PELAKSANAAN ANGGARAN
(1) Pelaksanaan Anggaran dimulai setelah DIPA Kemhan yang terdiri atas DIPA Induk dan DIPA Petikan disahkan oleh Menteri Keuangan, berlaku mulai dari 1 Januari sampai dengan 31 Desember tahun anggaran berkenaan.
(2) Pelaksanaan DIPA Petikan Satker Pusat melalui otorisasi meliputi KOM, KOP, P3 dan DIPA Petikan Satker Daerah berlaku sebagai otorisasi.
(3) Dalam Pelaksanaan Anggaran, Menteri selaku Pengguna Anggaran/ Pengguna Barang menyelenggarakan akuntansi dengan membentuk Unit Akutansi Keuangan dan Unit Akutansi Barang.
(4) Unit Akutansi Keuangan meliputi:
a. Unit Akuntansi Pengguna Anggaran (UAPA) adalah Baku Tk.I/Pusku Kemhan
b. UAPPA-E1 adalah Baku TK.
II/Ditku, Disku Angkatan dan Bidkukem Pusku Kemhan
c. UAPPA-W adalah Baku Tk. III/Kukotama; dan
d. UAKPA adalah Baku Tk. IV/BP Satker
(5) Unit Akuntasi Barang meliputi:
a. Unit Akuntansi Pengguna Barang (UAPB);
b. Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Barang Eselon 1 (UAPPB- E1);
c. Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Barang Wilayah (UAPPB-W);
d. Unit Akuntansi Kuasa Pengguna Barang (UAKPB); dan
e. Unit Akuntansi Pembantu Kuasa Pengguna Barang (UAPKPB).
DIPA pada Bagian Anggaran Kemhan terdiri atas :
(1) DIPA Induk yang meliputi:
a. DIPA UO Kemhan;
b. DIPA UO Mabes TNI;
c. DIPA UO TNI AD;
d. DIPA UO TNI AL; dan
e. DIPA UO TNI AU.
(2) DIPA Petikan yang meliputi:
a. DIPA Petikan untuk Satker Pusat yang terdiri atas:
1. DIPA Satker Kemhan;
2. DIPA Satker Markas Besar TNI;
3. DIPA Satker TNI Angkatan Darat;
4. DIPA Satker TNI Angkatan Laut; dan
5. DIPA Satker TNI Angkatan Udara.
b. DIPA Petikan untuk Satker Daerah.
Pelaksanaan anggaran Kemhan dan TNI diselenggarakan:
a. menggunakan prosedur dan mekanisme otorisasi; dan
b. DIPA Satker Daerah berlaku sebagai otorisasi.
(1) Menteri selaku PA merupakan Otorisator tertinggi Kemhan dan TNI .
(2) Kewenangan Menteri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam pelaksanaannya didelegasikan secara berjenjang.
(3) DIPA Petikan Satker Pusat dilaksanakan melalui mekanisme otorisasi.
(1) Otorisasi Anggaran dilakukan dengan penerbitan KO, yang ditujukan kepada pejabat yang diberi kewenangan melaksanakan Program dan Anggaran.
(2) Penandatanganan Otorisasi dapat dilimpahkan kepada pejabat yang ditunjuk.
(3) Pelimpahan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berdasarkan Berita Acara Pelimpahan.
(1) Dasar penerbitan KO sebagai berikut:
a. DIPA U.O. dan Amanat Anggaran untuk KO Menhan;
b. KO Menhan dan PPPA untuk KO Pelaksanaan; dan
c. KOP dan Program Kerja untuk Perintah Pelaksanaan Program, untuk tahun anggaran berjalan.
(2) Dasar penerbitan KO sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilengkapi dengan permohonan penerbitan otorisasi atau rekuisisi serta pengajuan kebutuhan Anggaran melalui penerbitan otorisasi berdasarkan Renlakgiat dan rencana penarikan dana perbulan yang diajukan oleh masing masing U.O.
(1) Pelaksanaan penerbitan KO sebagai berikut:
a. sesegera mungkin setelah KO diatasnya diterima;
b. mempertimbangkan jadwal pelaksanaan kegiatan dan rencana penarikan; dan
c. tidak dibenarkan sebelum KO diatasnya terbit.
