Peraturan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, Peraturan Menteri Pertanian ini diundangkan dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik INDONESIA.
Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 22 Mei 2009 MENTERI PERTANIAN,
ANTON APRIYANTONO
Diundangkan di Jakarta pada tanggal 12 Juni 2009 MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
ANDI MATTALATTA
LAMPIRAN I PERATURAN MENTERI PERTANIAN
NOMOR : 28/Permentan/SR.130/5/2009
TANGGAL : 22 Mei 2009
I. PERSYARATAN TEKNIS MINIMAL PUPUK ORGANIK
Persyaratan Granul/Pelet Remah/Curah No.
Parameter Satuan Murni Diperkaya mikroba Cair/Pasta Murni Diperkaya mikroba
1. C – organik % >12 >12 ≥ 4 ≥ 12 ≥ 12
2. C / N rasio
15 - 25 15 - 25
15 - 25 15 - 25
3. Bahan ikutan % < 2 < 2 < 2 < 2 < 2
(plastik,kaca, kerikil, endapan)
4. Kadar Air % 4 – 15*) 10 – 20*) - 15 – 25*) 15 – 25*)
5. Kadar logam berat
As ppm ≤ 10 ≤ 10 ≤ 2,5 ≤ 10 ≤ 10
Hg ppm ≤ 1 ≤ 1 ≤ 0,25 ≤ 1 ≤ 1
Pb ppm ≤ 50 ≤ 50 ≤ 12,5 ≤ 50 ≤ 50
Cd ppm ≤ 10 ≤ 10 ≤ 2,5 ≤ 10 ≤ 10
6. pH
4 - 8 4 - 8 4 - 8 4 - 8 4 - 8
7. Kadar total - N - P2O5 - K20
% % %
< 6*** < 6** < 6**
< 6*** < 6** < 6**
< 2 < 2 < 2
< 6*** < 6** < 6**
< 6*** < 6** < 6**
8. Mikroba kontaminan
(E.coli, Salmonella sp) cfu/g;
cfu/ml < 102 < 102 < 102 < 102 < 102
9. Mikroba fungsional (penambat N, pelarut P, dll.) cfu/g;
cfu/ml - > 103 - - > 103
10. Ukuran butiran
mm 2 – 5 (min 80%) 2 – 5 (min 80%) - - -
11. Kadar unsur mikro ppm
Fe total Mn Cu Zn B Co Mo
min 0, maks 8000 min 0, maks 5000 min 0, maks 5000 min 0, maks 5000 min 0, maks 2500 min 0, maks 20 min 0, maks 10 min 0, maks 8000 min 0, maks 5000 min 0, maks 5000 min 0, maks 5000 min 0, maks 2500 min 0, maks 20 min 0, maks 10 min 0, maks 800 min 0, maks 1000 min 0, maks 1000 min 0, maks 1000 min 0, maks 500 min 0, maks 5 min 0, maks 1 min 0, maks 8000 min 0, maks 5000 min 0, maks 5000 min 0, maks 5000 min 0, maks 2500 min 0, maks 20 min 0, maks 10 min 0, maks 8000 min 0, maks 5000 min 0, maks 5000 min 0, maks 5000 min 0, maks 2500 min 0, maks 20 min 0, maks 10
Keterangan :
*) Kadar air berdasarkan bobot asal **) Bahan-bahan tertentu yang berasal dari bahan organik alami diperbolehkan mengandung kadar P2O5 dan K20 > 6% (dibuktikan dengan hasil laboratorium) ***) N-total=N-organik+N-NH4+N-NO3; Nkjeldahl=N-organik+N-NH4; C/N, N=N-total
II. PERSYARATAN TEKNIS MINIMAL PUPUK HAYATI
1. KRITERIA PUPUK HAYATI TUNGGAL
1.1. Bakteri Pembentuk Bintil Akar
SYARAT TEKNIS MENURUT JENIS KARIER PARAMETER Tepung/Serbuk Granul/Pelet Cair METODE PENGUJIAN
Total sel hidup *) Bakteri :
a) Sinorhizobium b) Bradyrhizobium c) Azorhizobium dan lainnya > 107 cfu/g (BK) > 107 cfu/g (BK) > 107 cfu/ml TPC di medium YEMA Kontaminan E.coli dan Salmonella sp.
Nol pada pengenceran 10-3 MPN -Durham Kadar Air (%) < 35 < 20 - ADBB pH 5 - 8 5 - 8 3 - 8 pH-meter *) Sesuai jenis bakteri yang terdapat dalam pupuk hayati (spesifikasi pupuk)
1.2. Endomikoriza Arbuskular
PARAMETER SYARAT TEKNIS METODE PENGUJIAN Total propagul/g *) Mikoriza Arbuskular (MA) :
a) Gigaspora margarita b) Glomus manihotis c) Glomus agregatum > 50 per g (BK)
25 - 30 spora per g (BK) > 50 spora per g (BK) > 10 spora per g (BK) MPN
Stereomikroskop Kontaminan E.coli dan Salmonella sp.
Nol pada pengenceran 10-3 MPN - Durham
*) Propagul terdiri dari spora, akar terinfeksi, fragmen miselia Sesuai jenis MA yang terdapat dalam pupuk hayati (spesifikasi pupuk) BK = Berat Kering MPN = Most Propable Number
1.3. Ektomikoriza
PARAMETER SYARAT TEKNIS METODE PENGUJIAN Kepadatan spora *) Mikoriza Arbuskular (MA) :
a) Sceloderma columnnare b) Pisholitus tintorius 5% dari berat bahan pembawa Stereomikroskop Kontaminan E.coli dan Salmonella sp.
Nol pada pengenceran 10-3 MPN -Durham
*) Sesuai jenis MA yang terdapat dalam pupuk hayati (spesifikasi pupuk)
1.4. Bakteri Non Simbiotik
PARAMETER SYARAT TEKNIS MENURUT JENIS BAHAN PEMBAWA METODE PENGUJIAN
Tepung/Serbuk Granul/Pelet Cair
Total sel hidup *)
a). Bakteri >107 cfu/g (BK) >106 cfu/g (BK) >107 cfu/ml b). Aktinomiset >106 cfu/g (BK) >105 cfu/g (BK) >105 cfu/ml c). Fungi Mikroba :
a) Azospirillum b) Azotobacter c) Bacillus d) Pseudomonas e) Streptomyces f) Aspergillus >105 propagul/g (BK) >104 propagul/g (BK) >105 propagul/ml TPC NA TPC-SCNA PDA Patogenisitas Negatif Infeksi ke daun tembakau Kontaminan E.coli dan Salmonella sp.
Nol pada pengenceran 10-3 MPN -Durham Kadar Air (%) < 35 < 20 - ADBB pH 5 - 8 5 - 8 3 - 8 pH-meter
*) Sesuai jenis mikroba yang terdapat dalam pupuk hayati (spesifikasi pupuk)
2. KRITERIA PUPUK HAYATI MAJEMUK
SYARAT TEKNIS MENURUT JENIS BAHAN PEMBAWA PARAMETER Tepung/Serbuk Granul/Pelet Cair METODE PENGUJIAN Total sel hidup *)
a). Bakteri >105 cfu/g (BK) >105 cfu/g (BK) >105 cfu/ml b). Aktinomiset >104 cfu/g (BK) >104 cfu/g (BK) >104 cfu/ml c). Fungi Mikroba Majemuk :
a) Rhizobium + Bacillus b) Azotobacter + Rhizobium + Streptomyces + Penicillium >104 propagul/g (BK) >104 propagul/g (BK) >104 propagul/ml TPC NA TPC-SCNA PDA Kadar @ Pb, Cd, Hg, As **) < 50, < 10, < 1, < 10 ppm SNI, Balit Tanah Patogenisitas Negatif Infeksi ke daun tembakau Kontaminan E.coli dan Salmonella sp.
Nol pada pengenceran 10-3 MPN -Durham Kadar Air (%) < 35 < 20 - ADBB pH 5 - 8 5 - 8 3 - 8 pH-meter
*) Sesuai jenis mikroba yang terdapat dalam pupuk hayati (spesifikasi pupuk) **) Khusus untuk pupuk hayati dengan dosis >50 kg per ha
III. PERSYARATAN KHUSUS PUPUK HAYATI (menurut fungsi pupuk hayati) No.
FUNGSI PARAMETER UJI KRITERIA METODE PENGUJIAN
1. Penambat N2 a) simbiotik a) Terbentuknya lendir eksopolisakharida pada medium karbohidrat Positif Bereaksi asam/basa pada medium YEMA+ congored./BTB Plating
b) Pembentukan bintil akar Positif Pembentukan bintil akar pada Siratro Inokulasi tanaman siratro
b) hidup bebas Pembentukan pelikel/gelang pada medium Jnfb Positif Medium Jnfb
2. Pelarut P dan Fasilitator P a) Zona pelarutan P
Positif Membentuk zona terang pada Agar Pikovskaya Plating
b) Pelarutan P Positif > 10%, selisih P tersedia pada 0-48 jam Spektrofotometer
c) % infeksi/ kolonisasi tanaman inang Positif > 50%) Pewarnaan fuchsin
3. Pemacu Tumbuh Produksi hormon Positif Spektrofotometer
4. Penghasil anti mikroba Terbentuknya zona hambatan Positif
Plating
5. Perombak Bahan Organik a). Aktivitas Selulase Positif a) Terbentuknya terang pada media agar CMC b) > 0,3 unit Fp-ase per ml Plating
Spektrofotometer
b). Aktivitas Ligninase Positif a) Terbentuk koloni merah pada media agar Indulin b) > 1,0 unit lakase per ml, atau > 0,05 unit mangan peroksidase per ml, atau > 0,01 unit lignin peroksidase per ml Plating
Spektrofotometer
6. Pengakumulasi logam berat a) Akumulasi Pb dalam sel Positif Sel bakteri menjadi berwarna hitam Plating
b) Penurunan kandungan logam berat Positif AAS
IV. PERSYARATAN TEKNIS MINIMAL PEMBENAH TANAH ORGANIK
No Kriteria Satuan Persyaratan
Granul Cair Remah
1. C-organik % > 7,0 > 3,0 > 7,0
2. Kadar air % 7-15 - 7-15
3. pH
4 - 8 4 - 8 4 - 8
4. C/N rasio
8 - 15 - 8 - 15
Bahan ikutan (plastik, kaca, kerikil, endapan) % < 2 < 2 < 2
5. Logam berat :
As ppm < 10 < 2,5 < 10
Hg ppm < 1 < 0,25 < 1
Pb ppm < 50 < 12,5 < 50
Cd ppm < 10 < 2,5 <10
6. Kontaminan E.coli cfu/g;cfu/ml < 102 < 102 < 102
Salmonela sp.
cfu/g;cfu/ml < 102 < 102 < 102
V. PERSYARATAN TEKNIS MINIMAL PEMBENAH TANAH NON-ORGANIK
Persyaratan No.
Kriteria Satuan Granul Cair
1. Bahan aktif (sintetis)* % Dicantumkan Dicantumkan
2. Kadar Air % 2-10 -
3. KTK zeolit ** cmol/kg Sesuai SNI*** -
4. pH
4 - 8 4 – 8
5. Logam berat :
As ppm < 10 < 2,5
Hg ppm < 1 < 0,25
Pb ppm <50 < 12,5
Cd ppm <10 < 2,5
Keterangan :
* Khusus untuk bahan yang direkayasa kimia ** Pengukuran KTK zeolit sesuai SNI No 13-3494-1994 *** Syarat mutu zeolit mengacu pada SNI Nomor 13-7168-2006
MENTERI PERTANIAN,
ANTON APRIYANTONO
LAMPIRAN II PERATURAN MENTERI PERTANIAN
NOMOR : 28/Permentan/SR.130/5/2009
TANGGAL : 22 Mei 2009
FORMULIR PENDAFTARAN PUPUK ORGANIK, PUPUK HAYATI DAN PEMBENAH TANAH
............................, .... , ........................
Nomor :
Lampiran :
Perihal : Pendaftaran Pupuk Organik/
Pupuk Hayati/Pembenah Tanah *)
Kepada Yth.
....................................
di -
Jakarta
Yang bertanda tangan di bawah ini, kami :
Nama Perusahaan : ...................................................................
Alamat
: ...................................................................
sebagai Produsen/Importir/Distributor Tunggal jenis Formula Pupuk Organik/Pupuk Hayati/Pembenah Tanah.
Bersama ini mengajukan permohonan pendaftaran formula pupuk organik/pupuk hayati/pembenah tanah dengan nama dagang :
..............................................
