Koreksi Pasal 12
PERPRES Nomor 57 Tahun 2014 | Peraturan Presiden Nomor 57 Tahun 2014 tentang RENCANA TATA RUANG PULAU PAPUA
Teks Saat Ini
(1) Strategi operasionalisasi perwujudan sistem perkotaan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1) huruf a meliputi:
a. mengembangkan PKN dan PKW sebagai Pusat Klaster;
b. mengembangkan dan/atau meningkatkan fungsi PKN, PKW, dan PKSN sebagai:
1. pusat industri pengolahan dan industri jasa hasil pertanian tanaman pangan, perkebunan, dan peternakan;
2. pusat industri pengolahan dan industri jasa hasil perikanan berbasis bisnis;
3. pusat industri pengolahan dan industri jasa hasil pertambangan mineral serta minyak dan gas bumi;
4. pusat industri pengolahan dan industri jasa hasil hutan yang ramah lingkungan;
5. pusat pariwisata cagar budaya dan ilmu pengetahuan, bahari, serta ekowisata berbasis potensi kearifan lokal;
6. pusat perdagangan dan jasa yang berskala internasional; dan
7. pusat penelitian dan pengembangan produksi hasil pertanian tanaman pangan, perkebunan, dan peternakan;
c. mengembangkan prasarana dan sarana perkotaan untuk mendukung kegiatan industri pengolahan serta perdagangan dan jasa;
d. mengembangkan PKSN sebagai pusat pengembangan ekonomi, pintu gerbang internasional, simpul transportasi, serta pusat promosi dan pemasaran ke negara yang berbatasan;
www.djpp.kemenkumham.go.id
e. mengembangkan PKN,PKW, dan PKSN berbasis mitigasi dan adaptasi bencana;
f. mengembangkan jaringan lalulintas dan angkutan jalan yang melayani PKN, PKW, dan PKSN; dan
g. mengendalikan perkembangan fisik PKN, PKW, dan PKSN untuk mempertahankan keberadaan Kawasan Lindung dan lahan pertanian pangan berkelanjutan.
(2) Pengembangan PKN dan PKW sebagai Pusat Klaster sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi:
a. PKN Jayapura, PKW Sarmi, PKW Arso sebagai Pusat Klaster Kawasan Rusuk Papua Utara;
b. PKW Merauke, PKW Bade, dan PKW Muting sebagai Pusat Klaster Kawasan Rusuk Papua Selatan;
c. PKW Wamena sebagai Pusat Klaster Kawasan Punggung Pulau Papua (Pegunungan Tengah);
d. PKW Biak sebagai Pusat Klaster Kawasan Leher Pulau Papua (Teluk Cendrawasih);
e. PKW Manokwari dan PKW Ayamaru sebagai Pusat Klaster Kawasan Kepala Burung Pulau Papua;
f. PKN Sorong sebagai Pusat Klaster Kawasan Sorong dan Sorong Selatan;
g. PKW Fakfak sebagai Pusat Klaster Kawasan Lengan Tangan Papua;
h. PKN Timika sebagai Pusat Klaster Kawasan Mimika; dan
i. PKW Nabire sebagai Pusat Klaster Kawasan Nabire-Paniai.
(3) Pengembangan dan/atau peningkatan fungsi PKN, PKW, dan PKSN sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi pengembangan:
a. pusat industri pengolahan dan industri jasa hasil pertanian tanaman pangan, perkebunan, dan peternakan dilakukan diPKN Sorong, PKN Timika,PKN Jayapura, PKW Fakfak, PKW Manokwari, PKW Nabire, PKW Muting, PKW Merauke, PKW Sarmi, PKW Arso, PKW Wamena, dan PKSN Tanah Merah;
b. pusat industri pengolahan dan industri jasa hasil perikanan berbasis bisnis dilakukan diPKN Sorong, PKN Timika,PKN Jayapura, PKW Fakfak, PKW Manokwari, PKW Biak, PKW Bade, PKW Merauke, dan PKW Sarmi;
www.djpp.kemenkumham.go.id
c. pusat industri pengolahan dan industri jasa hasil pertambangan mineral serta minyak bumi dan gas bumi dilakukan di:
1. PKN Sorong sebagai pusat pengembangan pertambangan minyak dan gas bumi;
2. PKN Timika sebagai pusat pengembangan pertambangan tembaga dan emas;
3. PKW Manokwari sebagai pusat pengembangan pertambangan nikel; dan
4. PKW Sarmi sebagai pusat pengembangan pertambangan mineral;
d. pusat industri pengolahan dan industri jasa hasil hutan yang ramah lingkungan dilakukan di PKN Timika, PKN Sorong, PKW Manokwari, PKW Ayamaru, PKW Biak, PKW Nabire, PKW Muting, PKW Bade, PKW Sarmi, PKW Wamena, dan PKSN Tanah Merah;
e. pusat pariwisata cagar budaya dan ilmu pengetahuan, bahari, ekowisata berbasis potensi kearifan lokaldilakukan di PKN Sorong, PKN Timika, PKN Jayapura, PKW Fakfak, PKW Manokwari, PKW Biak, PKW Merauke, dan PKW Wamena;
f. pusat perdagangan dan jasa yang berskala internasionaldilakukan diPKN Sorong, PKN Timika, PKN Jayapura, PKW Manokwari, PKW Biak, dan PKW Merauke; dan
g. pusat penelitian dan pengembangan hasil pertanian tanaman pangan, perkebunan, dan peternakan dilakukan diPKN Jayapura, PKW Manokwari, danPKW Merauke.
