolaan perairan di wilayah laut Propinsi.
b. Eksplorasi, eksploitasi, konservasi dan pengelolaan kekayaan laut sebatas wilayah laut kewenangan Propinsi.
c. Konservasi dan pengelolaan plasma nutfah spesifik lokasi serta suaka perikanan di wilayah laut kewenangan Propinsi.
d. Pelayanan izin usaha pembudidayaan dan penangkapan ikan pada perairan laut di wilayah laut kewenangan Propinsi.
e. Pengawasan pemanfaatan sumber daya ikan di wilayah laut kewenangan Propinsi.
3. Bidang Pertambangan dan Energi
a. Penyediaan dukungan pengembangan dan pemanfaatan sumber daya mineral dan energi serta air bawah tanah.
b. Pemberian izin usaha inti pertambangan umum lintas Kabupaten/Kota yang meliputi eksplorasi dan eksploitasi.
c. Pemberian izin usaha inti listrik dan distribusi lintas Kabupaten/Kota yang tidak disambung ke grid nasional
d. Pengelolaan sumberdaya mineral dan energi non migas kecuali bahan radio aktif pada wilayah laut dari 4 (empat) sampai dengan 12 (dua belas) mil;
e. Pelatihan dan penelitian di bidang pertambangan dan energi di wilayah Propinsi.
4. Bidang Kehutanan dan Perkebunan
a. Pedoman penyelenggaraan inventarisasi dan pemetaan hutan/kebun.
b. Penyelenggaraan penunjukan dan pengamanan batas hutan produksi dan hutan lindung.
c. Pedoman penyelenggaraan tata batas hutan, rekonstruksi dan penataan batas kawasan hutan produksi dan hutan lindung.
d. Penyelenggaraan pembentukan dan perwilayahan areal perkebunan lintas Kabupaten/Kota.
e. Pedoman penyelenggaraan pembentukan wilayah dan penyediaan dukungan pengelolaan taman hutan raya.
f. Penyusunan perwilayahan, design, pengendalian lahan dan industri primer bidang perkebunan lintas Kabupaten/Kota.
g. Penyusunan rencana makro kehutanan dan perkebunan Kabupaten/Kota.
h. Pedoman …
h. Pedoman penyelenggaraan pengurusan erosi, sedimentasi, produktivitas lahan pada daerah aliran sungai lintas Kabupaten/Kota.
i. Pedoman penyelenggaraan rehabilitasi dan reklamasi hutan produksi dan hutan lindung.
j. Penyelenggaraan perizinan lintas Kabupaten/Kota meliputi pemanfaatan hasil hutan kayu, pemanfaatan flora dan fauna yang tidak dilindungi, usaha perkebunan dan pengolahan hasil hutan.
k. Pegawasan perbenihan, pupuk, pestisida, alat dan mesin di bidang kehutanan dan perkebunan.
l. Pelaksanaan pengamatan peramalan organisme tumbuhan pengganggu dan pengendalian hama terpadu tanaman kehutanan dan perkebunan.
m. Penyelenggaraan dan pengawasan atas rehabilitasi, reklamasi, sistem silvikultur, budidaya, dan pengolahan.
n. Penyelenggaraan pengelolaan taman hutan raya lintas Kabupaten/Kota.
o. Penetapan pedoman untuk penentuan tarif pungutan hasil hutan bukan kayu lintas Kabupaten/Kota.
p. Turut serta secara aktif bersama pemerintah dalam MENETAPKAN kawasan serta perubahan fungsi dan status hutan dalam rangka perencanaan tata ruang Propinsi berdasarkan kesepakatan antara Propinsi dan Kabupaten/Kota.
q. Perlindungan dan pengamanan hutan pada kawasan lintas Kabupaten/Kota.
r. Penyediaan dukungan penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan teknis, penelitian dan pengembangan terapan bidang kehutanan.
5. Bidang Perindustrian dan Perdagangan
a. Penyediaan dukungan pengembangan industri dan perdagangan.
b. Penyediaan dukungan kerjasama antar Kabupaten/Kota dalam
bidang industri dan perdagangan.
c. Pengelolaan laboratorium kemetrologian.
