TIDAK DIPUNGUT CUKAI
(1) Cukai tidak dipungut atas barang kena cukai berupa tembakau iris yang dibuat dari daun tembakau hasil tanaman di INDONESIA yang:
a. Tidak Dikemas untuk Penjualan Eceran; atau
b. Dikemas untuk Penjualan Eceran dengan bahan pengemas tradisional yang lazim dipergunakan.
(2) Tembakau iris yang tidak dipungut cukai sebagaimana dimaksud pada ayat
(1), sepanjang memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a. dalam pembuatannya tidak dicampur atau ditambah dengan tembakau yang berasal dari luar negeri atau bahan lain yang lazim dipergunakan dalam pembuatan hasil tembakau; dan/atau
b. pada kemasannya ataupun tembakau irisnya tidak dibubuhi, dilekati, atau dicantumkan cap, merek dagang, etiket, atau tanda khusus yang sejenisnya.
(3) Bahan lain yang lazim dipergunakan dalam pembuatan hasil tembakau sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a, yaitu bahan-bahan seperti saus yang memberikan rasa dan/atau aroma yang khas pada tembakau iris.
(4) Tidak termasuk dalam pengertian bahan lain yang lazim dipergunakan dalam pembuatan hasil tembakau sebagaimana dimaksud pada ayat (3), yaitu bahan yang ditambahkan dengan maksud untuk mempertahankan mutu dan/atau kualitas.
Cukai tidak dipungut atas barang kena cukai berupa minuman yang mengandung etil alkohol yang diperoleh dari hasil peragian atau penyulingan, sepanjang:
a. dibuat oleh rakyat di INDONESIA;
b. pembuatannya dilakukan secara sederhana, dengan menggunakan peralatan sederhana yang lazim digunakan oleh rakyat INDONESIA dan produksinya tidak melebihi 25 (dua puluh lima) liter per hari;
c. semata-mata untuk mata pencaharian; dan
d. tidak dikemas dalam kemasan untuk penjualan eceran.
Pembuatan atau pengangkutan barang kena cukai yang tidak dipungut cukai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 dan Pasal 3:
a. tidak wajib diberitahukan kepada Pejabat Bea dan Cukai;
dan
b. tidak wajib dilindungi dengan Dokumen Cukai.
(1) Cukai tidak dipungut atas barang kena cukai yang berasal dari luar Daerah Pabean apabila Barang Kena Cukai Diangkut Terus atau Barang Kena Cukai Diangkut Lanjut dengan tujuan luar Daerah Pabean.
(2) Tata cara Barang Kena Cukai Diangkut Terus atau Barang Kena Cukai Diangkut Lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (1), sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai diangkut terus atau diangkut lanjut.
(1) Cukai tidak dipungut atas barang kena cukai yang diekspor.
(2) Pengeluaran dan pengangkutan barang kena cukai dengan tujuan Ekspor dari Pabrik atau Tempat Penyimpanan ke Kawasan Pabean pada pelabuhan Ekspor, wajib menggunakan Dokumen Cukai berupa pemberitahuan mutasi barang kena cukai.
(3) Pengusaha Pabrik atau Pengusaha Tempat Penyimpanan yang melakukan pengeluaran barang kena cukai yang tidak dipungut cukai dengan tujuan untuk Ekspor sebagaimana dimaksud pada ayat (1):
a. bertanggung jawab terhadap barang kena cukai yang dikeluarkan sampai dengan barang kena cukai tersebut dilaksanakan Ekspornya; dan
b. wajib menyampaikan dokumen bukti realisasi Ekspor sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang kepabeanan.
(4) Tata cara Ekspor barang kena cukai sebagaimana dimaksud pada ayat (1), sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai tata laksana kepabeanan di bidang Ekspor.
Dokumen Cukai berupa pemberitahuan mutasi barang kena cukai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 yang telah dilengkapi dengan dokumen bukti realisasi Ekspor, digunakan sebagai dasar tidak dipungut cukai.