Sebagai bahan pertimbangan kami lampirkan persyaratan sebagai berikut :
1. Akte Pendirian Perusahaan dan perubahannya (bagi yang berbadan hukum);
2. Surat Izin Usaha Perdagangan atau Tanda Daftar Perusahaan;
3. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP);
4. KTP penanggungjawab;
5. Surat Keterangan Domisili;
6. Pemilik formula yang bersangkutan atau kuasanya;
7. Agen yang ditunjuk oleh pemilik formula yang berasal dari luar negeri; dan
8. Sertifikat merek atau surat pendaftaran merek dari Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual.
Untuk selanjutnya kami bersedia memenuhi semua ketentuan yang berlaku dalam proses pendaftaran ini.
Demikian kami sampaikan dan atas perhatiannya diucapkan terima kasih.
Pimpinan Perusahaan
(.................................)
*) Coret yang tidak perlu
MENTERI PERTANIAN,
ANTON APRIYANTONO
Materei Rp 6.000,-
LAMPIRAN III PERATURAN MENTERI PERTANIAN
NOMOR : 28/Permentan/SR.130/5/2009
TANGGAL : 22 Mei 2009
TABEL 1a. LEMBAGA YANG DITUNJUK UNTUK MELAKUKAN UJI MUTU PUPUK ORGANIK DAN PEMBENAH TANAH
No.
Nama Alamat Kemampuan Analisa Kandungan Unsur Hara 1 Balai Penelitian Tanah, BBSDLP Jl. Juanda 98 Bogor Makro : N-Urea/Organik, N-NH4, N-NO3 (total N), P2O5, K20 ,MgO, CaO, S dan Cl
Telp. 0251-8323012 Mikro : Fe, Al, Mn, Cu, Zn dan B
Bogor 16123 Logam berat : Pb, Cd, Cr, Co dan Ni
2 Balai Penelitian Bioteknologi dan Jl. Tentara Pelajar No. 3A Makro : N, P2O5, K2O, S, Ca, Mg
Sumberdaya Genetik Pertanian Bogor 16111 Mikro : Mn, Cu, Zn
Tlp. 0251-337975, 228820 Logam Berat : Pb, Cd
Fax. 0251-338820 tidak bisa : B, Mo, Co, As, Hg, biuret
3 Balai Pengkajian Teknologi Jl. Karya Yasa No. 1 B Makro : N, P2O5, K2O, S, CaO, MgO, Na, SiO2
Pertanian (BPTP) Sumut Gedong Johor Medan 20143 Mikro : Mn, Cu, Zn, Fe, Al, B
Tlp. 061-7870710 Logam Berat : Pb, Hg
4 Balai Pengkajian Teknologi Jl. Raya Krangploso Km.4 Kotak Pos Makro : N, P2O5, K2O, S, Mg, Ca
Pertanian (BPTP) Jatim 188 Malang 6510, Jawa Timur Mikro : Mn, Cu, Zn, B, Mo, Co
Tlp. 0341-494052, 485056 Logam Berat : -
5 Balai Penelitian Tanaman Jl. Tangkuban Perahu 517 Makro : N, P2O5, K2O, S, Ca, Mg, Na
Sayuran - Lembang Bandung Mikro : Mn, B, Cu, Zn, Al, Fe,Co, Mo
Tlp. 022 - 2786245 Logam Berat : Hg, Pb
Fax. 022 - 2786416
6 Balai Penelitian Ternak Jl. Raya Tapos Ciawi, Bogor Makro : N, P2O5, K2O, S, Ca, Mg
Tlp. 0251-240751, 240752 Mikro : Mo, Mn, B, Cu, Zn, Co
Fax. 0251-240754 Logam Berat : Pb, As, Hg, Cd
7 Balai Penelitian Getas Jl. Pattimura Km. 6 Salatiga Makro : N, P2O5, K2O, Ca, Mg
Tlp. 0298 - 322504 Mikro : Mn
Fax. 0298 - 323075 Logam Berat : -
8 Balai Besar Penelitian Padi Jl. Raya Sukamandi Cikampek Makro : N, P2O5, K2O, S, Ca, Mg
Mikro : Mo, Mn, B, Cu, Zn, Co
Logam Berat : As, Cd, Pb
9 Pusat Penelitian Kopi Jl. PB. Sudirman 90 Makro : N, P2O5, K2O, Ca, Mg, S
dan Kakao Tlp. 0331-757130, Mikro : Fe, Mn, B, Cu, Zn, Cl
Fax. 0331-757131 Logam Berat : Cd
Jember tidak bisa : Mo, Co, As, Hg, Pb
10 Pusat Penelitian Kelapa Jl. Brigjen Katamso No.51 Medan Makro : N, P2O5, K2O, S, Ca, Mg
Sawit Tlp. 061-7862477 Mikro : Mo, Mn, B, Cu, Zn, Co
Fax. 061-7862488 Logam Berat : Pb, As, Hg, Cd
tidak bisa : biuret
11 Pusat Penelitian Bioteknologi Jl. Taman Kencana 1 Bogor Makro : N, P2O5, K2O, S, Ca, Mg
Perkebunan Tlp. 0251-327449, 324048 Mikro : Mn, Cu, Zn, B
Fax. 0251-328516 Logam Berat : Cd
12 Pusat Penelitian dan Pengembangan Jl Pahlawan 25 Pasuruan 67126 Makro : N, P2O5, K2O, S, Ca, Mg
Gula INDONESIA (P3GI) Jawa Timur Mikro : Mo, Mn, B, Cu, Zn, Co
Logam Berat : As, Cd, Pb
13 PTP Gunung Madu Jl. Gatot Subroto 108 Makro : N, P2O5, K2O, S, Ca, Mg
Plantation Bandar Lampung Mikro : Mn, B, Cu, Zn,
Tlp. 0725-46700 Logam Berat : -
Fax. 0725-46800
No.
Nama Alamat Kemampuan Analisa Kandungan Unsur Hara 14 BPTP NTB Jl. Raya Peninjauan Narmada Makro : N, P2O5, K2O, S, Ca, Mg, Na
PO BOX 1017 Mataram 83010 Mikro : Mn, Cu, Zn, B, Mo, Co
Tlp. 0370-671312 Logam Berat : As, Hg, Cd, Pb
Fax. 0370-671620
15 BPTP Sulawesi Selatan Jl. Perintis Kemerdekaan Km. 17,5 Makro : N, P2O5, K2O, S, Ca, Mg
Instalasi Lab Tanah, Maros Makassar Kotak Pos 1234 Mikro : Mn, Cu, Zn, B, Mo, Co
Tlp. 0411-554522,302317 Logam berat : Cd, Pb
Fax. 0411-554522 tidak bisa : As, Hg
16 Jurusan Tanah, Faperta, Jl. Pendidikan No. 37 Mataram 83125 Makro : N, P2O5, K2O, S, Ca, Mg
Universitas Mataram Tlp. 0370-644588 Mikro : Mn, Cu, Zn, B, Mo, Co
Fax. 0370-644793 Logam Berat : As, Hg, Cd, Pb
17 Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Faperta IPB Jl. Meranti, Kampus IPB Dermaga Makro : N, P2O5, K20
Tlp. 0251-8629346, 8629357 Mikro : Zn, B, Cu, Mn, Mo, Co
Fax. 0251-8629358 Logam Berat : As, Cd, Hg, Pb
18 Jurusan Tanah, Faperta Jl. Raya Bandung-Sumedang Makro : N, P2O5, K2O, S, Ca, Mg
Universitas Pajajaran Km.21 Jatinangor, Bandung Mikro : Mo, Mn, B, Cu, Zn, Co
Tlp/Fax. 022-7796316 Logam Berat : Pb, As, Hg, Cd
19 Jurusan Tanah, Faperta UGM Jl. Sekip Unit I Yogyakarta 55281 Makro : N, P2O5, K2O, S, Ca, Mg
Tlp./Fax. 0274-563062 Mikro : Mo, Mn, B, Cu, Zn, Co
Logam Berat : Pb, As, Hg, Cd
20 Fakultas Pertanian Jl. Mayjend Haryono No.163 Makro : N, P2O5, K2O, S, Ca, Mg
Universitas Brawijaya, Malang
Mikro : Mo, Mn, B, Cu, Zn, Co
Logam Berat : Pb, As, Hg, Cd
21 Faperta, Universitas Nusa Cendana Jl. Timtim Km.32 PO BOX 1022 Makro : N, P2O5, K2O, S, Ca, Mg
Naibonat, Kupang Mikro : Mo, Mn, B, Cu, Zn, Co
Tlp. 0380-825055 Logam Berat : -
Fax. 0380-833766
22 Lembaga Pendidikan Perkebunan Jl. Jenderal Urip Sumoharjo 100 Makro : N, P2O5, K2O, S, Ca, Mg
Kampus Yogyakarta Tlp. 0274 - 586201 Mikro : Al, Fe, Na, Cu, Si
Fax. 0274 - 513849 Logam Berat : Pb, As, Hg
23 PT Smart Tbk.
Jl. Teuku Umar 19 Makro : N, P2O5, K2O, Ca, Mg
Smart Research Institute Pekanbaru Mikro : Fe, Mn, B, Cu, Zn, Cl, Al
Tlp. 0761-32986 Logam Berat : Pb, Co, Cd
Fax. 0761-32593 Tidak bisa : Mo, As, Hg
24 PT. Rajawali Nusantara INDONESIA Pusat Penelitian Agronomi Makro : N, P2O5, K2O, Ca, Mg, S
PO BOX 121 Cirebon 45122 Mikro : Fe, Cu, Zn, Mn
Tlp. 0233-81410 tidak bisa : B, Mo, Co, As, Cd, Hg, Pb, biuret
25 PT Sucofindo Cibitung Jl. Arteri Tol Cibitung- Bekasi Makro : N, P2O5, K20
Fax. 88321166, 88321162 Mikro : Mn, Cu, Zn, B, Mo, Co
Tlp. 88321176 Logam Berat : As, Cd, Hg, Pb
26 PT Sucofindo Surabaya Jl. Jend. A. Yani 315 Makro : N, P2O5, K2O, S, Ca, Mg
Surabaya Mikro : Mn, Cu, Zn, B, Mo, Co
Tlp. 031-8470547 Logam Berat : As, Hg, Cd, Pb
Fax.031-8470563
27 PT. Sucofindo Medan Jl. Gatot Subroto Km 5,5 Makro : N, P2O5, K2O, S, Mg dan Ca
No.105 Medan Mikro : Zn, Cu dan Mn
Tlp. 061-8451880 Logam berat : Cd dan Pb
Fax. 0618452568 Tidak bisa : N-organik, Mo, Co, B, As dan Hg
PT. Sucofindo Bandar Lampung Jl.Gatot Subroto No.161 Lampung Makro : N, P2O5, K2O, S, Ca, Mg
Tlp. 0721-474660 Mikro : Mn, Cu, Zn, B, Mo, Co
Fax. 0721-474661 Logam Berat : As, Hg, Cd, Pb No. Nama Alamat Kemampuan Analisa Kandungan Unsur Hara 29 PT.Sucofindo Semarang Jl. Raya Kaligawe-Genuk km.8 Makro : N, P2O5, K2O, S, Ca, Mg
Semarang Mikro : Mn, Cu, Zn, B, Mo, Co
Logam Berat : As, Hg, Cd, Pb
30 PT. Astra Agro Lestari Jl. Pulo Ayang Raya Blok OR - 1 Makro : N, P2O5, K2O, Ca, Mg
Jakarta 13930 Mikro : B, Al, Fe, Zn, Cl
Tlp. 021 - 4616555 Logam Berat : Pb, Cu
Fax. 021 - 4616618
31 Peternakan Wirakarya Sakti Jl. Ir. H. Djuanda No.14 Jambi Makro : N, P2O5, K2O, Ca, Mg, S
Tlp. 0741-551710 Mikro : Zn, B, Cu, Mn, Mo, Co
Logam Berat : As, Cd, Pb
TABEL 1b. LEMBAGA YANG DITUNJUK UNTUK MELAKUKAN UJI MUTU PUPUK HAYATI
No.
Nama Alamat Kemampuan Analisis 1 Balai Penelitian Tanah, Balai Besar Laboratorium Mikrobiologi Tanah, Rhizobium, azospririlum, Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, Balai Penelitian Tanah azotobacter Lactobacillus, Bogor Jl. Tentara Pelajar No. 3A Bogor mikoriza, bacillus, e coli salmonella, ragi, saccharomices, alkaligen trichoderma, dll.