(2) Pengecualian terhadap ayat (1) huruf c:
a. dalam kegiatan operasi;
b. untuk keperluan Kontijensi atas izin Panglima TNI/Menteri.
(3) Masa berlaku KO yaitu 1 (satu) Tahun Anggaran.
Pelaksanaan Anggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 huruf a.
adalah sesuai dengan Organisasi Pengelola Anggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3, meliputi:
a. tingkat Kementerian;
b. tingkat U.O.; dan
c. tingkat Kotama, Balakpus, atau Satuan Setingkat Kotama/Balakpus,serta Setjen/Itjen/Ditjen/Badan Kemhan.
Pelaksanaan Otorisasi pada tingkat Kementerian sebagai berikut:
a. Menteri menerbitkan KOM dan dapat didelegasikan pada Dirjen Renhan; dan
b. KOM ditujukan kepada:
1. Sekjen Kemhan selaku KPA U.O. Kemhan berkaitan dengan kebijakan pertahanan negara;
2. Panglima TNI selaku KPA U.O. Mabes TNI berkaitan dengan anggaran pembinaan di U.O.
Mabes TNI dan anggaran penggunaan kekuatan U.O. Angkatan; dan
3. Kepala Staf Angkatan selaku KPA U.O.
Angkatan berkaitan dengan anggaran pembinaan kekuatan.
Pelaksanaan Otorisasi pada U.O. Kemhan sebagai berikut:
a. Sekjen Kemhan menerbitkan KOP yang ditujukan kepada Kepala Satker Kemhan;
b. KOP sebagaimana dimaksud dalam huruf a ditindaklanjuti dengan penerbitan P3;
c. P3 sebagaimana dimaksud dalam huruf b.:
1. diterbitkan oleh Sekjen Kemhan kepada Biro Setjen Kemhan dan Unhan; dan
2. diterbitkan oleh Badan kepada Pusat Badan.
d. Satker yang tidak menerbitkan P3, menggunakan KOP untuk melaksanakan kegiatan.
Pelaksanaan Otorisasi pada U.O. Mabes TNI sebagai berikut:
a. Panglima TNI menerbitkan KOP anggaran pembinaan kekuatan dan penggunaan kekuatan;
b. KOP sebagaimana dimaksud pada huruf a ditujukan kepada Pimpinan Kotama, Balakpus, atau Satker TNI;
c. Pimpinan Kotama, Balakpus, atau Satker TNI:
1. menerbitkan P 3; atau
2. memberlakukan KOP sebagai P3/menggunakan KOP untuk melaksanakan kegiatan.
d. Ketentuan yang dimaksud dalam huruf c. diatur dengan Peraturan Panglima TNI.
Pelaksanaan Otorisasi pada U.O.Angkatan sebagai berikut:
a. Asrena Angkatan atas nama Kas Angkatan menerbitkan KOP; dan
b. KOP sebagaimana dimaksud dalam huruf
a. ditujukan kepada Pimpinan Kotama, Balakpus, atau Satker Angkatan.
Pelaksanaan Otorisasi pada Kotama, Balakpus, atau Satker TNI/Angkatan adalah sebagai berikut:
a. Pimpinan Kotama, Balakpus, atau Satker TNI/Angkatan menerbitkan P3 atau dokumen pelaksana kegiatan lainnya; dan
b. P3 atau dokumen pelaksana kegiatan lainnya sebagaimana dimaksud dalam huruf a. ditujukan kepada Pimpinan Satuan jajarannya.
Pelaksanaan anggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 51, Pasal 52, Pasal 53, Pasal 54, Pasal 55, Pasal 56, Pasal 57, dan Pasal 58 tercantum dalam Lampiran VI yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
Pelaksanaan Anggaran untuk DIPA Petikan Satker Daerah dengan mekanisme DIPA sebagai otorisasi dan dasar pelaksanaan kegiatan terhadap jenis belanja yang ditentukan.
Badan Keuangan Kemhan dan TNI meliputi:
a. Pusat Keuangan (Pusku) Kemhan/Baku Tk. I selaku Bendahara Pengeluaran;
b. Pusku TNI/Direktorat/Dinas Keuangan (Ditku/Disku) Angkatan Bidang Keuangan Kementerian (Bidkukem) Pusku Kemhan/Baku Tk.II selaku BPP;
c. Bagian Keuangan Pusku TNI, Keuangan Kotama/Balakpus/Baku Tk.
