PENGHARMONISASIAN KONSEPSI RANCANGAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
(1) Pengharmonisasian Konsepsi Rancangan Peraturan Perundang- undangan dilakukan terhadap Rancangan Peraturan Perundang- undangan hasil rapat Panitia Antarkementerian dan/atau Antarnonkementerian yang telah mendapatkan paraf persetujuan anggota Panitia Antarkementerian dan/atau Antarnonkementerian.
(2) Pengharmonisasian Konsepsi Rancangan Peraturan Perundang- undangan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dilakukan oleh Menteri.
Pengharmonisasian Konsepsi Rancangan Peraturan Perundang-undangan dilakukan melalui tahapan sebagai berikut:
a. permohonan Pengharmonisasian Konsepsi Rancangan Peraturan Perundang-undangan;
b. pemeriksaan administratif;
c. analisis konsepsi;
d. rapat Pengharmonisasian Konsepsi Rancangan Peraturan Perundang- undangan;
e. paraf persetujuan; dan
f. penyampaian hasil Pengharmonisasian Konsepsi Rancangan Peraturan Perundang-undangan.
(1) Permohonan Pengharmonisasian Konsepsi Rancangan Peraturan Perundang-undangan diajukan secara tertulis kepada Menteri dengan tembusan kepada Direktur Jenderal yang disertai dengan kelengkapan dokumen persyaratan.
(2) Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan oleh menteri atau sekretaris jenderal atas nama menteri.
(3) Dalam hal Rancangan Peraturan Perundang-undangan disiapkan oleh pimpinan lembaga pemerintah nonkementerian, permohonan Pengharmonisasian Konsepsi Rancangan Peraturan Perundang- undangan diajukan oleh menteri yang mengoordinasikan lembaga pemerintah nonkementerian tersebut.
(1) Permohonan Pengharmonisasian Konsepsi Rancangan Peraturan Perundang-undangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat paling sedikit memuat:
a. tujuan dan dasar penyusunan Rancangan Peraturan Perundang- undangan;
b. gambaran umum arah pengaturan dan ruang lingkup materi muatan Rancangan Peraturan Perundang-undangan;
c. keterkaitan dengan Peraturan Perundang-undangan lain;
d. isu krusial yang perlu dibahas; dan
e. hal lain yang berkembang pada tahap penyusunan Panitia Antarkementerian dan/atau Antarnonkementerian.
(2) Format permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran I yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
(1) Permohonan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat harus melampirkan dokumen:
a. Naskah Akademik untuk Rancangan UNDANG-UNDANG;
b. penjelasan mengenai urgensi dan pokok pikiran;
c. keputusan mengenai pembentukan Panitia Antarkementerian dan/atau Antarnonkementerian;
d. Rancangan UNDANG-UNDANG, Rancangan PERATURAN PEMERINTAH, atau Rancangan Peraturan PRESIDEN yang telah mendapatkan paraf persetujuan seluruh anggota Panitia Antarkementerian dan/atau Antarnonkementerian; dan
e. izin prakarsa dalam hal:
1. Rancangan UNDANG-UNDANG tidak masuk dalam daftar Prolegnas;
2. Rancangan PERATURAN PEMERINTAH tidak masuk dalam daftar Program Penyusunan PERATURAN PEMERINTAH; atau
3. Rancangan Peraturan PRESIDEN tidak masuk dalam daftar Program Penyusunan Peraturan PRESIDEN.
(2) Dokumen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf d harus disertai dengan dokumen dalam bentuk elektronik.
(3) Format Rancangan UNDANG-UNDANG, Rancangan PERATURAN PEMERINTAH, atau Rancangan Peraturan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d tercantum dalam Lampiran II yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
(1) Pemeriksaan administratif terhadap permohonan dan dokumen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 dan Pasal 8 dilakukan dalam jangka waktu paling lama 5 (lima) hari kerja terhitung sejak tanggal permohonan diterima di Direktorat Harmonisasi Peraturan Perundang-undangan.
(2) Dalam hal berdasarkan hasil pemeriksaan administratif sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) permohonan dinyatakan tidak lengkap dan/atau tidak diajukan oleh pejabat yang berwenang, Direktur Harmonisasi Peraturan Perundang-undangan atas nama Direktur Jenderal memberitahukan secara tertulis kepada kementerian pemohon untuk melengkapi dokumen.