6. Bidang Perkoperasian Penyediaan dukungan pengembangan koperasi.
7. Bidang Penanaman Modal Melakukan kerjasama dalam bidang penamanan modal dengan Kabupaten dan Kota.
8. Bidang Ketenagakerjaan
a. Penetapan pedoman jaminan kesejahteraan purnakerja.
b. Penetapan dan pengawasan atas pelaksanaan upah minimum.
9. Bidang Kesehatan …
9. Bidang Kesehatan
a. Penetapan pedoman penyuluhan dan kampanye kesehatan.
b. Pengelolaan dan pemberian izin sarana dan prasarana kesehatan khusus seperti rumah sakit jiwa, rumah sakit kusta dan rumah sakit kanker.
c. Sertifikasi teknologi kesehatan dan gizi.
d. Survailans epidemiologi serta penanggulangan wabah penyakit dan kejadian luar biasa.
e. Penempatan tenaga kesehatan stratetis, pemindahan tenaga kesehatan tertentu antar Kabupaten/Kota serta penyelenggaraan pendidikan tenaga dan pelatihan kesehatan.
10. Bidang Pendidikan dan Kebudayaan
a. Penetapan kebijakan tentang penerimaan siswa dan mahasiswa dari masyarakat minoritas, terbelakang, dan atau tidak mampu.
b. Penyediaan bantuan pengadaan buku pelajaran pokok/modul pendidikan untuk taman kanak-kanak, pedidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan luar sekolah.
c. Mendukung/membantu penyelenggaraan pendidikan tinggi selain pengaturan kurikulum, akreditasi dan pengangkatan tenaga akademis.
d. Pertimbangan pembukaan dan penutupan perguruan tinggi.
e. Penyelenggaraan sekolah luar biasa dan balai pelatihan dan/atau penataran guru.
f. Penyelenggaraan museum propinsi, suaka peninggalan sejarah, kepurbakalaan, kajian sejarah dan nilai tradisional serta pengembangan bahasa dan budaya daerah.
11. Bidang Sosial
a. Mendukung upaya pengembangan pelayanan sosial.
b. Mendukung pelestarian nilai kepahlawanan, keperintisan dan kejuangan, serta nilai-nilai kesetiakawanan sosial.
c. Pengawasan pelaksanaan penempatan pekerja sosial
profesional dan fungsional panti sosial swasta.
12. Bidang Penataan Ruang
a. Penetapan tata ruang Propinsi berdasarkan kesepakatan antara Propinsi dan Kabupaten/Kota.
b. Pengawasan atas pelaksanaan tata ruang.
13. Bidang Permukiman Penyediaan bantuan/dukungan penerapan hasil penelitian dan pengembangan teknologi, arsitektur bangunan dan jatidiri kawasan.
14. Bidang Pekerjaan Umum
a. Penetapan standar pengelolaan sumber daya air permukaan lintas Kabupaten/Kota.
b. Pemberian izin pembangunan jalan bebas hambatan lintas Kabupaten/Kota.
c. Penyediaan …
c. Penyediaan dukungan/bantuan untuk kerjasama antar Kabupaten/Kota dalam pengembangan prasarana dan sarana wilayah yang terdiri atas pengairan, bendungan/dam, jembatan dan jalan beserta simpul-simpulnya serta jalan bebas hambatan.
d. Penyediaan dukungan/bantuan untuk pengelolaan sumber daya air permukaan Pelaksanaan eksploitasi dan pemeliharaan jaringan irigasi dan drainase lintas Kabupaten/Kota beserta bangunan-banguan pelengkapnya mulai dari bangunan pengambilan sampai kepada saluran percontohan sepanjang 50 meter dari bangunan sadap.
e. Perizinan untuk mengadakan perubahan dan atau pembongkaran bangunan-bangunan dan saluran jaringan dan prasarana dan sarana pekerjaan umum yang lintas Kabupaten/Kota.
f. Perizinan untuk mendirikan, mengubah ataupun membongkar bangunan-bangunan lain, selain dari yang dimaksud pada angka 5 termasuk yang berada di dalam, di atas, maupun yang melintasi saluran irigasi.
g. Pelaksanaan pembangunan dan perbaikan jaringan utama irigasi lintas Kabupaten/Kota beserta bangunan pelengkapnya.
h. Penyusunan rencana penyediaan air irigasi.