2 Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Laboratorium Mikrobiologi, BB Biogen Lactobacillus, bacillus, e coli, Sumberdaya Genetik Pertanian. Bogor Jl. Tentara Pelajar 3A salmonella, ragi, saccharomices, Bogor azotobacter, azospririlum, rhizobium 3 Faperta IPB Bogor Laboratorium Bioteknologi Tanah, Lactobacillus, bacillus, e coli, Dept. Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, salmonella, ragi, saccharomices, FP-IPB azotobacter, azospririlum, rhizobium, mikoriza 4 Faperta UGM, Yogyakarta Laboratorium Mikrobiologi Tanah, Faperta UGM 5 Faperta Unibraw, Malang Laboratorium Biologi tanah, Faperta Unibraw 6 Faperta Unpad, Sumedang Laboratorium Mikrobiologi Tanah, Rhizobium, azotobacter, azospririlum, Faperta Unpad pelarut P Jl. Jatinangor Km 21 7 FMIPA Unpad Sumedang Laboratorium Biologi, Fmipa Unpad Lactobacillus, bacillus, e coli, Jl. Jatinangor Km 21.
salmonella, ragi, saccharomices, azotobacter, azospririlum, rhizobium 8 Indonesian Center for Biodiversity Laboratorium Bioteknologi Lingkungan and Biotechnology (ICBB)
TABEL 2a. LEMBAGA YANG DITUNJUK UNTUK MELAKUKAN UJI EFEKTIVITAS PUPUK ORGANIK
No.
Nama Alamat 1 Balai Penelitian Tanah Jl. Ir. H. Juanda No. 98, Bogor 16123
Tlp. 0251-8323012
Fax. 0251-8311256
2 Balai Besar Penelitian Padi Jl. Raya Sukamandi Cikampek
Subang 41256
3 Balai Penelitian Tanaman Sayuran Jl. Tangkuban Perahu 517
Bandung
4 Balai Penelitian Tanaman Serealia Jl. Ratulangi 274, Maros 90154
Sulawesi Selatan Kotak Pos 1173
Ujung Pandang
Tlp. 0411-371529
Fax. 0411-371961
5 Balai Penelitian Tanaman Rempah Jl. Tentara Pelajar No. 3A
dan Obat (Balitro) Bogor 16111
Tlp. 0251-321879
Fax. 0251-327010
6 Balai Penelitian Tembakau dan Jl. Raya Krangploso PO BOX 199
Tanaman Serat (Balittas) Malang, Jawa Timur
7 Balai Penelitian Pertanian Lahan Jl. Kebun Karet, Loktabat
Rawa (Balittra) Banjar Baru, Kalsel 70712
Tlp. 0511-772534
8 Balai Penelitian Tanaman Kacang- Jl. Raya Kedal Payak, Kotak Pos 66
Kacangan dan Umbi-umbian Malang, Jawa Timur
(Balitkabi) Tlp. 0341-801468
Fax.-341-801496
9 Balai Penelitian Tanaman Kelapa Jl. Bethesda II, Mapanget Manado
dan Palma Lain (Balitka) 95001, Sulawesi Utara Po.Box 1004
Tlp. 0431 - 52866 / 62796
10 Pusat Penelitian Kopi Jl. PB. Sudirman 90
dan Kakao Tlp. 0331-757130,
487278, 485864
Fax. 0331-757131
Jember
11 Pusat Penelitian Karet INDONESIA PO. BOX 1415 Medan 20001
12 BPTP, Jawa Barat Kotak Pos 1013 Yogyakarta 55010
Tlp. 0274 – 562935
Fax. 0274 – 562935
13 BPTP, Jawa Tengah Jl. Raya Krangploso Km.4 Kotak Pos
188 Malang 6510, Jawa Timur
14 BPTP, Yogyakarta Kotak Pos 1013 Yogyakarta 55010
Tlp. 0274 – 562935
Fax. 0274 – 562935
15 BPTP, Karang Ploso, Jawa Timur Jl. Raya Krangploso Km.4 Kotak Pos
188 Malang 6510, Jawa Timur
BPTP, Ujung Pandang Jl. Perintis Kemerdekaan Km. 17,5
Makasar, Sulsel P.O. Box 1234
Tlp. 0411-319645
Fax. 0411-554522
17 BPTP Gedung Johor Jl. Karya Yasa No. 1 B
Sumut Gedong Johor Medan 20143
Tlp. 061-7870710
18 BPTP Jl. Raya Peninjauan Narmada
Nusa Tenggara Barat PO.Box. 1017 Mataram
Tlp. 0370-671312
Fax. 0370-671620
19 Institut Pertanian Bogor Fakultas Pertanian
Jl. Meranti , Kampus IPB Dermaga
Bogor 16680
Tlp./Fax. 0251-629353
20 Universitas Gajah Mada Fakultas Pertanian
Jl. Sekip Selatan Yogyakarta
21 Universitas Brawijaya, Malang Fakultas Pertanian
Jl. Mayjend Haryono 163 Malang
22 Universitas Sriwijaya, Palembang Fakultas Pertanian
Jl. Palembang, Prabumulih Km 32
Indralaya
Tlp. 0711-580059
Fax. 0711-580276
23 Universitas Sumatera Utara Fakultas Pertanian USU
Jl. Prof. Asofyan No.3, Kampus USU
Padang Bulan, Medan
Tlp. 061-8223604
24 Universitas Andalas, Padang Fakultas Pertanian
Kampus Limau Manis, Padang
Tlp. 0751-72701
Fax. 0751-72702
25 Universitas Padjadjaran, Bandung Fakultas Pertanian, UNPAD
Jl. Raya Bandung, Sumedang Km. 21
Jatinangor, Bandung
Tlp/Fax. 022-7796316
26 Universitas Hasanuddin, Makassar Fakultas Pertanian UNHAS
27 Universitas Palangka Raya Fakultas Pertanian, UNPAR
Kampus UNPAR Tunjung Nyaho
Jl. Yos Sudarso- Kalteng
Tlp/Fax. 0536-27863
TABEL 2b. LEMBAGA YANG DITUNJUK UNTUK MELAKUKAN UJI EFEKTIVITAS PUPUK HAYATI
No.
Nama Alamat 1 Balai Penelitian Tanah Jl. Ir. H. Juanda No. 98, Bogor 16123
Tlp. 0251-8323012
Fax. 0251-8311256
2 Balai Penelitian Tanaman Padi Jl. Raya Sukamandi Cikampek
Subang 41256
3. Balai Besar Litbang Bioteknologi Pertanian Jl. Tentara Pelajar No. 3A
Bogor
4 Institut Pertanian Bogor Fakultas Pertanian
(Fakultas Pertanian) Jl. Meranti , Kampus IPB Dermaga
Bogor 16680
Tlp./Fax. 0251-629353
5 Universitas Gajah Mada Fakultas Pertanian
Jl. Sekip Selatan Yogyakarta
6 Universitas Brawijaya, Malang Fakultas Pertanian
Jl. Mayjend Haryono 163 Malang
7 Universitas Pajajaran Jl. Jatinangor Km 21
Sumedang
MENTERI PERTANIAN, ANTON APRIYANTONO
LAMPIRAN IV PERATURAN MENTERI PERTANIAN
NOMOR : 28/Permentan/SR.130/5/2009
TANGGAL : 22 Mei 2009
METODE PENGAMBILAN CONTOH PUPUK ORGANIK, PUPUK HAYATI DAN PEMBENAH TANAH No.
Metode Pengambilan Contoh Acuan
1. Pupuk Organik dan Pembenah Tanah Bentuk Padat SNI Nomor 19-0428-1989
2. Pupuk Organik dan Pembenah Tanah Bentuk Cair SNI Nomor 19-0429-1989
3. Pupuk Hayati Bentuk Padat dan Cair
METODE PENGUJIAN MUTU PUPUK ORGANIK, PUPUK HAYATI DAN PEMBENAH TANAH
No.
Parameter Metode Pengujian Acuan
1. Kadar air Oven, 105 oC, 16 jam AOAC 967.03,2000
2. Bahan ikutan (kerikil, beling, plastik) Pengayakan AOAC 973.03,2000
3. C-organik Bentuk cair : Oksidasi basah dengan asam kromat (Walkey & Black), Spectrometry.
Bentuk padat : Pengabuan kering pada 550 oC.
Page, et al., 1984 AOAC 967.05, 2000
4. pH (H2O) Electrometry, pH-meter, (1:5) AOAC, 994.18, 2000
5. KTK pH 7 Perkolasi-destilasi-titrasi Page et al., 1984.
KTK Zeolit
6. N-total Kjeldahl, titrimetry, spectrometry Page et al., 1984.
7. P Oksidasi basah (HNO3 + HClO4),molibdovanadat, spectrometry AOAC 957.02,2000 AOAC 958.01,2000
8. K Oksidasi basah (HNO3 + HClO4),Flamephotometry AOAC 957.02,2000 AOAC 983.02,2000
9. Fe Oksidasi basah (HNO3 + HClO4),Atomic Absorption Spectrophotometry AOAC 957.02,2000 AOAC 980.01,2000
10. Mn Oksidasi basah (HNO3 + HClO4),Atomic Absorption Spectrophotometry AOAC 957.02,2000 AOAC 972.03,2000
11. Cu
Oksidasi basah (HNO3 + HClO4),Atomic Absorption Spectrophotometry AOAC 957.02,2000 AOAC 975.01,2000
12. Zn Oksidasi basah (HNO3 + HClO4),Atomic Absorption Spectrophotometry
AOAC 957.02,2000 AOAC 975.02,2000
13. B Oksidasi basah (HNO3 + HClO4),Atomic Absorption Spectrophotometry AOAC 957.02,2000 AOAC 982.01,2000
14. Pb Oksidasi basah (HNO3 + HClO4),Atomic Absorption Spectrophotometry AOAC 957.02,2000 AOAC 999.10,2000
15. Cd Oksidasi basah (HNO3 + HClO4),Atomic Absorption Spectrophotometry AOAC 957.02,2000 AOAC 999.10,2000
16. Hg Oksidasi basah (HNO3 + HClO4),Atomic Absorption Spectrophotometry – Hydride Cold Vapour AOAC 957.02,2000 AOAC 971.21,2000
17. As Oksidasi basah (HNO3 + HClO4),Atomic Absorption Spectrophotometry – Hydride AOAC 957.02,2000 AOAC 986.15,2000
18. Co Oksidasi Basah dengan HNO3 + HClO4 / Atomic Absorption Spectrophotometry EWW 3111 B, 1998
19. Mo Oksidasi Basah dengan HNO3 + HClO4 / Atomic Absorption Spectrophotometry EWW 3111 D, 1998
20. E. coli Most Probable Number (MPN) E. coli
Manual on Microbiological Technique, 1991
21. Salmonella sp Most Probable Number (MPN) Salmonella sp
Manual on Microbiological Technique, 1991
22. Total sel hidup bakteri TPC di medium YEMA MMT, 1991
23. Kontaminasi MPN –Durham MMT, 1991
24. Total propagul Endomikoriza Arbuskular MPN
MMT, 1991
Total propagul Ektomikoriza
Stereomikroskop MMT, 1991
25. Total sel hidup :
bakteri, aktinomiset, fungi
TPC NA TPC-SCNA PDA MMT, 1991
26. Patogenisitas Infeksi ke daun tembakau MMT, 1991
Keterangan :
AOAC : Analysis of Analytical Chemis EWW : Examination of Water and Wastewater MMT : Manual on Microbiological Technique
MENTERI PERTANIAN,
ANTON APRIYANTONO
27. Penambat N2 simbiotik:
a. Terbentuknya lendir ekso-polisakharida pada medium karbohidrat
b. Pembentukkan bintil akar
Plating
Inokulasi tanaman Siratro
MMT, 1991
28. Penambat N2bebas:
Pembentukan pelikel/gelang pada medium Jnfb
Medium Jnfb
MMT, 1991
29. Pelarut P dan Fasilitator P:
a. zona pelarutan P
b. Pelarutan P
c. %infeksi/koloni-sasi tanaman inang
Plating Spektrofotometer Pewarnaan fuchsin
MMT, 1991
30. Produks fitohormon pemacu tumbuh Spektrofotometer MMT, 1991
31. Terbentuknya zona hambatan untuk penghasil anti mikroba
Plating MMT, 1991
32. Perombak bahan organik :
a. aktivitas selulosa
b. Aktivitas linase
Plating, spektrofotometer Plating, spektrofotometer MMT, 1991
33. Pengakumulasi logam berat:
a. akumulasi Pb dalam sel
b. penurunan kandungan logam berat
Plating
AAS MMT, 1991
LAMPIRAN V. PERATURAN MENTERI PERTANIAN
NOMOR : 28/Permentan/SR.130/5/2009
TANGGAL : 22 Mei 2009
A. UJI EFEKTIVITAS PUPUK ORGANIK
Uji mutu dan efektivitas pupuk organik dilaksanakan untuk melindungi kepentingan konsumen dari ekses negatif penggunaan pupuk organik. Pupuk organik yang diuji adalah pupuk yang telah memenuhi kriteria teknis minimal pupuk organik atau pupuk yang telah lolos pengujian mutu. Pupuk yang tidak memenuhi syarat uji mutu tidak perlu dilakukan uji efektivitas pupuk.