III selaku BPP; dan
d. Pekas/Baku Tk. IV selaku BPP;.
Pekas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 66 huruf d terdiri atas:
a. Pekas Kemhan;
b. Pekas Devisa Kemhan;
c. Pekas Wilayah dan Pekas Athan di jajaran Pusku TNI;
d. Pekas Gabungan Daerah (Gabrah)/Gabungan Pusat (Gabpus) jajaran TNI AD;
e. Pekas jajaran TNI AL; dan
f. Pekas jajaran TNI AU.
Tugas dan tanggung jawab dari masing-masing unit sebagaimana dimaksud pada Pasal 51 ayat (5) sebagai berikut:
a. UAPB merupakan Unit Akuntansi BMN pada tingkat Kemhan yang melakukan kegiatan penggabungan laporan BMN dari UAPPB-E1 yang penanggung jawabnya adalah Kepala Badan Ranahan Kemhan;
b. UAPPB-E1 merupakan Unit Akuntansi BMN pada tingkat Eselon 1/Unit Akuntansi yang melakukan kegiatan penggabungan laporan BMN dari UAPPB-W/UAKPB yang penanggungjawabnya adalah Karoum Setjen Kemhan dan Aslog Unit Organsisasi;
c. UAPPB-W merupakan Unit Akuntansi BMN pada tingkat Kotama yang melakukan kegiatan penggabungan laporan BMN dari UAKPB, penanggungjawabnya adalah Aslog/Dirlog Kotama/Balakpus;
d. UAKPB merupakan Satuan Kerja/Kuasa Pengguna Barang yang memiliki wewenang dan/atau menggunakan BMN;
e. UAPKPB merupakan Subsatuan Kerja/Pembantu Kuasa Pengguna Barang yang memiliki wewenang mengurus dan/atau menggunakan BMN.
(1) KOM sebagai dasar pengajuan penerbitan SPP-UP.
(2) PPK tingkat U.O. mengajukan SPP-UP kepada PPSPM dalam hal ini Kapusku Kemhan dengan tembusan Dirjen Renhan Kemhan dan Irjen Kemhan.
(3) PPSPM menerbitkan SPM kepada KPPN.
(4) KPPN menerbitkan Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) kepada Bendahara Pengeluaran.
(1) Bendahara Pengeluaran menerbitkan Nota Pemindah Bukuan Menteri (NPBM) kepada Bendahara Pengeluaran Pembantu pada Baku Tingkat II (Pusku TNI, Dit/Disku Angkatan dan Bidkukem Pusku Kemhan).
(2) Badan Keuangan Tingkat II menyalurkan kepada Baku Tingkat III.
(3) Badan Keuangan Tingkat III menyalurkan Nota Pemindah Bukuan (NPB) kepada Baku Tingkat IV.
Pusku TNI/Ditku/Disku Angkatan/Bidkukem berdasarkan tembusan KOM/KOP dan NPB-M/NPB-P yang diterima, menerbitkan NPB-P/NPB kepada Kaku Kotama/Lakpus/Kabagku Pusku TNI/Pekas Athan/Pekas Kemhan.
Keuangan Kotama/Balakpus berdasarkan tembusan P3 dan NPB-P yang diterima Kaku Kotama/Pimpinan Balakpus menerbitkan NPB kepada Pekas Gabrah/ Gabpus.
Mekanisme pembayaran DIPA Petikan Satker Pusat dilaksanakan dengan cara melalui Pembayaran LS, UP, Tambahan Uang Persediaan (TUP), Penggantian Uang Persediaan (GUP) sebagai berikut:
a. mekanisme pembayaran dilaksanakan dengan cara pembayaran LS untuk jenis dana terpusat yang sifatnya sudah pasti antara lain untuk keperluan pembayaran Listrik Telepon Gas Air (LTGA), Bahan Minyak dan Pelumas (BMP), Rupiah Murni Pendamping (RMP), Kredit Ekspor (KE), Pinjaman Dalam Negeri (PDN) atau lain-lain Belanja Pegawai.
b. Mekanisme pembayaran dengan menggunakan UP/TUP/GUP dilakukan untuk keperluan jenis dana disalurkan.
(1) DIPA Petikan Satker Pusat, penerbitan SPP –LS daya dan jasa (LTGA/BMP), RMP, PLN serta PDN oleh Dirjen Renhan Kemhan, dan penerbitan SPP lainnya oleh PPK Satker Daerah.
(2) DIPA Petikan Satker Pusat pengajuan SPP-UP oleh PPK tingkat UO (Kabagku Tingkat.II).
(3) DIPA Petikan Satker Pusat pengajuan SPP-GUP oleh PPK tingkat UO (Kabagku Tingkat.II).
(4) DIPA Petikan Satker Pusat pengajuan SPP-GUP NIHIL oleh PPK tingkat UO (Kabagku Tingkat.II).
(5) DIPA Petikan Satker Pusat pengajuan SPP-TUP NIHIL oleh PPK tingkat UO (Kabagku Tingkat.II).
Pendanaan DIPA Petikan Satker Daerah dana sudah tersedia di KPPN wilayah pelayanan Satker sesuai alokasi anggaran yang tercantum dalam DIPA.
Mekanisme pembiayaan DIPA Petikan Satker Daerah dilaksanakan dengan cara pembayaran LS dan TUP serta GUP yang disalurkan melalui KPPN di tiap-tiap daerah sesuai dengan ketentuan yang telah diatur dalam Peraturan Bersama Menteri Keuangan dan Menteri.
Penerbitan SPP-LS sebagai berikut:
a. penerbitan SPP-LS setelah tagihan memenuhi persyaratan;
b. penerbitan SPP-LS untuk honor, langganan daya dan jasa, perjalanan dinas dan pengadaan tanah;
c. penerbitan SPP-LS untuk pengadaan barang dan jasa sesuai bukti- bukti pembayaran LS kepada Pihak Ketiga; dan
d. penerbitan SPP-LS untuk Rupiah Murni Pendamping (RMP), Pinjaman Luar Negeri (PLN) dan Pinjaman Dalam Negeri (PDN).
Penerbitan SPP-UP sebagai berikut:
a. atas dasar Renlakgiat, BP mengajukan UP kepada PPK;
b. PPK menerbitan SPP-UP;
c. PPP-UP disampaikan kepada PPSPM;
d. PPSPM menunjukkan SPM sebagai dasar penerbitan SP2D; dan
e. mekanisme pembayaran oleh BP/BPP sesuai ketentuan.
Penerbitan SPP-GUP sebagai berikut:
a. PPK menerbitkan SPP-GUP untuk pengisian UP;
b. penerbitan SPP-GUP dilampiri daftar rincian, bukti pengeluaran dan SSP yang telah dikonfirmasikan dengan KPPN;
c. perjanjian kontrak beserta faktur pajaknya dilampirkan; dan
d. SPP-GUP disampaikan kepada PPSPM paling lambat 5 (lima) hari kerja setelah bukti pendukung diterima.
Penerbitan SPP-GUP NIHIL sebagai berikut:
a. SPP-GUP diterbitkan ;
1. sisa DIPA tidak tersedia (Pagu=UP);
2. sebagai pertanggungjawaban UP pada akhir tahun; dan
3. UP tidak diperlukan.
b. BPP-GUP NIHIL merupakan pengesahan pertanggungjawaban UP; dan
c. SPP-GUP NIHIL dilengkapi dokumen pendukung sama dengan SPP- GUP.
Penerbitan SPP-TUP sebagai berikut:
a. PPK menerbitkan SPP-GUP dilengkapi rincian penggunaan dana yang ditandatangani oleh KPA/PPK dan BP serta persetujuan permohonan TUP dari Kepala KPPN;
b. SPP-TUP disampaikan kepada PPSPM paling lambat 2 (dua) hari kerja setelah persetujuan dari Kepala KPPN;
c. untuk mengesahkan/mempertanggungjawabkan TUP, PPK menerbitkan SPP-PTUP;
d. SPP-PTUP disampaikan kepada PPSPM paling lambat 5 (lima) hari kerja sebelum batas akhir pertanggungjawaban TUP; dan
e. dokumen pendukung SPP-PTUP sama dengan SPP-GUP.
(1) PPSPM memeriksa dan menguji SPP beserta dokumen pendukung.
(2) PPSPM menerbitkan SPM.
(3) Jangka waktu pengujian oleh PPSPM.
(4) Penolakan disampaikan paling lambat 2 (dua) hari kerja setelah diterima SPP.
(5) PPSPM yang dimaksud pada huruf a, huruf b, dan huruf c untuk Satker Daerah sesuai dengan Tipologi Satkernya.
(1) Penerbitan SPM oleh PPSPM melalui sistem aplikasi dengan memuat PIN PPSPM sebagai tertanda elektronik.
(2) PPSPM bertanggungjawab atas.
a. keamanan data aplikasi SPM;
b. kebenaran SPM dan kesesuaian data SPM dengan ADK SPM;
dan
c. penggunaan PIN pada ADK SPM.
(3) PPSPM menyampaikan SPM-UP/TUP/GUP/NIHIL/PTUP/LS dalam rangkap 2 beserta ADK SPM kepada KPPN.
(4) Penyampaian SPM-GUP NIHIL/PTUP pada Satker Pusat dilampiri Surat Pernyataan Belanja (SPB ).
(5) Penyampaian SPM atas beban pinjaman/hibah luar negri dilampiri Faktur Pajak.
(6) Penyampaian SPM paling lambat 2 (dua) hari kerja setelah penerbitan SPM.
(7) Penyampaian SPM kepada KPPN dilakukan oleh Petugas pengantar SPM
(8) Pengiriman SPM melalui Kantor Pos/Jasa Pengiriman, konfirmasi kepada KPPN.
(1) SPM yang digunakan sebagai dasar penerbitan SP2D.
(2) KPPN meneliti dan menguji SPM yang diajukan.
(3) Setelah diteliti dan diuji, KPPN mnerbitkan SP2D.
(4) SP2D belum dapat diterbitkan apabila Satker belum mengirimkan Kontrak beserta ADK.
(5) Pencairan dana SP2D melalui transfer Bank operasional kepada rekening yang dituju.
(6) Kegagalan transfer diselesaikan antara KPPN dengan Bank operasional sesuai mekanisme yang berlaku.
(7) Untuk DIPA Petikan Satker Pusat, penerbitan SP2D kepada Bendahara Pengeluaran dan ditindaklanjuti penyaluran dananya dengan menerbitkan Nota Pemindah Bukuan melalui Badan Keuangan Kemhan dan TNI.
(1) Kelebihan setoran ke Kas Negara dapat diminta pengembaliannya berdasarkan Bukti setor yang syah.
(2) Diperhitungkan terlebih dahulu dengan utang kepada negara.
(3) Mekanisme pengembalian sesuai PMK.
Penerbitan SPP, SPM dan SP2D sesuai ketentuan pencairan dana pinjaman dan atau hibah luar negeri.
(1) Koreksi/ralat tidak mengakibatkan perubahan jumlah uang dan sisa pagu DIPA/POK menjadi minus.
(2) Perubahan Kode Ba, Eselon I, Satker harus mendapat persetujuan Dirjen Perbendaharaan Kementerian Keuangan.
(3) Koreksi/ralat dapat dilakukan untuk:
a. perbaikan uraian pengeluaran dan Kode Bas;
b. pencantuman Kode pada SPM;
c. koreksi/ralat akibat kegagalan transfer;
d. koreksi/ralat SPM pada MA (Akun 6 digit ) sesuai permintaan PPK;
e. koreksi/ralat SP2D sesuai koreksi SP2D dari PPSPM disertai koreksi ADK;
f. pembatalan SPP dilaksanakan oleh PPK sepanjang belum terbit SP2D;
g. pembatalan SPM dilaksanakan oleh PPSPM sepanjang belum terbit SP2D; dan
h. pembatalan SP2D telah mendebet Kas Negara.
(1) Pembayaran dilakukan sebelum TA berakhir.
(2) Pengajuan SPM dan SP2D, GUP NIHIL/PTUP DPT dilakukan melampaui TA.
(3) Penerbitan SPM-GUP NIHIL/PTUP sebelum penyusunan LK.