Peraturan Menteri/Badan ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Menteri/Badan ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik INDONESIA.
Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 31 Oktober 2025
MENTERI LINGKUNGAN HIDUP/KEPALA BADAN PENGENDALIAN LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA,
Œ
HANIF FAISOL NUROFIQ
Diundangkan di Jakarta pada tanggal Д
DIREKTUR JENDERAL PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KEMENTERIAN HUKUM REPUBLIK INDONESIA,
Ѽ
DHAHANA PUTRA
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2025 NOMOR Ж
akarta pada tanggal …
DIREKTUR JENDERAL PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KEMENTERIAN HUKUM REPUBLIK INDONESIA,
DHAHANA PUTRA
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN … NOMOR …
LAMPIRAN PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP/BADAN PENGENDALIAN LINGKUNGAN HIDUP
NOMOR 23 TAHUN 2025 TENTANG TARGET KONTRIBUSI YANG DITETAPKAN SECARA NASIONAL
AKSI MITIGASI PERUBAHAN IKLIM DAN AKSI ADAPTASI PERUBAHAN IKLIM
A. Aksi Mitigasi Perubahan Iklim
1. Sektor Energi No.
Aksi Mitigasi Baseline Kegiatan Aksi Mitigasi dengan Usaha Sendiri Aksi Mitigasi dengan Bantuan dari Luar Negeri Energi Terbarukan
• Penambahan pembangkit Energi Baru Terbarukan (EBT) berdasarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL)
Tidak ada penambahan pembangkit energi baru terbarukan sejak 2010
Penggunaan EBT untuk pembangkit listrik dengan target pengurangan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) 97,01 juta ton karbon dioksida ekivalen (CO2e)
Aksi yang sama dengan usaha sendiri namun dengan peningkatan Peningkatan Implementasi kegiatan Government Claim Carbon from Credit Scheme dipembangkit dengan target pengurangan emisi GRK 88,00 juta ton CO2e
• Bahan Bakar Nabati (BBN) Tidak ada penambangan penggunaan BBN sejak tahun 2010
Penggunaan EBT BBN untuk kegiatan pembangkit, industri, dan transportasi dengan target pengurangan emisi GRK 47,53 juta ton CO2e
No.
Aksi Mitigasi Baseline Kegiatan Aksi Mitigasi dengan Usaha Sendiri Aksi Mitigasi dengan Bantuan dari Luar Negeri
• Pembangkit energi baru terbarukan wilayah usaha
Tidak ada penambahan program pembangkit energi baru terbarukan wilayah usaha sejak 2010
Penggunaan EBT untuk pembangkit Listrik wilayah usaha dengan target pengurangan emisi GRK 27,59 juta ton CO2e
• Penggunaan langsung (direct utilisation)
Tidak ada penambahan program direct utilisation sejak tahun 2010
Penggunaan EBT, biomassa dan biogas di pembangkit off-grid target pengurangan emisi GRK 0,44 juta ton CO2e
• Co-firing biomassa
Tidak ada program co- firing biomassa
Penggunaan EBT untuk pembangkit listrik target pengurangan emisi GRK 8,88 juta ton CO2e
• Biogasoline
Tidak ada penggunaan bigasoline sejak tahun 2010
Penggunaan EBT biogasoline untuk sektor transportasi dengan target pengurangan emisi GRK 0,44 juta ton CO2e
• Co-processing alternative fuels (substitusi bahan Tidak ada penambahan subtitusi bahan bakar Penggunaan EBT, melalui subtitusi bahan bakar alternatif di Industri semen target
No.
Aksi Mitigasi Baseline Kegiatan Aksi Mitigasi dengan Usaha Sendiri Aksi Mitigasi dengan Bantuan dari Luar Negeri bakar alternatif) di Industri
alternatif sejak tahun 2010
pengurangan emisi GRK 1,35 juta ton CO2e
Efisiensi Energi
• Manajemen energi di penyedia energi, industri dan bangunan gedung Tidak ada penerapan manajemen energi sejak tahun 2010 Penerapan manajemen energi dengan target pengurangan emisi GRK 34,86 juta ton pengurangan emisi GRK 0,44 juta ton CO2e
• Peningkatan efisiensi energi peralatan listrik rumah tangga dan komersial
Tidak ada peningkatan efisiensi energi peralatan listrik sejak tahun 2010
Penerapan tindakan efisiensi energi peralatan listrik rumah tangga dan komersial dengan target pengurangan emisi GRK 83,84 juta ton CO2e
Aksi serupa dengan usaha sendiri dengan peningkatan/ perluasan upaya mitigasi efisiensi energi
• Penerapan Penerangan Jalan Umum (PJU) hemat energi
Tidak ada program efisiensi lampu jalan Penggunaan lampu hemat energi untuk PJU di rumah tangga/ komersial dengan target pengurangan emisi GRK 1,77 juta ton CO2e
• Peralatan memasak yang efisien
Tidak ada program peralatan memasak yang efisien sejak 2010
Peningkatan efisiensi energi peralatan memasak di rumah tangga dan komersial dengan target pengurangan emisi GRK 3,23 juta ton CO2e
No.