(4) Pengembangan prasarana dan sarana perkotaan untuk mendukung kegiatan industri pengolahan serta perdagangan dan jasasebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf cdilakukan di PKN Sorong, PKN Timika, PKN Jayapura, PKW Fakfak, PKW Manokwari, PKW Ayamaru, PKW Biak, PKW Muting, PKW Bade, PKW Merauke, PKW Sarmi, PKW Arso, dan PKSN Tanah Merah.
(5) PengembanganPKSN sebagai pusat pengembangan ekonomi, pintu gerbang internasional, simpul transportasi, serta pusat promosi dan pemasaran ke negara yang berbatasansebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d dilakukan di PKSN Jayapura, PKSN Tanah Merah, dan PKSN Merauke.
(6) Pengembangan PKN, PKW, dan PKSN berbasis mitigasi dan adaptasi bencana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e meliputi:
a. pengembangan PKN dan PKW berbasis mitigasi bencana tanah longsor yang dilakukan di PKN Jayapura, PKN Sorong, PKW Fakfak, PKW Manokwari, PKW Wamena, dan PKW Nabire;
www.djpp.kemenkumham.go.id
b. pengembangan PKN dan PKW berbasis mitigasi bencana banjir yang dilakukan di PKN Jayapura, PKN Sorong, PKW Merauke, PKW Ayamaru, PKN Timika, PKW Ayamaru, PKW Bade, PKW Nabire, dan PKSN Tanah Merah;
c. pengembangan PKN dan PKW berbasis mitigasi gelombang pasangyang dilakukan di PKN Jayapura, PKW Nabire, PKW Manokwari, PKW Biak, dan PKW Sarmi;
d. pengembangan PKN dan PKW berbasis mitigasi bencana gempa bumi yang dilakukan di PKN Jayapura, PKW Nabire, PKW Manokwari, PKW Biak, dan PKW Sarmi;
e. pengembangan PKN dan PKW berbasis mitigasi gerakan tanahyang dilakukan di PKN Jayapura, PKN Sorong, PKW Manokwari, PKW Wamena, dan PKW Nabire;
f. pengembangan PKN dan PKW berbasis mitigasi bencana tsunami yang dilakukan di PKN Jayapura, PKW Nabire, PKW Manokwari, PKW Biak, dan PKW Sarmi; dan
g. pengembangan PKN dan PKW berbasis mitigasi bencanaabrasiyang dilakukan di PKN Jayapura, PKW Nabire, PKW Manokwari, PKW Biak, dan PKW Sarmi.
(7) Pengembangan jaringan lalu lintas dan angkutan jalan yang melayani PKN, PKW, dan PKSN sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf f yang melayani PKN Sorong, PKN Timika, PKN Jayapura, PKW Fakfak, PKW Manokwari, PKW Ayamaru, PKW Biak, PKW Nabire, PKW Muting, PKW Bade, PKW Merauke, PKW Sarmi, PKW Arso, PKW Wamena, dan PKSN Tanah Merah.
(8) Pengendalian perkembangan fisik PKN dan PKW untuk mempertahankan keberadaan Kawasan Lindung dan lahan pertanian pangan berkelanjutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf g dilakukan di PKN Sorong, PKN Timika, PKN Jayapura, PKW Manokwari, PKW Fakfak, PKW Ayamaru, PKW Biak, dan PKW Nabire.
(9) Strategi operasionalisasi perwujudan sistem perkotaan nasional di Pulau Papua secara lebih rinci tercantum dalam Lampiran I.A yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan PRESIDEN ini.
Koreksi Anda