(3) Kelengkapan persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus disampaikan dalam jangka waktu paling lama 5 (lima) hari kerja terhitung sejak tanggal pemberitahuan diterima oleh kementerian pemohon.
(4) Apabila dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (3) kementerian pemohon tidak memenuhi kelengkapan persyaratan, Direktur Harmonisasi Peraturan Perundang-undangan atas nama Direktur Jenderal mengembalikan permohonan secara tertulis kepada kementerian pemohon.
(5) Dalam hal berdasarkan hasil pemeriksaan administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) permohonan dinyatakan lengkap, Direktur Harmonisasi Peraturan Perundang-undangan atas nama Direktur Jenderal melakukan analisis konsepsi Rancangan Peraturan Perundang-undangan.
(6) Pemeriksaan administratif sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dilakukan oleh Pejabat Fungsional Perancang Peraturan Perundang- undangan.
(1) Analisis konsepsi Rancangan Peraturan Perundang-undangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (5) dilakukan untuk melihat kejelasan konsepsi.
(2) Analisis konsepsi Rancangan Peraturan Perundang-undangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan terhadap substansi dan teknik penyusunan peraturan perundang-undangan.
(3) Analisis konsepsi Rancangan Peraturan Perundang-undangan terhadap substansi sebagaimana dimaksud pada ayat (2), dilakukan dengan memperhatikan:
a. keterkaitan dan keselarasan substansi dengan Pancasila, UNDANG-UNDANG Dasar Negara Republik INDONESIA Tahun 1945, dan peraturan perundang-undangan lain;
b. asas hukum;
c. putusan Mahkamah Konstitusi mengenai pengujian UNDANG-UNDANG terhadap UNDANG-UNDANG Dasar Negara Republik INDONESIA Tahun 1945;
d. putusan Mahkamah Agung mengenai pengujian peraturan perundang-undangan di bawah UNDANG-UNDANG;
e. yurispridensi;
f. alasan pembentukan;
g. dasar kewenangan pembentukan dan dasar pembentukan;
h. arah dan jangkauan pengaturan;
i. keterkaitan dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional, dan Rencana Kerja Pemerintah;
j. hubungan terhadap kelembagaan yang sudah ada;
k. konsekuensi terhadap keuangan negara; dan/atau
l. unsur lainnya.
(4) Analisis konsepsi Rancangan Peraturan Perundang-undangan terhadap teknik penyusunan peraturan perundang-undangan sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) dilakukan sesuai dengan ketentuan dalam Lampiran II UNDANG-UNDANG Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan.
(5) Analisis konsepsi Rancangan Peraturan Perundang-undangan sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) dilakukan oleh Pejabat Fungsional Perancang Peraturan Perundang-undangan.
Analisis konsepsi Rancangan Peraturan Perundang-undangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 dilakukan secara:
a. komprehensif terhadap substansi dan teknik penyusunan peraturan perundang-undangan; dan
b. khusus terhadap ketentuan pasal demi pasal baik secara internal maupun eksternal.
(1) Hasil analisis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 dituangkan dalam bentuk tanggapan tertulis.
(2) Tanggapan tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menjadi bahan rapat Pengharmonisasian Konsepsi Rancangan Peraturan Perundang-undangan.
(1) Rapat Pengharmonisasian Konsepsi Rancangan Peraturan Perundang- undangan dilakukan dalam rangka memperoleh kesepakatan dan kebulatan konsepsi Rancangan Peraturan Perundang-undangan.
(2) Rapat Pengharmonisasian Konsepsi Rancangan Peraturan Perundang- undangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan melibatkan wakil dari:
a. kementerian yang mengajukan permohonan;
b. kementerian terkait;
c. lembaga pemerintah nonkementerian terkait; dan/atau
d. lembaga lain terkait.
(3) Rapat Pengharmonisasian Konsepsi Rancangan Peraturan Perundang- undangan dapat mengikutsertakan peneliti dan/atau tenaga ahli termasuk dari lingkungan perguruan tinggi.
(4) Rapat Pengharmonisasian Konsepsi Rancangan Peraturan Perundang- undangan, meliputi:
a. rapat persiapan;
b. rapat pleno; dan
c. rapat tim kecil.
(1) Rapat persiapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (4) huruf a dimaksudkan untuk memperoleh gambaran yang utuh terhadap konsepsi Rancangan Peraturan Perundang-undangan.