1. Tujuan Percobaan
Mengetahui pengaruh pupuk organik terhadap perubahan sifat-sifat tanah dan atau pertumbuhan dan hasil tanaman dari segi teknis agronomis dan ekonomi dengan menggunakan suatu metodologi penelitian yang telah ditentukan.
2. Pelaksana
Nama lembaga pelaksana pengujian yang ditunjuk oleh Menteri Pertanian.
3. Ruang Lingkup
Pengujian pupuk organik dilakukan dalam kondisi lapangan atau rumah kaca dengan memperhatikan faktor-faktor tanah, iklim, dan faktor biologis yang mempengaruhi tujuan percobaan.
4. Lokasi dan Waktu
4.1.
Pengujian dilakukan dilokasi yang mempunyai tanah dengan status bahan organik tanah rendah agar diperoleh respon pemupukan yang nyata. Untuk percobaan di rumah kaca, contoh tanah diambil dari lapangan yang disesuaikan dengan tujuan percobaan.
4.2.
Waktu pengujian disesuaikan dengan kebutuhan/komoditi yang diuji:
Pengujian pupuk organik cair dilakukan pada tanaman berumur minimal 1 bulan, sedangkan untuk pupuk organik curah/granul dilakukan pada tanaman berumur lebih dari 2 bulan atau pada tanaman tahunan (umur > 6 bulan)
5. Bahan dan Metode
5.1. Bahan
5.1.1. Tanah
Pengujian dilakukan dengan menggunakan contoh tanah yang mempunyai kesuburan rendah, antara lain tanah berkadar bahan organik rendah. Apabila dilaksanakan di rumah kaca, maka berat kering contoh tanah per pot adalah 5-10 kg tergantung jenis tanaman uji.
5.1.2. Tanaman Uji
Tanaman padi, palawija (kedelai/kacang tanah), sayuran, atau tanaman tahunan (sampai fase pembibitan) sesuai dengan jenis pupuk organik yang akan diuji
5.1.3. Varietas
Varietas yang digunakan adalah varietas yang telah resmi dilepas oleh Departemen Pertanian.
5.2. Metode
5.2.1. Rancangan Percobaan Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) berpola tunggal atau faktorial atau rancangan lain sesuai kebutuhan dalam pengujian.
5.2.2 Perlakuan
Ditetapkan perlakuan yang dapat menjawab tujuan percobaan yaitu meningkatkan pertumbuhan dan atau hasil tanaman dan atau mutu tanaman dan atau mengefisienkan penggunaan pupuk an-organik.
Minimal perlakuan 6.
5.2.3. Ulangan Banyaknya ulangan (u) ditentukan berdasarkan banyaknya perlakuan (p), sehingga memenuhi kaidah sebagai berikut:
(p-1) (u-1) >15, dengan u >3.
Contoh perlakuan yang diuji sebagai berikut:
Organik Urea SP-36 KCl Perlakuan …………..kg/ha …………
1. Kontrol 0 0 0 0
2. NPK standar 0 300 100 100
3. 0 NPK standar + 1 Organik 500 - - -
4. ¼ NPK standar + 1 Organik 500 75 25 25
5. ½ NPK standar + 1 Organik 500 150 50 50
6. ¾ NPK standar + 1 Organik 500 225 75 75
7. NPK standar + 1 Organik 500 300 100 100
8. ¾ NPK standar + ¼ Organik 125 225 75 75
9. ¾ NPK standar + ½ Organik 250 225 75 75
10. ¾ NPK standar + ¾ Organik 375 225 75 75 Keterangan:
a. Kontrol adalah perlakuan tanpa pupuk an-organik maupun organik
b. Pupuk standar adalah perlakuan pupuk an-organik dosis uji tanah/rekomendasi setempat.
c. Perlakuan dosis pemupukan yang diuji minimal 3 taraf dosis agar diperoleh sebaran data yang dapat digunakan untuk menentukan dosis pupuk optimal.
5.2.4. Satuan Petak dan Jarak Antar Petak
Satuan Petak dan Jarak Antar Petak ditentukan berdasarkan jenis tanaman.
5.2.4.1. Tanaman padi minimal 4m x 5m dan petak panen minimal 5 m2.
5.2.4.2. Tanaman sayuran minimal 4m x 5m terbagi menjadi 4 bedeng, masing-masing bedeng berukuran 0,8 - 1m x 5m
5.2.4.3. Tanaman tahunan setiap unit perlakuan terdiri dari 5-9 tanaman diulang minimal 3 kali.
5.2.4.4. Jarak antar petakan sekitar 0,5 - 1m tergantung jenis tanaman.
Jarak antar ulangan sekitar 1m.
5.2.5. Tata Letak Unit Percobaan
5.2.5.1. Satuan percobaan diletakkan secara acak (random) dalam satu kesatuan (satu ulangan) dan tidak terpencar.
5.2.5.1. Letak ulangan harus tegak lurus arah gradien kesuburan tanah.
5.2.6. Cara Aplikasi Pupuk Organik
5.2.6.1. Aplikasi pertama dilakukan sebelum atau pada saat tanam atau setelah tanam, tergantung pada jenis tanaman dan jenis pupuk yang diuji.
5.2.6.2. Banyaknya aplikasi tergantung pada jenis pupuk yang diuji.
5.2.7. Pemeliharaan
Pemeliharaan mengacu kepada budidaya standar untuk setiap jenis komoditas mencakup pengendalian hama dan penyakit yang dapat mengganggu pelaksanaan dan pencapaian hasil penelitian.
5.2.8. Pengamatan
5.2.7.1. Metode Pengambilan Contoh Contoh tanaman diambil secara acak/sistematis, dengan jumlah sampel sesuai jumlah populasi tanaman. Contoh tanah diambil sebelum dan setelah panen.
5.2.6.3. Metode Pengamatan Pengamatan pertumbuhan dilakukan dengan mengukur pertambahan vegetatif tanaman secara berkala. Pengukuran hasil atau mutu tanaman dilakukan sesuai dengan jenis tanaman dan tujuan pengujian.
5.2.6.4. Waktu pengamatan disesuaikan dengan jenis tanaman dan jenis pupuk yang diuji.
5.2.6.5. Pengamatan pertumbuhan tanaman Pengamatan dilakukan setiap 2 minggu (untuk tanaman umur < 2bulan), setiap 4 minggu (untuk tanaman umur > 3 bulan) atau setiap 2 bulan untuk tanaman tahunan.
5.2.6.6. Pengamatan panen Biomasa dan hasil biji diukur dari petak panen (minimal 2m x 3m) kemudian dikonversi ke ku/ha atau t/ha
5.2.8.
Pengumpulan data Data yang dikumpulkan sesuai jenis tanaman dan tujuan pengujian antara lain meliputi:
5.2.8.1.
Data analisis kimia tanah awal
5.2.8.2.
Data pertumbuhan vegetatif (pertumbuhan tanaman) meliputi:
tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah anakan, diamater batang,
5.2.8.3.
Data panen: berat biji/tanaman/daun
5.2.8.5.
Data kualitas produk (buah, daun, minyak, dan lain-lain)
5.2.8.6.
Data serapan hara tanaman
5.2.8.7.
Data untuk keperluan analisis usaha tani.
5.2.9.
Tolak ukur Efektivitas
5.2.9.1.
Pertumbuhan tanaman
5.2.9.2.
Hasil tanaman
5.2.9.3.
Mutu tanaman
5.2.9.4.
Peningkatan serapan hara tanaman
5.2.9.5.
Perbaikan status hara tanaman
5.2.10. Pengolahan Data
5.2.10.1. Data pertumbuhan dan hasil tanaman diolah secara statistik dengan ANOVA dilanjutkan dengan pembandingan antar perlakuan dengan uji Duncan (DMRT) pada taraf uji 1% dan 5%
5.2.10.2. Gunakan grafik/kurva atau diagram batang untuk pembandingan kadar/serapan/mutu hasil
5.2.10.3. Penilaian efektivitas secara teknis/agronomis dilakukan dengan perhitungan Nilai Relativitas Agronomi (RAE) dengan rumus:
Hasil pupuk alternatif - kontrol RAE = ------------------------------------------ x 100 %
Hasil pupuk standar - kontrol
• Nilai RAE perlakuan standar =100 • Nilai RAE > 100%, pupuk yang diuji efektif dibanding perlakuan standar
5.2.10.4. Penilaian efektivitas pupuk secara ekonomis dilakukan dengan perhitungan B/C, R/C, IBCR, dengan rumus:
Penerimaan pupuk uji - kontrol IBCR= ------------------------------------------
Pengeluaran pupuk uji - kontrol
IBCR atau B/C atau R/C > 1 berarti pupuk yang diuji mempunyai nilai ekonomis yang baik
5.2.11. Kriteria Lulus Uji Efektivitas
5.2.11.1. Secara teknis/agronomis • Perlakuan pupuk yang diuji secara statistik sama dengan perlakuan standar atau • Perlakukan pupuk yang diuji lebih baik dibandingkan dg perlakuan kontrol pada taraf nyata 5%
5.2.11.2. Secara ekonomis • Penggunaan pupuk organik dinilai lulus uji efektivitas secara ekonomis apabila analisa ekonomi usahataninya menguntungkan, yaitu apabila nilai IBCR atau B/C atau R/C > 1
B. UJI POPULASI MIKROBA
1. Metode penghitungan populasi mikroba
a. Sepuluh gram contoh yang berbentuk padatan atau 10 ml contoh yang berupa kultur cair yang akan dianalisakan ditimbang dan disuspensikan ke dalam 90 ml larutan garam fisiologis (NaCl 0.85%) steril. Contoh diulang 5 kali.
b. Selanjutnya dilakukan pengenceran secara serial, dengan cara menginokulasikan 1 ml suspensi tersebut diatas (10-1) ke dalam 9 ml lar. garam fisiologis hingga 10-5.
c. Kemudian 100 µl suspensi tersebut di inokulasikan kedalam medium pertumbuhan mikroba yang akan di analisis.
d. Dan inkubasi dalam suhu ruang selama 5 - 10 hari.
e. Lalu dilakukan perhitungan populasi mikroba secara Most Propable Number (MPN) .
2. Penyimpanan contoh Contoh yang telah selesai dianalisis disimpan dalam ruang dingin (100C) untuk jangka waktu tertentu agar memudahkan bila diperlukan pengulangan analisis.
Pengulangan akan dilakukan apabila dari 5 contoh, diperoleh 3 contoh yang tidak seragam, atau banyak terdapat kontaminasi (khusus kultur murni), maka akan dilakukan pengulangan dari contoh yang tersimpan.
1. RHIZOBIUM
1. Metode kerja
a. Sepuluh gram contoh disuspensikan dalam 90 ml larutan garam fisiologis steril, untuk kemudian dilakukan pengenceran serial dengan menggunakan 9 ml garam fisiologis steril hingga 105. Suspensi tersebut lalu di inokulasikan ke dalam medium seleksi Sari Khamir Manitol (SKM) Agar yang ditambah Merah Kongo, lalu diinkubasi hingga 10 hari. Amati pertumbuhannya dan hitungan populasinya berdasarkan metode MPN.
b. MPN juga dilakukan dengan menginokulasikan suspensi dari setiap serial pengenceran ke tanaman siratro yang telah ditumbuhkan selama 3 hari di tabung reaksi yang berisi agar miring dari larutan hara bebas nitrogen. Setiap pengenceran (contoh : 10-1) diinokulasikan ke 5 tabung yang berisi tanaman siratro sampai dengan pengenceran 10-8. Selanjutnya tanaman diinkubasi di ruang tumbuh selama 30 hari . Pengamatan dilakukan terhadap bintil akar yang terbentuk ( positif) dan bila tidak ada bintil akar (negatif) dan hitungan populasinya berdasarkan metoda MPN. Untuk sampel inokulan dengan bahan pembawa gambut larutan yang digunakan selain larutan garam fisiologis dipakai larutan buffer fosfat.
