Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Menteri ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik INDONESIA.
Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 28 Mei 2021
MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
SAKTI WAHYU TRENGGONO
Diundangkan di Jakarta pada tanggal 4 Juni 2021
DIREKTUR JENDERAL PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
WIDODO EKATJAHJANA
LAMPIRAN I PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN
NOMOR 21 TAHUN 2021 TENTANG JENIS IKAN BARU YANG AKAN DIBUDIDAYAKAN
TATA CARA PENGUJIAN TERHADAP JENIS IKAN BARU YANG AKAN DIBUDIDAYAKAN
A.
PENGUJIAN JENIS IKAN BARU YANG AKAN DIBUDIDAYAKAN HASIL DOMESTIKASI
Ikan Hasil Domestikasi yang dilepas minimal adalah generasi kedua.
NO.
PENGUJIAN PARAMETER 1 Fenotipe
UJI FISIK
a. Morfometrik Pengujian dilakukan pada induk yang telah mengalami matang gonad pertama kali.
Nilai pengukuran dalam bentuk nilai mutlak dan rasio pada panjang standar jumlah 30 (tiga puluh) sampel.
1) Ikan bersirip a) panjang total;
b) bobot total badan;
c) panjang lingkar badan;
d) perbandingan panjang kepala dengan panjang badan;
e) bobot tanpa kepala (kecuali untuk Ikan hias).
2) krustasea
a. udang atau lobster a) panjang total;
b) bobot total badan;
c) perbandingan panjang kepala dengan panjang badan;
d) bobot tanpa kepala; dan e) panjang karapas.
b. kepiting atau rajungan a) lebar karapas;
b) bobot; dan c) warna.
3) moluska
a. kekerangan
(1) lebar cangkang;
(2) tinggi/tebal cangkang;
(3) warna cangkang;
dan
(4) bobot tubuh.
b. teripang
(1) tingkat kekasaran kulit;
(2) warna tubuh;
(3) panjang tubuh;
(4) bobot tubuh;
dan
(5) lingkar tubuh.
4) tanaman air a) bentuk daun;
b) tekstur daun;
c) bentuk pertulangan daun;
d) tinggi tanaman;
e) bentuk kepala sari;
f) bentuk putik dan kepala putik;
g) bentuk bunga;
h) bentuk per akaran;
dan/atau i) warna daun dan batang.
5) rumput laut a) panjang talus primer;
b) panjang talus sekunder;
c) panjang talus tersier;
d) internode talus tersier;
e) jumlah talus sekunder f) jumlah talus
tersier;
g) jumlah blade;
dan h) indeks percabangan.
b. Meristik Pengujian dilakukan pada induk yang telah mengalami matang gonad pertama kali.
Dikecualikan bagi teripang, tanaman air, dan rumput laut.
jumlah 30 (tiga puluh) sampel
1) Ikan bersirip rumus jari-jari sirip, jumlah gigi pada tapis insang pertama (gill racker)
2) krustasea
a) udang atau lobster jumlah duri-duri rostrum
b) kepiting atau rajungan jumlah duri sisi dan depan
3) moluska
kekerangan jumlah lubang pada cangkang
c. Warna Pengujian dilakukan pada induk yang telah mengalami matang gonad pertama kali.
Pengujian menggunakan toca colour finder jumlah 10 (sepuluh) sampel
1) Ikan bersirip, krustasea, dan moluska a) warna dominan;
b) pola warna; dan c) ciri khusus (jika ada).
2) tanaman air a) warna dominan;
b) pola warna; dan c) ciri khusus (jika ada).
3) rumput laut a) warna dominan;
b) keseragaman warna; dan c) ciri khusus (jika ada).
UJI FISIOLOGI
a. Pertumbuhan
Dikecualikan bagi tanaman air
1) Ikan bersirip, krustasea, dan Moluska ukuran larva sampai matang gonad
2) rumput laut dengan penerapan metode longline nilai LPH minimal 3% (tiga persen) per hari nilai LPH (nilai pertumbuhan harian)
b. Nilai toleransi lingkungan uji toleransi terhadap:
1) suhu;
2) salinitas;
3) oksigen, dan 4) pH.
c. Kualitas daging/rendemen Dikecualikan bagi Ikan hias, dan tanaman air
1) Ikan bersirip, krustasea, dan moluska a) karkas;
b) fillet; dan c) kandungan proksimat.
2) rumput laut a) kualitas rendemen; dan b) kualitas proksimat.
d. Jenis pakan dan kebiasaan makan Dikecualikan bagi tanaman air dan rumput laut
1) jenis pakan herbivor/karnivor/ omnivor
2) kebiasaan makan a) siang/malam;
dan b) dasar/ permukaan kolam.
3) efisiensi pakan
e. Reproduksi Uji reproduksi dilakukan pada Ikan yang telah mencapai umur Ikan dewasa pertama kali (bulan) minimal 10 (sepuluh) ekor sampel
1) Ikan, krustasea, dan moluska a) fekunditas (butir/(g/kg))
(1) partial spawning (pemijaha n parsial);
dan
(2) total spawning (pemijaha n total).
b) derajat pembuahan;
c) derajat penetasan;
d) musim pemijahan; dan e) ukuran telur (mm).
2) tanaman air vegetatif atau generatif
3) rumput laut sampai berapa siklus bibit rumput laut dapat digunakan untuk berproduksi
f. Produktivitas
1) Ikan bersirip, krustasea, dan moluska
a) pembenihan dilakukan sampai ukuran siap tebar fase pembesaran
(1) sintasan; dan
(2) jumlah benih yang dihasilkan
b) pembesaran untuk Ikan konsumsi:
dilakukan sampai mencapai ukuran konsumsi
Untuk
Ikan
hias:
dilakukan sampai mencapai ukuran jual untuk Ikan konsumsi:
(1) biomassa; dan
(2) FCR,
untuk Ikan hias:
(1) bobot;
(2) panjang; dan
(3) sintasan
2) tanaman air
a) pembenihan dilakukan terhadap pertumbuhan benih tanaman air perkembangbiakan secara vegetatif atau generatif
b) pembesaran dilakukan terhadap pertumbuhan tanaman air
(1) jumlah daun;
(2) tinggi batang;
dan
(3) jumlah akar, (untuk produk in-vitro).
3) rumput laut produktvitas per
dilakukan sampai mencapai ukuran panen siklus
UJI KETAHANAN PENYAKIT
Ketahanan penyakit Uji tantang dilakukan pada penyakit utama yang disebabkan oleh bakteri, jamur, parasit dan/atau virus yang menyerang jenis Ikan yang akan dilepas.
Pengujian dilakukan pada umur tertentu yang umum terjadinya serangan penyakit dengan menggunakan kontrol dan jumlah ulangan minimal 3 (tiga) kali.
sintasan 2 Genotipe Pengujian genotipe dilakukan untuk mendapat informasi keragaman genetik.
pengujian dilakukan pada generasi kedua
a. Ikan bersirip, krustasea, dan moluska serta rumput laut dengan menggunakan sekurang- kurangnya 1 (satu) dari metode:
1) Amplified Fragment Length Polimorphism (AFLP) Minimal 10 (sepuluh) sampel dengan jumlah primer paling sedikit 2 (dua) Heterozigositas Polimorfisme (%)
2) Random Amplified Polimorphic DNA (RAPD) Minimal 10 (sepuluh) sampel dengan jumlah primer paling sedikit 3 (tiga) Heterozigositas Polimorfisme (%)
3) mt-DNA Minimal 10 (sepuluh) sampel dengan jumlah primer paling sedikit 3 (tiga) Heterozigositas Polimorfisme (%)
4) mikrosatelit Minimal 10 (sepuluh) sampel dengan jumlah primer paling sedikit 3 (tiga) Heterozigositas Polimorfisme (%)
5) Single Nucleotide Polimorphism (SNP) Minimal 10 (sepuluh) sampel dengan jumlah primer paling Heterozigositas Polimorfisme (%)
B.
PENGUJIAN JENIS IKAN BARU YANG AKAN DIBUDIDAYAKAN HASIL INTRODUKSI
Ikan Hasil Introduksi yang dapat dilepas adalah Ikan yang tidak menimbulkan pengaruh yang merugikan terhadap jenis Ikan/lingkungan/habitat yang ada.
sedikit 3 (tiga)
b. tanaman air dengan menggunakan sekurang- kurangnya 1 (satu) dari metode:
1) DNA Barcoding dengan menggunakan marka chloroplast kode/sidik jari DNA
2) Simple Sequence Repeats (SSR)/Mikrosatelit Minimal 10 (sepuluh) sampel dengan jumlah primer paling sedikit 3 (tiga) Heterozigositas Polimorfisme (%)
3) Single Nucleotide Polimorphism (SNP) Minimal 10 (sepuluh) sampel dengan jumlah primer paling sedikit 3 (tiga) Heterozigositas Polimorfisme (%)
4) Random Amplified Polimorphic DNA (RAPD) Minimal 20 (dua puluh) sampel dengan jumlah primer paling sedikit 3 (tiga) Heterozigositas Polimorfisme (%) NO.