Aksi Mitigasi Baseline Kegiatan Aksi Mitigasi dengan Usaha Sendiri Aksi Mitigasi dengan Bantuan dari Luar Negeri
• Penerapan kendaraan listrik Tidak ada penerapan kendaraan listrik sejak 2010
Penggunaan kendaraan listrik di transportasi dengan target pengurangan emisi GRK 7,23 juta ton CO2e
• Manajemen energi di transportasi, energi efisiensi transportasi dari peningkatan angkutan umum masal (Kereta Rel Listrik/KRL, Bus Rapid Transit /BRT, Kereta Api/KA Barang, KA Penumpang, Light Rail Transit/LRT, Mass Rapid Transit/MRT, dan lain- lain), manajemen lalu lintas transportasi, peremajaan angkutan.
Tidak ada penerapan manajemen energi di transportasi, energi efisiensi transportasi dari peningkatan angkutan umum masal (KRL, BRT, KA Barang, KA Penumpang, MRT, LRT, dan lain-lain) manajemen lalu lintas transportasi, peremajaan angkutan sejak 2010 Penerapan manajemen energi di transportasi, energi efisiensi dari peningkatan angkutan umum masal (KRL, KRL, BRT, KA Barang, KA Penumpang, MRT, LRT, dan lain-lain), manajemen lalu lintas transportasi, peremajaan angkutan dengan target pengurangan emisi GRK 6,33 juta ton CO2e Aksi serupa dengan CM1 dengan peningkatan/perluasan upaya mitigasi efisiensi energi Bahan Bakar Rendah Emisi Karbon
• Fuel switching Bahan Bakar Minyak (BBM)
Tidak ada program fuel switching sejak 2010
Fuel switching di transportasi, BBM Research Octane Number (RON) 88 ke RON yang lebih tinggi dengan target pengurangan emisi GRK 0,23 juta ton CO2e
Aksi serupa dengan usaha sendiri dengan perluasan upaya mitigasi melalui penggunaan bahan bakar rendah emisi karbon
No.
Aksi Mitigasi Baseline Kegiatan Aksi Mitigasi dengan Usaha Sendiri Aksi Mitigasi dengan Bantuan dari Luar Negeri
• Konversi minyak tanah ke Liquefied Petroleum Gas (LPG) Penggunaan kerosin minyak tanah sejak 2010
Pengantian minyak tanah dengan LPG dirumah tangga dengan target pengurangan emisi GRK 14,68 juta ton CO2e
• Peningkatan Sambungan Rumah yang Teraliri Gas Bumi melalui Pipa (JARGAS)
Tidak ada penambahan ekspansi JARGAS sejak 2010
Jargas di rumah tangga dengan target pengurangan emisi GRK 0,6 juta ton CO2e
Penerapan pembangkit energi bersih
• Penerapan teknologi Clean Coal Technology (CCT)
Tidak ada penambahan pembangkit CCT sejak 2010
Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) menggunakan CCT dengan target pengurangan emisi GRK 7,42 juta ton CO2e
Aksi serupa dengan usaha sendiri dengan perluasan upaya mitigasi melalui Penerapan pembangkit energi bersih
• Penerapan pembangkit gas
Tidak ada penambahan pembangkit gas sejak 2010
Pembangkit Listrik Tenaga Gas/ Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTG/GU) dengan target pengurangan emisi GRK 14,11 juta ton CO2e
2. Sektor Limbah No.
Aksi Mitigasi Baseline Kegiatan Aksi Mitigasi dengan Usaha Sendiri Aksi Mitigasi dengan Bantuan dari Luar Negeri Sub Sektor Limbah Padat Domestik
1. Penerapan konsep efisiensi air dalam pengelolaan air Tidak ada pemulihan Landfill Gas (LFG) Pelaksanaan pemulihan LFG yang didukung oleh rehabilitasi Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) open dumping menjadi landfill yang memenuhi standar dan dilengkapi dengan pemanfaatan gas metana.
Pengurangan emisi sebesar 1,5 juta ton CO2e berasal dari pemanfaatan LFG untuk >5.900 rumah tangga dan >45 Mega Watt (MW) daya listrik dari LFG.
Peningkatan pelaksanaan pemulihan LFG yang didukung oleh rehabilitasi TPA open dumping menjadi landfill yang memenuhi standar dan dilengkapi dengan pemanfaatan gas metana.
Peningkatan pengurangan emisi sebesar 1,5 juta ton CO2e berasal dari pemanfaatan LFG untuk >5.900 rumah tangga dan >45 MW daya listrik dari LFG.
