SUSUNAN KEANGGOTAAN DAN STRUKTUR ORGANISASI
Jumlah anggota BWI terdiri atas paling sedikit 20 (dua puluh) orang dan paling banyak 30 (tiga puluh) orang yang berasal dari unsur masyarakat.
Untuk dapat diangkat menjadi anggota BWI, setiap calon anggota harus memenuhi persyaratan:
a. warga negara INDONESIA;
b. beragama Islam;
c. dewasa;
d. amanah;
e. mampu secara jasmani dan rohani;
f. tidak terhalang melakukan perbuatan hukum;
g. memiliki pengetahuan, kemampuan, dan/atau pengalaman di bidang perwakafan dan/atau ekonomi, khusunya di bidang ekonomi syariah; dan
h. mempunyai komitmen yang tinggi untuk mengembangkan perwakafan nasional.
(1) Pengurus BWI terdiri atas:
a. Dewan Pertimbangan; dan
b. Badan Pelaksana.
(2) Dewan Pertimbangan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) huruf a terdiri atas:
a. Ketua;
b. Wakil Ketua I;
c. Wakil Ketua II; dan
d. 2 (dua) orang Anggota.
(3) Badan Pelaksana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b terdiri atas:
a. Pimpinan Harian, terdiri atas:
1. Ketua;
2. Wakil Ketua I;
3. Wakil Ketua II;
4. Sekretaris;
5. Wakil Sekretaris;
6. Bendahara; dan
7. Wakil Bendahara;
b. Pusat Kajian dan Transformasi Digital;
c. Divisi Pembinaan Nazhir dan Pengelolaan Wakaf;
d. Divisi Pengawasan dan Tata Kelola;
e. Divisi Pendataan, Sertifikasi dan Ruislagh;
f. Divisi Hubungan Masyarakat, Sosialisasi, dan Literasi Wakaf;
g. Divisi Kerja Sama, Kelembagaan, dan Advokasi; dan
h. Dewan Pertimbangan Syariah.
(4) Pusat Kajian dan Transformasi Digital sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b bertanggung jawab kepada Ketua Badan Pelaksana.
(5) Divisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf c sampai dengan huruf g bertanggung jawab kepada ketua melalui wakil ketua yang membidangi.
(6) Ketua Badan Pelaksana dapat membentuk lembaga baru, mengubah struktur organisasi Badan Pelaksana, dan/atau nomenklatur divisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) sesuai kebutuhan yang mendukung fungsi BWI, selama tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.
(7) Kepengurusan Dewan Pertimbangan dan Badan Pelaksana tidak dapat dirangkap anggota BWI.
(8) Kepengurusan BWI ditetapkan dengan Keputusan Ketua Badan Pelaksana BWI.
Dewan Pertimbangan merupakan unsur pengawas pelaksanaan tugas BWI.
Dewan Pertimbangan mempunyai tugas dan fungsi:
a. melakukan pengawasan atas pelaksanaan tugas Badan Pelaksana;
b. memberi pendapat, pertimbangan, dan nasihat, serta bimbingan kepada Badan Pelaksana untuk
melaksanakan tugas organisasi secara konsultatif baik lisan maupun tertulis;
c. merumuskan kebijakan nasional dan kebijaksanaan umum pengembangan wakaf di INDONESIA; dan
d. melaksanakan tugas dan fungsi secara kolektif kolegial.
(1) Badan Pelaksana merupakan unsur pelaksana tugas BWI.
(2) Badan Pelaksana dipimpin oleh 1 (satu) orang Ketua dan 2 (dua) orang Wakil Ketua.
(3) Susunan kepengurusan Badan Pelaksana BWI terdiri atas;
a. Ketua;
b. 2 (dua) orang Wakil Ketua;
c. Sekretaris dan Wakil Sekretaris;
d. Bendahara dan Wakil Bendahara; dan
e. divisi berdasarkan pertimbangan kebutuhan.
Ketua Badan Pelaksana mempunyai tugas dan fungsi:
a. memimpin BWI sesuai dengan ketentuan perundang- undangan;
b. menyiapkan kebijakan nasional dan kebijakan umum yang berhubungan dengan pengembangan wakaf di INDONESIA;
c. MENETAPKAN kebijakan teknis pelaksanaan tugas yang menjadi tanggung jawabnya;
d. membina dan melaksanakan kerja sama dengan instansi dan organisasi lain;
e. menandatangani keputusan, nota kesepakatan, dan naskah dinas penting lainnya;
f. merealisasikan program organisasi;
g. MENETAPKAN kebijakan keuangan organisasi bersama sekretaris dan bendahara;
h. mengangkat dan memberhentikan perangkat organisasi melalui keputusan rapat pleno gabungan;
i. mendelegasikan tugasnya kepada wakil ketua yang sesuai dengan bidangnya, jika berhalangan; dan
j. mengangkat dan memberhentikan pimpinan BWI provinsi dan kabupaten/kota.