2. Alat-alat ♦ Autoclave ♦ Petridish ♦ Oven ♦ Tabung reaksi ♦ Neraca analitik ketelitian 3 desimal ♦ Beaker glass ♦ Water bath ♦ Magnetic Stirer ♦ Ose ♦ Pipetman ♦ Microtip 1 ml dan 200 µl.
3. Media seleksi Rhizobium Komposisi medium Sari Khamir Manitol Agar
♦ K2HPO4 : 0,5 gram - Congored 0,25% : 10 ml ♦ MgSO4. 7H20 : 0,2 gram - Aquadest : 1000 ml ♦ NaCl
: 0,1 gram ♦ Manitol
: 10 gram ♦ Sari Khamir : 0,5 gram ♦ Agar
: 15 gram
2. MIKROBA PELARUT FOSFAT
1. Metode Kerja Sepuluh gram contoh disuspensikan dalam 90 ml larutan garam fisiologis steril, untuk kemudian dilakukan pengenceran serial dengan menggunakan 9 ml garam fisiologis steril hingga 105. Suspensi tersebut lalu di inokulasikan ke dalam medium seleksi Pikovskaya Agar, dan diinkubasi 10 hari. Amati pertumbuhannya dengan menghitung jumlah koloni yang mempunyai halo disekitarnya dan hitungan populasinya berdasarkan metode MPN. Cara ini juga dapat digunakan untuk menghitung populasi fungi pelarut fosfat.
2. Alat-alat ♦ Autoclave ♦ Petridish ♦ Oven ♦ Tabung reaksi ♦ Neraca analitik ketelitian 3 desimal ♦ Beaker glass ♦ Water bath ♦ Magnetic Stirer ♦ Ose ♦ Pipetman ♦ Microtip 1 ml dan 200 µl.
3. Media seleksi Mikroba Pelarut Fosfat
Komposisi medium bakteri pelarut fosfat (Pikovskaya) ♦ Glukosa : 10 gram ♦ NaCl : 0,2 gram ♦ KCl
: 0,2 gram ♦ MgSO4. 7H20 : 2,5 gram ♦ Mn SO. 7H20 : 0,2 gram ♦ MnSO4H20 : 2,5 gram
♦ FeSO4. 7H20 : 2,5 gram ♦ Ca5 (PO4)3 O4 : 5 gram ♦ (NH4)3O4 : 0,5 gram ♦ Agar : 15 gram ♦ Aquadest : 1000 ml ♦ pH
: 6.8
Komposisi medium seleksi Fungi Pelarut Fosfat (Pikovskaya)
♦ Glukosa : 10 gram ♦ NaCl : 0,2 gram ♦ KCl
: 0,2 gram ♦ MgSO4. 7H20 : 2,5 gram ♦ Mn SO. 7H20 : 0,2 gram ♦ MnSO4H20 : 2,5 gram
♦ FeSO4. 7H20 : 2,5 gram ♦ Al PO4 : 5 gram ♦ (NH4)3O4 : 0,5 gram ♦ Agar : 15 gram ♦ Aquadest : 1000 ml ♦ pH
: 4.5
3. AZOSPIRILLUM (Okon et al , 1977; Reinhold et al 1987, Khammas et al 1989; Dobereiner 1992)
1. Metode Kerja Sepuluh gram contoh disuspensikan dalam 90 ml larutan garam fisiologis steril, untuk kemudian dilakukan pengenceran serial dengan menggunakan 9 ml garam fisiologis steril hingga 107. Setiap serial pengenceran kemudian diinokulasikan ke dalam medium seleksi Nfb semi-padat (sebanyak 5 ulangan per seri pengenceran), dan diinkubasi selama 3- 5 hari hingga membentuk pelikel berbentuk cincin berwarna putih (berarti positif) dan yang tidak membentuk pelikel berarti negative. Amati pertumbuhannya dan hitungan populasinya berdasarkan metode MPN.
2. Alat-alat ♦ Autoclave ♦ Inkubator ♦ Petridish ♦ Oven ♦ Tabung reaksi ♦ Neraca analitik ketelitian 3 desimal ♦ Beaker glass ♦ Water bath ♦ Magnetic Stirer ♦ Ose ♦ Pipetman ♦ Microtip 1 ml dan 200 µl.
3. Media seleksi Azospirillum Komposisi medium Nfb Semi-Padat ♦ Malic Acid
: 5 gram ♦ KOH
: 4 gram ♦ K2HPO4 : 0,5 gram ♦ FeSO4. 7H20 : 0,05 gram ♦ MnSO4. 7H20 : 0,01 gram ♦ MgSO4. 7H20 : 0,1 gram ♦ NaCl
: 0,02 gram ♦ CaC2
: 0,02 gram ♦ N2 Mo O2 : 0,01 gram ♦ BTB (0,5% dalam alkohol 95%) : 2 ml ♦ Bacto Agar : 1,75 gram ♦ pH
: 6,8
4. AZOTOBACTER (Dobereiner 1966, Krieg dan Dobereiner 1984)
1. Metoda kerja Sepuluh gram contoh disuspensikan dalam 90 ml larutan garam fisiologis steril, untuk kemudian dilakukan pengenceran serial dengan menggunakan 9 ml garam fisiologis steril hingga 107. Setiap serial pengenceran kemudian diinokulasikan ke dalam medium seleksi Azotobacter, dan diinkubasi pada temperature 30oC. Koloni Azotobacter chroococcum tampak setelah 24 jam inkubasi dengan ciri putih basah berubah menjadi coklat gelap setelah 3-5 hari. Azotobacter vinelandii dan koloni Azomonas sama tetapi tidak berubah gelap. Sedangkan koloni Azotobacter paspali tampak setelah 48 jam dan menjadi kuning di pusat koloni yang disebabkan adanya asimilasi bromothymol biru dan pengasaman medium. Amati pertumbuhannya dan hitungan populasinya berdasarkan metode MPN.
2. Alat-alat ♦ Autoclave ♦ Inkubator yang dapat di set temperaturnya sekitar 25-35oC ♦ Petridish ♦ Oven ♦ Tabung reaksi ♦ Neraca analitik ketelitian 3 desimal ♦ Beaker glass ♦ Water bath ♦ Magnetic Stirer ♦ Ose ♦ Pipetman ♦ Microtip 1 ml dan 200 µl.
3. Media seleksi Azotobacter (LG medium) ♦ Sukrosa
: 20 gram ♦ K2HPO4
: 0.05 gram
♦ KH2PO4
: 0.15 gram ♦ CaCL2
: 0.01 gram ♦ MgSO4.7H20 : 0.20 gram ♦ Na2MoO4.2H20 : 2 mgram ♦ FeCl2
: 0.01 gram ♦ Bromothymol blue (0.5% larutan dalam ethanol) : 2 ml ♦ CaCO3
: 1 gram ♦ Agar
: 15 gram
5. ENDOPHYTIC DIAZOTROPHS
1. Metode Kerja Sepuluh gram contoh disuspensikan dalam 90 ml larutan garam fisiologis steril, untuk kemudian dilakukan pengenceran serial dengan menggunakan 9 ml garam fisiologis steril hingga 107. Setiap serial pengenceran kemudian diinokulasikan ke dalam medium seleksi JNFb semi-padat (sebanyak 5 ulangan per seri pengenceran), dan diinkubasi selama 3- 5 hari hingga membentuk pelikel berbentuk cincin berwarna putih (berarti positif) dan yang tidak membentuk pelikel berarti negative. Amati pertumbuhannya dan hitungan populasinya berdasarkan metode MPN.
2. Alat-alat ♦ Autoclave ♦ Inkubator ♦ Petridish ♦ Oven ♦ Tabung reaksi
♦ Neraca analitik ketelitian 3 desimal ♦ Beaker glass ♦ Water bath ♦ Magnetic Stirer ♦ Ose ♦ Pipetman ♦ Microtip 1 ml dan 200 µl.
3. Media Semi-solid (JNFb)
Komposisi medium Nfb Semi-Padat ♦ Malic Acid
: 5 gram ♦ K2HPO4
: 1,5 gram ♦ MgSO4. 7H20
: 0,2 gram ♦ NaCl
: 0,02 gram ♦ Minor elemen solution
: 2 ml ♦ Vitamin
: 1 ml ♦ FeEDTA 1.64% larutan
: 4 ml ♦ BTB (0,5% dalam 0.2 M KOH) : 2 ml ♦ Bacto Agar
: 2 gram ♦ pH
: 6,0
6. ACTINOMYCETES (H.J. Lorch, G.Benckiser. J.C.G. Ottow, 1998)
1. Metoda Kerja Sepuluh gram contoh disuspensikan dalam 90 ml larutan garam fisiologis steril, kemudian dilakukan pengenceran serial dengan menggunakan 9 ml garam fisiologis steril hingga 105. Setiap serial pengenceran kemudian diinokulasikan ke dalam medium seleksi Actinomycetes, inkubasi selama 10-14 hari pada suhu 25-30oC untuk mesofilik dan 45-55oC untuk thermofilik spesies. Amati pertumbuhannya, dengan bentuk koloni kecil, bulat, tenaceous, aerial mycelium. Pada medium yang diberi Rose Bengal, bentuk koloni kecil, berwarna merah muda yang berkembang didalam atau agak merah muda. Hitungan populasinya berdasarkan metode MPN.
2. Alat-alat ♦ Autoclave ♦ Inkubator ♦ Petridish ♦ Oven ♦ Tabung reaksi ♦ Neraca analitik ketelitian 3 desimal ♦ Beaker glass ♦ Water bath
♦ Magnetic Stirer ♦ Ose ♦ Pipetman ♦ Microtip 1 ml dan 200 µl.
3. Media Actinomycetes Starch Casein Nitrat agar (SCN), pH 7.0 – 7.2 ♦ Starch
: 10 gram ♦ Casein
: 0.3 gram ♦ KNO3
: 2 gram ♦ NaCl
: 2 gram ♦ K2HPO4
: 2 gram ♦ MgSO4. 7H20
: 0.05 gram ♦ CaCl2 dan FeSO4.7H20 (traces) ♦ Malic Acid
: 5 gram ♦ Bacto Agar
: 15 gram ♦ pH diatur sebelum autoclave : 7.2
4. Media Rose Bengal- SCN SCN agar dengan rose Bengal (Fluka) 0.035 gram, dengan pH 7.0 - 7.2
7. MIKORIZA
1. Metode kerja Penghitungan populasi spora Timbang contoh sebanyak 100 gram lalu dimasukkan ke dalam beaker gelas dan ditambah air sebanyak 1 liter, dan dikocok selama 3 menit hingga tercampur merata.
Diamkan 5 menit, lalu disaring dengan saringan berdiameter 1.0 mm dan 38 µm. Hasil saringan 38 µm dicuci dengan air mengalir, lalu tuangkan ke dalam tabung sentrifusi dan disentrifugasi selama 5 menit dengan kecepatan 2000 rpm. Kemudian supernatan dibuang dan pada pelet ditambahkan larutan gula 45%, kemudian disentrifugasi selama 1 menit dengan kecepatan 2000 rpm, lalu supernatan dituangkan ke dalam saringan 38 µm dan dicuci dengan air keran untuk menghilangkan larutan gula. Spora yang tersisa di saringan dituangkan ke dalam tabung untuk kemudian dituangkan ke atas kertas saring Whatman No. 42 untuk dihitung populasinya.
Analisis infeksi mikoriza pada jaringan akar Timbang tanah steril sebanyak 225 gram, dan campur dengan contoh yang akan dianalisis sebanyak 75 gram hingga merata, dan dipupuk dengan Urea, KCl, dan TSP secukupnya. Kemudian ditanami dengan tanaman jagung sampai berumur 6 minggu.
Setelah itu dipanen dan diambil akarnya sebanyak 2 gram, lalu akar tersebut di potong-potong hingga berukuran 1 cm dan di masukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi KOH hingga contoh terendam, kemudian direbus selama 15 menit pada suhu 700C. Hasil rebusan dicuci dengan aquadest sekitar 5 kali sampai bersih, lalu diberi
HCl (untuk akar keras digunakan H2O2 dan direndam selama 10 menit) dan di inkubasi selama 15 menit. Setelah itu HCl dibuang dan diberi pewarna Fuchsin Asam, kemudian direbus kembali selama 15 menit pada suhu 700C. Lalu setelah itu diambil 50 potongan akar yang telah diwarnai akar satu persatu dan setiap 10 potongan akar di tata dalam gelas obyek untuk selanjutnya dilakukan pengamatan terhadap adanya infeksi mikoriza dengan menggunakan Mikroskop dengan menghitung persentase infeksi akar oleh mikoriza. Penghitungan populasi mikroiza yang menginfeksi akar dilakukan dengan metode MPN.