(1) Cukai tidak dipungut atas barang kena cukai yang berasal dari Pabrik apabila dimasukkan ke dalam Pabrik lainnya.
(2) Cukai tidak dipungut atas barang kena cukai yang berasal dari Impor apabila dimasukkan ke dalam Pabrik.
(3) Cukai tidak dipungut atas barang kena cukai berupa etil alkohol yang berasal dari Tempat Penyimpanan apabila dimasukkan ke dalam Pabrik.
(4) Cukai tidak dipungut atas barang kena cukai berupa etil alkohol yang berasal dari Pabrik apabila dimasukkan ke dalam Tempat Penyimpanan.
(5) Cukai tidak dipungut atas barang kena cukai berupa etil alkohol yang berasal dari Impor apabila dimasukkan ke dalam Tempat Penyimpanan.
(6) Cukai tidak dipungut atas barang kena cukai berupa etil alkohol yang berasal dari Tempat Penyimpanan apabila dimasukkan ke dalam Tempat Penyimpanan lainnya.
(1) Pengeluaran, pemasukan, dan pengangkutan barang kena cukai dari:
a. Pabrik ke Pabrik lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1);
b. Tempat Penyimpanan ke Pabrik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (3);
c. Pabrik ke Tempat Penyimpanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (4); atau
d. Tempat Penyimpanan ke Tempat Penyimpanan lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (6), wajib menggunakan Dokumen Cukai berupa pemberitahuan mutasi barang kena cukai.
(2) Pemasukan dan pengangkutan barang kena cukai yang:
a. berasal dari Impor ke Pabrik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2); atau
b. berasal dari Impor ke Tempat Penyimpanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (5), wajib menggunakan Dokumen Cukai berupa pemberitahuan mutasi barang kena cukai.
(1) Pengusaha Pabrik atau Tempat Penyimpanan yang mengeluarkan barang kena cukai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1), ayat (3), ayat (4), dan ayat (6) bertanggung jawab terhadap barang kena cukai yang dikeluarkan sampai dengan dimasukkan ke Pabrik lainnya atau Tempat Penyimpanan lainnya.
(2) Pengusaha Pabrik atau Tempat Penyimpanan yang memasukkan barang kena cukai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1), ayat (3), ayat (4), dan ayat (6) bertanggung jawab terhadap barang kena cukai yang dikeluarkan dari Pabrik lainnya atau Tempat Penyimpanan lainnya sejak barang kena cukai dimasukkan ke Pabrik atau Tempat Penyimpanan.
(3) Pengusaha Pabrik atau Tempat Penyimpanan yang memasukkan barang kena cukai yang berasal dari Impor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) atau ayat
(5), bertanggung jawab terhadap barang kena cukai sejak barang kena cukai dikeluarkan dari Kawasan Pabean atau Tempat Penimbunan Sementara.
Dokumen Cukai berupa pemberitahuan mutasi barang kena cukai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 yang telah diberikan catatan pemasukan ke Pabrik atau Tempat Penyimpanan, digunakan sebagai dasar tidak dipungut cukai.
(1) Cukai tidak dipungut atas barang kena cukai yang:
a. berasal dari Pabrik;
b. berasal dari Tempat Penyimpanan; atau
c. berasal dari Impor, apabila dimasukkan ke dalam Pabrik lainnya untuk digunakan sebagai bahan baku atau bahan penolong dalam pembuatan barang hasil akhir yang merupakan barang kena cukai.
(2) Pengusaha Pabrik yang menggunakan barang kena cukai yang tidak dipungut cukai sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dapat menggunakan barang kena cukai untuk keperluan laboratorium dalam rangka pengujian standar mutu barang kena cukai tersebut.
(3) Tidak termasuk bahan baku atau bahan penolong sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yaitu etil alkohol yang digunakan untuk kebutuhan sanitasi, dan pembersihan mesin produksi barang kena cukai, atau penggunaan etil alkohol yang tidak dapat ditelusuri pada barang hasil akhir yang merupakan barang kena cukai.
