TAHAPAN PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
Pembentukan Peraturan Perundang-undangan dilaksanakan melalui tahapan:
a. perencanaan;
b. penyusunan;
c. pembahasan;
d. pengesahan atau penetapan; dan
e. pengundangan.
(1) Pembentukan Peraturan Perundang-undangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dilaksanakan dengan mengikutsertakan Perancang di Badan.
(2) Dalam hal tidak ada Perancang sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Pembentukan Peraturan Perundang- undangan harus mengikutsertakan Perancang dari instansi lain.
Perencanaan Pembentukan Peraturan Perundang- undangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 disusun berdasarkan:
a. Perintah UNDANG-UNDANG Dasar Negara Republik INDONESIA Tahun 1945;
b. Perintah Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat;
c. Perintah UNDANG-UNDANG lainnya;
d. Sistem perencanaan pembangunan nasional;
e. Rencana pembangunan jangka panjang nasional;
f. Rencana strategis Badan;
g. Rencana kerja pemerintah; dan
h. Analisis kebutuhan masyarakat.
(1) Perencanaan Pembentukan Peraturan Perundang- undangan dilaksanakan dalam suatu program Pembentukan Peraturan Perundang-undangan.
(2) Program Pembentukan Peraturan Perundang-undangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dituangkan dalam bentuk surat keputusan yang ditetapkan oleh:
a. Deputi Bidang Pengkajian Keselamatan Nuklir untuk UNDANG-UNDANG, PERATURAN PEMERINTAH, Peraturan PRESIDEN, dan Peraturan Badan di bidang ketenaganukliran; dan
b. Sekretaris Utama untuk Peraturan Badan di bidang kelembagaan.
(3) Format surat keputusan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tercantum dalam Lampiran II yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Badan ini.
(1) Program Pembentukan Peraturan Perundang-undangan diusulkan oleh pemrakarsa.
(2) Pemrakarsa sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) meliputi:
a. Unit kerja pengaturan sebagai pemrakarsa UNDANG-UNDANG, PERATURAN PEMERINTAH, Peraturan PRESIDEN, dan/atau Peraturan Badan di bidang ketenaganukliran; dan
b. Biro sebagai pemrakarsa Peraturan Badan di bidang kelembagaan.
(1) Pemrakarsa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat
(2) mengajukan usulan program Pembentukan Peraturan Perundang-undangan kepada:
a. Deputi Bidang Pengkajian Keselamatan Nuklir untuk UNDANG-UNDANG, PERATURAN PEMERINTAH, Peraturan PRESIDEN, dan Peraturan Badan di bidang ketenaganukliran; dan
b. Sekretaris Utama untuk Peraturan Badan di bidang kelembagaan.
(2) Pengajuan usulan program Pembentukan Peraturan Perundang-undangan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) disertai dengan konsepsi yang meliputi:
a. urgensi dan tujuan penyusunan;
b. sasaran yang ingin diwujudkan;
c. pokok pikiran, lingkup, objek yang akan diatur; dan
d. jangkauan dan arah pengaturan.
(3) Usulan program Pembentukan Peraturan Perundang- undangan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dituangkan dalam bentuk:
a. Naskah akademik bagi rancangan UNDANG-UNDANG;
atau
b. Naskah urgensi bagi rancangan PERATURAN PEMERINTAH, rancangan Peraturan PRESIDEN, dan rancangan Peraturan Badan.
(4) Format naskah akademik dan naskah urgensi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tercantum dalam Lampiran I yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Badan ini.
(1) Naskah akademik atau naskah urgensi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (3) huruf a dan huruf b disusun oleh pemrakarsa dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) tahun.
(2) Penyusunan materi teknis naskah akademik atau naskah urgensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat didasarkan atas hasil kajian dari unit kerja pengkajian atau pihak lain.
(3) Pihak lain sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat berasal dari unit kerja lain, akademisi, asosiasi profesi, dan kementerian/lembaga terkait.
(1) Pemrakarsa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat
(2) huruf a menyampaikan paparan mengenai urgensi pembentukan UNDANG-UNDANG, PERATURAN PEMERINTAH, dan Peraturan PRESIDEN dalam forum rapat pimpinan.
(2) Penyampaian paparan usulan pembentukan UNDANG-UNDANG, PERATURAN PEMERINTAH, dan Peraturan PRESIDEN sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan untuk mendapatkan arahan dari Kepala Badan.
(1) Dalam keadaan tertentu, pemrakarsa dapat melakukan Pembentukan Peraturan Perundang-undangan di luar program Pembentukan Peraturan Perundang-undangan berdasarkan izin prakarsa dari Kepala Badan.
(2) Keadaan tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a. perintah Peraturan Perundang-undangan; atau
b. kebutuhan organisasi.
(1) Penyusunan rancangan UNDANG-UNDANG, rancangan PERATURAN PEMERINTAH, rancangan Peraturan PRESIDEN, dan rancangan Peraturan Badan di bidang ketenaganukliran dilakukan oleh unit kerja pengaturan.