PENGUJIAN PARAMETER 1 Fenotipe
UJI FISIK
a. Morfometrik Pengujian dilakukan pada induk yang telah mengalami matang gonad pertama kali.
Nilai pengukuran dalam bentuk nilai mutlak dan rasio pada panjang standar.
jumlah 30 (tiga puluh) sampel
1) Ikan bersirip
a) panjang total;
b) bobot total badan;
c) panjang lingkar badan;
d) perbandingan panjang kepala dengan panjang badan;
e) bobot tanpa kepala (kecuali untuk Ikan hias).
2) krustasea
a) udang atau lobster
(1) panjang total;
(2) bobot total badan;
(3) perbandingan panjang kepala dengan panjang badan;
(4) bobot tanpa kepala;
dan
(5) panjang karapas.
b) kepiting atau rajungan
(1) lebar karapas;
(2) bobot; dan
(3) warna.
3) moluska
a) Kekerangan
(1) lebar cangkang;
(2) tinggi/tebal cangkang;
(3) warna cangkang, dan
(4) bobot tubuh.
b) teripang
(1) tingkat kekasaran kulit;
(2) warna tubuh;
(3) panjang tubuh;
(4) bobot tubuh; dan
(5) lingkar tubuh.
4) tanaman air a) bentuk daun;
b) tekstur daun;
c) bentuk pertulangan daun;
d) tinggi tanaman;
e) bentuk kepala sari;
f) bentuk putik dan kepala putik;
g) bentuk bunga;
h) bentuk per akaran;
dan/atau i) warna daun dan batang.
5) rumput laut a) panjang talus primer;
b) panjang talus sekunder;
c) panjang talus tersier;
d) internode talus tersier;
e) jumlah talus sekunder f) jumlah talus tersier;
g) jumlah blade; dan h) indeks percabangan.
b. Meristik Pengujian dilakukan pada induk yang telah mengalami matang gonad pertama kali.
Dikecualikan bagi teripang, tanaman air dan rumput laut.
jumlah 30 (tiga puluh) sampel
1) Ikan bersirip rumus jari-jari sirip, jumlah gigi pada tapis insang pertama (gill racker)
2) krustasea
a) udang atau lobster jumlah duri-duri rostrum
b) kepiting atau rajungan jumlah duri sisi dan depan
3) moluska
kekerangan jumlah lubang pada cangkang
c. Warna Pengujian dilakukan pada induk yang telah mengalami matang gonad pertama kali.
Pengujian menggunakan toca colour finder.
jumlah 10 (sepuluh) sampel
1) Ikan bersirip, krustasea, dan moluska a) warna dominan;
b) pola warna; dan c) ciri khusus (jika ada).
2) tanaman air a) warna dominan;
b) pola warna; dan c) ciri khusus (jika ada).
3) rumput laut a) warna dominan;
b) keseragaman warna;
dan c) ciri khusus (jika ada).
UJI FISIOLOGI
a. Pertumbuhan dikecualikan bagi tanaman air
1) Ikan bersirip, krustasea, dan moluska ukuran larva sampai matang gonad
2) rumput laut dengan penerapan metode longline nilai LPH minimal nilai LPH (nilai pertumbuhan harian)
3% (tiga persen) per hari
b. Nilai toleransi lingkungan uji toleransi terhadap:
1) suhu;
2) salinitas;
3) oksigen; dan 4) pH.
c. Kualitas daging/rendemen Dikecualikan bagi Ikan hias, dan tanaman air
1) Ikan bersirip, krustasea, dan moluska a) karkas;
b) fillet; dan c) kandungan proksimat.
2) rumput laut a) kualitas rendemen; dan b) kualitas proksimat.
d. Jenis pakan dan kebiasaan makan Dikecualikan bagi tanaman air, dan rumput laut
1) jenis pakan herbivor/karnivor/omnivore
2) kebiasaan makan a) siang/malam; dan b) dasar/permukaan kolam.
3) efisiensi pakan
e. Reproduksi Uji reproduksi dilakukan pada Ikan yang telah mencapai umur Ikan dewasa pertama kali (bulan) minimal 10 (sepuluh) ekor sampel
1) Ikan bersirip, krustasea, dan moluska a) fekunditas (butir/(g/kg))
(1) partial spawning (pemijahan parsial); dan
(2) total spawning (pemijahan total), b) derajat pembuahan;
c) derajat penetasan;
d) musim pemijahan; dan e) ukuran telur (mm).
2) tanaman air vegetatif atau generatif
3) rumput laut sampai berapa siklus bibit rumput laut dapat digunakan untuk berproduksi
f. Produktivitas
1) Ikan bersirip, krustasea, dan moluska
a) pembenihan dilakukan sampai ukuran siap tebar pada fase pembesaran
(1) sintasan; dan
(2) jumlah benih yang dihasilkan
b) pembesaran untuk Ikan konsumsi:
(1) dilakukan sampai mencapai ukuran konsumsi (a) untuk ikan konsumsi:
i. biomassa; dan ii.
FCR.
(2) untuk Ikan hias:
dilakukan sampai mencapai ukuran jual (b) untuk Ikan hias:
i. bobot;
ii.
panjang; dan iii.
sintasan.
2) tanaman air
a) pembenihan dilakukan terhadap pertumbuhan benih tanaman air perkembangbiakan secara vegetatif atau generatif
b) pembesaran dilakukan terhadap pertumbuhan tanaman air
(1) jumlah daun;
(2) tinggi batang; dan
(3) jumlah akar
3) rumput laut dilakukan sampai mencapai ukuran panen produktvitas per siklus
UJI KETAHANAN PENYAKIT
Ketahanan penyakit Uji tantang dilakukan pada penyakit utama yang disebabkan oleh bakteri, jamur, parasit dan/atau virus yang menyerang jenis Ikan yang akan dilepas.
Pengujian dilakukan pada umur tertentu yang umum terjadinya serangan penyakit dengan menggunakan kontrol dan jumlah ulangan minimal 3 (tiga) kali.
sintasan 2 Genotipe Pengujian genotipe dilakukan untuk mendapat informasi pengujian dilakukan pada generasi kedua
keragaman genetik.
1) Ikan bersirip, krustasea, dan moluska serta rumput laut dengan menggunakan sekurang-kurangnya 1 (satu) dari metode:
a) Amplified Fragment Length Polimorphism (AFLP) Minimal 10 (sepuluh) sampel dengan jumlah primer paling sedikit 2 (dua) Heterozigositas Polimorfisme (%)
b) Random Amplified Polimorphic DNA (RAPD) Minimal 10 (sepuluh) sampel dengan jumlah primer paling sedikit 3 (tiga) Heterozigositas Polimorfisme (%)
c) mt-DNA Minimal 10 (sepuluh) sampel dengan jumlah primer paling sedikit 3 (tiga) Heterozigositas Polimorfisme (%)
d) mikrosatelit Minimal 10 (sepuluh) sampel dengan jumlah primer paling sedikit 3 (tiga) Heterozigositas Polimorfisme (%)
e) Single Nucleotide Polimorphism (SNP) Minimal 10 (sepuluh) sampel dengan jumlah primer paling sedikit 3 (tiga) Heterozigositas Polimorfisme (%)
2) tanaman air dengan menggunakan sekurang- kurangnya 1 (satu) dari metode:
a) DNA Barcoding dengan menggunakan marka cloroplast Kode/sidik jari DNA
b) Simple Sequence Repeats (SSR)/Mikrosatelit Heterozigositas Polimorfisme (%)
C.
PENGUJIAN JENIS IKAN BARU YANG AKAN DIBUDIDAYAKAN HASIL PEMULIAAN
1. IKAN HASIL SELEKSI Minimal 10 (sepuluh) sampel
dengan jumlah primer paling sedikit 3 (tiga)
c) Single Nucleotide Polimorphism (SNP) Minimal 10 (sepuluh) sampel
dengan jumlah primer paling sedikit 3 (tiga) Heterozigositas Polimorfisme (%)
d) Random Amplified Polimorphic DNA (RAPD) Minimal 10 (sepuluh) sampel dengan jumlah primer paling sedikit 3 (tiga) Heterozigositas Polimorfisme (%) NO.
PENGUJIAN PARAMETER A Ikan Hasil Seleksi Konvensional Ikan hasil seleksi yang dapat dilepas adalah Ikan yang telah mengalami peningkatan kualitas genetik dengan nilai respon seleksi kumulatif minimal 20% (dua puluh persen) pada karakter yang diseleksi.
1 Fenotipe
UJI FISIK
a. Morfometrik Pengujian dilakukan pada induk yang telah mengalami matang gonad pertama kali. Jumlah Ikan yang diukur paling sedikit 30 (tiga puluh) ekor.
Nilai pengukuran dalam bentuk nilai mutlak dan rasio pada panjang standar jumlah 30 (tiga puluh) sampel
1) Ikan bersirip a) panjang total;
b) bobot total badan;
c) panjang lingkar badan;
d) perbandingan panjang kepala dengan panjang
badan; dan e) bobot tanpa kepala (kecuali untuk Ikan hias).
2) krustasea
a) udang atau lobster
(1) panjang total;
(2) bobot total badan;
(3) perbandingan panjang kepala dengan panjang badan;
(4) bobot tanpa kepala; dan
(5) panjang karapas.
b) Kepiting atau rajungan
(1) lebar karapas;
(2) bobot; dan
(3) warna
3) moluska
a) kekerangan
(1) lebar cangkang;
(2) tinggi/tebal cangkang;
(3) warna cangkang, dan
(4) bobot tubuh.
b) teripang
(1) tingkat kekasaran kulit;
(2) warna tubuh;
(3) panjang tubuh;
(4) bobot tubuh; dan
(5) lingkar tubuh.
4) tanaman air a) bentuk daun;
b) bentuk tepi daun;
c) ujung dan pangkal helaian daun;
d) permukaan helaian daun;
e) rambut (trikoma);
dan f) pertulangan daun.
5) rumput laut a) panjang talus primer;
b) panjang talus sekunder;
c) panjang talus tersier;
d) internode talus tersier;
e) jumlah talus sekunder f) jumlah talus
tersier; dan g) jumlah blade dan indeks percabangan.
b. Meristik Pengujian dilakukan pada induk yang telah mengalami matang gonad pertama kali.
Dikecualikan bagi teripang, tanaman air, dan rumput laut.
1) Ikan bersirip rumus jari-jari sirip, jumlah gigi pada tapis insang pertama (gill racker)
2) krustasea
a. udang atau lobster jumlah duri-duri rostrum
b. kepiting atau rajungan jumlah duri sisi dan depan
3) Moluska
kekerangan jumlah lubang pada cangkang
c. Warna Pengujian dilakukan pada induk yang telah mengalami matang gonad pertama kali.
Pengujian menggunakan toca colour finder.
jumlah 10 (sepuluh) sampel
1) Ikan bersirip, krustasea, dan moluska a) warna dominan;
b) pola warna;
c) ciri khusus (jika ada).
2) tanaman air a) warna dominan;
b) pola warna; dan c) ciri khusus (jika ada).
3) rumput laut a) warna dominan;
b) keseragaman warna; dan c) ciri khusus (jika ada).
UJI FISIOLOGI
a. Pertumbuhan Dikecualikan bagi tanaman air
1) Ikan bersirip, krustasea, dan moluska
a) fase benih
(1) ukuran larva sampai bentuk definitif (menyerupai bentuk dewasa)
(2) sintasan
(3) waktu pemeliharaan
(4) produksi jumlah benih;
(5) koefisien keseragaman (metode pengukuran berdasarkan SNI jika ada)
b) fase pembesaran dilakukan pada perairan tertutup (kolam, tambak) dan terbuka (danau, sungai, laut) atau elevasi (>400 m dpl) dan rendah (<100 m dpl)
(1) pertumbuhan harian
(2) sintasan
(3) lama pemeliharaan
(4) FCR
(5) produktivitas (kg/m2 atau ton/ha)
Paramater pada angka
(4) dan angka
(5) dikecualikan untuk Ikan hias.
2) rumput laut dengan penerapan metode longline nilai LPH minimal 5% (lima persen) per hari nilai LPH (nilai pertumbuhan harian),
b. Nilai toleransi lingkungan uji toleransi terhadap:
1) suhu;
2) salinitas;
3) oksigen; dan 4) pH.
c. Kualitas daging/rendemen Dikecualikan bagi Ikan hias, dan tanaman air
1) Ikan bersirip, krustasea, dan moluska a) karkas;
b) fillet; dan c) kandungan proksimat.
2) rumput laut a) kualitas rendemen; dan
b) kualitas proksimat
d. Jenis pakan dan kebiasaan makan
1) jenis pakan herbivor/karnivor/ omnivor
2) kebiasaan makan a) siang/malam;
b) dasar kolam/ permukaan
3) efisiensi pakan
e. Reproduksi minimal 10 (sepuluh) ekor sampel
1) Ikan bersirip, krustasea, dan moluska
a) induk betina
(1) umur dewasa pertama kali (bulan);
(2) bobot ukuran pertama kali memijah (gr/kg);
(3) panjang/lebar ukuran pertama kali memijah (cm);
(4) fekunditas (butir/(gr/kg)) (a) partial spawning (pemijahan parsial); dan (b) total spawning (pemijahan total);
(5) derajat pembuahan;
(6) derajat penetasan;
dan
(7) ukuran telur.
b) induk jantan
(1) umur dewasa (bulan)
(2) bobot ukuran matang gonad pertama kali (gr/kg)
(3) panjang ukuran matang gonad pertama kali (cm)
2) tanaman air vegetatif atau generatif
3) rumput laut sampai berapa siklus bibit rumput laut dapat digunakan
untuk berproduksi
UJI KETAHANAN PENYAKIT
Ketahanan penyakit untuk mendapat informasi mengenai status Ikan:
1) SPF (Specific Pathogen Free) yang diuji melalui molekuler dan/atau histopatologi 2) SPR (Specific Pathogen Resistant) yang diuji melalui uji tantang
a) bakteri, jamur, parasit dan/atau virus yang menyerang b) yang diukur adalah sintasan; dan c) diulang minimal 3 kali
Peningkatan kualitas genetik berdasarkan karakter yang diseleksi 1) respon seleksi per generasi 2) nilai heritabilitas 3) koefisien variasi 4) genetic gain 2 Genotipe Pengujian genotipe dilakukan untuk mengetahui keragaman genetik Pengujian dilakukan pada generasi terakhir
a. Ikan bersirip, krustasea, dan moluska serta rumput laut dengan menggunakan sekurang-kurangnya 1 (satu) dari metode:
1) Amplified Fragment Length Polimorphism (AFLP) Minimal 10 (sepuluh) sampel dengan jumlah primer paling sedikit 2 (dua) Heterozigositas Polimorfisme (%)
2) Random Amplified Polimorphic DNA (RAPD) Minimal 10 (sepuluh) sampel dengan jumlah primer paling sedikit 3 (tiga) Heterozigositas Polimorfisme (%)
3) mt-DNA Minimal 10 (sepuluh) sampel dengan jumlah primer paling sedikit 3 tiga) Heterozigositas Polimorfisme (%)
4) mikrosatelit Minimal 10 (sepuluh) sampel dengan jumlah primer paling sedikit 3 (tiga) Heterozigositas Polimorfisme (%)
5) Single Nucleotide Polimorphism (SNP) Minimal 10 (sepuluh) sampel dengan jumlah primer paling sedikit 3 (tiga) Heterozigositas Polimorfisme (%)
b. tanaman air dengan menggunakan sekurang-kurangnya 1 (satu) dari metode:
1) DNA Barcoding Dengan menggunakan marka cloroplast Kode/sidik jari DNA
2) Simple Sequence Repeats (SSR)/Mikrosatelit Minimal 10 (sepuluh) sampel dengan jumlah primer paling sedikit 3 (tiga) Heterozigositas Polimorfisme (%)
3) Single Nucleotide Polimorphism (SNP) Minimal 10 (sepuluh) sampel dengan jumlah primer paling sedikit 3 (tiga) Heterozigositas Polimorfisme (%)
4) Random Amplified Polimorphic DNA (RAPD) Minimal 20 (dua puluh) sampel dengan jumlah primer paling sedikit 3 (tiga) Heterozigositas Polimorfisme (%) B Ikan Hasil Seleksi Berdasarkan Marka
1 Fenotipe
UJI FISIK
a. Morfometrik Pengujian dilakukan pada induk yang telah mengalami matang gonad pertama kali.
Nilai pengukuran dalam bentuk nilai mutlak dan rasio pada panjang standar jumlah 30 (tiga puluh) sampel
1) Ikan bersirip a) panjang total;
b) bobot total badan;
c) panjang lingkar badan;
d) perbandingan panjang kepala dengan panjang badan; dan e) bobot tanpa kepala (kecuali untuk Ikan hias).
2) krustasea
a) udang atau lobster
(1) panjang total;
(2) bobot total badan;
(3) perbandingan
panjang kepala dengan panjang badan;
(4) bobot tanpa kepala; dan
(5) panjang karapas.
b) kepiting atau rajungan
(1) lebar karapas;
(2) bobot; dan
(3) warna.
3) moluska
a) kekerangan
(1) lebar cangkang;
(2) tinggi/tebal cangkang;
(3) warna cangkang;
dan
(4) bobot tubuh.
c) teripang
(1) tingkat kekasaran kulit;
(2) warna tubuh;
(3) panjang tubuh;
(4) bobot tubuh; dan
(5) lingkar tubuh
4) tanaman air a) bentuk daun;
b) bentuk tepi daun, ujung dan pangkal helaian daun;
c) permukaan helaian daun;
d) rambut (trikoma);
dan e) pertulangan daun.
5) rumput laut a) panjang talus primer;
b) panjang talus sekunder;
c) panjang talus tersier;
d) internode talus tersier;
e) jumlah talus sekunder f) jumlah talus tersier; dan g) jumlah blade dan indeks percabangan
b. Meristik Pengujian dilakukan pada induk yang telah mengalami matang gonad pertama kali jumlah 30 (tiga puluh) sampel
Dikecualikan bagi teripang, tanaman air, dan rumput laut
1) Ikan bersirip rumus jari-jari sirip, jumlah gigi pada tapis insang pertama (gill racker)
2) krustasea
a. udang atau lobster jumlah duri-duri rostrum
b. kepiting atau rajungan jumlah duri sisi dan depan
3) Moluska
Kekerangan jumlah lubang pada cangkang
c. Warna
1) Ikan bersirip, krustasea, dan moluska a) warna dominan;
b) pola warna;
c) ciri khusus (jika ada).
2) tanaman air a) warna dominan;
b) pola warna; dan c) ciri khusus (jika ada).
3) rumput laut a) warna dominan;
b) keseragaman warna; dan c) ciri khusus (jika ada).
UJI FISIOLOGI
a. Pertumbuhan Dikecualikan bagi tanaman air
1) Ikan bersirip, krustasea, dan moluska
a) fase benih
(1) ukuran larva sampai bentuk definitive (menyerupai bentuk dewasa);
(2) sintasan;
(3) waktu pemeliharaan dari larva sampai siap tebar;
(4) produksi jumlah benih; dan
(5) koefisien
keseragaman (metode pengukuran berdasarkan SNI jika ada).
b) fase pembesaran dilakukan pada perairan tertutup (kolam, tambak) dan terbuka (danau, sungai, laut) atau elevasi (>400 m dpl) dan rendah (<100 m dpl)
(1) pertumbuhan harian;
(2) sintasan;
(3) lama pemeliharaan;
(4) FCR; dan
(5) produktivitas (kg/m2 atau ton/ha).
Paramater pada angka
(5) dikecualikan untuk Ikan hias digantikan dengan panjang, bobot, dan sintasan
c) rumput laut dengan penerapan metode longline nilai LPH minimal 5% (lima persen) per hari nilai LPH (nilai pertumbuhan harian)
b. Nilai toleransi lingkungan uji toleransi terhadap suhu, salinitas, oksigen, dan pH
c. Kualitas daging/rendemen Dikecualikan bagi Ikan hias, dan tanaman air
1) Ikan bersirip, krustasea, dan moluska a) karkas;
b) fillet; dan c) kandungan proksimat.
2) rumput laut a) kualitas rendemen; dan b) kualitas proksimat
d. Jenis pakan dan kebiasaan makan
1) jenis pakan herbivor/karnivor/ omnivor
2) kebiasaan makan a) siang/ malam;
b) dasar kolam/ permukaan
3) efisiensi pakan
e. Reproduksi minimal 10 (sepuluh) ekor sampel
1) Ikan bersirip, krustasea, dan moluska
a) induk betina
(1) umur dewasa pertama kali (bulan);
(2) bobot ukuran pertama kali memijah (gr/kg);
(3) panjang/lebar ukuran pertama kali memijah (cm);
(4) fekunditas (butir/(gr/kg)) (a) partial spawning (pemijahan parsial); dan (b) total spawning (pemijahan total);
(5) derajat pembuahan;
(6) derajat penetasan;
dan
(7) ukuran Telur.
b) induk jantan
(1) Umur dewasa (bulan)
(2) Bobot ukuran matang gonad pertama kali (gr/kg)
(3) Panjang ukuran matang gonad pertama kali (cm)
2) tanaman air vegetatif atau generatif
3) rumput laut sampai berapa siklus bibit rumput laut dapat digunakan untuk berproduksi
UJI KETAHANAN PENYAKIT
Ketahanan penyakit Uji tantang dilakukan pada penyakit utama yang disebabkan oleh bakteri, jamur, parasit dan/atau virus yang menyerang jenis ikan yang akan dilepas.
Pengujian dilakukan pada umur tertentu yang umum terjadinya serangan penyakit dengan Sintasan
menggunakan kontrol dan jumlah ulangan minimal 3 (tiga) kali
Peningkatan kualitas genetik berdasarkan karakter yang diseleksi 1) respon seleksi per generasi 2) nilai heritabilitas 3) koefisien variasi 4) genetic gain 2 Genotipe Pengujian genotipe dilakukan dengan menggunakan primer spesifik.
Jumlah individu yang membawa marka per generasi (%) untuk mengukur stabilitas pewarisan marka
a. Ikan bersirip, krustasea, dan moluska serta rumput laut dengan menggunakan sekurang-kurangnya 1 (satu) dari metode:
1) Amplified Fragment Length Polimorphism (AFLP) Minimal 10 (sepuluh) sampel dengan jumlah primer paling sedikit 2 (dua) Heterozigositas Polimorfisme (%)
2) Random Amplified Polimorphic DNA (RAPD) Minimal 10 (sepuluh) sampel dengan jumlah primer paling sedikit 3 (tiga) Heterozigositas Polimorfisme (%)
3) mt-DNA Minimal 10 (sepuluh) sampel dengan jumlah primer paling sedikit 3 (tiga) Heterozigositas Polimorfisme (%)
4) mikrosatelit Minimal 10 (sepuluh) sampel dengan jumlah primer paling sedikit 3 (tiga) Heterozigositas Polimorfisme (%)
5) Single Nucleotide Polimorphism (SNP) Minimal 10 (sepuluh) sampel dengan jumlah primer paling sedikit 3 (tiga) Heterozigositas Polimorfisme (%)
b. tanaman air dengan menggunakan sekurang-kurangnya 1 (satu) dari metode:
1) DNA Barcoding dengan menggunakan marka cloroplast Kode/sidik jari DNA
2. IKAN HASIL HIBRIDISASI (ALAMI ATAU BUATAN)
2) Simple Sequence Repeats (SSR)/Mikrosatelit Minimal 10 (sepuluh) sampel dengan jumlah primer paling sedikit 3 (tiga) Heterozigositas Polimorfisme (%)
3) Single Nucleotide Polimorphism (SNP) Minimal 10 (sepuluh) sampel dengan jumlah primer paling sedikit 3 (tiga) Heterozigositas Polimorfisme (%)
4) Random Amplified Polimorphic DNA (RAPD) Minimal dengan jumlah primer paling sedikit 3(tiga) Heterozigositas Polimorfisme (%) NO.
PENGUJIAN PARAMETER 1 Fenotipe
UJI FISIK
a. Morfometrik Pengujian dilakukan pada Ikan dewasa Nilai pengukuran dalam bentuk nilai mutlak dan rasio pada panjang standar.
Hasil pengukuran dianalisis menggunakan PCA (Principle Component Analysis).
jumlah 30 (tiga puluh) sampel
1) Ikan bersirip a) panjang total;
b) bobot total badan;
c) panjang lingkar badan;
d) perbandingan panjang kepala dengan panjang badan; dan e) bobot tanpa kepala (kecuali untuk Ikan hias).
2) krustasea
a) udang atau lobster
(1) panjang total;
(2) bobot total badan;
(3) perbandingan panjang kepala dengan panjang badan;
(4) bobot tanpa kepala; dan
(5) panjang karapas.
b) kepiting atau rajungan
(1) lebar karapas;
(2) bobot; dan
(3) warna.
3) moluska
a) kekerangan
(1) lebar cangkang;
(2) tinggi/tebal cangkang;
(3) warna cangkang; dan
(4) bobot tubuh.
b) teripang
(1) tingkat kekasaran kulit;
(2) warna tubuh;
(3) panjang tubuh;
(4) bobot tubuh; dan
(5) lingkar tubuh.
4) tanaman air a) bentuk daun;
b) bentuk tepi daun;
c) ujung dan pangkal helaian daun;
d) permukaan helaian daun;
e) rambut (trikoma); dan f) pertulangan daun.
5) rumput laut a) panjang talus primer;
b) panjang talus sekunder;
c) panjang talus tersier;
d) internode talus tersier;
e) jumlah talus sekunder f) jumlah talus tersier;
dan g) jumlah blade dan indeks percabangan
b. Meristik Pengujian dilakukan pada induk yang telah mengalami matang gonad pertama kali Dikecualikan bagi teripang, tanaman air dan rumput laut Jumlah 30 Sampel
1) Ikan bersirip rumus jari-jari sirip, jumlah gigi pada tapis insang pertama (gill racker)
2) krustasea
a. udang atau lobster jumlah duri-duri rostrum
b. kepiting atau rajungan jumlah duri sisi dan depan
3) moluska
kekerangan jumlah lubang pada cangkang
c. Warna
1) Ikan bersirip, krustasea, dan moluska a) warna dominan;
b) pengujian menggunakan toca colour finder;
c) pola warna;
d) ciri khusus (jika ada).
2) tanaman air a) warna dominan;
b) pengujian menggunakan toca colour finder;
c) pola warna; dan d) ciri khusus (jika ada)
3) rumput laut a) warna dominan;
b) keseragaman warna;
dan c) ciri khusus (jika ada)
UJI FISIOLOGI
a. Pertumbuhan dikecualikan bagi tanaman air
1) Ikan bersirip, krustasea, dan moluska
a) fase benih
(1) ukuran larva sampai bentuk definitive (menyerupai bentuk dewasa)
(2) sintasan;
(3) waktu pemeliharaan dari larva sampai siap tebar;
(4) produksi jumlah benih;
dan
(5) koefisien keseragaman (metode pengukuran berdasarkan SNI jika ada).
b) fase pembesaran Dilakukan pada perairan tertutup (kolam, tambak) dan terbuka (danau, sungai, laut) atau elevasi (>400 m dpl) dan rendah (<100 m dpl)
(1) pertumbuhan harian;
(2) sintasan;
(3) lama pemeliharaan;
(4) FCR; dan
(5) produktivitas (kg/m2 atau ton/ha).
Paramater pada angka (5) dikecualikan untuk Ikan hias digantikan dengan panjang, bobot, dan sintasan
2) rumput laut dengan penerapan metode longline nilai nilai LPH (nilai pertumbuhan harian)
LPH minimal 5% (lima persen) per hari
b. Nilai toleransi lingkungan uji toleransi terhadap:
1) suhu;
2) salinitas;
3) oksigen; dan 4) pH.
c. Kualitas daging/rendemen Dikecualikan bagi Ikan hias, dan tanaman air
1) Ikan bersirip, krustasea, dan moluska a) karkas;
b) fillet; dan c) kandungan proksimat.
2) rumput laut a) kualitas rendemen; dan b) kualitas proksimat
d. Jenis pakan dan kebiasaan makan
1) jenis pakan herbivor/karnivor/omnivor
2) kebiasaan makan a) siang/ malam; dan b) dasar kolam/ permukaan.
3) efisiensi pakan
e. Reproduksi Uji reproduksi dilakukan pada Ikan yang telah mencapai umur Ikan dewasa minimal 10 (sepuluh) ekor sampel
1) Ikan bersirip, krustasea, dan moluska
a) induk betina
(1) umur dewasa pertama kali (bulan);
(2) bobot ukuran pertama kali memijah (gr/kg);
(3) panjang/lebar ukuran pertama kali memijah (cm);
(4) fekunditas (butir/(gr/kg)) (a) partial spawning (pemijahan parsial); dan (b) total spawning (pemijahan total);
(5) derajat pembuahan;
(6) derajat penetasan; dan
(7) ukuran telur.
b) induk jantan
(1) umur dewasa (bulan);
(2) bobot ukuran matang gonad pertama kali
(gr/kg); dan
(3) panjang ukuran matang gonad pertama kali (cm).
2) tanaman air vegetatif atau generatif
3) rumput laut sampai berapa siklus bibit rumput laut dapat digunakan untuk berproduksi
UJI KETAHANAN PENYAKIT
Ketahanan penyakit Uji tantang dilakukan pada penyakit utama yang disebabkan oleh bakteri, jamur, parasit dan/atau virus yang menyerang jenis Ikan yang akan dilepas.
Pengujian dilakukan pada umur tertentu yang umum terjadinya serangan penyakit dengan menggunakan kontrol dan jumlah
sintasan
Peningkatan kualitas genetik berdasarkan karakter yang diseleksi 1) koefisien variasi; dan 2) heterosis.
2 Genotipe Pengujian genotipe dilakukan untuk mendapat informasi keragaman genetik.
Pengujian dilakukan pada generasi kedua
a. Ikan bersirip, krustasea, dan moluska serta rumput laut dengan menggunakan sekurang-kurangnya 1 (satu) dari metode:
1) Amplified Fragment Length Polimorphism (AFLP) Minimal 10 (sepuluh) sampel dengan jumlah primer paling sedikit 2 (dua) Heterozigositas Polimorfisme (%)
2) Random Amplified Polimorphic DNA (RAPD) Minimal 10 (sepuluh) sampel dengan jumlah Heterozigositas Polimorfisme (%)
primer paling sedikit 3 (tiga)
3) mt-DNA Minimal 10 (sepuluh) sampel dengan jumlah primer paling sedikit 3 (tiga) Heterozigositas Polimorfisme (%)
4) mikrosatelit Minimal 10 (sepuluh) sampel dengan jumlah primer paling sedikit 3 (tiga) Heterozigositas Polimorfisme (%)
5) Single Nucleotide Polimorphism (SNP) Minimal 10 (sepuluh) sampel dengan jumlah primer paling sedikit 3 (tiga) Heterozigositas Polimorfisme (%)
b. tanaman air dengan menggunakan sekurang- kurangnya 1 (satu) dari metode:
1) DNA Barcoding dengan menggunakan marka cloroplast Kode/sidik jari DNA
2) Simple Sequence Repeats (SSR)/Mikrosatelit Minimal 10 (sepuluh) sampel dengan jumlah primer paling sedikit 3 (tiga) Heterozigositas Polimorfisme (%)
3) Single Nucleotide Polimorphism (SNP) Minimal 10 (sepuluh) sampel dengan jumlah primer paling sedikit 3 (tiga) Heterozigositas Polimorfisme (%)
4) Random Amplified Polimorphic DNA (RAPD) Minimal 20 (dua puluh) sampel dengan jumlah primer paling sedikit 3 (tiga) Heterozigositas Polimorfisme (%)
3. IKAN HASIL MANIPULASI KROMOSOM Manipulasi kromosom terdiri atas:
a. Poliploidisasi (3n dan 4n);
Ikan hasil poliploidisasi adalah Ikan yang telah mengalami peningkatan jumlah set kromosom menjadi 3n atau 4n.
b. Ginogenesis/Androgenesis;
Ikan hasil ginogenesis/androgenesis yang dapat dilepas adalah Ikan yang telah mengalami peningkatan keseragaman seks betina/jantan >90% pada karakter yang diperbaiki.
c. Sex reversal.
Ikan hasil sex reversal yang dapat dilepas adalah Ikan yang telah mengalami keseragaman seks fenotipe >85%.
NO.
PENGUJIAN PARAMETER 1 Fenotipe
UJI FISIK
a. Morfometrik Pengujian dilakukan untuk mengetahui:
jumlah 30 (tiga puluh) sampel
1) Ikan bersirip a) panjang total;
b) bobot total badan;
c) panjang lingkar badan;
d) perbandingan panjang kepala dengan panjang badan; dan e) bobot tanpa kepala (kecuali untuk Ikan hias).
2) krustasea
a) udang atau lobster
(1) panjang total;
(2) bobot total badan;
(3) perbandingan panjang kepala dengan panjang badan;
(4) bobot tanpa kepala;
dan
(5) panjang karapas.
b) kepiting atau rajungan
(1) lebar karapas;
(2) bobot; dan
(3) warna.
3) moluska
a) kekerangan
(1) lebar cangkang;
(2) tinggi/tebal
cangkang;
(3) warna cangkang; dan
(4) bobot tubuh.
b) teripang
(1) tingkat kekasaran kulit; dan
(2) warna tubuh;
(3) panjang tubuh;
(4) bobot tubuh; dan
(5) lingkar tubuh.
4) tanaman air a) bentuk daun;
b) bentuk tepi daun;
c) ujung dan pangkal helaian daun;
d) permukaan helaian daun;
e) rambut (trikoma); dan f) pertulangan daun.
5) rumput laut a) panjang talus primer;
b) panjang talus sekunder;
c) panjang talus tersier;
d) internode talus tersier;
e) jumlah talus sekunder f) jumlah talus tersier;
dan g) jumlah blade dan indeks percabangan
b. Meristik Pengujian dilakukan untuk mengetahui:
Dikecualikan bagi teripang, tanaman air, dan rumput laut.
jumlah 30 (tiga puluh) sampel
1) Ikan bersirip rumus jari-jari sirip, jumlah gigi pada tapis insang pertama (gill racker)
2) krustasea
a) udang atau lobster jumlah duri-duri rostrum
b) kepiting atau rajungan jumlah duri sisi dan depan
3) moluska
kekerangan jumlah lubang pada cangkang
c. Warna Pengujian dilakukan pada induk yang telah mengalami matang gonad pertama kali Pengujian menggunakan toca colour finder
1) Ikan bersirip, krustasea, dan moluska a) warna dominan;
b) pola warna; dan c) ciri khusus (jika ada).
2) tanaman air a) warna dominan;
b) pengujian menggunakan toca colour finder;
c) pola warna; dan d) ciri khusus (jika ada)
3) rumput laut a) warna dominan;
b) keseragaman warna;
dan c) ciri khusus (jika ada).
UJI FISIOLOGI
a. Pertumbuhan dikecualikan bagi tanaman air
1) Ikan bersirip, krustasea, dan moluska
a) fase benih
(1) ukuran larva sampai bentuk definitive (menyerupai bentuk dewasa);
(2) sintasan;
(3) waktu pemeliharaan dari larva sampai siap tebar;
(4) produksi jumlah benih; dan
(5) koefisien keseragaman (metode pengukuran berdasarkan SNI jika ada)
b) fase pembesaran dilakukan pada perairan tertutup (kolam, tambak) dan terbuka (danau, sungai, laut) atau elevasi (>400 m dpl) dan rendah (<100 m dpl).
(1) pertumbuhan harian;
(2) sintasan;
(3) lama pemeliharaan;
(4) FCR; dan
(5) produktivitas (kg/m2 atau ton/ha).
Paramater pada angka (5) dikecualikan untuk Ikan hias digantikan dengan panjang, bobot, dan sintasan
2) rumput laut dengan penerapan metode longline nilai LPH minimal 5% (lima persen) per hari nilai LPH (nilai pertumbuhan harian),
b. Nilai toleransi lingkungan uji toleransi terhadap:
1) suhu;
2) salinitas;
3) oksigen; dan 4) pH.
c. Kualitas daging/rendemen Dikecualikan bagi Ikan hias, dan tanaman air
1) Ikan bersirip, krustasea dan moluska a) karkas;
b) fillet; dan c) kandungan proksimat.
2) rumput laut a) kualitas rendemen;
dan b) kualitas proksimat
d. Jenis pakan dan kebiasaan makan
1) jenis pakan herbivor/karnivor/omnivor
2) kebiasaan makan a) siang/ malam;
b) dasar kolam/permukaan
3) efisiensi pakan
e. Reproduksi minimal 10 (sepuluh) ekor sampel
1) Ikan bersirip, krustasea, dan moluska
a) induk betina
(1) umur dewasa pertama kali (bulan);
(2) bobot ukuran pertama kali memijah (gr/kg);
(3) panjang/lebar ukuran pertama kali memijah (cm);
(4) fekunditas;
(butir/(gr/kg)) (a) partial spawning (pemijahan parsial); dan (b) total spawning (pemijahan total);
(5) derajat pembuahan;
(6) derajat penetasan;
dan
(7) ukuran telur.
b) induk jantan
(1) umur dewasa (bulan);
(2) bobot ukuran matang gonad pertama kali (gr/kg); dan
(3) panjang ukuran matang gonad pertama kali (cm).
2) tanaman air vegetatif atau generatif
3) rumput laut sampai berapa siklus bibit rumput laut dapat digunakan untuk berproduksi
UJI KETAHANAN PENYAKIT
Ketahanan penyakit Uji tantang dilakukan pada penyakit utama yang disebabkan oleh bakteri, jamur, parasit dan/atau virus yang menyerang jenis Ikan yang akan dilepas.
Pengujian dilakukan pada umur tertentu yang umum terjadinya serangan penyakit dengan menggunakan kontrol dan jumlah ulangan minimal 3 (tiga) kali sintasan 2 Genotipe Pengujian genotipe dilakukan untuk mendapat informasi keragaman genetik.
pengujian dilakukan pada generasi kedua
a. Ikan bersirip, krustasea, dan moluska
1) Ginogenesis/androgenesis uji kromosom/kariotype
2) Poliploidisasi: uji kromosom jumlah set kromosom dan jumlah nukleoli
3) Sex reversal uji fenotipe, genotipe, dan histologi
b. Rumput laut dengan menggunakan sekurang- kurangnya 1 (satu) dari metode:
1) Amplified Fragment Length Heterozigositas
Polimorphism (AFLP) Minimal 10 (sepuluh) sampel dengan jumlah primer paling sedikit 2 (dua) Polimorfisme (%)
2) Random Amplified Polimorphic DNA (RAPD) Minimal 10 (sepuluh) sampel dengan jumlah primer paling sedikit 3 (tiga) Heterozigositas Polimorfisme (%)
3) mt-DNA Minimal 10 (sepuluh) sampel dengan jumlah primer paling sedikit 3 (tiga)
Heterozigositas Polimorfisme (%)
4) mikrosatelit Minimal 10 (sepuluh) sampel dengan jumlah primer paling sedikit 3 (tiga) Heterozigositas Polimorfisme (%)
5) Single Nucleotide Polimorphism (SNP) Minimal 10 (sepuluh) sampel dengan jumlah primer paling sedikit 3 (tiga) Heterozigositas Polimorfisme (%)
c. tanaman air dengan menggunakan sekurang-kurangnya 1 (satu) dari metode:
1) DNA Barcoding dengan menggunakan marka cloroplast Kode/sidik jari DNA
2) Simple Sequence Repeats (SSR)/Mikrosatelit Minimal 10 (sepuluh) sampel dengan jumlah primer paling sedikit 3 (tiga) Heterozigositas Polimorfisme (%)
3) Single Nucleotide Polimorphism (SNP) Heterozigositas Polimorfisme (%)
M MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA,
SAKTI WAHYU TRENGGONO
Minimal 10 (sepuluh) sampel dengan jumlah primer paling sedikit 3 (tiga)
4) Random Amplified Polimorphic DNA (RAPD) Minimal
20 (dau puluh) sampel dengan jumlah primer paling sedikit 3 (tiga) Heterozigositas Polimorfisme (%)
LAMPIRAN II PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN
NOMOR 21 TAHUN 2021 TENTANG JENIS IKAN BARU YANG AKAN DIBUDIDAYAKAN
BENTUK DAN TATA CARA PENYUSUNAN NASKAH AKADEMIK
Setiap penyusunan naskah akademik Jenis Ikan baru yang Akan Dibudidayakan harus memenuhi susunan dan format naskah akademik dalam peraturan ini. Naskah akademik yang tidak memenuhi ketentuan penyusunan dan format, dijadikan pertimbangan untuk alasan penolakan permohonan.
A.
SUSUNAN NASKAH AKADEMIK
KATA PENGANTAR RINGKASAN Berisi tentang uraian ringkas mengenai latar belakang, tujuan kegiatan, metode, hasil, keunggulan, dan aspek manfaat.
DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR
I.
PENDAHULUAN Berisi tentang latar belakang, tujuan, dan sasaran kegiatan.
II.
BAHAN, PELAKSANAAN, DAN METODE
2.1. Bahan atau Material Awal Berisi tentang silsilah induk awal program domestikasi, pemuliaan, dan introduksi serta klasifikasi (taksonomi).
2.2. Pelaksanaan Berisi tentang lokasi dan waktu pelaksanaan kegiatan.
2.3. Metode Berisi tentang protokol pemuliaan yang digunakan untuk Ikan jenis baru hasil pemuliaan.
III.
METODE DAN HASIL PENGUJIAN JENIS IKAN BARU YANG AKAN DIBUDIDAYAKAN Metode pengujian mengikuti ketentuan yang ada pada pedoman tata cara pengujian Jenis Ikan baru yang Akan Dibudidayakan sebagaimana tercantum dalam Lampiran I. Hasil pengujian menggambarkan karakteristik fenotipe dan genotipe Jenis Ikan Baru yang Akan Dibudidayakan.
Karakteristik hasil uji fenotipe meliputi:
1. morfometrik;
2. meristik;
3. warna;
4. pertumbuhan;
5. nilai toleransi lingkungan;
6. kualitas daging;
7. jenis pakan dan kebiasaan makan;
8. reproduksi;
9. ketahanan penyakit; dan
10. produktivitas.
Karakteristik hasil uji genotipe meliputi:
1. keragaman genetik (seleksi konvensional); dan
2. jumlah individu yang membawa marka per generasi (%) (seleksi bantuan marka).
Selain jabaran mengenai karakteristik uji fenotipe dan uji genotipe juga harus ada jabaran mengenai ketersediaan induk penjenis dan/atau induk dasar dan/atau induk pokok untuk perbanyakan lebih lanjut.
IV.
MANFAAT
4.1. Manfaat aspek teknologi Berisi penjelasan tentang kesesuaian, keunggulan, dan manfaat yang ditinjau dari aspek teknologi.
4.2. Manfaat ekonomi Berisi penjelasan manfaat ekonomi bagi masyarakat perikanan, pemerintah daerah, dan/atau negara.
Kemanfaatan ekonomi sedapat mungkin dapat menggambarkan tentang analisis usaha pada berbagai segmen budidaya antara lain pembenihan, pendederan, dan
pembesaran.
4.3. Manfaat sosial Berisi penjelasan tentang manfaat sosial dari Jenis Ikan Baru yang Akan Dibudidayakan.
4.4. Manfaat lingkungan Berisi penjelasan tentang dukungan terhadap perikanan budidaya yang berkelanjutan.
V.
DESKRIPSI RINGKAS Berisi tentang deskripsi ringkas mengenai hasil uji fenotipe dan genotipe yang disajikan dalam bentuk tabel sebagaimana contoh di bawah ini:
DESKRIPSI RINGKAS IKAN … No.
Deskripsi Keterangan/Nilai
1. Informasi Sumber Ikan …
a. Waktu Awal Koleksi Tahun …
b. Daerah Asal Kabupaten/Kota …/ Provinsi …
c. Pelaksana
d. Keunggulan Varietas
2. Taksonomi
a. Famili
b. Genus
c. Spesies
d. Nama Dagang
e. Nama INDONESIA
3. Keunggulan
a. Fenotipe
1) Pertumbuhan bobot Harian pada Pembesaran (%/hari)
2) Pertumbuhan Panjang Harian pada Pembesaran (%/hari)
No.
Deskripsi Keterangan/Nilai
3) Produktivitas
a) Pembenihan
(1) Sintasan (%)
(2) Rentang Panjang (cm)
b) Pendederan
(1) Sintasan (%)
(2) Bobot Akhir (g)
(3) Konversi Pakan
c) Pembesaran
(1) Sintasan (%)
(2) Bobot Akhir (g)
(3) Konversi Pakan
b. Genotipe
Heterosigositas
4. Karakter Reproduksi
a. Umur pertama matang gonad - Jantan - Betina
b. Fekunditas (butir telur/kg induk)
c. Perbandingan jantan dan betina
d. Derajat pembuahan (%)
e. Derajat penetasan (%)
f. Teknis pemijahan
g. Musim pemijahan
h. Diameter telur (mm)
i. Rematurasi induk (bulan) 1) Jantan 2) Betina
5. Status Kesehatan Ikan
a. Bakteri
b. Jamur
c. Parasit
d. Hama
e. Virus
6. Toleransi Terhadap Lingkungan
No.
Deskripsi Keterangan/Nilai
a. Salinitas (g/L)
b. Suhu (oC)
c. Oksigen Terlarut (mg/L)
d. pH
7. Sediaan Induk (ekor) - Jantan - Betina
8. Manfaat
a. Teknologi
b. Sosial
c. Ekonomi
d. Lingkungan
VI.
PENUTUP Berisi tentang kesimpulan yang dapat dijadikan sebagan bahan pertimbangan untuk pelepasan Jenis Ikan Baru yang Akan Dibudidayakan.
DAFTAR PUSTAKA Memuat pustaka yang dikutip dalam penyusunan naskah akademik.
LAMPIRAN Lampiran terdiri dari foto Jenis Ikan Baru yang Akan Dibudidayakan dengan ketentuan:
1. ukuran foto 5R;
2. foto berwarna dengan latar belakang putih;
3. foto induk betina dan jantan untuk usulan pelepasan induk;
dan
4. foto induk betina, induk jantan, dan benih untuk usulan pelepasan benih hibrida; dan
5. Foto krustasea, moluska, tanaman air, dan rumput laut disesuaikan untuk menampilkan kondisi induk/tetua, dan benih/bibit.
B.
FORMAT NASKAH AKADEMIK
Naskah akademik dibuat dengan susunan dan format seragam. Hal ini untuk mempermudah penilaian dan proses administrasi lainnya.
Penyusunan naskah akademik usulan Jenis Ikan baru yang Akan Dibudidayakan harus mengikuti sistematika sebagaimana dimaksud dalam huruf A, serta mengikuti format sebagai berikut:
1. Halaman sampul Halaman sampul memuat logo lembaga dan nama lembaga pengusul, judul, dan tahun.
Judul ditulis dengan huruf kapital tebal, jenis huruf Times New Roman, ukuran 20.
Contoh format sampul:
2. Isi naskah akademik Naskah akademik diketik dengan huruf Times New Roman, ukuran 12, spasi 1,5.
3. Ukuran kertas ukuran kertas yang digunakan A4 80 gram, warna putih, batas kiri 4 cm, kanan 3 cm, atas 3 cm, bawah 3 cm.
4. Nomor halaman ditulis pada sudut kanan bawah.
Contoh format halaman isi naskah akademik:
NASKAH AKADEMIK IKAN ... HASIL …
Logo pengusul
MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
SAKTI WAHYU TRENGGONO
3 cm
4 cm 3 cm
...........................................
...........................................
...........................................
...........................................
...........................................
...........................................
...........................
...........................................
...........................................
...........................................
...........................................
...........................................
...........................................
Nomor halaman A4 80 gram
LAMPIRAN III PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN
NOMOR 21 TAHUN 2021 TENTANG JENIS IKAN BARU YANG AKAN DIBUDIDAYAKAN
MONITORING DAN EVALUASI
Setiap jenis Ikan baru yang telah dilepaskan harus dilakukan monitoring dan evaluasi. Monitoring dan evaluasi ini bertujuan untuk memastikan bahwa setiap jenis Ikan baru yang telah dilepaskan memiliki kualitas dan keunggulan seperti tertuang dalam deskripsi Jenis Ikan Baru yang Akan Dibudidayakan.
A.
TATA CARA MONITORING DAN EVALUASI KONSISTENSI DESKRIPSI
Tata cara monitoring konsistensi deskripsi terhadap jenis Ikan yang telah dilepas dilakukan oleh tim monitoring dan evaluasi, adapun data dan informasi yang akan dihimpun meliputi:
1) keunggulan fenotipe dan genotipe;
2) karakter reproduksi;
3) status kesehatan Ikan; dan 4) toleransi terhadap lingkungan.
Monitoring sebagaimana dimaksud di atas, dilakukan sesuai dengan formulir 1.
Formulir 1 Monitoring Konsistensi Fenotipe dan/atau Genotipe Domestikasi/Seleksi/Hibridisasi/Introduksi/Hasil Pemuliaan Lainnya*
Nama UPT/UPTD/UNIT PEMBENIHAN : ........................................
Ketua/Penanggung Jawab/Pemilik : ........................................
Alamat : ........................................
No. Telp/Faks/Email : ........................................
Jenis dan/atau varietas Ikan : ........................................
Nama Petugas Monitoring : ............... paraf ...............
............... paraf ...............
Waktu Pelaksanaan Monitoring : ........................................
No Deskripsi Keterangan 1 Pertumbuhan (Sesuai/Tidak) 2 Karakter Reproduksi:
a. Fekunditas (Sesuai/Tidak)
b. HR (Sesuai/Tidak)
c. Umur matang gonad pertama (Sesuai/Tidak) 3 SR (Sesuai/Tidak) 4 Ketahanan Penyakit/SPF (Sesuai/Tidak) 5 Toleransi terhadap perubahan lingkungan (Sesuai/Tidak) 6 Rasio Kelamin (khusus hasil pemuliaan lainnya) (Sesuai/Tidak) 7 Persentase individu pembawa marka (khusus seleksi berbasis marka) (%)
B.
TATA CARA MONITORING DAN EVALUASI KETERSEDIAAN
Tata cara monitoring ketersediaan jenis Ikan yang telah dilepas dilakukan oleh tim monitoring dan evaluasi, data, dan informasi yang akan dihimpun meliputi:
1) informasi unit pemulia/unit produksi/unit pengguna;
2) ketersediaan induk, calon induk;
3) ketersediaan sarana/prasarana; dan 4) ketersediaan protokol perbanyakan induk/calon induk.
Monitoring sebagaimana dimaksud di atas, dilakukan sesuai dengan formulir 2
Formulir 2 Monitoring Ketersediaan Domestikasi/Seleksi/Hibridisasi/Introduksi/Hasil Pemuliaan Lainnya*
Nama UPT/UPTD/UNIT PEMBENIHAN : ........................................
Ketua/Penanggung Jawab/Pemilik : ........................................
Alamat : ........................................
No. Telp/Faks/Email : ........................................
Jenis dan/atau varietas Ikan : ........................................
Nama Petugas Monitoring : ............... paraf ...............
............... paraf ...............
Waktu Pelaksanaan Monitoring : ........................................
Tabel A. Monitoring Jumlah Jenis/Varietas, Sarana dan Protokol
1. Tabel Seleksi*) No.
Uraian Keterangan A Induk/Calon Induk
1 Induk GGPS Jantan (jumlah/bobot) Betina (jumlah/bobot) Sesuai/Tidak 2 Induk GPS Jantan (jumlah/bobot) Betina (jumlah/bobot) Sesuai/Tidak 3 Induk PS Jantan (jumlah/bobot) Betina (jumlah/bobot) Sesuai/Tidak B Sarana Prasarana
1 Kolam Sesuai/Tidak 2 Unit pembenihan/ panti benih Sesuai/Tidak C Protokol
1 Ketersediaan Ada/Tidak
Pelaksanaan Sesuai/Tidak *) Pilih salah satu sesuai dengan kondisi saat monitoring dan evaluasi
2. Tabel Hibridisasi*) No.
Uraian Keterangan A Induk/ Calon Induk
1 Induk Jantan (varietas/jumlah-bobot) Betina (varietas/jumlah-bobot) Sesuai/Tidak 2 Benih Jumlah(ekor)-Ukuran (cm) Sesuai/Tidak B Sarana Prasarana
1 Kolam Sesuai/Tidak 2 Unit pembenihan/panti benih Sesuai/Tidak C Protokol
1 Ketersediaan Ada/Tidak 2 Pelaksanaan Sesuai/Tidak *) Pilih salah satu sesuai dengan kondisi saat monitoring dan evaluasi
3. Tabel Introduksi*) No.
Uraian Keterangan A Induk/Calon Induk
Induk PS Jantan (jumlah/bobot) Betina (jumlah/bobot) Sesuai/Tidak B Sarana Prasarana
1 Kolam Sesuai/Tidak
2 Unit Pembenihan/panti benih Sesuai/Tidak C Protokol
1 Ketersediaan Ada/Tidak
2 Pelaksanaan Sesuai/Tidak *) Pilih salah satu sesuai dengan kondisi saat monitoring dan evaluasi
4. Tabel Hasil Pemuliaan Lainnya*) No.
Uraian Keterangan A Induk/Calon Induk
1 Induk Jantan (jumlah/bobot) Betina (jumlah/bobot)
2 Benih Jumlah-Ukuran
B Sarana Prasarana
1 Kolam Sesuai/Tidak 2 unit pembenihan/panti benih Sesuai/Tidak C Protokol
1 Ketersediaan Ada/Tidak 2 Pelaksanaan Sesuai/Tidak *) Pilih salah satu sesuai dengan kondisi saat monitoring dan evaluasi Tabel B. Pengelolaan Jenis Ikan yang mendapat keputusan pelepasan No.
Perkembangan*) Keterangan 1 Unit Pemulia
a) Masih dikelola dan diproduksi ( )
b) Masih dikelola dan tidak diproduksi ( )
c) Tidak dikelola dan tidak diproduksi ( ) 2 Unit Produksi Induk
a) Masih diproduksi ( )
b) Tidak diproduksi ( )
3 Unit Pengguna
a. Masih digunakan ( )
b. Tidak berkembang ( )
c. Tidak beredar ( )
4 Unit Produksi Budidaya
a. Masih digunakan ( )
b. Tidak digunakan ( )
*) Pilih salah satu sesuai dengan kondisi saat monitoring dan evaluasi
C.
TATA CARA MONITORING DISTRIBUSI
Tata cara monitoring distribusi terhadap jenis Ikan yang telah dilepas dilakukan oleh tim monitoring dan evaluasi, data, dan informasi yang akan dihimpun meliputi:
1. data sebaran induk/calin dari unit pemulia/unit produksi; dan
2. informasi dan rekapitulasi surat keterangan asal (SKA).
Monitoring sebagaimana dimaksud di atas, dilakukan sesuai dengan formulir 3
Formulir 3 Monitoring Distribusi Domestikasi/Introduksi/Pemuliaan*
Nama UPT/UPTD/UNIT PEMBENIHAN : ........................................
Ketua/Penanggung Jawab/Pemilik : ........................................
Alamat : ........................................
No. Telp/Faks/Email : ........................................
Jenis dan/atau varietas Ikan : ........................................
Nama Petugas Monitoring : ............... paraf ...............
............... paraf ...............
Waktu Pelaksanaan Monitoring : ........................................
No Penerima Jenis (GGPS/GPS/PS/Benih) Wilayah Jumlah Ukuran Waktu Distribusi
D.
TATA CARA REKAPITULASI HASIL MONITORING DISTRIBUSI
Tata cara rekapitulasi hasil monitoring distribusi terhadap jenis Ikan yang telah dilepas dilakukan oleh tim monitoring dan evaluasi, data dan informasi yang akan dihimpun meliputi :
1. data ketersediaan komoditas, sarana, dan protokol;
2. data distribusi komoditas; dan
3. data konsistensi deskripsi jenis Ikan.
Monitoring sebagaimana dimaksud diatas, dilakukan sesuai dengan formulir 4
Formulir 4 Rekapitulasi Hasil Monitoring Distribusi
Nama UPT/UPTD/UNIT PEMBENIHAN : ........................................
Ketua/Penanggung Jawab/Pemilik : ........................................
Alamat : ........................................
No. Telp/Faks/Email : ........................................
Jenis dan/atau varietas Ikan : ........................................
Nama Petugas Monitoring : ............... paraf ...............
............... paraf ...............
Waktu Pelaksanaan Monitoring : ........................................
No Kriteria Nilai* Bobot (%) Nilai x Bobot 1 Ketersediaan
40
2 Distribusi
30
*Keterangan:
Nilai skoring 1,2,3,4,5 a) Nilai 1 diberikan jika:
1. ketersediaan komoditas sudah tidak ada, sarana tidak sesuai, protokol tidak sesuai;
2. distribusi komoditas tidak dilakukan; dan
3. konsistensi deskripsi tidak sesuai b) Nilai 2 diberikan jika:
1. ketersediaan komoditas ada (jantan/betina), sarana tidak sesuai, protokol tidak sesuai;
2. distribusi komoditas tidak dilakukan; dan
3. konsistensi deskripsi masih sesuai.
c) Nilai 3 diberikan jika:
1. ketersediaan komoditas ada (jantan/betina), sarana tidak sesuai, protokol tidak sesuai;
2. distribusi komoditas masih dilakukan; dan
3. konsistensi deskripsi masih sesuai d) Nilai 4 diberikan jika:
1. ketersediaan komoditas tersedia (jantan/betina), sarana sesuai, protokol tidak sesuai;
2. distribusi komoditas masih dilakukan; dan
3. konsistensi deskripsi masih sesuai.
e) Nilai 5 diberikan jika:
1. ketersediaan komoditas tersedia (jantan/betina), sarana sesuai, protokol sesuai;
2. distribusi komoditas masih dilakukan; dan
3. konsistensi Deskripsi masih sesuai.
Nilai kurang dari 200, diusulkan untuk ditarik dari peredaran
3 Konsistensi Deskripsi
30
TOTAL
E.
TATA CARA BERITA ACARA MONITORING DAN EVALUASI
Setelah melakukan monitoring dan evaluasi terhadap jenis Ikan yang telah dilepas, tim monitoring dan evaluasi membuat Berita Acara Monitoring sesuai dengan formulir 5. dan Berita Acara Evaluasi Pasca Pelepasan sesuai dengan formulir 6.
Formulir 5 Berita Acara Monitoring dan Evaluasi Komoditas Unggul Pasca Pelepasan
Berdasarkan Surat Perintah Tugas dari ... :
Nomor
: .....................................................................
Tanggal : ......................................................................
Waktu pelaksanaan : ............................................................... ......
Dengan ini telah melaksanakan tugas monitoring komoditas unggul pasca pelepasan pada:
Unit
: ......................................................................
Alamat : ......................................................................
Nomor HP : ......................................................................
Telepon/Fax : ......................................................................
E mail
: ......................................................................
Dengan hasil monitoring sesuai formulir 1, formulir 2, formulir 3, dan formulir 4.
............, .... ............ 20..
Tim Monitoring dan Evaluasi
1. __________________________ :
........................
2. __________________________ :
.........................
Formulir 6 BERITA ACARA EVALUASI PASCA PELEPASAN IKAN ...................................
Pada hari ini ..., tanggal ..., bulan ..., tahun ..., bertempat di ..., Tim Monitoring dan Evaluasi, setelah:
1. melaksanakan monitoring jenis dan/atau varietas ikan yang telah dilepas;
2. menelaah hasil monitoring untuk mendapatkan hasil penilaian sebagai bahan evaluasi dari formulir 1, formulir 2, formulir 3, dan formulir 4;
3. Mendengarkan arahan Direktur ..., Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya;
MEMUTUSKAN
Ikan ... dengan unit pemulia ... dinyatakan LAYAK/TIDAK LAYAK edar, sehingga direkomendasikan untuk TIDAK DITARIK/DITARIK dari peredaran.
Demikian hasil rapat tim monitoring dan evaluasi Ikan ini untuk dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam memberikan rekomendasi kepada Direktur Jenderal Perikanan Budidaya.
Tim Monitoring dan Evaluasi
1. __________________________ :
.........................
2. __________________________ :
.........................
MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
SAKTI WAHYU TRENGGONO