PELAYANAN JASA KEBANDARUDARAAN
Pelayanan jasa Kebandarudaraan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) dapat diselenggarakan oleh:
a. Badan Usaha Bandar Udara untuk Bandar Udara yang diusahakan secara komersial setelah memenuhi Perizinan Berusaha; atau
b. Unit Penyelenggara Bandar Udara untuk Bandar Udara yang belum diusahakan secara komersial yang dibentuk oleh dan bertanggung jawab kepada Pemerintah Pusat dan/atau Pemerintah Daerah sesuai kewenangan.
Badan Usaha Bandar Udara yang menyelenggarakan Bandar Udara secara komersial sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf a, dapat dilakukan oleh:
a. BUMN atau BUMD; atau
b. Badan Hukum INDONESIA.
(1) BUMN atau BUMD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf a merupakan BUMN atau BUMD yang khusus didirikan untuk mengusahakan jasa kebandarudaraan, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan.
(2) BUMN atau BUMD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam menyelenggarakan Bandar Udara secara komersial
dilakukan melalui:
a. Penyertaan Modal Negara/Daerah; atau
b. Kerja Sama Pemanfaatan BMN/D.
(3) Penyelenggaraan Bandar Udara secara komersial oleh BUMN atau BUMD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dituangkan dalam perjanjian Konsesi dan/atau kerja sama bentuk lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(4) Pelaksanaan penyelenggaraan Bandar Udara secara komersial oleh BUMN atau BUMD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(1) Badan Hukum INDONESIA sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf b menyelenggarakan Bandar Udara secara komersial melalui proses seleksi:
a. kerja sama antara Pemerintah Pusat dengan badan usaha; atau
b. kerja sama antara BUMN atau BUMD dengan badan usaha.
(2) Badan Hukum INDONESIA pemenang proses seleksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan sebagai penyelenggara pelayanan jasa Kebandarudaraan pada Bandar Udara yang diusahakan secara komersial yang dituangkan dalam perjanjian Konsesi dan/atau kerja sama bentuk lainnya.
Kerja sama antara Pemerintah Pusat dengan badan usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) huruf a, dapat dilakukan untuk kegiatan:
a. penyelenggaraan Bandar Udara baru (greenfield); atau
b. penyelenggaraan untuk Bandar Udara yang telah dibangun atau dikembangkan dan/atau dioperasikan.
Penyelenggaraan Bandar Udara baru (greenfield) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 huruf a dilakukan berdasarkan tatanan kebandarudaraan nasional dan rencana induk nasional Bandar Udara.
Penyelenggaraan untuk Bandar Udara yang telah dibangun atau dikembangkan dan/atau dioperasikan, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 huruf b, dapat dilakukan pada Bandar Udara yang telah dikelola oleh Unit Penyelenggara Bandar Udara.
Kerja sama antara Pemerintah Pusat dengan badan usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 dapat diprakarsai oleh:
a. Pemerintah Pusat; atau
b. Badan Hukum INDONESIA.
(1) Kerja sama antara Pemerintah Pusat dengan badan usaha yang diprakarsai oleh Pemerintah Pusat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 huruf a dilaksanakan berdasarkan identifikasi proyek kegiatan pelayanan jasa Kebandarudaraan yang ditetapkan untuk dikerjasamakan.
(2) Identifikasi kegiatan pelayanan jasa Kebandarudaraan yang ditetapkan untuk dikerjasamakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang penyediaan infrastruktur.
(1) Kerja sama antara Pemerintah Pusat dengan badan usaha yang diprakarsai oleh Badan Hukum INDONESIA sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 huruf b dapat diajukan terhadap kegiatan pelayanan jasa
Kebandarudaraan yang tidak termasuk dalam daftar identifikasi proyek sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (1) atau belum tercantum dalam tatanan kebandarudaraan nasional.
(2) Pengajuan proyek kerja sama yang tidak termasuk dalam daftar identifikasi proyek yang ditetapkan untuk dikerjasamakan atau belum tercantum dalam tatanan kebandarudaraan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha.
(1) Kerja sama antara Pemerintah Pusat dengan badan usaha dalam rangka seleksi Badan Usaha Bandar Udara penyelenggara pelayanan jasa Kebandarudaraan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) huruf a, dapat dilakukan dalam bentuk:
a. Kerja Sama Pemanfaatan (KSP);
b. KPBU; atau
c. kerja sama terbatas untuk pembiayaan infrastruktur melalui Hak Pengelolaan Terbatas atas Aset Infrastruktur.