(2) Penyusunan, pembahasan, dan harmonisasi rancangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) tahun.
(1) Dalam penyusunan rancangan UNDANG-UNDANG, rancangan PERATURAN PEMERINTAH, dan rancangan Peraturan PRESIDEN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13, unit kerja pengaturan membentuk panitia antarkementerian dan/atau nonkementerian.
(2) Panitia antarkementerian dan/atau nonkementerian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas unsur unit kerja pengaturan, unit eselon I dan eselon II terkait, Biro, perwakilan kementerian/lembaga, dan Perancang.
(1) Dalam penyusunan rancangan Peraturan Badan di bidang ketenaganukliran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13, unit kerja pengaturan membentuk tim penyusun.
(2) Tim penyusun sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas unit kerja pengaturan, unit eselon I dan eselon II terkait, Biro, perwakilan kementerian/lembaga, dan Perancang.
(1) Rancangan UNDANG-UNDANG, rancangan PERATURAN PEMERINTAH, dan rancangan Peraturan PRESIDEN yang telah dibahas antarkementerian dan/atau nonkementerian disampaikan oleh unit kerja pengaturan kepada Kepala Badan melalui Deputi Bidang Pengkajian Keselamatan Nuklir.
(2) Deputi Bidang Pengkajian Keselamatan Nuklir menyampaikan rancangan UNDANG-UNDANG, rancangan PERATURAN PEMERINTAH, dan rancangan Peraturan PRESIDEN sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada Direktur Jenderal Peraturan Perundang-undangan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk dilakukan harmonisasi.
(1) Rancangan Peraturan Badan di bidang ketenaganukliran yang telah selesai dibahas oleh tim penyusun disampaikan oleh unit kerja pengaturan kepada Biro untuk dilakukan harmonisasi.
(2) Sebelum disampaikan kepada Biro, unit kerja pengaturan memastikan bahwa rancangan Peraturan Badan di
bidang ketenaganukliran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) telah memenuhi ketentuan:
a. kaidah penulisan dalam Bahasa INDONESIA yang baik dan benar.
b. format penulisan dalam Peraturan Perundang- undangan mengenai Pembentukan Peraturan Perundang-undangan.
(3) Rancangan Peraturan Badan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang telah selesai dilakukan harmonisasi disampaikan oleh unit kerja pengaturan kepada Deputi Bidang Pengkajian Keselamatan Nuklir untuk memperoleh paraf persetujuan.
(1) Biro melaksanakan harmonisasi rancangan Peraturan Badan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 dengan cara:
a. menyelaraskan rancangan Peraturan Badan dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan lainnya dan/atau kebijakan pimpinan;
b. menghasilkan kesesuaian tujuan dan sasaran Pembentukan Peraturan Perundang-undangan; dan
c. membentuk logika antarpasal.
(2) Harmonisasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) minggu sejak permohonan disampaikan kepada Biro.
(3) Dalam melakukan harmonisasi rancangan Peraturan Badan, Biro dapat melibatkan wakil dari unit kerja pengaturan dan/atau unit eselon II terkait.
(1) Penyusunan, pembahasan, dan harmonisasi rancangan Peraturan Badan di bidang kelembagaan dilakukan oleh Biro.
(2) Dalam penyusunan rancangan Peraturan Badan di bidang kelembagaan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1), Biro membentuk tim penyusun dan tim harmonisasi.
(3) Tim penyusun sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terdiri atas unsur Biro, unit eselon I dan eselon II terkait, dan Perancang.
(4) Tim harmonisasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terdiri atas personel dari Biro.
Penyusunan, pembahasan, dan harmonisasi rancangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 dilaksanakan dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) tahun.
Pasal 21 Rancangan Peraturan Badan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 yang telah diharmonisasi disampaikan kepada Sekretaris Utama untuk memperoleh paraf persetujuan.
(1) Deputi Bidang Pengkajian Keselamatan Nuklir menyampaikan Rancangan Peraturan Badan di bidang ketenaganukliran yang telah memperoleh paraf persetujuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2) kepada Kepala Badan untuk ditetapkan menjadi Peraturan Badan.
(2) Sekretaris Utama menyampaikan Rancangan Peraturan Badan di bidang kelembagaan yang telah mendapatkan paraf persetujuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 untuk ditetapkan menjadi Peraturan Badan.
(3) Rancangan Peraturan Badan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan oleh Kepala
Badan.
(1) Rancangan Peraturan Badan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 harus diundangkan paling lama 5 (lima) hari kerja sejak ditetapkan oleh Kepala Badan.
(2) Penyampaian berkas pengundangan untuk Peraturan Badan di bidang ketenaganukliran dilakukan oleh unit kerja pengaturan didampingi oleh Biro.
(3) Penyampaian berkas pengundangan untuk Peraturan Badan di bidang kelembagaan dilakukan oleh Biro.
(4) Ketentuan mengenai tata cara pengundangan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.