2. Alat-alat ♦ Mikroskop ♦ Saringan ♦ Beaker galss ♦ Buret 10 ml ♦ Mesin kocok ♦ Botol kocok 100 ml ♦ Erlenmeyer 50 ml ♦ Sentrifusi/kertas saring ♦ Dispenser 50 ml ♦ Pipet 10 ml ♦ Tabung reaksi
3. Bahan ♦ Pipet 10 ml ♦ Tabung reaksi ♦ KOH ♦ HCl ♦ H2O2 ♦ Lacid Fuchsin ♦ Lacid Acid ♦ Glycerol
8. TRICHODERMA
1. Metode kerja Sepuluh gram contoh disuspensikan dalam 90 ml larutan garam fisiologis steril, untuk kemudian dilakukan pengenceran serial dengan menggunakan 9 ml garam fisiologis steril hingga 105. Suspensi tersebut lalu di inokulasikan ke dalam medium seleksi Rose-Bengal, dan diinkubasi 5-7 hari. Amati pertumbuhannya dan hitungan populasinya berdasarkan metode MPN.
2. Alat ♦ Erlemeyer ♦ Tabung reaksi ♦ Beeker glass ♦ Mikro pipet
♦ Labu ukur ♦ Glass ukur ♦ pH Meter ♦ Autoclave ♦ Petridish ♦ Aluminium Foil
3. Media seleksi Trichoderma Komposisi medium Rose-Bengal ♦ KH2PO4
: 1.0 gram ♦ MgSO4.7H20 : 0.5 gram ♦ Pepton
: 5.0 gram ♦ Glukosa
: 10 gram ♦ Rose-Bengal : 0.033 gram ♦ Agar
: 20 gram ♦ pH 6.8
9. LACTOBACILLUS
1. Metoda kerja Sampel pupuk hayati 10 ml diencerkan dalam 90 ml larutan garam fisiologis, kocok dengan tangan 50x atau pada shaker 30 menit, lalu buat pengenceran serial sampai 10-7 atau sesuai kerapatan populasi bakteri yang diperkirakan dari kekeruhan sampel.
Dari masing-masing pengenceran, diplating sebanyak 1 ml dengan metode tuang.
Seluruh media MRS agar yang telah diinokulasi diinkubasi pada suhu ruang dalam anaerob jar selama 3-5 hari. Koloni Lactobacillus berwarna putih dan membentuk zona jernih sekitar koloni.
2. Media seleksi Lactobacillus MRS (Man, Rogosa, dan Sharpe) MEDIUM Lactobacillus ♦ Pepton………………….………………….10 g ♦ Beet extract………………………………..10 g ♦ Yeast extrat…………………………………5 g ♦ Glucose…………………………………….20 g ♦ Tween 80………………………………… 1 ml ♦ K2HPO4……………………………………. 2 g ♦ CH3COOH……………………………… .. 5 g ♦ Triammonium citrate………………………2 g ♦ MgSO4.7H2O…………………………… 0.2 g ♦ MnSO4.4H2O...............................................0.05 g ♦ CaCO3..........................................................0.5% ♦ Akuades.......................................................1000 ml ♦ Agar bacto....................................................2%
10. SACCHAROMYCES
1. Metoda kerja Sampel pupuk hayati 10 ml diencerkan dalam 90 ml larutan garam fisiologis, kocok dengan tangan 50x atau pada shaker 30 menit, lalu buat pengenceran serial sampai 10-7 atau sesuai kerapatan populasi bakteri yang diperkirakan dari kekeruhan sampel.
Dari masing-masing pengenceran, diplating sebanyak 1 ml dengan metode tuang.
Seluruh media MRS agar yang telah diinokulasi diinkubasi pada suhu ruang dalam anaerob jar selama 3-5 hari. Koloni Sacccharomyces memiliki ukuran koloni lebih besar daripada laktobasillus, berwarna putih susu, elevasi cembung dan tidak membentuk zona jernih.
2. Media seleksi Saccharomyces ♦ Potato dextrose broth..............................................8 g (tertera pada kemasan).
♦ Agar bacto...............................................................2% ♦ pH 3.5 – 4.0 dengan asam tartarat 10 %
11. ACETOBACTER DIAZOTROPHICUS
1. Metode Kerja Sepuluh gram contoh disuspensikan dalam 90 ml larutan garam fisiologis steril, untuk kemudian dilakukan pengenceran serial dengan menggunakan 9 ml garam fisiologis steril hingga 107. Setiap serial pengenceran kemudian diinokulasikan ke dalam medium seleksi Nfb semi-padat (sebanyak 5 ulangan per seri pengenceran), dan diinkubasi selama 3- 5 hari hingga membentuk pelikel berbentuk cincin berwarna putih (berarti positif) dan yang tidak membentuk pelikel berarti negative. Amati pertumbuhannya dan hitungan populasinya berdasarkan metode MPN. Pelikel awalnya di bawah permukaan kemudian bergerak ke permukaan dan warnanya menjadi oranye gelap sementara medium di bawahnya menjadi tidak berwarna karena asimilasi pewarna bromthymol blue oleh bakteri. Pelikel yang distreak ke medium agar cawan (20 g/L agar) akan menunjukkan koloni berwarna orange gelap setelah 1 minggu inkubasi. Koloni dengan mudah dikenali dan dimurnikan pada medium agar kentang yang mengandung gula tebu tanpa malat. Koloni berwaran coklat gelap terbentuk setelah 1 minggu inkubasi.
2. Media Acetobacter diazotrophicus Komposisi per liter Semisolid medium (LGI) ♦ 0.2 g K2HPO4 ♦ 0.6 g KH2PO4 ♦ 0.002 g CaCl2.2H20 ♦ 0.2 g MgSO.7H20 ♦ 0.002 g Na2MoO4.2H20 ♦ 0,01 g FeCl3 ♦ 5 ml Bromthymol blue (0.5% dalam KOH 0.2 M)
♦ 5 g Sukrosa (gula tebu lebih baik 100 g/liter) ♦ 1.8 g Agar-agar (menjadi 2 g bila memakai gula tebu) ♦ pH 5.5 dengan menambahkan asam asetat
UJI PATOGENESITAS
Uji patogenisitas pupuk hayati dilakukan terhadap tanaman tembakau yang dikenal sangat sensitif terhadap penyakit tanaman. Biakan fungi dengan jumlah propagul 103 dan bakteri 107 disuntikkan ke bagian bawah daun tembakau (stomata) dengan menggunakan syringe tanpa jarum. Kalau setelah 24 jam terjadi nekrosis artinya patogenisitas positif.
Gunakan kontrol positif, tanaman diinfeksikan dengan fungi penyakit. Kontrol negatif, tanaman disuntikkan dengan air.
C. UJI EFEKTIVITAS PUPUK HAYATI
Uji mutu dan uji efektivitas pupuk hayati dilaksanakan untuk melindungi konsumen dari pengaruh buruk penggunaan pupuk hayati. Penilaian keefektifan pupuk hayati lebih ditekankan pada aspek teknis-agronomis. Dalam banyak kasus, dampak pemberian pupuk alami (non-sintetik) yang ramah lingkungan seperti pupuk hayati dan pupuk organik bersifat jangka panjang dan nilai manfaat lingkungan (eksternalitas) tidak mudah terukur.
Untuk itu prosedur pengujian dan penilaian keefektifan pupuk hayati memerlukan kehati- hatian dan pertimbangan matang.
Berdasarkan fungsinya, uji efektivitas pupuk hayati dibedakan atas: (1) pupuk hayati untuk penyubur tanah (penambat N2 dari udara, pelarut P, pemacu tumbuh) dan (2) pupuk hayati perombak bahan organik.
1. Tujuan Percobaan • Mengetahui efektivitas pupuk hayati terhadap pertumbuhan vegetatif dan atau hasil tanaman dan atau mutu tanaman dan atau perubahan sifat-sifat tanah dari aspek teknis agronomis dan atau aspek ekonomi dengan menggunakan suatu metodologi penelitian yang telah ditentukan.
• keefektifan perombak bahan organik dinilai dari kecepatan pengomposan dan mutu kompos yang dihasilkan
2. Pelaksana
Nama lembaga pelaksana pengujian yang ditunjuk oleh Menteri Pertanian.
3. Ruang Lingkup Pengujian pupuk hayati dilakukan dalam kondisi lapangan atau percobaan pot di rumah kaca dengan memperhatikan faktor-faktor tanah, iklim, dan faktor biologis yang mempengaruhi tujuan percobaan.
4. Lokasi dan Waktu
4.1.
Pengujian dapat dilakukan di rumah kaca atau lapangan. Lokasi pengujian dipilih sesuai dengan jenis pupuk hayati yang akan diuji agar diperoleh respon pemupukan yang nyata.
4.2.
Waktu pengujian disesuaikan dengan jenis dan umur tanaman yang digunakan sebagai tanaman indikator.
5. Bahan dan Metode
Efektivitas pupuk hayati Penambat N2, Pelarut P, Pemacu Tumbuh
5.1. Bahan
5.1.1. Tanah
Pengujian dilakukan dengan menggunakan contoh tanah yang mempunyai kesuburan biologi rendah dan tidak steril. Berat kering contoh tanah per pot adalah 5 kg.
5.1.2. Tanaman Uji
Tanaman padi, palawija (kedelai/kacang tanah), sayuran, atau tanaman tahunan (sampai fase pembibitan) sesuai dengan jenis pupuk hayati yang akan diuji
5.1.3. Varietas
Varietas yang digunakan adalah varietas yang telah resmi dilepas oleh Departemen Pertanian.
5.1.4. Pemeliharaan
Pemeliharaan mengacu kepada budidaya standar untuk setiap jenis komoditas mencakup pengendalian hama dan penyakit yang dapat mengganggu pelaksanaan dan pencapaian hasil penelitian.
5.2. Metode
5.2.1. Rancangan Percobaan Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) berpola tunggal atau faktorial atau rancangan lain sesuai kebutuhan dalam pengujian.
5.2.2 Perlakuan
Ditetapkan perlakuan yang dapat menjawab tujuan percobaan yaitu meningkatkan pertumbuhan dan atau hasil tanaman dan atau mengefisienkan pupuk an-organik. Minimal perlakuan 6.
5.2.3. Ulangan Banyaknya ulangan (u) ditentukan berdasarkan banyaknya perlakuan (p), sehingga memenuhi kaidah sebagai berikut:
(p-1) (u-1) >15, dengan u > 3.
Contoh perlakuan pengujian pupuk hayati:
Hayati Urea SP-36 KCl Perlakuan ..g/ha..
………..kg/ha………….
1. Kontrol 0 0 0 0
2. NPK standar 0 200 100 100
3. 0 NPK + 1 Pupuk Hayati 200 - - -
4. ¼ N/P/K + 1 Pupuk Hayati 200 200 25 25
5. ½ N/P/K + 1 Pupuk Hayati 200 200 50 50
6. ¾ N/P/K + 1 Pupuk Hayati 200 200 75 75 Keterangan:
a. Kontrol adalah perlakuan tanpa pupuk
b. Pupuk standar adalah perlakuan pupuk an-organik dosis uji tanah/rekomendasi setempat.
c. Perlakuan dosis pemupukan yang diuji minimal 3 taraf dosis agar diperoleh sebaran data yang dapat digunakan untuk menentukan dosis pupuk optimal.
5.2.4. Tata Letak Unit Percobaan Satuan percobaan diletakkan secara acak (random) dalam satu kesatuan (satu ulangan) dan tidak terpencar.
5.2.5. Cara Aplikasi Pupuk Aplikasi pupuk dilakukan sesui dengan jenis pupuk yang diuji. Pada umumnya diberikan sebelum atau saat tanam dengan dosis sesuai perlakuan.
5.2.6. Pengamatan
5.2.6.1.
Sifat-sifat tanah Contoh tanah diambil secara acak/sistematis, dengan jumlah sampel tanaman sesuai perlakuan.
5.2.6.2.
Pertumbuhan tanaman Pengukuran pertumbuhan vegetatif tanaman dilakukan secara periodik setiap 2 atau 4 minggu sesuai dengan umur tanaman.
dan atau mutu sesuai dengan jenis tanaman dan tujuan pengujian.