2. Pemanfaatan sampah melalui pengomposan dan Reduce (Mengurangi), Reuse (Menggunakan Kembali), dan Recycle (Mendaur Ulang) atau 3R pada kertas Tidak ada kegiatan tambahan atau penegakan kebijakan pada pengomposan dan 3R Pengolahan sampah melalui pengomposan sebesar 3,7 juta ton sampah domestik (Municipal Domestic Waste/MSW) dan 3R untuk penggunaan ulang/daur ulang kertas hingga 3,7 juta ton.
Sarana dan prasarana yang tersedia mencakup:
- Bank sampah: 762 unit - Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST): 2.857 unit Peningakatan pengolahan sampah melalui pengomposan sebesar 3,7 juta ton sampah domestik (MSW) dan 3R untuk penggunaan ulang/daur ulang kertas hingga 3,7 juta ton.
Sarana dan prasarana yang tersedia mencakup:
- Bank sampah: 762 unit
No.
Aksi Mitigasi Baseline Kegiatan Aksi Mitigasi dengan Usaha Sendiri Aksi Mitigasi dengan Bantuan dari Luar Negeri (1.469 unit terintegrasi dengan pengomposan) - Tempat Pengolahan Sampah 3R (TPS3R): 3.018 unit (1.703 unit terintegrasi dengan pengomposan) Target: menghilangkan 4,8 juta ton CO2e - TPST: 2.857 unit (1.469 unit terintegrasi dengan pengomposan) - TPS3R: 3.018 unit (1.703 unit terintegrasi dengan pengomposan) Target: menghilangkan 4,8 juta ton CO2e
3. Implementasi Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa)/ Refuse Derived Fuel (RDF)
Tidak ada upaya menuju waste-to- energy Pemanfaatan sampah menjadi energi melalui RDF (di sektor industri) atau sebagai sumber energi terbarukan dalam PLTSa.
Fasilitas PLTSa/RDF ditargetkan mengolah 4,6 juta ton sampah domestik untuk menghindari 1,9 juta ton CO2e.
Peningkatan pemanfaatan sampah menjadi energi melalui RDF (di sektor industri) atau sebagai sumber energi terbarukan dalam PLTSa.
Fasilitas PLTSa/RDF ditargetkan mengolah 4,6 juta ton sampah domestik untuk menghindari 1,9 juta ton CO2e.
4. Pemanfaatan sampah untuk mengalihkan dari pembuangan ke TPA menuju nol pembuangan pada 2060 Tidak ada arahan menuju nol pembuangan ke TPA Pemanfaatan sampah ditingkatkan lebih lanjut melalui fasilitas waste-to-energy atau pemulihan dan pemanfaatan sampah yang mengolah 10,2 juta ton MSW pada tahun 2030 untuk menghindari 6,2 juta ton CO2e Peningkatan pemanfaatan sampah ditingkatkan lebih lanjut melalui fasilitas waste-to- energy atau pemulihan dan pemanfaatan sampah yang mengolah 10,2 juta ton MSW pada tahun 2030 untuk menghindari 6,2 juta ton CO2e
No.
Aksi Mitigasi Baseline Kegiatan Aksi Mitigasi dengan Usaha Sendiri Aksi Mitigasi dengan Bantuan dari Luar Negeri Sub Sektor Limbah Cair Domestik
1. Pengelolaan limbah cair domestik Tidak ada aksi mitigasi.
Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) terpusat/terintegrasi (skala kota/komunal/wilayah) yang beroperasi dengan sistem aerobik.
Instalasi Pengelolaan Lumpur Tinja (IPLT) untuk mengolah lumpur dari sistem septik.
Biodigester dan pemanfaatan biogas.
Peningkatan pengelolaan IPAL terpusat/terintegrasi (skala kota/komunal/wilayah) yang beroperasi dengan sistem aerobik.
Peningkatan pengelolaan IPLT untuk mengolah lumpur dari sistem septik.
Peningkatan pengelolaan Biodigester dan pemanfaatan biogas.
Sub Sektor Limbah Industri 1 Pengelolaan Limbah Industri Tidak ada aksi mitigasi.
Pemanfaatan lumpur IPAL dan limbah padat industri melalui pengomposan, penggunaan kembali sebagai bahan baku, pemanfaatan sebagai energi, dan sebagainya.
Peningkatan pemanfaatan lumpur IPAL dan limbah padat industri melalui pengomposan, penggunaan kembali sebagai bahan baku, pemanfaatan sebagai energi, dan sebagainya.
Pengolahan air limbah di industri kelapa sawit, pulp & kertas, pengolahan buah/sayuran & jus, serta industri lainnya: untuk menerapkan penangkapan dan pemanfaatan metana (biogas).
Peningkatan pengolahan air limbah di industri kelapa sawit, pulp & kertas, pengolahan buah/sayuran & jus, serta industri lainnya: untuk menerapkan penangkapan dan pemanfaatan metana (biogas).