(2) Kerja Sama antara Pemerintah Pusat dengan badan usaha sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Kerja sama antara BUMN atau BUMD dengan Badan Usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) huruf b, dapat dilakukan pada Bandar Udara yang telah diselenggarakan oleh BUMN atau BUMD yang asetnya milik BUMN atau BUMD tersebut.
Kerja sama antara BUMN atau BUMD dengan badan usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15, dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang BUMN atau BUMD.
(1) Kerja sama antara BUMN atau BUMD dengan badan usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15, yang dilakukan dengan membentuk anak perusahaan yang merupakan afiliasi atau mayoritas saham dimiliki BUMN atau BUMD untuk memberikan pelayanan jasa kebandarudaraan secara keseluruhan pada Bandar Udara yang dikerjasamakan setelah mendapatkan persetujuan Menteri atas usulan:
a. menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang BUMN; atau
b. instansi pemerintah daerah yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang BUMD.
(2) Persetujuan Menteri sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) merupakan pemberian sertifikat standar Badan Usaha Bandar Udara kepada anak perusahaan yang dibentuk atas dasar kerja sama antara BUMN atau BUMD dengan badan usaha sesuai ketentuan peraturan perundang- undangan.
Perjanjian Konsesi dan/atau kerja sama bentuk lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (3) dan Pasal 7 ayat (2), paling sedikit memuat:
a. para pihak yang melakukan perjanjian;
b. lingkup perjanjian;
c. besaran penerimaan Negara;
d. waktu mulai pembayaran penerimaan Negara;
e. tata cara pembayaran besaran penerimaan Negara;
f. jangka waktu pemberian Konsesi;
g. hak dan kewajiban;
h. kerja sama dengan pihak lain;
i. pengawasan dan pengendalian;
j. keadaan kahar (force majeur);
k. sanksi;
l. penyelesaian sengketa;
m. korespondensi;
n. addendum; dan
o. berakhirnya Perjanjian Konsesi.
(1) Penerimaan Negara dari perjanjian Konsesi dan/atau kerja sama bentuk lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 huruf c, diberikan dari pembagian pendapatan Badan Usaha Bandar Udara dalam mengusahakan pelayanan jasa Kebandarudaraan.
(2) Penerimaan Negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1), merupakan Penerimaan Negara Bukan Pajak yang penggunaannya dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(1) Perjanjian Konsesi dan/atau kerja sama bentuk lainnya yang telah disepakati bersama oleh Direktur Jenderal dengan Badan Usaha Bandar Udara, diajukan kepada Menteri untuk mendapat persetujuan.
(2) Setelah mendapat persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1), Direktur Jenderal melakukan penandatanganan perjanjian Konsesi dan/atau kerja sama bentuk lainnya.
(1) Perjanjian Konsesi dan/atau kerja sama bentuk lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 berakhir sesuai dengan batas jangka waktu yang ditetapkan dalam perjanjian Konsesi dan/atau kerja sama bentuk lainnya dan dapat diperpanjang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2) Jangka waktu perjanjian Konsesi dan/atau kerja sama bentuk lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diberikan paling lama 80 (delapan puluh) tahun, dalam hal lahan yang digunakan sebagai Bandar Udara diberikan hak atas tanah berupa hak guna bangunan.
(3) Dalam hal perjanjian Konsesi dan/atau kerja sama bentuk lainnya akan berakhir, Pemerintah Pusat memberitahukan secara tertulis kepada Badan Usaha Bandar Udara dalam jangka waktu 6 (enam) bulan sebelum perjanjian berakhir.
(4) Dalam hal jangka waktu perjanjian Konsesi dan/atau kerja sama bentuk lainnya berakhir dan tidak diperpanjang, lahan dan aset Bandar Udara yang diselenggarakan oleh:
a. BUMN atau BUMD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, tetap menjadi aset yang dicatatkan di BUMN atau BUMD sesuai peraturan perundang-undangan dibidang pengelolaan aset negara;
b. Badan Hukum INDONESIA atas kerja sama antara Pemerintah dengan badan usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) huruf a, menjadi milik Pemerintah Pusat; dan
c. Badan Hukum INDONESIA atas kerja sama antara BUMN atau BUMD dengan Badan Usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) huruf b, kembali menjadi milik BUMN atau BUMD.