5.2.6.3.
Pengamatan panen Hasil tanaman diukur dari hasil per pot atau petak panen di lapangan (sayuran minimal 2m x 3m) biomasa segar dengan satuan kg/m2.
5.2.7. Pengumpulan data Data tanah dan tanaman yang dikumpulkan sesuai jenis tanaman dan tujuan pengujian meliputi:
• Data analisis kimia tanah awal • Data pertumbuhan tanaman (tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah anakan, diamater batang), • Data panen dan komponen produksi: berat biji, tanaman, daun • Data kualitas produk (buah, daun, minyak, dan lain-lain) • Data serapan hara tanaman • Data untuk keperluan analisis usaha tani.
5.2.8. Pengolahan Data
• Data pertumbuhan dan hasil tanaman diolah secara statistik dengan ANOVA dilanjutkan dengan pembandingan antar perlakuan dengan uji Duncan (DMRT) pada taraf uji 1% dan 5% • Gunakan grafik/kurva atau diagram batang untuk pembandingan kadar/serapan/mutu hasil • Penilaian efektivitas secara teknis/agronomis dilakukan dengan perhitungan Nilai Relativitas Agronomi (RAE) dengan rumus:
Hasil pupuk alternatif - kontrol RAE = ------------------------------------------ x 100 %
Hasil pupuk standar - kontrol
Ø Nilai RAE perlakuan standar =100 Ø Nilai RAE > 100%, pupuk yang diuji efektif dibanding perlakuan standar
• Penilaian efektivitas pupuk secara ekonomis dilakukan dengan perhitungan B/C, R/C, IBCR, dengan rumus:
Penerimaan pupuk uji - kontrol IBCR= ------------------------------------------
Pengeluaran pupuk uji - kontrol
Ø IBCR atau B/C atau R/C > 1 berarti pupuk yang diuji mempunyai nilai ekonomis yang baik.
5.2.9.
Ketentuan Lulus Uji Efektivitas Ketentuan lulus uji secara teknis/agronomis :
• Perlakuan pupuk yang diuji secara statistik sama dengan perlakuan standar atau mempunyai RAE=100%, atau • Perlakukan pupuk yang diuji lebih baik dibandingkan dg perlakuan kontrol pada taraf nyata 5% atau mempunyai RAE > 100% Ketentuan lulus uji secara ekonomis • Penggunaan pupuk hayati dinilai lulus uji efektivitas secara ekonomis apabila analisa ekonomi usahataninya menguntungkan, yaitu apabila nilai IBCR atau B/C atau R/C > 1.
Efektivitas pupuk hayati Perombak Bahan Organik
5.1. Bahan
5.1.1. Bahan organik
Jenis bahan organik yang digunakan sebagai bahan uji adalah jerami atau bahan lain yang mempunyai C/N >40.
5.1.2. Bak kompos Terbuat dari bambu atau bata permanen dengan ukuran panjang x lebar x tinggi = 1m x 1m x 1m dengan volume bahan kompos sekitar 1m3.
5.2. Metode
5.2.1. Perlakuan
Ditetapkan perlakuan yang dapat menjawab tujuan percobaan yaitu menguji pupuk hayati perombak bahan organik yang efektif. Minimal perlakuan 3.
5.2.2. Ulangan Ulangan diambil dari sub sampling secara kuadran di setiap bak pengomposan.
Contoh perlakuan pengujian pupuk hayati perombak bahan organik :
Perlakuan Dosis (kg/liter/ton bahan segar)
1. Kontrol* 0
2. Inokulan standar ** 1
3. Inokulan yang diuji 1 Keterangan:
* Kontrol adalah perlakuan inokulan pupuk hayati ** Inokulan standar adalah inokulan yang telah diketahui efektivitasnya.
5.2.3. Pemeliharaan
Bak-bak kompos diletakkan di lapangan terbuka kemudian ditutup terpal atau diruangan yang terlindung dari air hujan. Selama proses pengomposan dilakukan pembalikkan setiap minggu hingga kompos matang.
5.2.4. Waktu pengomposan Waktu pengomposan sekitar 2-4 minggu. Kompos dinyatakan matang apabila telah memenuhi kriteria tertentu.
5.2.5. Pengamatan • Kadar air bahan kompos diamati secara periodik setiap minggu • Suhu kompos diamati secara berkala setiap minggu • C/N rasio diamati secara berkala setiap minggu
5.2.6. Indikator kematangan kompos • Mempunyai nilai C/N <25 • Suhu kompos telah menurun sekitar 30-40o • Berwarna kehitaman, remah, tidak berbau
5.2.7. Pengolahan data • Beda antar perlakuan dinyatakan dengan uji t-student pada taraf uji 5%.
• Perubahan suhu, kadar air dan C/N rasio dapat digambarkan dengan grafik XY pada pengamatan 0-4 minggu.
5.2.8. Ketentuan Lulus Uji Efektivitas Secara teknis/agronomis :
• Perlakuan pupuk yang diuji secara statistik mempunyai parameter uji sama dengan perlakuan standar • Perlakukan pupuk yang diuji mempunyai parameter uji yang lebih baik dibandingkan dg perlakuan kontrol pada taraf nyata 5%.
D. UJI EFEKTIVITAS PEMBENAH TANAH
Prinsip :
Pengujian efektivitas pembenah tanah dilakukan di laboratorium atau rumah kaca atau lapangan. Prinsip pengujian ini yaitu dengan memberikan perlakuan pembenah tanah terhadap volume tanah tertentu dan diinkubasi pada periode waktu tertentu. Pengaruh perbaikan salah satu sifat tanah (sifat fisik, kimia atau biologi tanah) sebagai akibat perlakuan adalah dengan cara membandingkan sifat tanah antara sebelum/tanpa dengan sesudah/diberi perlakuan.
Metode :
1. Tujuan Percobaan Menguji efektivitas pembenah tanah terhadap perbaikan salah satu sifat tanah yaitu sifat fisik tanah, kimia tanah, atau biologi tanah.
2. Pelaksana
Nama lembaga pelaksana pengujian yang ditunjuk oleh Menteri Pertanian.
3. Ruang Lingkup Pengujian pembenah tanah dilakukan dalam kondisi laboratorium, rumah kaca atau lapangan dengan menggunakan tanaman indikator atau tanpa tanaman indikator.
4. Bahan dan Metode
4.1. Bahan
4.1.1.
Contoh tanah yang digunakan diambil dari jenis tanah yang mempunyai karakteristik berlawanan dengan fungsi pembenah tanah yang akan diuji.
Sebagai contoh akan menguji pembenah tanah kapur yang mempunyai fungsi menaikkan pH tanah, maka contoh tanah yang diuji dipilih yang mempunyai pH rendah. Atau bila pembenah tanah yang diuji berfungsi memperbaiki KTK tanah, maka contoh tanah yang diambil adalah tanah dengan KTK rendah.
4.1.2.
Apabila menggunakan tanaman indikator, maka gunakan varietas tanaman yang telah resmi dilepas oleh Departemen Pertanian. Panduan budidaya tanaman mengacu pada ketentuan SOP yang berlaku.
4.2. Metode
4.2.1.
Metode Uji Uji efektivitas pembenah tanah dilakukan dengan metode inkubasi dan atau dikombinasikan dengan pencucian tergantung jenis pembenah yang diuji. Perlakuan pencucian pada contoh tanah yang diinkubasi dengan pembenah tanah dilakukan untuk melihat efektivitas pemberian perlakuan terhadap kehilangan unsur hara ke dalam tanah, misal untuk pengujian zeolit.
Metode inkubasi dengan tanaman dilaksanakan di rumah kaca atau
lapangan. Pembenah tanah diaplikasikan bersama pupuk an-organik kemudian diamati apakah terjadi efisiensi penggunaan pupuk anorganik terhadap produksi/serapan hara.
4.2.2.
Rancangan Percobaan Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK), split plot atau rancangan lain sesuai kebutuhan dalam pengujian.
4.2.3.
Perlakuan dan Ulangan
Dosis perlakuan pembenah tanah yang diberikan adalah 0, 0.5, 1.0 dan
1.5 kali dosis anjuran dari produsen dan diulang minimal 3 kali. Cara aplikasi pembenah tanah sesuai dengan anjuran produsen.
Contoh Uji Efektivitas Zeolit Zeolit berfungsi meningkatkan KTK tanah dan atau penjerap hara pupuk sehingga pupuk tidak mudah hilang tercuci.
Perlakuan:
1. Petak utama : Zeolit 0,300,600 kg/ha
2. Anak petak : kontrol, N, K
Parameter uji :
1. Kadar hara N,P,K dalam air cucian dari perlakuan yang diberi zeolit dan tanpa zeolit
2. Bandingkan hasilnya dengan menghitung efisiensi.
4.2.4.
Unit Pengujian Contoh tanah yang digunakan untuk menguji pembenah sifat kimia dan biologi tanah sekitar 5kg/pot (menggunakan pot/paralon), sedangkan untuk pembenah sifat fisik tanah sekitar 50 kg/pot (menggunakan bak berukuran 0,5x0,5x0,2m).
4.2.5.
Waktu Pengujian Lama inkubasi contoh tanah yang diberi pembenah tanah kimia tanpa tanaman minimal 2 bulan, sedangkan pengujian di lapangan dilakukan sesuai umur tanaman indikator yang diuji.
4.2.6.
Pengamatan
4.2.6.1. Sifat kimia/fisik/biologi tanah Perubahan sifat kimia/fisik/biologi tanah diamati dengan menganalisis contoh tanah secara berkala sesuai dengan tujuan pengujian. Cara dan frekuensi pengambilan contoh tanah disesuaikan dengan fungsi pembenah yang diuji. Untuk pembenah kimia dan biologi tanah, contoh tanah komposit diambil dari minimal 3 lubang di dalam pot secara acak dengan menggunakan paralon diamter 1-2 cm. Sedangkan untuk pembenah fisik, contoh tanah tidak terganggu (undisturbed soil sample) menggunakan ring sample atau contoh agregat.
4.2.6.2. Parameter Uji Parameter sifat kimia/fifik/biologi yang dianalisis disesuaikan dengan klaim produsen atau bahan aktif produk.
4.2.6.3. Pertumbuhan dan hasil tanaman (tentatif) Pertumbuhan vegetatif dan generatif/hasil tanaman dan atau mutu sesuai diukur sesuai dengan jenis tanaman dan tujuan pengujian.
4.2.6.4.
Pengamatan sifat tanah dan pertumbuhan/hasil tanaman Pengamatan sifat tanah dilakukan minimal 3 kali untuk pembenah kimia/biologi dan dua kali untuk pembenah fisik tanah selama masa inkubasi berlangsung.
Pengamatan pertumbuhan tanaman dilakukan setiap minggu untuk tanaman umur 1 bulan, setiap 2 minggu untuk tanaman umur < 2 bulan dan setiap 4 minggu untuk tanaman umur > 3 bulan. Pada saat panen ditimbang bobot hasil tanaman.
4.2.7.
Pengumpulan data Data yang dikumpulkan sesuai jenis pengujian pembenah tanah dan metode yang digunakan, meliputi:
4.2.7.1.
Analisis kimia tanah awal dan selama periode inkubasi
4.2.7.2.
Pertumbuhan vegetatif tanaman (tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah anakan, diamater batang) dan hasil tanaman
4.2.7.3.
Data untuk analisis usaha tani.
4.2.8.
Tolok ukur Efektivitas disesuaikan dengan jenis pengujian
4.2.8.1.
Sifat kimia/fisik/biologi tanah
4.2.8.2.
Pertumbuhan/hasil/mutu/serapan hara tanaman
4.2.9.
Pengolahan Data
4.2.9.1.
Data pertumbuhan dan hasil tanaman diolah secara statistik dengan ANOVA dilanjutkan dengan pembandingan antar perlakuan dengan uji Duncan (DMRT) pada taraf uji 1% dan 5%
4.2.9.2.
Gunakan grafik/kurva atau diagram batang untuk perubahan sifat kimia/fisik/biologi atau kadar/serapan/ mutu hasil
4.2.9.3.
Penilaian efektivitas pembenah tanah secara teknis/ agronomis (bila pengujian dengan tanaman) dilakukan dengan perhitungan Nilai Relativitas Agronomi (RAE) dengan rumus:
Hasil pupuk yang diuji - kontrol RAE = ------------------------------------------ x 100 %
Hasil pupuk standar - kontrol
• Nilai RAE perlakuan standar =100 • Nilai RAE > 100%, pupuk yang diuji efektif dibanding perlakuan standar
4.2.9.4.