No.
Aksi Mitigasi Baseline Kegiatan Aksi Mitigasi dengan Usaha Sendiri Aksi Mitigasi dengan Bantuan dari Luar Negeri Target sebelumnya sebesar 3 juta ton CO2e ditingkatkan menjadi 26 juta ton CO2e (setara dengan pemulihan 1,2 juta ton metana) Target sebelumnya sebesar 18 juta ton CO2e ditingkatkan menjadi 28 juta ton CO2e (setara dengan pemulihan 1,3 juta ton metana)
3. Sektor Proses Industri dan Penggunaan Produk No.
Aksi Mitigasi Baseline Kegiatan Aksi Mitigasi dengan Usaha Sendiri Aksi Mitigasi dengan Bantuan dari Luar Negeri Industri Semen
1. Peningkatan Blended Semen dengan meningkatkan porsi bahan alternatif untuk mengurangi klinker pada rasio semen Klinker pada rasio semen sebesar 81%
Klinker pada rasio semen sebesar 70%
Klinker pada rasio semen sebesar 65%
Industri Amonia
1. Proyek revitalisasi pabrik amonia untuk mengurangi intensitas konsumsi gas alam
Tidak ada pembaruan atau peningkatan pabrik (spesifik konsumsi gas alam 45 Giga Joule (GJ)/ton amonia (NH3))
Pembangunan 3 pabrik baru menggantikan pabrik lama (spesifik konsumsi gas alam menurun dari 45 menjadi 40 GJ/ton NH3 di 2030)
Peningkatan pabrik lebih lanjut, dengan spesifik konsumsi gas alam 35 GJ/ton NH3 di 2030
2. Perbaikan pabrik amonia (peningkatan efisiensi pabrik dan pengurangan emisi Sektor Tidak ada perbaikan Perbaikan sebagian pabrik amonia Pemanfaatan pabrik untuk perbaikan
No.
Aksi Mitigasi Baseline Kegiatan Aksi Mitigasi dengan Usaha Sendiri Aksi Mitigasi dengan Bantuan dari Luar Negeri Proses Industri dan Penggunaan Produk)
3. Pemanfaatan CO2 Tidak ada Pemanfaatan CO2 Pemanfaatan CO2 sebagai feedstock untuk produksi natrium karbonat (Na2CO3) Peningkatan lebih lanjut dalam pemanfaatan CO2
Industri Lainnya
Industri Aluminium:
Center Work Pre-Bake Cell Tech (CWPB)
Industri Aluminium :
Mempertahankan peningkatan operasi pabrik (otomatisasi sistem feeding/peningkatan hardware dari CWPB ke teknologi bar-brake).
Target pengurangan emisi GRK sebesar 0,1 juta ton CO2e
-
Industri Asam Nitrat:
Tidak ada tindakan/aksi mitigasi untuk dinitrogen oksida (N2O) dan terus menggunakan teknologi yang sudah ada sejak tahun 2010 Industri Asam Nitrat:
Peningkatan teknologi (dengan EF 8-9 kg N2O/ton HNO3) dan instalasi non-selective catalyst reduction (NSCR) untuk destruksi N20 (EF 2,5 kg N2O/ton HNO3).
Industri Asam Nitrat:
Penambahan instalasi katalis untuk destruksi N2O.
Target pengurangan emisi GRK sebesar 0,2 juta ton CO2e
No.
Aksi Mitigasi Baseline Kegiatan Aksi Mitigasi dengan Usaha Sendiri Aksi Mitigasi dengan Bantuan dari Luar Negeri (dengan Emission Factor (EF) 10-19 kg N20 per ton asam nitrat (HNO3))
Target pengurangan emisi GRK sebesar 0,1 juta ton CO2e
Industri Besi Baja:
Tidak ada tindakan/aksi mitigasi
Industri Besi Baja:
Peningkatan teknologi smelter proses dan scrap utilisation. Keduanya akan menghasilkan intensitas emisi GRK yang rendah.
Target pengurangan emisi GRK sebesar 0,1 juta ton CO2e
Industri Besi Baja:
Aktivitas aksi mitigasi lebih lanjut dalam proses peningkatan teknologi smelter dan scrap utilisation.
Keduanya akan menghasilkan pengurangan emisi GRK lebih lanjut.
Target pengurangan emisi GRK sebesar 0,9 juta ton CO2e
4. Sektor Pertanian No.
Aksi Mitigasi Baseline Kegiatan Aksi Mitigasi dengan Usaha Sendiri Aksi Mitigasi dengan Bantuan dari Luar Negeri
1. Penggunaan Tanaman Rendah Emisi Tidak ada aksi mitigasi Total penggunaan lahan untuk tanaman rendah emisi mencapai
902.000 hektare (Ha) pada tahun 2030* Total penggunaan lahan untuk tanaman rendah emisi mencapai
932.000 Ha pada tahun 2030*
2. Penerapan konsep efisiensi air dalam pengelolaan air Tidak ada aksi mitigasi Penerapan efisiensi air mencapai
2.583.000 Ha pada tahun 2030* Penerapan efisiensi air mencapai
3.376.000 Ha pada tahun 2030*
No.