(1) Tata cara penyerahan lahan dan aset Bandar Udara kepada Pemerintah Pusat setelah jangka waktu perjanjian Konsesi dan/atau kerja sama bentuk lainnya berakhir dan tidak diperpanjang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (4) huruf b, dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2) Pengaturan kembali penggunaan dan pemanfaatan lahan dan aset Bandar Udara yang telah diserahkan pada Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
dilaksanakan melalui lelang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(3) Dalam hal pelaksanaan lelang sebagaimana dimaksud pada ayat (2), diikuti oleh badan usaha sebagai pemegang hak atas lahan dan aset sebelumnya, badan usaha tersebut memiliki hak prioritas untuk mendapatkan kembali penggunaan dan pemanfaatan lahan dan aset Bandar Udara.
Tata cara penyerahan lahan dan aset Bandar Udara kepada BUMN atau BUMD setelah jangka waktu Konsesi dan/atau kerja sama bentuk lainnya berakhir dan tidak diperpanjang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (4) huruf c, dilaksanakan sesuai dengan isi perjanjian kerja sama yang telah disepakati bersama antara BUMN atau BUMD dengan Badan Usaha Bandar Udara.
(1) Pemutusan atau pengakhiran perjanjian Konsesi dan/atau kerja sama bentuk lainnya dilakukan dalam hal Badan Usaha Bandar Udara:
a. tidak melaksanakan kewajibannya sesuai yang ditetapkan dalam Perjanjian Konsesi dan/atau kerja sama bentuk lainnya; dan
b. tidak memenuhi standar kinerja yang ditentukan dalam Perjanjian Konsesi dan/atau kerja sama bentuk lainnya.
(2) Pemutusan atau pengakhiran Perjanjian Konsesi dan/atau kerja sama bentuk lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilaksanakan sesuai dengan isi Perjanjian Konsesi dan/atau kerja sama bentuk lainnya yang disepakati.
Pemutusan atau pengakhiran perjanjian Konsesi dan/atau kerja sama bentuk lainnya pada kerja sama antara BUMN
atau BUMD dengan Badan Usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) huruf b, pengoperasian bandar udara dikembalikan pada BUMN atau BUMD tersebut
(1) Direktur Jenderal melakukan verifikasi kelengkapan dan kebenaran persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (3) yang diajukan oleh BUMN, BUMD atau Badan Hukum INDONESIA untuk mendapatkan sertifikat standar badan usaha bandar udara.
(2) Verifikasi sebagaimana dimaksud ayat
(1) dapat dilakukan melalui:
a. pemeriksaan dokumen persyaratan; dan/atau
b. autentikasi melalui layanan perizinan secara elektronik.
(1) Sertifikat standar Badan Usaha Bandar Udara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 berlaku selama Badan Usaha Bandar Udara menyelenggarakan kegiatan pelayanan jasa Kebandarudaraan.
(2) Badan Usaha Bandar Udara yang telah mendapatkan sertifikat standar Badan Usaha Bandar Udara sebagaimana dimaksud pada ayat
(1), dapat menyelenggarakan 1 (satu) atau lebih Bandar Udara yang diusahakan secara komersial.
(3) Sertifikat standar Badan Usaha Bandar Udara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak dapat dipindahtangankan.
(4) Berdasarkan sertifikat standar Badan Usaha Bandar Udara sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Menteri melalui Direktur Jenderal MENETAPKAN Bandar Udara yang diusahakan untuk diselenggarakan oleh Badan Usaha Bandar Udara.
Personel pengoperasian Bandar Udara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (3) huruf f, untuk diangkat sebagai direksi dan personel manajemen yang bertanggung jawab terhadap keamanan dan keselamatan penerbangan di bandar udara, harus mendapatkan persetujuan dari Direktur Jenderal.
(1) Unit Penyelenggara Bandar Udara yang menyelenggarakan Bandar Udara yang belum diusahakan secara komersial sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf b, terdiri atas:
a. Unit Penyelenggara Bandar Udara; dan
b. Unit Penyelenggara Bandar Udara daerah.