Penilaian efektivitas pupuk secara ekonomis (hanya dilakukan untuk percobaan lapangan) dilakukan dengan perhitungan B/C, R/C, IBCR, dengan rumus:
Penerimaan pupuk uji - kontrol IBCR= ------------------------------------------
Pengeluaran pupuk uji - kontrol
IBCR atau B/C atau R/C > 1 berarti pupuk yang diuji mempunyai nilai ekonomis yang baik
4.2.10. Kriteria Efektivitas
4.2.10.1. Ketentuan lulus uji secara teknis/agronomis Perlakuan pembenah tanah yang diuji mempunyai sifat kimia/fisik/biologi yang secara statistik lebih baik dibandingkan kontrol.
4.2.10.2. Ketentuan lulus uji secara ekonomis Penggunaan pembenah tanah lulus uji efektivitas secara ekonomis apabila analisa ekonomi usahataninya menguntungkan, yaitu apabila nilai IBCR atau B/C atau R/C > 1
MENTERI PERTANIAN,
ANTON APRIYANTONO
LAMPIRAN VI . PERATURAN MENTERI PERTANIAN
NOMOR : 28/Permentan/SR.130/5/2009
TANGGAL : 22 Mei 2009
KETENTUAN LULUS UJI EFEKTIVITAS
1. Ketentuan lulus uji efektivitas pupuk organik, pupuk hayati dan pembenah tanah meliputi ketentuan lulus uji efektivitas secara teknis dan ketentuan lulus uji efektivitas secara ekonomis.
2. Definisi
a. Perlakuan kontrol adalah perlakuan pengujian tanpa pupuk yang diuji.
b. Perlakuan pemupukan standar adalah pemupukan dengan rekomendasi uji tanah atau rekomendasi setempat.
c. Perlakuan pengujian pupuk adalah pengujian penggunaan pupuk sebanyak minimal 3 perlakuan dengan ulangan yang cukup untuk mendapatkan gambaran pemupukan dengan dosis optimum sebagai bahan pemberian rekomendasi lokal spesifik penggunaan pupuk dimaksud.
3. Metode Penilaian
a. Ketentuan Lulus Uji Secara Teknis Pupuk organik, pupuk hayati dan pembenah tanah dinilai lulus uji efektivitas secara teknis apabila hasil perlakuan pupuk secara statistik sama dengan perlakuan standar atau lebih baik dibandingkan perlakuan kontrol pada taraf nyata 5% atau mempunyai RAE > 100%.
b. Ketentuan Lulus Uji Secara Ekonomis Penggunaan pupuk organik, pupuk hayati dan pembenah tanah dinilai lulus uji efektivitas secara ekonomis apabila analisa ekonomi usahataninya menguntungkan.
MENTERI PERTANIAN,
ANTON APRIYANTONO
LAMPIRAN VII PERATURAN MENTERI PERTANIAN
NOMOR : 28/Permentan/SR.130/5/2009
TANGGAL : 22 Mei 2009
TATACARA PELAPORAN UJI EFEKTIVITAS
1. Ruang lingkup Tatacara pelaporan uji efektivitas meliputi laporan pendahuluan dan laporan akhir pelaksanaan pengujian efektivitas.
2. Tatacara Pelaporan
a. Laporan Pendahuluan - Tujuan Laporan Pendahuluan dimaksud untuk memberikan gambaran awal rencana pelaksanaan pengujian efektivitas.
- Waktu Laporan Pendahuluan dilaksanakan pada saat akan dimlainya pengujian.
- Isi Laporan Laporan Pendahuluan meliputi :
I.
Data umum pupuk yang akan diuji
1. Nama Perusahaan;
2. Nama Pupuk;
3. Bentuk Pupuk;
4. Komposisi dan Kandungan Hara.
II.
Rencana Pelaksanaan Pengujian
1. Jenis tanaman yang akan diuji;
2. Metode pengujian;
3. Lokasi pengujian;
4. Waktu pengujian;
5. Penanggungjawab dan pelaksanaan pengujian.
b. Laporan Akhir - Tujuan Laporan akhir pengujian efektivitas dimaksudkan untuk memberikan gambaran hasil pelaksanaan pengujian efektivitas/manfaat pupuk organik,
pupuk hayati terhadap pertumbuhan/produksi tanaman atau pembenah tanah terhadap perbaikan kesuburan tanah.
- Waktu Laporan akhir disusun apabila pelaksanaan pengujian telah selesai yaitu setelah panen/masa inkubasi selesai.
- Isi Laporan:
Kata Pengantar
Ringkasan
Daftar Isi
Lembar Pengesahan I.
Pendahuluan
1.1. Latar Belakang
1.2. Tujuan II. Lokasi dan Waktu Pelaksanaan III. Metodologi IV. Hasil Pengujian V. Pembahasan
5.1. Analisis Produksi
5.2. Analisis Ekonomi Usahatani VI. Kesimpulan
MENTERI PERTANIAN
ANTON APRIYANTONO
LAMPIRAN VIII PERATURAN MENTERI PERTANIAN
NOMOR : 28/Permentan/SR.130/5/2009
TANGGAL : 22 Mei 2009
FORMULIR HASIL PENGUJIAN MUTU
Berdasarkan hasil uji mutu di laboratorium .....................................................
di ................................................................
Nomor Sertifikat/Laporan Hasil Uji :
Nama Produk :
Tanggal :
Rincian Hasil Uji Mutu sebagai berikut :
1. Pupuk Organik Persyaratan Granul/Pelet Remah/Curah No.
Parameter Satuan Murni Diperkaya mikroba Cair/Pasta Murni Diperkaya mikroba
1. C – organik %
2. C / N rasio
3. Bahan ikutan %
(plastik, kaca, kerikil, endapan)
4. Kadar Air %
5. Kadar logam berat
As ppm
Hg ppm
Pb ppm
Cd ppm
6. pH
7. Kadar total - N - P2O5 - K20
% % %
8. Mikroba patogen
(E.coli, Salmonella sp) cfu/g;
cfu/ml
9. Mikroba fungsional cfu/g;
cfu/ml
10. Ukuran butiran mm
11. Kadar unsur mikro ppm
Fe
Mn
Cu
Zn
B
Co
Mo
2. Pembenah Tanah
PEMBENAH TANAH ORGANIK
No Kriteria Satuan Kandungan
Granul Cair Remah
1. C-organik %
2. Kadar air %
3. pH
4. C/N rasio
5. N %
6. P2O5 %
7. K20 %
8. Bahan ikutan (plastik, kaca, kerikil, endapan) %
9. Logam berat :
As ppm
Hg ppm
Pb ppm
Cd ppm
10. E.coli cfu/g;cfu/ml
Salmonela sp.
cfu/g;cfu/ml
PEMBENAH TANAH NON-ORGANIK No Kriteria Satuan Kandungan
Granul Cair
1. Bahan aktif (sintetis)* %
2. Kadar Air %
3. KTK (cmol/kg)** cmol/kg
4. pH
5. Logam berat :
As ppm
Hg ppm
Pb ppm
Cd ppm
Keterangan :
* Khusus untuk bahan yang direkayasa kimia ** KTK khusus Zeolit
3. Pupuk Hayati
I. SYARAT UMUM
1.1.KANDUNGAN PUPUK HAYATI TUNGGAL
1.1.1. Bakteri Pembentuk Bintil Akar
SYARAT TEKNIS MENURUT JENIS KARIER PARAMETER Tepung/Serbuk Granul/Pelet Cair METODE PENGUJIAN
Total sel hidup *) Bakteri:
a) Sinorhizobium b) Bradyrhizobium c) Azorhizobium dan lainnya
TPC di medium YEMA Kontaminasi
MPN -Durham Kadar Air (%)
ADBB pH
pH-meter *) Sesuai jenis bakteri yang terdapat dalam pupuk hayati (spesifikasi pupuk)
1.1.2. Endomikoriza Arbuskular
PARAMETER KANDUNGAN METODE PENGUJIAN Total propagul/g *) Mikoriza Arbuskular (MA) :
a) Gigaspora margarita b) Glomus manihotis c) Glomus agregatum
MPN Kontaminasi
MPN -Durham *) Propagul terdiri dari spora, akar terinfeksi, fragmen miselia Sesuai jenis MA yang terdapat dalam pupuk hayati (spesifikasi pupuk)
1.1.3. Ektomikoriza
PARAMETER KANDUNGAN METODE PENGUJIAN Kepadatan spora *) Mikoriza Arbuskular (MA) :
a) Sceloderma columnnare b) Pisholitus tintorius
Stereomikroskop Kontaminasi
MPN -Durham *) Sesuai jenis MA yang terdapat dalam pupuk hayati (spesifikasi pupuk)
1.1.4. Bakteri Non Simbiotik
PARAMETER SYARAT TEKNIS MENURUT JENIS BAHAN PEMBAWA METODE PENGUJIAN
Tepung/Serbuk Granul/Pelet Cair
Total sel hidup *)
a). Bakteri
b). Aktinomiset
c). Fungi Mikroba:
b) Azospirillum b) Azotobacter c) Bacillus d) Pseudomonas e) Streptomyces f) Aspergillus
TPC NA TPC-SCNA PDA Patogenisitas
Infeksi ke daun tembakau Kontaminasi
MPN -Durham Kadar Air (%)
ADBB pH
pH-meter *) Sesuai jenis mikroba yang terdapat dalam pupuk hayati (spesifikasi pupuk)
1.2. KANDUNGAN PUPUK HAYATI MAJEMUK
SYARAT TEKNIS MENURUT JENIS BAHAN PEMBAWA PARAMETER Tepung/Serbuk Granul/Pelet Cair METODE PENGUJIAN Total sel hidup *)
a). Bakteri
b). Aktinomiset
c). Fungi Mikroba Majemuk :
a) Rhizobium + Bacillus b) Azotobacter + Rhizobium + Streptomyces + Penicillium
TPC NA TPC-SCNA PDA Kadar @ Pb, Cd, Hg, As **)
SNI, Balit Tanah Patogenisitas
Infeksi ke daun tembakau Kontaminasi
MPN -Durham Kadar Air (%)
ADBB pH
pH-meter *) Sesuai jenis mikroba yang terdapat dalam pupuk hayati (spesifikasi pupuk) **) Khusus untuk pupuk hayati dengan dosis >50 kg per ha
II. SYARAT KHUSUS (menurut fungsi pupuk hayati) No.
FUNGSI PARAMETER UJI KANDUNGAN METODE PENGUJIAN
1. Penambat N2 a) simbiotik a) Terbentuknya lendir eksopolisakharida pada medium karbohidrat
Plating
b) Pembentukan bintil akar
Plating
b) hidup bebas Pembentukan pelikel/gelang pada medium Jnfb
Medium Jnfb
2. Pelarut P dan Fasilitator P a) Zona pelarutan P
Plating
b) Pelarutan P
Spektrofotometer
c) % infeksi/kolonisasi tanaman inang
Pewarnaan fuchsin
3. Pemacu Tumbuh Produksi fitohormon
Spektrofotometer
4. Penghasil anti mikroba Terbentuknya zona hambatan
Plating
5. Perombak Bahan Organik a). Aktivitas Selulase
Plating Spektrofotometer
b). Aktivitas Lignase
Plating Spektrofotometer
6. Pengakumulasi logam berat a) Akumulasi Pb dalam sel
Plating
b) Penurunan kandungan logam berat
AAS
MENTERI PERTANIAN,
ANTON APRIYANTONO
LAMPIRAN IX PERATURAN MENTERI PERTANIAN
NOMOR : 28/Permentan/SR.130/5/2009
TANGGAL : 22 Mei 2009
LAPORAN PENGADAAN/PRODUKSI DAN PENYALURAN PUPUK ORGANIK, PUPUK HAYATI DAN PEMBENAH TANAH
Nama Perusahaan :
Periode :
Keterangan No.
Nama Pupuk Organik/ Pupuk Hayati/Pem benah Tanah Sisa Stok Akhir Semester Sebelumnya (Kg/L) Jumlah Pengadaan/ Produksi (Kg/L) Jumlah Penyalur an (Kg/L) Sisa Stok Akhir Semester Pelaporan (Kg/L) Daerah Penyalur an Harga Eceran (Rp/Kg/L)
Cap dan Tanda Tangan Tempat, Tanggal, Bulan dan Tahun Pemegang Pendaftaran
MENTERI PERTANIAN,
ANTON APRIYANTONO