(1) Pengusaha Pabrik yang bermaksud menggunakan barang kena cukai yang tidak dipungut cukai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 harus menyampaikan rencana penggunaannya kepada Kepala Kantor Bea dan Cukai yang mengawasi.
(2) Rencana penggunaan barang kena cukai dengan fasilitas tidak dipungut cukai sebagaimana dimaksud pada ayat
(1), dibuat dengan menggunakan Dokumen Cukai berupa pemberitahuan rencana produksi barang kena cukai
yang menggunakan barang kena cukai sebagai bahan baku atau bahan penolong dengan fasilitas tidak dipungut cukai, yang paling sedikit memuat:
a. nama, alamat, Nomor Pokok Pengusaha Barang Kena Cukai (NPPBKC), dan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) Pabrik pengguna fasilitas tidak dipungut cukai;
b. nama, alamat, Nomor Pokok Pengusaha Barang Kena Cukai (NPPBKC), dan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) Pabrik, Tempat Penyimpanan, atau Importir barang kena cukai, yang menjual atau menyerahkan barang kena cukai;
c. jenis dan perkiraan jumlah barang kena cukai yang akan dimasukkan untuk digunakan sebagai bahan baku atau bahan penolong; dan
d. jenis dan perkiraan jumlah produksi barang hasil akhir yang merupakan barang kena cukai.
(1) Pengeluaran, pemasukan, dan pengangkutan barang kena cukai dari Pabrik atau Tempat Penyimpanan ke Pabrik lainnya untuk digunakan sebagai bahan baku atau bahan penolong dalam pembuatan barang hasil akhir yang merupakan barang kena cukai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (1) huruf a dan huruf b wajib menggunakan Dokumen Cukai berupa pemberitahuan mutasi barang kena cukai.
(2) Pemasukan dan pengangkutan barang kena cukai yang berasal dari Impor ke Pabrik untuk digunakan sebagai bahan baku atau bahan penolong dalam pembuatan barang hasil akhir yang merupakan barang kena cukai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (1) huruf c wajib menggunakan Dokumen Cukai berupa pemberitahuan mutasi barang kena cukai.
(1) Pengusaha Pabrik atau Tempat Penyimpanan yang mengeluarkan barang kena cukai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (1) huruf a dan huruf b bertanggung jawab terhadap barang kena cukai yang dikeluarkan sampai dengan dimasukkan ke Pabrik.
(2) Pengusaha Pabrik yang menggunakan barang kena cukai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 bertanggung jawab terhadap:
a. barang kena cukai yang berasal dari Impor sejak pengeluaran dari Kawasan Pabean atau Tempat Penimbunan Sementara; dan
b. barang kena cukai yang berasal dari Pabrik lainnya atau Tempat Penyimpanan sejak dimasukkan ke Pabrik.
(1) Pengusaha Pabrik yang telah memasukkan barang kena cukai dengan fasilitas tidak dipungut cukai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 dapat mengembalikan barang kena cukai yang digunakan sebagai bahan baku atau bahan penolong ke Pabrik atau Tempat Penyimpanan asal.
(2) Cukai tidak dipungut atas barang kena cukai yang dikembalikan ke Pabrik atau Tempat Penyimpanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
(3) Pengeluaran, pemasukan, dan pengangkutan barang kena cukai yang dikembalikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib menggunakan Dokumen Cukai berupa pemberitahuan mutasi barang kena cukai.
(1) Pengusaha Pabrik, Pengusaha Tempat Penyimpanan, atau Importir barang kena cukai, yang menjual atau menyerahkan barang kena cukai yang tidak dipungut cukai ke dalam Pabrik lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12, harus menyampaikan laporan setiap bulan kepada Kepala Kantor Bea dan Cukai yang mengawasi paling lambat tanggal 10 (sepuluh) bulan berikutnya.