(2) Unit Penyelenggara Bandar Udara sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dibentuk sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang
pembentukan lembaga atau unit kerja di lingkungan pemerintahan.
(3) Unit Penyelenggara Bandar Udara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memiliki:
a. struktur organisasi;
b. daftar personel;
c. daftar fasilitas dan peralatan; dan
d. standar prosedur operasi dan perawatan dalam pengoperasian Bandar Udara.
(1) Kepala Bandar Udara merupakan penanggung jawab tunggal (single accountable) operasional di Bandar Udara yang menjadi tempat penugasan.
(2) Penanggung jawab tunggal (single accountable) operasional sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) berkewajiban untuk memastikan keselamatan, keamanan, dan pelayanan di Bandar Udara.
Penanggung jawab tunggal (single accountable) operasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 bertugas untuk:
a. mengkoordinasikan dengan seluruh pihak terkait di Bandar Udara terhadap pemenuhan peraturan keselamatan, keamanan, dan pelayanan di Bandar Udara; dan
b. memberi respon cepat dan bertanggung jawab terhadap semua kejadian di Bandar Udara.
(1) Dalam melaksanakan pelayanan jasa Kebandarudaraan,
Badan Usaha Bandar Udara dan Unit Penyelenggara Bandar Udara dapat melakukan kerja sama untuk sebagian kegiatan pelayanan jasa Kebandarudaraan dengan Badan Hukum INDONESIA lainnya.
(2) Kerja sama sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dapat dilaksanakan dalam bentuk:
a. kerja sama operasional (KSO); atau
b. kerja sama manajemen (KSM).
(3) Kerja sama sebagaimana dimaksud pada ayat (1), tidak mengalihkan tanggung jawab tunggal Badan Usaha Bandar Udara atau Unit Penyelenggara Bandar Udara sebagai penyelenggara Bandar Udara.
(4) Badan Hukum yang ditunjuk sebagai mitra kerja sama dalam memberikan pelayanan jasa kebandarudaraan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), bertindak sesuai kewenangan yang diberikan oleh penyelenggara Bandar Udara.
(5) Badan Usaha Bandar Udara dan Unit Penyelenggara Bandar Udara yang melakukan kerja sama dengan badan hukum lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib melaporkan kerja samanya kepada Menteri melalui Direktur Jenderal.
(1) Badan Usaha Bandar Udara bertanggung jawab terhadap kerugian yang diderita oleh pengguna jasa Bandar Udara dan/atau pihak ketiga yang diakibatkan oleh pengoperasian Bandar Udara.
(2) Tanggung jawab terhadap kerugian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a. kematian atau luka fisik orang;
b. musnah, hilang, rusak peralatan dari pengguna jasa Bandar Udara dan/atau pihak ketiga; dan/atau
c. dampak lingkungan di sekitar Bandar Udara akibat pengoperasian Bandar Udara.
(1) Orang perseorangan warga negara INDONESIA dan/atau badan usaha yang melaksanakan kegiatan di Bandar Udara bertanggung jawab untuk mengganti kerugian atas setiap kerusakan pada bangunan dan/atau fasilitas Bandar Udara udara yang diakibatkan oleh kegiatannya.
(2) Jumlah ganti kerugian terhadap penyelenggara Bandar Udara dihitung sebesar kerugian nyata yang dialami.
(1) Badan Usaha Bandar Udara wajib mengasuransikan tanggung jawab atas semua kerugian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35.
(2) Badan Usaha Bandar Udara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib melaporkan perjanjian asuransi dan/atau menyerahkan satu salinan polis asuransi kepada Menteri melalui Direktur Jenderal.
(3) Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) disampaikan dalam jangka waktu paling lambat 3 (tiga) bulan sejak tanggal efektif yang tertera pada polis atau perjanjian asuransi.
Badan Usaha Bandar Udara tidak dapat dituntut tanggung jawab untuk membayar ganti rugi, dalam hal Badan Usaha Bandar Udara dapat membuktikan bahwa:
a. kejadian tersebut bukan karena kesalahan atau kelalaian Badan Usaha Bandar Udara atau orang yang dipekerjakannya; atau
b. kejadian tersebut semata-mata disebabkan oleh kesalahan atau kelalaian pengguna jasa Bandar Udara dan/atau pihak ketiga.