(2) Rapat persiapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui:
a. rapat internal;
b. rapat bilateral antara Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia dengan kementerian yang mengajukan permohonan;
dan/atau
c. rapat trilateral antara Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, kementerian yang mengajukan permohonan, kementerian, lembaga pemerintah nonkementerian, dan/atau lembaga lain terkait.
(1) Rapat pleno sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (4) huruf b dimaksudkan untuk:
a. memperoleh masukan dari kementerian, lembaga pemerintah nonkementerian, dan/atau lembaga lain terkait terhadap substansi Rancangan Peraturan Perundang-undangan;
b. membahas substansi rancangan peraturan perundang-undangan terkait masukan sebagaimana dimaksud dalam huruf a;
c. MEMUTUSKAN substansi Rancangan Peraturan Perundang- undangan yang bersifat krusial; dan/atau
d. membubuhkan paraf persetujuan substansi pada setiap lembar naskah Rancangan Peraturan Perundang-undangan oleh wakil dari masing-masing kementerian, lembaga pemerintah nonkementerian, dan/atau lembaga lain terkait.
(2) Rapat pleno sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dihadiri oleh wakil dari kementerian yang mengajukan permohonan Pengharmonisasian Konsepsi Rancangan Peraturan Perundang- undangan yang menguasai substansi dengan jabatan paling rendah pejabat pimpinan tinggi pratama yang berwenang mengambil keputusan.
(1) Rapat tim kecil sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (4) huruf c dilakukan untuk menyempurnakan rumusan judul, pembukaan, batang tubuh, penutup, penjelasan, dan/atau lampiran, sesuai dengan teknik penyusunan peraturan perundang-undangan sebagaimana tercantum dalam Lampiran II UNDANG-UNDANG Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan.
(2) Rapat tim kecil sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dapat melibatkan juga kementerian, lembaga pemerintah nonkementerian, dan/atau lembaga lain terkait.
(1) Wakil dari setiap kementerian, lembaga pemerintah nonkementerian, dan/atau lembaga lain terkait melaporkan kepada pimpinan masing- masing hasil pembahasan pada rapat persiapan, rapat pleno, dan rapat tim kecil.
(2) Dalam hal terdapat permasalahan, wakil dari kementerian, lembaga pemerintah nonkementerian, dan/atau lembaga lain terkait melaporkan kepada pimpinan masing-masing untuk mendapat arahan dan keputusan.
(1) Dalam hal pada rapat tim kecil terdapat permasalahan, permasalahan tersebut dilaporkan pada rapat pleno tingkat pimpinan tinggi pratama atau pimpinan tinggi madya untuk mendapatkan keputusan.
(2) Dalam hal permasalahan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) permasalahan tersebut tidak dapat diselesaikan pada rapat pleno, Direktur Jenderal melaporkan kepada Menteri untuk diputuskan pada rapat tingkat menteri.
(3) Dalam hal permasalahan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak dapat diselesaikan pada rapat tingkat menteri, Menteri menyampaikan permasalahan kepada menteri koordinator sesuai dengan bidangnya untuk diputuskan pada rapat tingkat menteri koordinator.
(1) Dalam hal pada rapat koordinasi tingkat menteri koordinator sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (3) tidak menghasilkan keputusan, Menteri menyampaikan permasalahan tersebut kepada PRESIDEN untuk memperoleh arahan.
(2) Arahan PRESIDEN sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dirumuskan dalam Rancangan Peraturan Perundang-undangan dan disepakati dalam rapat pleno.
Direktur Jenderal atas nama Menteri menyampaikan naskah Rancangan Peraturan Perundang-undangan yang telah diharmonisasikan kepada menteri, pimpinan lembaga pemerintah nonkementerian, dan/atau pimpinan lembaga lain terkait untuk mendapatkan paraf persetujuan pada setiap lembar naskah Rancangan Peraturan Perundang-undangan.
Direktur Jenderal atas nama Menteri menyampaikan hasil Pengharmonisasian Konsepsi Rancangan Peraturan Perundang-undangan dengan melampirkan naskah Rancangan Peraturan Perundang-undangan yang telah memperoleh paraf persetujuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 kepada menteri yang mengajukan permohonan untuk diteruskan kepada PRESIDEN.