(2) Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) menggunakan Dokumen Cukai berupa laporan penjualan atau penyerahan barang kena cukai dengan fasilitas tidak dipungut cukai, yang paling sedikit memuat:
a. nama, alamat, Nomor Pokok Pengusaha Barang Kena Cukai (NPPBKC), dan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) Pabrik, Tempat Penyimpanan, atau Importir barang kena cukai yang menjual atau menyerahkan barang kena cukai;
b. nama, alamat, Nomor Pokok Pengusaha Barang Kena Cukai (NPPBKC), dan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) Pabrik pengguna fasilitas tidak dipungut cukai;
c. nomor dan tanggal Dokumen Cukai berupa pemberitahuan mutasi barang kena cukai; dan
d. jenis dan jumlah barang kena cukai sebagai bahan baku atau bahan penolong yang dijual atau diserahkan.
(3) Dikecualikan dari kewajiban menyampaikan Dokumen Cukai berupa laporan penjualan atau penyerahan barang kena cukai dengan fasilitas tidak dipungut cukai dalam hal Impor barang kena cukai dilakukan oleh Pengusaha Pabrik yang menggunakan fasilitas tidak dipungut cukai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12.
Dokumen Cukai berupa:
a. pemberitahuan rencana produksi barang kena cukai yang menggunakan barang kena cukai sebagai bahan baku atau bahan penolong dengan fasilitas tidak dipungut cukai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13;
b. pemberitahuan mutasi barang kena cukai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 yang telah diberikan catatan pemasukan ke Pabrik; dan
c. laporan penggunaan/persediaan barang kena cukai dengan fasilitas tidak dipungut cukai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17, digunakan sebagai dasar tidak dipungut cukai.
Tata cara pengeluaran, pemasukan, dan pengangkutan barang kena cukai menggunakan Dokumen Cukai berupa pemberitahuan mutasi barang kena cukai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, Pasal 9, Pasal 14, dan Pasal 16 sesuai dengan ketentuan sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur mengenai
penimbunan, pemasukan, pengeluaran, dan pengangkutan barang kena cukai.
(1) Cukai tidak dipungut atas barang kena cukai yang belum dilunasi cukainya yang berada di dalam Pabrik yang telah musnah atau rusak sebelum dikeluarkan.
(2) Barang kena cukai yang musnah atau rusak sebagaimana dimaksud pada ayat (1), terdiri atas:
a. barang kena cukai yang musnah atau rusak sebelum diberitahukan sebagai barang kena cukai yang selesai dibuat, yang wajib diberitahukan sesuai ketentuan sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur mengenai pemberitahuan barang kena cukai yang selesai dibuat;
b. barang kena cukai yang musnah setelah diberitahukan sebagai barang kena cukai yang selesai dibuat, yang wajib diberitahukan sesuai ketentuan sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur mengenai pemberitahuan barang kena cukai yang selesai dibuat; dan
c. barang kena cukai yang rusak setelah diberitahukan sebagai barang kena cukai yang selesai dibuat, yang wajib diberitahukan sesuai ketentuan sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur mengenai pemberitahuan barang kena cukai yang selesai dibuat.
(3) Barang kena cukai yang musnah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b tidak termasuk barang kena cukai yang diberikan potongan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 UNDANG-UNDANG Cukai.
(1) Pengusaha Pabrik yang bermaksud melakukan pengolahan barang kena cukai menjadi barang yang bukan merupakan barang kena cukai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (10) huruf b, harus mengajukan permohonan kepada Direktur yang mempunyai tugas merumuskan dan melaksanakan kebijakan di Bidang Cukai.
(2) Berdasarkan permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Direktur yang mempunyai tugas merumuskan dan melaksanakan kebijakan di Bidang Cukai menunjuk Pejabat Bea dan Cukai untuk melakukan penelitian.
(3) Berdasarkan penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat
(2), Direktur yang mempunyai tugas merumuskan dan melaksanakan kebijakan di Bidang Cukai memberikan persetujuan atau penolakan.
