Langsung ke konten utama
Langsung ke konten utama

Koreksi Pasal 69

PERMEN Nomor 115 Tahun 2024 | Peraturan Menteri Nomor 115 Tahun 2024 tentang Penagihan Utang Kepabeanan dan Cukai

PDF Sumber
100%
Hal. 1
Hal. 1
Teks Saat Ini
(1) Jurusita menyampaikan surat perintah Penyanderaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 68 ayat (1) secara langsung kepada Penanggung Utang yang akan disandera dan salinannya disampaikan kepada kepala tempat Penyanderaan. (2) Penyampaian surat perintah Penyanderaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disaksikan oleh 2 (dua) orang penduduk INDONESIA yang telah dewasa, dikenal oleh Jurusita, dan dapat dipercaya. (3) Dalam hal Penanggung Utang yang akan disandera sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak dapat ditemukan, Jurusita melalui pejabat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (3) huruf a dan huruf b dapat menyampaikan surat permintaan bantuan kepada Kepolisian Republik INDONESIA atau Kejaksaan Republik INDONESIA untuk menghadirkan Penanggung Utang yang tidak dapat ditemukan. (4) Jurusita membuat berita acara penyampaian surat perintah Penyanderaan yang ditandatangani oleh Jurusita, Penanggung Utang yang disandera, dan saksi- saksi pada saat surat perintah Penyanderaan disampaikan kepada Penanggung Utang yang disandera. (5) Dalam hal Penanggung Utang yang disandera menolak penyampaian surat perintah Penyanderaan, Jurusita: a. meninggalkan surat perintah Penyanderaan di tempat kedudukan Penanggung Utang yang disandera; dan b. mencatat dalam berita acara yang menyatakan penolakan penyampaian surat perintah Penyanderaan. (6) Surat perintah Penyanderaan yang ditolak sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dinyatakan telah disampaikan. (7) Jurusita membuat: a. berita acara pelaksanaan Penyanderaan yang ditandatangani oleh Jurusita, Penanggung Utang yang disandera, kepala tempat Penyanderaan, dan saksi-saksi; dan b. berita acara penempatan atau penitipan sandera yang ditandatangani oleh Jurusita, kepala tempat Penyanderaan, dan saksi-saksi, pada saat Penanggung Utang yang disandera ditempatkan. (8) Dalam hal Penanggung Utang yang disandera menolak menandatangani berita acara pelaksanaan Penyanderaan sebagaimana dimaksud pada ayat (7) huruf a, Jurusita mencatat dalam berita acara yang menyatakan penolakan penandatangan berita acara pelaksanaan Penyanderaan. (9) Berita acara pelaksanaan Penyanderaan sebagaimana dimaksud pada ayat (7) huruf a dan berita acara penempatan atau penitipan sandera sebagaimana dimaksud pada ayat (7) huruf b minimal memuat: a. nomor dan tanggal surat perintah Penyanderaan; b. izin tertulis Menteri; c. identitas Jurusita; d. identitas Penanggung Utang yang disandera; e. tempat Penyanderaan; f. lamanya Penyanderaan; dan g. identitas saksi pelaksanaan Penyanderaan. (10) Surat permintaan bantuan untuk menghadirkan Penanggung Utang yang tidak ditemukan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diterbitkan dengan menggunakan contoh format sebagaimana tercantum dalam Lampiran huruf NN yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini. (11) Berita acara penyampaian surat perintah Penyanderaan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diterbitkan dengan menggunakan contoh format sebagaimana tercantum dalam Lampiran huruf OO yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini. (12) Berita acara pelaksanaan Penyanderaan sebagaimana dimaksud pada ayat (7) huruf a diterbitkan dengan menggunakan contoh format sebagaimana tercantum dalam Lampiran huruf PP yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini. (13) Berita acara penempatan atau penitipan sandera sebagaimana dimaksud pada ayat (7) huruf b diterbitkan dengan menggunakan contoh format sebagaimana tercantum dalam Lampiran huruf QQ yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
Koreksi Anda