(1) Wakil Ketua mempunyai tugas dan fungsi:
a. membantu Ketua menjalankan tugas dan fungsinya;
b. mewakili tugas dan kedudukan Ketua, jika Ketua berhalangan;
c. mengoordinir Divisi yang ditentukan oleh Ketua;
d. merumuskan kebijakan organisasi yang berada di bawah koordinasinya;
e. melaksanakan tugas lain yang diberikan Ketua; dan
f. menandatangani surat keluar dan kedalam yang berkenaan dengan bidangnya.
(2) Dalam melaksanakan tugas dan fungsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Wakil Ketua bertanggung jawab kepada Ketua Badan Pelaksana.
(1) Sekretaris mempunyai tugas dan fungsi:
a. membantu Ketua dan Wakil Ketua MENETAPKAN kebijakan organisasi;
b. bertanggung jawab terhadap seluruh operasional administrasi dan fasilitas organisasi;
c. melakukan telaah usulan program setiap divisi/kesekretariatan dan memberikan rekomendasi kepada Ketua untuk persetujuan program divisi/kesekretariatan;
d. bersama Ketua atau Wakil Ketua memimpin rapat pleno gabungan dan rapat lainnya;
e. memimpin rapat sekretariat;
f. memberi paraf pada keputusan, nota kesepakatan, dan naskah dinas yang ditandatangani oleh Ketua/Wakil Ketua;
g. menandatangani surat keluar sesuai kewenangan yang diberikan Ketua Badan Pelaksana; dan
h. menyiapkan laporan tahunan dan laporan akhir periode.
(2) Sekretaris bertanggung jawab terhadap seluruh operasional administrasi dan fasilitas organisasi.
(3) Dalam melaksanakan tugas dan fungsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Sekretaris bertanggung jawab kepada Ketua.
(1) Wakil Sekretaris mempunyai tugas dan fungsi:
a. membantu Sekretaris;
b. mewakili tugas dan kedudukan Sekretaris, jika Sekretaris berhalangan;
c. memberi paraf pada surat yang akan ditandatangani oleh Ketua, jika Sekretaris berhalangan; dan
d. melaksanakan tugas lain yang diberikan Sekretaris.
(2) Dalam melaksanakan tugas dan fungsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Wakil Sekertaris bertanggung jawab kepada Sekretaris.
(1) Bendahara mempunyai tugas dan fungsi:
a. membantu Ketua memimpin administrasi keuangan;
b. bersama Ketua dan Sekretaris menentukan dan memegang kebijakan umum mengenai penggalian dana dan pengalokasiannya;
c. menyusun rencana anggaran operasional (penerimaan dan pengeluaran) organisasi bersama Badan Pelaksana;
d. melakukan verifikasi anggaran biaya/kebutuhan setiap divisi dan kesekretariatan serta memberikan rekomendasi kepada Ketua untuk persetujuan anggaran dan biaya/kebutuhan divisi/ kesekretariatan;
e. melakukan verifikasi kebenaran formal dan materil realisasi anggaran biaya/kebutuhan divisi/kesekretariatan;
f. mengajukan penggunaan konsultan untuk membantu penyusunan sistem akuntansi dan manajemen audit keuangan BWI setiap tahun;
g. melakukan pengawasan keuangan atas pengembangan investasi/bisnis lainnya yang dilakukan oleh pihak terkait; dan
h. membuat laporan kegiatan secara berkala sesuai dengan ketentuan yang ditujukan kepada Ketua Badan Pelaksana dengan tembusan kepada Dewan Pertimbangan.
(2) Dalam melaksanakan tugas dan fungsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Bendahara bertanggung jawab kepada Ketua.
(1) Wakil Bendahara mempunyai tugas dan fungsi:
a. membantu Bendahara dalam melaksanakan tugas berdasarkan peraturan perundang-undangan;
b. mewakili tugas dan kedudukan Bendahara, jika Bendahara berhalangan;
c. melakukan pengawasan keadaan keuangan BWI provinsi dan/atau BWI kabupaten/kota; dan
d. membuat laporan kegiatan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2) Dalam melaksanakan tugas dan fungsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Wakil Bendahara bertanggung jawab kepada Bendahara.
Divisi Pemberdayaan Nazhir dan Pengelolaan Wakaf mempunyai tugas dan fungsi:
a. melaksanakan tugas BWI yang diberikan oleh Badan Pelaksana;
b. menyusun pedoman pengelolaan harta benda wakaf;
c. melakukan pengelolaan dan pengembangan harta benda wakaf berskala nasional dan internasional sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
d. memberikan pelatihan kepada nazhir mengenai pelaksanaan tugas-tugasnya;
e. menerima laporan hasil pengelolaan dan pengembangan harta benda wakaf oleh nazhir;
f. mengkaji permohonan penggantian dan pendaftaran nazhir;
g. menyusun aturan pendelegasian wewenang kepada BWI provinsi dan/atau BWI kabupaten/kota terkait dengan pembinaan nazhir; dan
h. membuat laporan kegiatan secara berkala sesuai dengan ketentuan yang ditujukan kepada Ketua Badan Pelaksana dengan tembusan kepada Dewan Pertimbangan.