Aksi Mitigasi Baseline Kegiatan Aksi Mitigasi dengan Usaha Sendiri Aksi Mitigasi dengan Bantuan dari Luar Negeri 3 Pupuk Organik Tidak ada aksi mitigasi Aplikasi pupuk organik mencapai 1.287.000 ton pada tahun 2030** Aplikasi pupuk organik mencapai 1.368.000 ton pada tahun 2030** 4 Pengelolaan kotoran ternak untuk biogas Tidak ada aksi mitigasi Kotoran ternak yang digunakan untuk biogas berasal dari
166.000 ekor ternak pada tahun 2030*** Kotoran ternak yang digunakan untuk biogas berasal dari
249.000 ekor ternak pada tahun 2030*** 5 Suplemen pakan untuk ternak ruminansia Tidak ada aksi mitigasi Sebanyak 6.942.000 ekor ternak ruminansia akan diberikan suplemen pakan pada tahun 2030**** Sebanyak 8.075.000 ekor ternak ruminansia akan diberikan suplemen pakan pada tahun 2030**** * Penggunaan teknologi terbaik yang tersedia akan meningkatkan produktivitas tanaman dan mengurangi kebutuhan perubahan penggunaan lahan untuk keperluan pertanian.
** Penerapan pupuk nitrogen sintetis akan berkurang sebesar 0,15 ton untuk setiap satu ton pupuk organik yang digunakan.
*** Dengan asumsi bahwa subsidi pemerintah akan tetap diberikan, dengan mempertimbangkan tingginya biaya investasi.
**** Untuk aksi mitigasi dengan usaha sendiri, mencakup sekitar 27,4% dari populasi ternak ruminansia besar dan 20% dari populasi ruminansia kecil. Untuk aksi mitigasi dengan bantuan dari luar negeri, mencakup sekitar 37,4% dari populasi ruminansia besar dan 20% dari populasi ruminansia kecil.
5. Sektor Kehutanan No.
Aksi Mitigasi Baseline Kegiatan Aksi Mitigasi dengan Usaha Sendiri Aksi Mitigasi dengan Bantuan dari Luar Negeri
1. Laju Deforestasi
• Total Deforestasi (Ribu Ha) 2013–’20: 920 2020–’30: 820 2013–’20: 459 2020–’30: 359 2013–’20: 300 2020–’30: 175
• Deforestasi Tidak Terencana (Ribu Ha) Deforestasi tidak terencana dihitung dengan rumus:
(Total Deforestasi - Deforestasi Terencana) 2013–’20: 387 2020–’30: 235 Diasumsikan bahwa laju deforestasi tidak terencana adalah rendah dan total deforestasi tidak melebihi 0,450 juta Ha per tahun.
2013–’20: 209 2020–’30: 146 Diasumsikan bahwa laju deforestasi tidak terencana adalah rendah dan total deforestasi tidak melebihi 0,450 juta Ha per tahun.
2013–’20: 68 2020–’30: 57
• Deforestasi Terencana (Berdasarkan model) (Ribu Ha) 2011–2030: hasil dari model 2011–2030: hasil dari model 2011–2030: hasil dari model
2. Rehabilitasi Lahan
Rehabilitasi Lahan Tidak ada aksi mitigasi.
Peningkatan penyerapan karbon dengan memperluas program rehabilitasi lahan (penghijauan dan reforestasi) dan mempercepat pengembangan hutan tanaman di lahan tidak Peningkatan penyerapan karbon dengan memperluas program rehabilitasi lahan (penghijauan dan reforestasi) dan mempercepat pengembangan hutan tanaman di lahan tidak
No.
Aksi Mitigasi Baseline Kegiatan Aksi Mitigasi dengan Usaha Sendiri Aksi Mitigasi dengan Bantuan dari Luar Negeri produktif (sekitar 11,5 juta Ha secara total).
produktif (sekitar 11,5 juta Ha secara total).
Laju Penanaman Tahunan untuk Hutan Tanaman Tidak ada aksi mitigasi.
Laju penanaman tahunan untuk hutan tanaman dalam aksi mitigasi dengan usaha sendiri dan aksi mitigasi dengan bantuan dari luar negeri akan mencapai 320 ribu Ha per tahun (total 6,4 juta Ha pada tahun 2030) Laju penanaman tahunan untuk hutan tanaman dalam aksi mitigasi dengan usaha sendiri dan aksi mitigasi dengan bantuan dari luar negeri akan mencapai 320 ribu Ha per tahun (total 6,4 juta Ha pada tahun 2030)
Laju Penanaman Tahunan untuk Rehabilitasi Lahan Tidak ada aksi mitigasi.
Laju penanaman tahunan untuk rehabilitasi lahan akan mencapai 280 ribu Ha per tahun (total 5,6 juta Ha pada tahun 2030).
Laju penanaman tahunan untuk rehabilitasi lahan akan mencapai 280 ribu Ha per tahun (total 5,6 juta Ha pada tahun 2030).
3. Pengelolaan Air di Lahan Gambut Tidak ada aksi mitigasi.
Implementasi pengelolaan air di perkebunan kelapa sawit mencapai 892.000 Ha dan di hutan tanaman mencapai
329.000 Ha Implementasi pengelolaan air di perkebunan kelapa sawit mencapai 892.000 Ha dan di hutan tanaman mencapai
548.000 Ha.
4. Restorasi Lahan Gambut Tidak ada kegiatan restorasi Restorasi gambut diperkirakan akan mencapai 2 juta Ha pada tahun 2030 Restorasi gambut diperkirakan akan mencapai 2 juta Ha pada tahun 2030
B. Aksi Adaptasi Perubahan Iklim
1. Bidang Ketahanan Pangan No.
Program Kunci Strategi Aksi
1. Pertanian dan perkebunan berkelanjutan Pengarusutamaan/integrasi adaptasi perubahan iklim di sektor pertanian, khususnya komoditas strategis Identifikasi, pengembangan dan implementasi praktik terbaik pemberdayaan ekonomi petani Peningkatan pengelolaan dan penyediaan jasa ekosistem di sektor pertanian Pengembangan skema pembiayaan pertanian Pengembangan dan implementasi teknologi adaptif untuk produksi berkelanjutan tanaman pertanian Perlindungan tanaman pertanian dari hama dan penyakit Penelitian dan pengembangan bibit unggul (rekayasa genetik) dan teknik-teknik pembudidayaan tanaman Peningkatan sistem pengelolaan air Penerapan kalender tanam terintegrasi
2. Bidang Ketahanan Air No.
Program Kunci Strategi Aksi
1. Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) terpadu Peningkatan sinergi lintas sektor dan wilayah dalam pengelolaan DAS Implementasi pendekatan terintegrasi hulu dan hilir dalam rehabilitasi dan restorasi hutan, rencana pengelolaan DAS, dan perlindungan sumber daya air terestrial Penciptaan kondisi pemungkin integrasi pengelolaan risiko bencana ke dalam model usaha dan praktis Pengarusutamaan/integrasi adaptasi perubahan iklim dalam pengelolaan DAS untuk menurunkan risiko/kerugian dari bencana terkait iklim Pengembangan jasa layanan ekosistem dalam pengelolaan DAS Identifikasi, pengembangan dan implementasi praktik- praktik baik pengelolaan DAS Integrasi pengelolaan DAS ke dalam rencana tata ruang
2. Konservasi lahan Menghindari konversi lahan produktif untuk penggunaan lain Rehabilitasi lahan terdegradasi terintegrasi dengan konservasi tanah dan air
No.
Program Kunci Strategi Aksi Pengembangan dan implementasi teknologi adaptif untuk menunjang praktik-praktik pengelolaan lahan berkelanjutan Penerapan teknologi konservasi tanah dan air menggunakan metode mekanis dan vegetasi
3. Peningkatan pemukiman masyarakat, penyediaan kebutuhan dasar dan pembangunan prasarana tahan iklim Integrasi adaptasi perubahan iklim ke dalam pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur Meningkatkan pengelolaan sumberdaya air termasuk air tanah, langkah-langkah mengantisipasi darurat bencana
4. Konservasi dan restorasi ekosistem Meningkatkan fungsi ekosistem untuk meningkatkan layanan esensial Restorasi kawasan mangrove dan gambut terdegradasi
5. Pengelolaan DAS terpadu Pengembangan pengelolaan ekosistem DAS tahan iklim Meningkatkan perencanaan pengelolaan DAS dengan mempertimbangkan kerentanan, risiko, dan dampak perubahan iklim Pengembangan instrumen kebijakan dan perangkat untuk menilai kerentanan, risiko, dan dampak perubahan iklim pada DAS prioritas
3. Bidang Ketahanan Energi No.
Program Kunci Strategi Aksi 1 Pemanfaatan lahan terdegradasi untuk energi terbarukan Program terintegrasi rehabilitasi lahan terdegradasi dan pengembangan energi biomassa Rehabilitasi lahan terdegradasi dengan jenis tanaman energi Penelitian dan Pengembangan tanaman energi biomassa berkelanjutan dan industri bio-energi 2 Perbaikan efisiensi energi dan pola konsumsi Peningkatan kesadaran parapihak mengenai manfaat adaptasi dari upaya mitigasi melalui peningkatan efisiensi energi dan pola konsumsi Kampanye efisiensi energi
3. Peningkatan pemukiman masyarakat, penyediaan kebutuhan dasar dan pembangunan prasarana tahan iklim Integrasi adaptasi perubahan iklim ke dalam pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur Peningkatan pemenuhan aturan daya dukung dan daya tampung dalam pembangunan infrastruktur
4. Kota berketahanan iklim Mendorong pengembangan kota tahan iklim Peningkatan kapasitas dan penguatan kelembagaan Meningkatkan hutan kota dan ruang terbuka hijau lainnya
4. Bidang Ketahanan Kesehatan
No.
Program Kunci Strategi Aksi
1. Peningkatan kapasitas adaptasi Merespon dampak perubahan iklim dan mengelola risiko, termasuk kesehatan Mengatasi faktor penyebab kerentanan terhadap perubahan iklim Meningkatkan partisipasi parapihak di semua tingkat dalam membangun ketahanan iklim, termasuk perlindungan kesehatan dan pengelolaan sampah Meningkatkan kapasitas komunitas dalam menurunkan dampak perubahan iklim di bidang kesehatan
2. Peningkatan pemukiman masyarakat, penyediaan kebutuhan dasar dan pembangunan prasarana tahan iklim Pengarusutamaan adaptasi perubahan iklim ke dalam perencanaan tata ruang dan penguatan implementasinya dalam rencana tata ruang Kampanye kesadaran iklim, penerapan standar pembangunan pemukiman penduduk, termasuk kesehatan lingkungan dan bangunan
5. Bidang Ketahanan Ekosistem
No.
Program Kunci Strategi Aksi
1. Pertanian dan perkebunan berkelanjutan Pengarusutamaan/integrasi adaptasi perubahan iklim di sektor pertanian, khususnya komoditas strategis Peningkatan pengelolaan dan penyediaan jasa ekosistem di sektor pertanian Pengembangan dan implementasi teknologi adaptif untuk produksi berkelanjutan tanaman pertanian Peningkatan sistem pengelolaan air
2. Pengelolaan DAS terpadu Peningkatan sinergi lintas sektor dan wilayah dalam pengelolaan DAS Implementasi pendekatan terintegrasi hulu dan hilir dalam rehabilitasi dan restorasi hutan, rencana pengelolaan DAS, dan perlindungan sumber daya air terestrial Penciptaan kondisi pemungkin integrasi pengelolaan risiko bencana ke dalam model usaha dan praktis Pengarusutamaan/integrasi adaptasi perubahan iklim dalam pengelolaan DAS untuk menurunkan risiko/kerugian dari bencana terkait iklim Pengembangan jasa layanan ekosistem dalam pengelolaan DAS Integrasi pengelolaan DAS ke dalam rencana tata ruang
3. Penurunan laju deforestasi dan degradasi hutan Pengarusutamaan/integrasi adaptasi perubahan iklim ke dalam pengelolaan hutan mendukung aksi mitigasi dan peningkatan ketahanan ekonomi masyarakat di sekitar hutan Pengembangan dan implementasi teknologi ramah lingkungan dalam pengelolaan hutan produksi Memperkuat implementasi upaya penurunan deforestasi Pemanfaatan hasil hutan bukan kayu secara lestari oleh masyarakat lokal dan adat Identifikasi, pengembangan dan implementasi praktik- praktik baik dan kearifan lokal dalam pemanfaatan sumber daya hutan Menciptakan kondisi pemungkin penerapan teknologi ramah lingkungan Fasilitasi, oversight, penegakan, dan pemenuhan implementasi teknologi ramah lingkungan
No.
Program Kunci Strategi Aksi
4. Konservasi lahan Menghindari konversi lahan produktif untuk penggunaan lain Rehabilitasi lahan terdegradasi terintegrasi dengan konservasi tanah dan air Fasilitasi, oversight, penegakan, dan pemenuhan rencana tata ruang Penguatan implementasi regulasi rencana tata ruang Pengembangan dan implementasi teknologi adaptif untuk menunjang praktik-praktik pengelolaan lahan berkelanjutan Penerapan teknologi konservasi tanah dan air menggunakan metode mekanis dan vegetasi Identifikasi, pengembangan, dan implementasi praktik- praktik baik pengelolaan dan pemanfaatan lahan
5. Pemanfaatan lahan terdegradasi untuk energi terbarukan Program terintegrasi rehabilitasi lahan terdegradasi dan pengembangan energi biomassa Rehabilitasi lahan terdegradasi dengan jenis tanaman energi Penelitian dan Pengembangan tanaman energi biomassa berkelanjutan dan industri bio-energi
6. Pengembangan kapasitas dan partisipasi masyarakat di dalam proses perencanaan lokal Meningkatkan kapasitas komunitas dalam pengelolaan sumberdaya alam sebagai sumber pendapatan, termasuk kapasitas dalam pengelolaan risiko dan pemanfaatan sumberdaya alam secara berkelanjutan Kampanye kesadaran, pendidikan, dan pelatihan Identifikasi, pengembangan dan implementasi praktik- praktik baik Memperkuat pelibatan masyarakat dalam proses perencanaan di setiap tingkatan, dengan mempertimbangkan partisipasi, keseimbangan, kesetaraan gender dan kelompok rentan, sesuai kebutuhan lintas generasi Pengembangan dan implementasi mekanisme partisipasi publik, mempertimbangkan partisipasi, kesetaraan, dan keseimbangan gender dan kelompok rentan (disabilitas, anak-anak, dan lansia), dan lintas generasi Fasilitasi dan oversight untuk memastikan ketertarikan publik, termasuk gender, terakomodasi dalam perencanaan pembangunan
No.
Program Kunci Strategi Aksi
7. Identifikasi wilayah rentan perubahan iklim dalam perencanaan dan tata guna lahan Pengembangan dan pemanfaatan sistem informasi dan penyediaan data kerentanan, risiko, dan dampak perubahan iklim Penguatan sistem informasi indeks kerentanan (Sistem informasi dan Data Indeks Kerentanan/SIDIK) Integrasi SIDIK dengan sistem informasi lain yang terkait dengan kerentanan, risiko, dan dampak perubahan iklim
8. Peningkatan pemukiman masyarakat, penyediaan kebutuhan dasar dan pembangunan prasarana tahan iklim Pengarusutamaan adaptasi perubahan iklim ke dalam perencanaan tata ruang dan penguatan implementasinya dalam rencana tata ruang Kampanye kesadaran iklim, penerapan standar pembangunan pemukiman penduduk, termasuk kesehatan lingkungan dan bangunan
9. Perhutanan sosial Meningkatkan keterlibatan masyarakat lokal dan adat dalam proses pembangunan perhutanan sosial Kampanye kesadaran tentang pentingnya peran hutan dalam ketahanan ekosistem Penguatan implementasi pendekatan lansekap dalam perhutanan sosial Fasilitasi, oversight dan pemenuhan prinsip-prinsip keberlanjutan dalam skema perhutanan sosial Implementasi teknologi ramah lingkungan dalam perhutanan sosial Menciptakan kondisi pemungkin untuk penerapan teknologi ramah lingkungan Identifikasi, pengembangan dan implementasi praktik- praktik baik yang diterapkan untuk perhutanan sosial
No.
Program Kunci Strategi Aksi
10. Perlindungan kawasan pesisir
Pengarusutamaan adaptasi perubahan iklim ke dalam kebijakan dan program pesisir dan laut Implementasi adaptasi berbasis ekosistem dalam pembangunan kawasan pesisir Implementasi pengelolaan integratif ekosistem mangrove Meningkatkan pengendalian polusi kawasan pesisir dan laut, termasuk sampah laut dan sampah plastik Pengembangan kawasan pesisir yang tahan iklim Meningkatkan komunikasi, pendidikan, dan kesadaran umum mengenai pentingnya peran perlindungan ekosistem pesisir dalam menurunkan dampak bencana Restorasi kawasan pesisir terdegradasi sebagai kawasan ekosistem esensial Meningkatkan perikehidupan masyarakat yang hidup dan tergantung pada kawasan pesisir
11. Konservasi dan restorasi ekosistem
Meningkatkan konservasi ekosistem, spesies, dan genetik
Pengembangan dan implementasi konservasi in-situ dan ex- situ Pencegahan dan pemberantasan spesies invasif Perlindungan kawasan laut yang sudah ada dan pembangunan kawasan laut lindung baru Meningkatkan fungsi ekosistem untuk meningkatkan layanan esensial Restorasi kawasan mangrove dan gambut terdegradasi Meningkatkan pendidikan konservasi, termasuk pelibatan masyarakat adat untuk kearifan lokal
12. Pengelolaan DAS terpadu Pengembangan pengelolaan ekosistem DAS tahan iklim Meningkatkan perencanaan pengelolaan DAS dengan mempertimbangkan kerentanan, risiko, dan dampak perubahan iklim Pengembangan instrumen kebijakan dan perangkat untuk menilai kerentanan, risiko, dan dampak perubahan iklim pada DAS prioritas
No.
Program Kunci Strategi Aksi
13. Kota berketahanan iklim Mendorong pengembangan kota tahan iklim Kampanye kesadaran pentingnya pengintegrasian kerentanan, risiko, dan dampak perubahan iklim dalam perencanaan dan pembangunan kota Revitalisasi infrastruktur kota untuk meningkatkan kapasitas adaptasi dan ketahanan terhadap dampak perubahan iklim
MENTERI LINGKUNGAN HIDUP/KEPALA BADAN PENGENDALIAN LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
HANIF FAISOL NUROFIQ