(4) Direktur yang mempunyai tugas merumuskan dan melaksanakan kebijakan di Bidang Cukai dapat memberikan persetujuan atas permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam hal barang yang dihasilkan tidak memiliki karakteristik sebagai barang kena cukai.
(1) Pengusaha Pabrik yang barang kena cukainya musnah setelah diberitahukan sebagai barang kena cukai yang selesai dibuat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (2) huruf b, harus melaksanakan hal-hal sebagai berikut:
a. melakukan pencatatan jumlah barang kena cukai yang musnah; dan
b. menyampaikan pemberitahuan kepada Kepala Kantor Bea dan Cukai dengan menyebutkan sebab musnahnya barang kena cukai.
(2) Pencatatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dilakukan dalam:
a. catatan sediaan barang kena cukai, untuk Pengusaha Pabrik yang tidak dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak dengan menggunakan Dokumen Cukai berupa catatan barang kena cukai yang musnah; atau
b. pembukuan yang diselenggarakan, untuk Pengusaha Pabrik yang dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak.
(3) Berdasarkan pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, Kepala Kantor Bea dan Cukai menunjuk Pejabat Bea dan Cukai untuk melakukan penelitian di Pabrik.
(4) Hasil pelaksanaan penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dibuat dalam berita acara penelitian yang ditandatangani oleh Pejabat Bea dan Cukai dan Pengusaha Pabrik atau kuasanya.
(5) Berita acara penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat
(4) digunakan sebagai dasar:
a. tidak dipungut cukai atas barang kena cukai yang musnah; dan/atau
b. untuk membukukan dalam buku rekening barang kena cukai atas barang kena cukai berupa etil alkohol atau minuman yang mengandung etil alkohol.
(1) Pengusaha Pabrik yang barang kena cukainya rusak setelah diberitahukan sebagai barang kena cukai yang selesai dibuat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (2) huruf c, harus melaksanakan hal-hal sebagai berikut:
a. melakukan pencatatan jumlah barang kena cukai yang rusak; dan
b. menyampaikan pemberitahuan kepada Kepala Kantor Bea dan Cukai dengan menyebutkan sebab rusaknya barang kena cukai.
(2) Pencatatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dilakukan dalam:
a. catatan sediaan barang kena cukai, untuk Pengusaha Pabrik yang tidak dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak dengan menggunakan Dokumen Cukai berupa catatan barang kena cukai yang rusak; atau
b. pembukuan yang diselenggarakan, untuk Pengusaha Pabrik yang dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak.
(3) Berdasarkan pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, Kepala Kantor Bea dan Cukai menunjuk Pejabat Bea dan Cukai untuk melakukan pemeriksaan.
(4) Hasil pelaksanaan pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dibuat dalam berita acara pemeriksaan yang ditandatangani oleh Pejabat Bea dan Cukai dan Pengusaha Pabrik atau kuasanya.
(5) Berita acara pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) digunakan sebagai dasar:
a. tidak dipungut cukai atas barang kena cukai yang rusak; dan/atau
b. untuk membukukan dalam buku rekening barang kena cukai atas barang kena cukai berupa etil alkohol atau minuman yang mengandung etil alkohol.
(6) Barang kena cukai yang tidak dipungut cukai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (2) huruf c, harus:
a. dimusnahkan; atau
b. diolah kembali menjadi barang kena cukai, oleh Pengusaha Pabrik dibawah pengawasan Pejabat Bea dan Cukai.
(7) Pelaksanaan pemusnahan atau pengolahan kembali barang kena cukai sebagaimana dimaksud pada ayat (6) dibuat dalam berita acara yang ditandatangani oleh
Pejabat Bea dan Cukai dan Pengusaha Pabrik atau kuasanya.
(1) Cukai tidak dipungut atas etil alkohol yang belum dilunasi cukainya yang berada di Tempat Penyimpanan yang telah musnah sebelum dikeluarkan.