15. Bidang Perhubungan
a. Penetapan alur penyeberangan lintas Kabupaten/ Kota di wilayah Propinsi.
b. Penetapan tarif angkutan darat lintas Kabupaten/ Kota untuk penumpang kelas ekonomi.
c. Penetapan lokasi pemasangan dan pemeliharaan alat pengawasan dan alat pengamanan (rambu-rambu) lalu lintas jalan Propinsi, danau dan sungai lintas Kabupaten/Kota serta laut dalam wilayah di luar 4 (empat) mil sampai dengan 12 (dua
belas) mil.
d. Penetapan kebijakan tatanan dan perizinan pelabuhan Propinsi.
e. Pengelolaan pelabuhan dan bandar udara Propinsi yang dibangun atas prakarsa Propinsi dan atau pelabuhan dan bandar udara yang diserahkan oleh Pemerintah kepada Propinsi.
f. Penyusunan dan penetapan jaringan transportasi jalan Propinsi.
g. Pengaturan dan pengelolaan SAR Propinsi.
h. Perizinan, pelayanan dan pengendalian kelebihan muatan dan tertib pemanfaatan jalan propinsi.
i. Perencanaan, pembangunan dan pemeliharaan jalan propinsi.
j. Penetapan …
j. Penetapan standar batas maksimum muatan dan berat kendaraan pengangkutan barang dan tertib pemanfaatan antar kabupaten/kota.
k. Penetapan lintas penyeberangan antar Propinsi.
l. Penetapan lokasi dan pengelolaan jembatan timbang.
m. Perencanaan dan pembangunan Jaringan Jalan Kereta Api lintas Kabupaten/Kota.
16. Bidang Lingkungan Hidup
a. Pengendalian lingkungan hidup lintas Kabupaten/ Kota.
b. Pengaturan pengelolaan lingkungan dalam pemanfaatan sumber daya laut 4 (empat) mil sampai dengan 12 (dua belas) mil.
c. Pengaturan tentang pengamanan dan pelestarian sumber daya air lintas Kabupaten/Kota.
d. Penilaian analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) bagi kegiatan-kegiatan yang potensial berdampak negatif pada masyarakat luas yang lokasinya meliputi lebih dari satu Kabupaten/Kota.
e. Pengawasan pelaksanaan konservasi lintas Kabupaten/Kota.
f. Penetapan baku mutu lingkungan hidup berdasarkan baku mutu lingkungan hidup nasional.
17. Bidang Politik Dalam Negeri dan Administrasi Publik
a. Penegakan hak asasi manusia.
b. Pemeliharaan ketentraman dan ketertiban umum.
c. Penyediaan dukungan administrasi kepegawaian dan karier pegawai.
d. Membantu penyelenggaraan pemilihan umum.
e. Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan penjenjangan dan teknis fungsional tertentu yang mencakup wilayah Propinsi.
f. Penyelesaian perselisihan antar Kabupaten/Kota.
g. Fasilitas penyelenggaraan pendidikan dan pengembangan sistem politik.
h. Alokasi dan pemindahan pegawai/tenaga potensial antar daerah Kabupaten/Kota dan dari Kabupaten/ Kota ke Propinsi dan sebaliknya.
i. Penetapan tanda kehormatan/jasa selain yang telah diatur dan menjadi kewenangan Pemerintah.
18. Bidang Pengembangan Otonomi Daerah Penyelenggaraan otonomi daerah di wilayah Propinsi.
19. Bidang Perimbangan Keuangan
a. Mengatur realokasi pendapatan asli daerah yang terkonsentrasi pada Kabupaten/Kota tertentu untuk keseimbangan penyelenggaraan pembangunan guna kesejahteraan masyarakat di Propinsi.
b. Menyediakan alokasi anggaran dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) bagi kebutuhan belanja pegawai negeri sipil Daerah yang diangkat oleh Propinsi di luar kebijakan Pemerintah.
20. Bidang Hukum dan …
20. Bidang Hukum dan Perundang-undangan Penetapan peraturan daerah untuk mendukung pemerintah Propinsi sebagai daerah Otonom.