Divisi Pengawasan dan Tata Kelola mempunyai tugas dan fungsi:
a. melaksanakan tugas yang diberikan oleh Badan Pelaksana;
b. menyusun dan mengembangkan kebijakan dan pedoman pengawasan atas pengelolaan wakaf uang oleh nazhir dan memutakhirkannya sesuai dengan perubahan lingkungan;
c. melakukan pengawasan atas pengelolaan wakaf uang oleh nazhir;
d. mengembangkan infrastruktur tata kelola wakaf yang baik;
e. mengevaluasi pelaksanaan tata kelola wakaf yang baik;
dan
f. membuat laporan kegiatan secara berkala sesuai dengan ketentuan yang ditujukan kepada Ketua Badan Pelaksana dengan tembusan kepada Dewan Pertimbangan.
Divisi Hubungan Masyarakat, Sosialisasi, dan Literasi mempunyai tugas dan fungsi:
a. melaksanakan tugas yang diberikan oleh Badan Pelaksana;
b. melaksanakan sosialisasi, penyuluhan, publikasi, dan komunikasi kepada masyarakat mengenai pengelolaan, pengembangan, dan pemberdayaan harta benda wakaf;
c. mempublikasikan harta benda wakaf dan hasil manfaat pengelolaannya kepada masyarakat; dan
d. membuat laporan kegiatan secara berkala sesuai dengan ketentuan yang ditujukan kepada Ketua Badan Pelaksana dengan tembusan kepada Dewan Pertimbangan.
Divisi Kerja Sama, Kelembagaan, dan Advokasi mempunyai tugas dan fungsi:
a. melaksanakan tugas yang diberikan oleh Badan Pelaksana;
b. memperkuat jaringan kerja sama dengan instansi pemerintah;
c. mengembangkan jaringan dan kerja sama dengan lembaga wakaf nasional dan internasional;
d. melakukan telaah dan memperoses usulan pembentukan BWI provinsi dan/atau BWI kabupaten/kota;
e. membuat kajian aspek kelembagaan dalam masalah perwakafan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
f. menyusun draf rancangan peraturan BWI dan draf rancangan peraturan Ketua BWI terkait lingkup tugas Divisi;
g. melakukan telaah hukum dan reviu atas dokumen kerja sama dengan pihak lain;
h. memberikan pendapat hukum terkait perwakafan;
i. memberikan konsultasi dan bantuan hukum terhadap masalah perwakafan baik di dalam maupun di luar pengadilan; dan
j. membuat laporan kegiatan secara berkala sesuai dengan ketentuan yang ditujukan kepada Ketua Badan Pelaksana dengan tembusan kepada Dewan Pertimbangan.
Divisi Pendataan, Sertifikasi, dan Ruislagh:
a. melaksanakan tugas yang diberikan oleh Badan Pelaksana;
b. melakukan inventarisasi data harta benda wakaf;
c. mengkaji dan menganalisa terhadap permohonan perubahan peruntukan dan status harta benda wakaf;
d. mengkaji, menelaah, dan memproses rekomendasi ruislagh sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan;
e. mengoordinasikan pensertipikatan dan pengamanan harta benda wakaf dengan instansi terkait; dan
f. membuat laporan kegiatan secara berkala sesuai dengan ketentuan yang ditujukan kepada Ketua Badan Pelaksana dengan tembusan kepada Dewan Pertimbangan.
Pusat Kajian dan Transformasi Digital mempunyai tugas dan fungsi:
a. melaksanakan tugas yang diberikan oleh Badan Pelaksana;
b. mengembangkan transformasi digital menuju wakaf life style;
c. mengembangkan kajian wakaf melalui pusat antaruniversitas;
d. mengembangkan publikasi jurnal dalam rangka literasi wakaf; dan
e. membuat laporan kegiatan secara berkala sesuai dengan ketentuan yang ditujukan kepada Ketua Badan Pelaksana dengan tembusan kepada Dewan Pertimbangan.
(1) Kepengurusan BWI, BWI provinsi, dan/atau BWI kabupaten/kota diangkat untuk masa jabatan selama 3 (tiga) tahun dan dapat diangkat kembali untuk 1 (satu) kali masa jabatan.
(2) 6 (enam) bulan sebelum masa jabatan kepengurusan berakhir, pengurus BWI, BWI provinsi, dan/atau BWI kabupaten/kota wajib mengusulkan kepengurusan baru.
(3) Apabila masa jabatan pengurus BWI, BWI provinsi, dan/atau BWI kabupaten/kota berakhir dan belum terbentuk kepengurusan baru, kepengurusan lama tetap menjalankan tugas selama 6 (enam) bulan sampai dengan terbentuknya kepengurusan baru.
(1) Pengurus BWI berkewajiban:
a. setia, taat dan, tunduk pada ketentuan peraturan perundang-undangan;
b. melaksanakan kebijakan BWI dengan penuh tanggung jawab; dan
c. menghadiri rapat Badan Wakaf INDONESIA.
(2) Pengurus BWI berhak:
a. mengemukakan pendapat dan memberikan suara;
b. mengikuti kegiatan yang diselenggarakan oleh BWI;
dan
c. mendapatkan remunerasi.