(2) Etil alkohol yang musnah sebagaimana dimaksud pada ayat (1), tidak termasuk etil alkohol yang diberikan potongan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 UNDANG-UNDANG Cukai.
(3) Pengusaha Tempat Penyimpanan yang etil alkoholnya musnah sebagaimana dimaksud pada ayat (1), harus melaksanakan hal-hal sebagai berikut:
a. melakukan pembukuan jumlah etil alkohol yang musnah; dan
b. menyampaikan pemberitahuan kepada Kepala Kantor Bea dan Cukai dengan menyebutkan sebab musnahnya etil alkohol.
(4) Berdasarkan pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b, Kepala Kantor Bea dan Cukai menunjuk Pejabat Bea dan Cukai untuk melakukan penelitian.
(5) Hasil pelaksanaan penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (4), dibuat dalam berita acara penelitian yang ditandatangani oleh Pejabat Bea dan Cukai dan Pengusaha Tempat Penyimpanan atau kuasanya.
(6) Berita acara penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat
(5) digunakan sebagai dasar:
a. tidak dipungut cukai atas etil alkohol yang musnah;
dan
b. untuk membukukan dalam buku rekening barang kena cukai atas barang kena cukai berupa etil alkohol.
(1) Cukai tidak dipungut atas etil alkohol yang belum dilunasi cukainya yang berada di Tempat Penyimpanan yang telah rusak sebelum dikeluarkan.
(2) Etil alkohol yang rusak sebagaimana dimaksud pada ayat
(1), tidak termasuk etil alkohol yang dirusak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 UNDANG-UNDANG Cukai.
(3) Pengusaha Tempat Penyimpanan yang etil alkoholnya rusak sebagaimana dimaksud pada ayat (1), harus melaksanakan hal-hal sebagai berikut:
a. melakukan pembukuan jumlah etil alkohol yang rusak; dan
b. menyampaikan pemberitahuan kepada Kepala Kantor Bea dan Cukai dengan menyebutkan sebab rusaknya barang kena cukai.
(4) Berdasarkan pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b, Kepala Kantor Bea dan Cukai menunjuk Pejabat Bea dan Cukai untuk melakukan pemeriksaan.
(5) Hasil pelaksanaan pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (4), dibuat dalam berita acara pemeriksaan yang ditandatangani oleh Pejabat Bea dan Cukai dan Pengusaha Tempat Penyimpanan atau kuasanya.
(6) Berita acara pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) digunakan sebagai dasar:
a. tidak dipungut cukai atas etil alkohol yang rusak;
dan
b. untuk membukukan dalam buku rekening barang kena cukai atas barang kena cukai berupa etil alkohol.
(7) Barang kena cukai yang tidak dipungut cukai karena rusak sebagaimana dimaksud pada ayat (1), harus:
a. dimusnahkan oleh Pengusaha Tempat Penyimpanan;
atau
b. dimasukkan ke Pabrik untuk pengolahan kembali, dibawah pengawasan Pejabat Bea dan Cukai.
(8) Pelaksanaan pemusnahan atau pengolahan kembali barang kena cukai sebagaimana dimaksud pada ayat (7) dibuatkan berita acara yang ditandatangani oleh Pejabat Bea dan Cukai dan Pengusaha Pabrik atau kuasanya.
(1) Cukai tidak dipungut atas barang kena cukai yang berasal dari luar Daerah Pabean yang belum dilunasi cukainya yang telah musnah sebelum diberikan persetujuan Impor untuk dipakai.
(2) Importir barang kena cukai yang barang kena cukainya musnah sebagaimana dimaksud pada ayat (1), harus menyampaikan pemberitahuan kepada Kepala Kantor Bea dan Cukai dengan menyebutkan sebab musnahnya barang kena cukai.
(3) Berdasarkan pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Kepala Kantor Bea dan Cukai menunjuk Pejabat Bea dan Cukai untuk melakukan penelitian.
(4) Hasil pelaksanaan penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (3), dibuat dalam berita acara penelitian yang ditandatangani Pejabat Bea dan Cukai dan Importir atau kuasanya.
(5) Berita acara penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat
(4) digunakan sebagai dasar tidak dipungut cukai atas barang kena cukai yang musnah.
(1) Cukai tidak dipungut atas barang kena cukai yang berasal dari luar Daerah Pabean yang belum dilunasi cukainya yang telah rusak sebelum diberikan persetujuan Impor untuk dipakai.
(2) Importir barang kena cukai yang barang kena cukainya rusak sebagaimana dimaksud pada ayat (1), harus menyampaikan pemberitahuan kepada Kepala Kantor Bea dan Cukai dengan menyebutkan sebab rusaknya barang kena cukai.
(3) Berdasarkan pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Kepala Kantor Bea dan Cukai menunjuk Pejabat Bea dan Cukai untuk melakukan pemeriksaan.
(4) Hasil pelaksanaan pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (3), dibuat dalam berita acara pemeriksaan yang ditandatangani oleh Pejabat Bea dan Cukai dan Importir atau kuasanya.
(5) Berita acara pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (4), digunakan sebagai dasar tidak dipungut cukai atas barang kena cukai yang rusak.
(6) Barang kena cukai yang tidak dipungut cukai karena rusak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus:
a. diekspor kembali; atau
b. dimusnahkan oleh Importir dibawah pengawasan Pejabat Bea dan Cukai.
(7) Pelaksanaan pemusnahan barang kena cukai sebagaimana dimaksud pada ayat (6) dibuat dalam berita acara yang ditandatangani oleh Pejabat Bea dan Cukai dan Pengusaha Pabrik atau kuasanya.
(1) Cukai tidak dipungut atas barang kena cukai yang belum dilunasi cukainya dalam kondisi musnah di Pabrik
pengguna barang kena cukai yang mendapat fasilitas tidak dipungut cukai karena adanya Keadaan Darurat.
(2) Cukai tidak dipungut atas barang kena cukai yang belum dilunasi cukainya yang musnah di tempat penimbunan perusahaan pengguna barang kena cukai yang mendapat fasilitas pembebasan cukai karena adanya Keadaan Darurat.
(3) Pengusaha Pabrik pengguna barang kena cukai yang mendapat fasilitas tidak dipungut cukai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) atau pengusaha pengguna barang kena cukai yang mendapat fasilitas pembebasan cukai sebagaimana dimaksud pada ayat (2), harus menyampaikan pemberitahuan kepada Kepala Kantor Bea dan Cukai.
(4) Pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (3), harus disertai dengan bukti yang dapat meyakinkan bahwa Keadaan Darurat benar terjadi.
(5) Berdasarkan pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (3), Kepala Kantor Bea dan Cukai menunjuk Pejabat Bea dan Cukai untuk melakukan penelitian.
(6) Hasil pelaksanaan penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dibuat dalam berita acara penelitian yang ditandatangani oleh Pejabat Bea dan Cukai dan Pengusaha Pabrik atau pengusaha pengguna fasilitas pembebasan cukai atau kuasanya.
(7) Dalam hal Pengusaha Pabrik atau pengusaha pengguna fasilitas pembebasan cukai atau kuasanya tidak bersedia menandatangani berita acara penelitian, berita acara penelitian dimaksud ditandatangani oleh Pejabat Bea dan Cukai yang melakukan penelitian.
(8) Berita acara penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat
(6) atau ayat (7) digunakan sebagai dasar tidak dipungut cukai atas barang kena cukai yang musnah.
(1) Pengusaha Pabrik, Pengusaha Tempat Penyimpanan, Importir barang kena cukai, atau setiap Orang yang melanggar ketentuan tentang tidak dipungut cukai, dikenai sanksi sebagaimana diatur dalam Pasal 8 ayat (3) UNDANG-UNDANG Cukai.
