A. Di bawah bab II, kepalanya diubah dan berbunyi seluruhnya:
"1. Tentang bea meterai umum Rp. 3,- untuk semua tanda bukti yang tidak disebutkan dibagian lain dan untuk surat permohonan.
2. Tentang bea materai menurut luas kertas untuk akta pengadilan dan akta notaris".
b.
Pasal 23 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: "Terkecuali tanda-tanda yang dalam bab ini atau dalam salah satu bab berikutnya dikenakan bea meterai lain, dan terkecuali pembebasan-pembebasan yang disebutkan kemudian, maka dikenakan bea meterai tetap sebanyak tiga rupiah:
1. semua tanda yang ditanda-tangani, yang diperbuat sebagai bukti untuk perbuatan, kenyataan atau keadaan yang bersifat hukum perdata;
2. surat-surat permohonan, yang dibuat dalam bentuk apapun, juga yang berbentuk surat biasa atau surat peringatan, ditujukan kepada Pemerintah, kepada hakim-hakim pengadilan, kepada pegawai-pegawai negeri dalam jabatannya, kepada juru-pemisah, kepada pegawai-pegawai dan kepada Pemerintah Daerah yang termaksud dalam
Undang-undang No. 1 tahun 1957 tentang Pokok-pokok Pemerintah Daerah (Lembaran-Negara tahun 1957 No. 6) juncto Penetapan Presiden No. 6 tahun 1959 tentang Pemerintah Daerah, begitu juga yang ditujukan kepada badan-badan hukum yang didirikan oleh Pemerintah, begitu juga surat aslinya, turunan-turunan atau petikan-petikan dari keputusan atas surat permohonan dimaksudkan di atas, yang diberikan kepada yang berkepentingan;
3. dengan memperhatikan ketentuan dalam
pasal 27e:
a. surat-surat, surat mengenai kerumah-tanggaan dan susurat sedemikian yang tidak diperbuat untuk digunakan sebagai bukti;
b. tanda-tanda yang semula dibebaskan dari bea meterai berdasarkan tujuannya, jika dipergunakan untuk tujuan lain atau dipergunakan oleh orang lain, lain dari pada maksud semula untuk siapa atau untuk apa pembebasan itu diberikan".
c.
Pasal 38:
a. kalimat pertama, kata-kata "lima puluh sen" dibaca "satu rupiah".
b. huruf j, k dan I, kata-kata "een honderd Rupiah" dibaca "een duizend Rupiah".
D.
Pasal 39 ayat 3: kata-kata "lima puluh sen" dibaca "satu rupiah".
e.
Pasal 41 ke-1: kata-kata"tien rupiah" dibaca"Vijfentwintig rupiah".
f.
Pasal 45 ke-4 "Dikenakan bea tetap empat rupiah lima puluh senialah surat tanda kawin yang diberikan kepada mereka yang melakukan perkawinan di muka penghulu berdasarkan peraturan perkawinan menurut Agama Islam, demikian pula surat talak atau rujuk".
g. BAB V: Sesudah No. 13 ditambah No. 14:
"14, verzoekschriften ter bekoming van warga negara schap".
h.
Pasal 45 ditambah dengan ayat (14) yang berbunyi sebagai berikut: