Koreksi Pasal 22
PERDA Nomor 2 Tahun 2023 | Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2023 tentang Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Bali Tahun 2023-2043
Teks Saat Ini
(1) Sistem jaringan transportasi laut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (1) huruf d, mencakup:
a. pelabuhan laut; dan
b. alur-pelayaran di laut.
(2) Pelabuhan laut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, meliputi:
a. pelabuhan utama;
b. pelabuhan pengumpul;
c. pelabuhan pengumpan;
d. Terminal Khusus; dan
e. pelabuhan perikanan.
(3) Pelabuhan utama sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a, mencakup Pelabuhan Benoa, di Kota Denpasar.
(4) Pelabuhan pengumpul sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b, mencakup:
a. Pelabuhan Celukan Bawang di Kabupaten Buleleng; dan
b. Pelabuhan Labuhan Amuk/Tanah Ampo di Kabupaten Karangasem.
(5) Pelabuhan pengumpan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c, mencakup:
a. pelabuhan pengumpan regional; dan
b. pelabuhan pengumpan lokal.
(6) Pelabuhan pengumpan regional sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf a, mencakup:
a. Pelabuhan Gilimanuk di Kabupaten Jembrana;
b. Pelabuhan Nusa Penida (Toyapakeh) di Kabupaten Klungkung; dan
c. Pelabuhan Sangsit di Kabupaten Buleleng.
(7) Pelabuhan pengumpan lokal sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf b, mencakup:
a. Pelabuhan Pengambengan di Kabupaten Jembrana;
b. Pelabuhan Kedonganan di Kabupaten Badung;
c. Pelabuhan Tanjung Benoa di Kabupaten Badung;
d. Pelabuhan Sanur di Kota Denpasar;
e. Pelabuhan Serangan di Kota Denpasar;
f. Pelabuhan Bias Munjul/Ceningan di Kabupaten Klungkung;
g. Pelabuhan Buyuk di Kabupaten Klungkung;
h. Pelabuhan Kusamba di Kabupaten Klungkung;
i. Pelabuhan Sampalan di Kabupaten Klungkung;
j. Pelabuhan Klungkung di Kabupaten Klungkung;
k. Pelabuhan Kubu di Kabupaten Karangasem;
l. Pelabuhan Labuhan Amed di Kabupaten Karangasem;
m. Pelabuhan Manggis di Kabupaten Karangasem;
n. Pelabuhan Padangbai di Kabupaten Karangasem;
o. Pelabuhan Banyu Wedang di Kabupaten Buleleng;
p. Pelabuhan Brombong di Kabupaten Buleleng;
q. Pelabuhan Labuhan Lalang di Kabupaten Buleleng;
r. Pelabuhan Lovina di Kabupaten Buleleng;
s. Pelabuhan Pegametan di Kabupaten Buleleng;
t. Pelabuhan Pemaron di Kabupaten Buleleng;
u. Pelabuhan Penuktukan di Kabupaten Buleleng; dan
v. Pelabuhan Buleleng di Kabupaten Buleleng.
(8) Terminal Khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf d, terdapat di Kota Denpasar, Kabupaten Klungkung, Kabupaten Buleleng, Kabupaten Jembrana, Kabupaten Karangasem dan Perairan Pesisir Provinsi.
(9) Pelabuhan perikanan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf e, meliputi:
a. PPN Pengambengan di Kabupaten Jembrana;
b. PPI Kedonganan di Kabupaten Badung;
c. PPI Sangsit di Kabupaten Buleleng;
d. PPI Air Kuning di Kabupaten Jembrana;
e. PPI Yeh Sumbul di Kabupaten Jembrana;
f. PPI Tanjung Benoa di Kabupaten Badung;
g. PPI Serangan di Kota Denpasar;
h. PPI Kusamba di Kabupaten Klungkung;
i. PPI Batununggul di Kabupaten Klungkung; dan
j. PPI Amed di Kabupaten Karangasem.
(10) Penambahan, peningkatan dan penetapan pelabuhan laut sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(11) Alur-pelayaran di laut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi:
a. alur-pelayaran umum dan perlintasan; dan
b. alur-pelayaran masuk Pelabuhan.
(12) Alur-pelayaran umum dan perlintasan sebagaimana dimaksud pada ayat (11) huruf a adalah bagian dari perairan yang dapat dilayani sesuai dimensi/spesifikasi kapal di laut, dimana terdapat satu atau lebih jalur lalu lintas yang saling berpotongan di satu atau lebih jalur utama lainnya pada perairan Wilayah Provinsi.
(13) Alur-pelayaran umum dan perlintasan sebagaimana dimaksud pada ayat (11) huruf a dilengkapi dengan Alur Laut Kepulauan INDONESIA (ALKI) II dan bagan pemisah lalu lintas atau traffic separation scheme di Selat Lombok.
(14) Alur-pelayaran masuk pelabuhan sebagaimana dimaksud pada ayat (11) huruf b adalah alur pelayaran mulai dari lokasi yang ditetapkan sebagai awal alur pelayaran sampai dengan lokasi kolam putar pelabuhan pada perairan Wilayah Provinsi.
(15) Alur-pelayaran di laut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan di bidang pelayaran.
Koreksi Anda