(2) Pengusaha Pabrik, Pengusaha Tempat Penyimpanan, atau Importir barang kena cukai yang tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2), Pasal 9 ayat (1), Pasal 9 ayat (2), Pasal 14 ayat (1), Pasal 14 ayat (2), atau Pasal 16 ayat (3), dikenai sanksi sebagaimana diatur dalam Pasal 25 ayat (4) atau Pasal 25 ayat (4a) UNDANG-UNDANG Cukai.
Pemberitahuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat
(1) huruf b, Pasal 25 ayat (1) huruf b, Pasal 26 ayat (3) huruf b, Pasal 27 ayat (3) huruf b, Pasal 28 ayat (2), Pasal 29 ayat
(2), dan Pasal 30 ayat (3), dibuat menggunakan Dokumen Cukai berupa pemberitahuan barang kena cukai yang musnah atau rusak yang belum dilunasi cukainya, yang paling sedikit memuat:
a. nama, alamat, Nomor Pokok Pengusaha Barang Kena Cukai (NPPBKC) atau Nomor Pokok Pengguna Pembebasan (NPPP), dan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) Pabrik, Tempat Penyimpanan, Importir, atau pengguna fasilitas pembebasan cukai;
b. jenis dan jumlah barang kena cukai yang musnah atau rusak; dan
c. sebab musnahnya atau rusaknya barang kena cukai.
Berita acara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (7), Pasal 24 ayat (4), Pasal 25 ayat (4), Pasal 26 ayat (5), Pasal 27 ayat (5), Pasal 28 ayat (4), Pasal 29 ayat (4), dan Pasal 30 ayat
(6), dibuat dengan menggunakan Dokumen Cukai berupa berita acara penelitian atau pemeriksaan barang kena cukai yang rusak atau musnah yang belum dilunasi cukainya, yang paling sedikit memuat:
a. nama, alamat, Nomor Pokok Pengusaha Barang Kena Cukai (NPPBKC) atau Nomor Pokok Pengguna Pembebasan (NPPP), dan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) Pabrik, Tempat Penyimpanan, Importir, atau pengguna fasilitas pembebasan cukai;
b. jenis dan jumlah barang kena cukai yang musnah atau rusak; dan
c. sebab musnahnya atau rusaknya barang kena cukai.
Berita acara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (7), Pasal 27 ayat (8), dan Pasal 29 ayat (7), dibuat dengan menggunakan Dokumen Cukai berupa berita acara pemusnahan atau pengolahan kembali barang kena cukai yang rusak atau musnah yang belum dilunasi cukainya, yang paling sedikit memuat:
a. nama, alamat, Nomor Pokok Pengusaha Barang Kena Cukai (NPPBKC), dan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) Pabrik, Tempat Penyimpanan, atau Importir;
b. jenis dan jumlah barang kena cukai yang dimusnahkan atau diolah kembali; dan
c. cara pemusnahan atau pengolahan kembali.
Ketentuan lebih lanjut mengenai:
a. format pemberitahuan rencana produksi barang kena cukai yang menggunakan barang kena cukai sebagai bahan baku atau bahan penolong dengan fasilitas tidak dipungut cukai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (2);
b. format laporan penggunaan/persediaan barang kena cukai dengan fasilitas tidak dipungut cukai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17;
c. format laporan penjualan atau penyerahan barang kena cukai dengan fasilitas tidak dipungut cukai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18;
d. format catatan barang kena cukai yang musnah atau rusak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (2), Pasal 24 ayat (2), dan Pasal 25 ayat (2);
e. format laporan barang kena cukai yang musnah atau rusak sebelum diberitahukan sebagai barang kena cukai yang selesai dibuat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (3);
f. format pemberitahuan barang kena cukai yang musnah atau rusak yang belum dilunasi cukainya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33;
g. format berita acara penelitian atau pemeriksaan barang kena cukai yang rusak atau musnah yang belum dilunasi cukainya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34;
h. format berita acara pemusnahan atau pengolahan kembali barang kena cukai yang belum dilunasi cukainya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35; dan
i. tata cara tidak dipungut cukai, diatur dengan Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai.