Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Menteri ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik INDONESIA.
Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 22 Desember 2014 MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA, AMRAN SULAIMAN Diundangkan di Jakarta pada tanggal 24 Desember 2014 MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA, YASONNA H. LAOLY
LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 138/Permentan/OT.140/12/2014 TANGGAL : 22 Desember 2014 PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA NILAM YANG BAIK (GOOD AGRICULTURAL PRACTICES/GAP ON PATCHOULI) I.
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Nilam (Pogostemon cablin Benth) merupakan salah satu tanaman yang menghasilkan minyak atsiri (essential oil). Di dalam dunia perdagangan internasional minyak nilam sering disebut Patchouli Oil. INDONESIA merupakan negara produsen utama minyak nilam dunia, menguasai berkisar 90% pasar dunia. Pada tahun 2013, berkisar 85% ekspor minyak atsiri INDONESIA didominasi oleh minyak nilam dengan volume 1.057 ton/tahun. Beberapa tujuan negara ekspor minyak nilam INDONESIA diantaranya Singapura (37,17%), Amerika Serikat (17,92%), Spanyol (16,45%), Perancis (8,85%), Switzerland (6,93%), Inggris (4,42%), dan negara lainnya (8,26%).
Nilam merupakan tanaman tradisional yang telah lama dibudidayakan oleh petani di Pulau Sumatera yaitu:
Aceh, Langkat, Sidikalang, Dairi (Sumatera Utara), Pasaman Barat (Sumatera Barat), dan di beberapa daerah di Pulau Jawa. Minyak nilam digunakan sebagai bahan campuran pembuatan kosmetik, farmasi, dan aroma terapi yang berfungsi sebagai zat pengikat/fixative agent dan farmasi.
Dengan berkembangnya berbagai industri kosmetika, wewangian, farmasi dan kebutuhan dasar industri lainnya mendorong semakin meningkatnya kebutuhan minyak nilam baik di dalam negeri maupun di luar negeri.
Minyak nilam merupakan komoditas ekspor yang peluangnya sangat besar yang dimiliki INDONESIA. Oleh sebab itu pengelolaan nilam dan minyak nilam harus dilaksanakan secara profesional dan berkelanjutan.
Penerapan teknik budidaya nilam yang baik dan benar (Good Agriculture Practices/GAP on nilam) merupakan hasil rangkaian
beberapa paket teknologi (Standard Operational Procedure/SOP) nilam.
Penerapan teknik budidaya yang baik harus dilakukan dari mulai persiapan lahan, konservasi tanah dan air, pengelolaan hara tanaman, penggunaan bahan tanaman yang baik, pemeliharaan tanaman, penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) sampai penanganan panen. Hambatan utama yang terjadi pada penerapan GAP nilam, yaitu merubah kebiasaan petani yang membudidayakan nilam pada sistem perladangan yang berpindah- pindah, terutama di luar Jawa, dan kurang berwawasan lingkungan. Pengembangan perkebunan dengan menerapkan GAP dapat berhasil apabila teknologi yang direkomendasikan tepat guna, berwawasan lingkungan dan berkesinambungan serta dapat diterima oleh masyarakat.
GAP nilam ini merupakan pedoman bagi pelaku usaha nilam yang difokuskan pada kegiatan yang dapat memperbaiki dan meningkatkan produksi, produktivitas, kualitas minyak yang dihasilkan dan pengelolaan lingkungan.
Pedoman ini disusun dengan memperhatikan perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat saat ini.
1.2. Maksud dan Tujuan Peraturan ini dimaksudkan sebagai panduan bagi petani, petugas lapangan dan pemangku kepentingan lainnya dalam melaksanakan kegiatan budidaya tanaman nilam, dengan tujuan untuk:
1. Memperbaiki teknis budidaya nilam;
2. Meningkatkan produksi dan produktivitas nilam;
3. Meningkatkan mutu minyak nilam.
1.3. Ruang Lingkup Ruang lingkup Pedoman ini meliputi:
1. Bahan Tanaman Nilam.
2. Pengelolaan Lahan.
3. Penanaman.
4. Pemeliharaan Tanaman.
5. Panen.
1.4. Pengertian Dalam Pedoman ini yang dimaksud dengan:
1. Benih tanaman yang selanjutnya disebut benih, adalah tanaman atau bagiannya yang digunakan untuk memperbanyak dan/atau mengembangbiakkan tanaman.
2. Varietas adalah bagian dari suatu jenis yang ditandai oleh bentuk tanaman, pertumbuhan, daun, bunga, buah, biji, dan sifat-sifat lain yang dapat dibedakan dalam jenis yang sama.
3. Setek Pucuk adalah teknik memperbanyak tanaman dengan cara vegetatif dengan memakai bagian pucuk tanaman.
4. Setek Batang adalah teknik memperbanyak tanaman dengan cara vegetatif dengan memakai bagian batang tanaman.
5. Kultur Jaringan adalah cara perbanyakan tanaman secara vegetatif dengan cara mengisolasi bagian dari suatu tanaman, seperti sel atau jaringan dan menumbuhkannya pada media buatan dalam kondisi yang aseptik, sehingga bagian tanaman tersebut dapat beregenerasi menjadi tanaman yang lengkap.
6. Persemaian adalah suatu tempat yang digunakan untuk menyemaikan benih suatu jenis tanaman dengan perlakuan dan perawatan selama jangka waktu tertentu, sehingga akan dihasilkan benih yang berkualitas baik, yang memenuhi persyaratan umur, ukuran dan pertumbuhan yang cukup baik dan siap untuk ditanam di lapangan.
7. Pola Tanam Monokultur adalah pola tanam dengan menanam tanaman yang sejenis dalam satu bidang lahan.
8. Pola Tanam Polikultur adalah pola tanam dengan banyak jenis tanaman pada satu bidang lahan yang tersusun dan terencana dengan menerapkan aspek lingkungan yang lebih baik sehingga kestabilan ekosistem lebih terjamin.
9. Pergiliran Tanaman (Rotasi Tanaman) adalah penanaman beberapa tanaman secara bergulir pada satu areal lahan yang sama dan pada waktu yang berbeda.
10.Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) adalah semua organisme yang dapat merusak, mengganggu kehidupan, atau menyebabkan kematian tumbuhan.
11.Panen adalah proses pemetikan/pemotongan/pemungutan batang dan daun nilam.
II.
14, BA
2.1 No AHA 1 Su Pr fa (b n ya Pe Pu in su pe pe Pe ag op Pe Pa h (B ke se .19 AN T um rod akto beni ilam ang erb ucu ndu um eng erlu emi grok ptim erta atch asil Bali etah esu 66 TAN mber dukt or. S ih)
m. D g tep any uk, uk y ber gelo u di ilih klim mal ania hou l p ittro han uai p NAM r Be tivit Sal ka Dal pat yak Se yang r be olaa ieva an mat
l. V an ulin pene o) y nan pera MAN enih tas ah aren am de kan etek g se enih an k alua Va t ag Var yai na 1 eliti yang n te atu N NI h nil sat na s m me nga ni k B eha h d keb asi ariet gar ieta itu 1, d ian g di rha uran ILA lam tu fa san eny an m lam Bata at, b dapa bun set tas m as Va dan B ida adap n pe A M m d fakt ngat yiap mem m d ang beb at b ya iap nil end nila ariet n Pa Bala sar p p erun A an tor y t b pkan mpe dilak , s bas bert ang 2 t lam dap am tas atch ai P rkan peny nda mu yan erp n B erh kuk erta dar tah op tahu m d atk ya Sid hou Pen n at yak ang 8 utu ng s peng Beni atik kan a K ri h an tim un.
ises kan ang dik ulin elit tas kit l g-un u m sang garu ih N kan n se Kult ham leb mal.
sua pr g t ala na 2 tian pe ayu nda miny gat uh Nila n pe ecar tur ma d bih Ol aika rodu elah ng,
2. V n T rtu u ba nga yak pen pa am d ersy ra Ja dan dar eh an d uks h d Lh Vari Tana mb akt an.
dit ntin ada dipe yara veg arin n pe ri 2 kar den si d dile hok ieta ama buha eri tent ng y ke erlu atan geta ngan enya 2 ta ren ngan dan epas seu as t an an, den C B tuk yait eber uka n pe atif n y aki ahu na i n k m s o uma ters Re pr nga C B kan tu b rhas an te erse ya yan
t. P un, itu, kond utu oleh awe sebu emp odu an h ole baha sila ekn ema itu g b Pada jika su disi u m h K e, T ut b pah uksi has eh an an b nis b aian da bera a u a d umb i la miny Kem Tapa ber h d i, m sil p beb tan bud bud nny ari asa umu dilak ber ahan yak men ak rasa dan mut peng bera nam dida dida ya.
Se al d umn kuk ben n d k ya nter Tu al d Ob tu d guj apa man aya aya tek dari nya kan nih dan ang rian an, dari bat dan ian a n a a k i a n h n g n i t n n
2.2 Kualitas dan Standar Mutu Benih Keunggulan Varietas ditentukan oleh produksi, kadar minyak dan mutu minyak yang dihasilkan, serta ketahanan terhadap cekaman biotik dan abiotik. Untuk memperoleh benih yang berkualitas diperlukan pemilihan dan perlakuan benih selama dipersemaian baik di bedengan atau di dalam polibeg.
Persyaratan yang harus diperhatikan dalam menentukan benih yaitu sebagai berikut:
a. Asal Varietas diketahui secara pasti dan merupakan Varietas murni atau tidak bercampur;
b. Benih berasal dari tanaman induk yang sehat, bebas dari hama dan penyakit;
c. Tanaman induk berumur 5–6 bulan pada Panen pertama dan 4 bulan setelah Panen pertama;
d. Produktivitas pohon induk tinggi, 36–40 ton/ha/th (terna basah) atau 9–10 ton/ha/th (terna kering);
e. Setek mempunyai diameter 0,8–1,0 cm, tidak bengkok, mempunyai 3–4 buku;
f. Setek benih sepanjang 20–30 cm dan mempunyai 3–4 ruas;
g. Pemotongan setek dilakukan pada pagi hari dan cara memotongnya meruncing tepat di bawah buku;
h. Dari 1 (satu) tanaman induk dapat diperoleh sekitar 40–60 setek (benih).
2.3 Persemaian Benih Nilam Untuk mendapatkan Benih Nilam yang baik dianjurkan untuk melakukan Persemaian terlebih dahulu dengan tujuan untuk menghindari kematian setek dan menumbuhkan perakaran.
Persemaian dapat dilakukan dengan cara di dalam polibeg atau di bedengan.
a. Persemaian di polibeg Persemaian di dalam polibeg lebih efisien karena lebih hemat dalam penggunaan pupuk dan tempat serta pemeliharaannya lebih mudah. Persemaian di polibeg dapat mengurangi tingkat kematian benih pada saat pemindahan ke lapang.
2014, No C Gam Sum .19 Cara Ba da Ba Ba Me ka Uk un Po se Se bu (uk un be Pe da sa Se ke Se se jum mba mber 66 a Pe aha aun aha atan edia anda kur ntuk olibe min etek uku kur ntuk erta eme aun amp elam elap elata ting mla ar 2.
r: Bal erse an ta ya an t ng y a y ang an k m eg ngg k di u ke ran k hap eliha , pe pai m ma pa/a an, ggi ah b Per par littro ema ana ang tan yan yan g de pol meng dii u;
itan emu di me p sa araa eng min di alan ba 150 ben sem ranet o aian ama g tu nam ng m ng enga libe ghi isi nam udi ises nja amp an gam nggu P ng-a agia 0 cm nih ( maian t n di an b ua man mem dig an eg:
nda m m k an sua aga pai m mata u k Pers alan an
m. P (pol n nil i po beru dib da mpu guna per 15 ari g medi ke d dit aika ke min melip an d een sem ng sisi Pan libe am olibe upa buan apa unya aka rban x gen ia dala tutu an elem ngg puti dan nam maia ata i Ti njan eg) y di b eg y a Se ng, t ju ai 3 an ndin 10 nang seb am up den mba gu k i p n pe m (si an au imu ng d yan awa 10 yait etek di uga 3–4 yai nga cm gan ban po de nga apa keem peny eng iap pol par ur s dan ng d ah ru tu s k P isisa a b bu itu an:
m, g n ai nyak olibe enga n k an.
mpa yira gend tan libe ran seti n leb disia umah seba ucu aka beru uku, ca 2:
gun r;
k eg an keb Se at;
ama dali nam eg et.
ingg bar apk h at agai uk y an upa , da amp 1;
naka ¾ pad su butu elan an, ian m);
dib Na gi 1 na kan ap d i be yan 1–2 se aun pur an ba da ngk uha njut pe ha beri aun 180 aun (Ga deng erik ng m 2 p etek n pa an pol agia pos kup an) tny eny ama i n ngan 0 cm gan amb gan s kut:
mem pasa k c ada ta libe an, sisi p p se ya yian a/pe nau n d m d n di bar sung mpu ang aba bu anah eg y bi teg plast elam sun ngan eny unga dibu dan ises r 2);
gkup uny g da ang ku h d yang iark gak tik ma ngk n, yaki an uat n ba suai
p pla yai 3 aun g da dib dan g b kan k se tra +2 kup pem it d da ara agia ikan astik 3–4 n p an bua n p berlu s eda ans 2 m p d mup dilak ari ah an n d k dan 4buk pucu Se ang;
pup uba sela alam spar ming dibu puk kuk da Uta Ba deng n ku, uk.
etek puk ang ama m 2 ran ggu uka kan kan aun ara arat gan
k k g a 2 n u a n n n a t n
b Be me pa Ju po . P C b enih emp asan uml olibe Pers Cara berik Lu ya Un gu m di Be te Be be M ka m Se ja su h s pun ng ( ah eg d sem a m kut uas ang ntu ulm menj lak ede rga ede eden edi and mera etek rak ung siap nya (Ga be dan maia mem t:
Pe ak uk ma, adi kuka nga antu nga nga a dang ata;
k di k 10 gkup p d i ak mb nih n 2.0 an d mpe erse an me tan i r an an d ung an an u Pe g d itan 0x1 p p G Su ipin kar bar 3 h ya 000 di be ersia ema dita eng nah rem +3 dib g ko tida untu erse deng nam 0 c plas Gamb umb nda cu 3);
ang 0 po ede apk aian ana gem h di mah.
min uat ondi ak uk ema gan m p cm stik bar 3 er: B ahka ukup g di olib enga kan n ya am mbu iola
P ngg t se isi l bo pem aian n p pada sed k tr
3. B Balitt an p, t ibut beg u an:
Pe ang ata urka ah d Pen gu s eleb lapa leh mbu n y erb a b dala ran enih ro 11 ke tun tuh unt erse dip au t an den ncan sebe bar ang te uan yait band ede am nspa h nila e la as hkan tuk ema per erg ta ngan ngk elum 150 gan erge ngan tu ding enga 2 aran am s apan sud n d k ca aian luk gant anah n c kula m w 0 c ata enan n a ca gan an buk n ( siap ng dah dala dan n d kan tun h cara an wak cm, au k ng, ir s amp n den ku (uku dipi pa h tu am nga di b sek g k dan a d ata ktu t tin keb dib seleb pur 2 :
nga kem ura inda ada mb 1 n/s bed kita ebu n ican au tan nggi utu bua bar ran 1 an p mud an hkan um buh ha sula eng ar 2 utuh me ngk pe nam i 30 uha at p r 30 t :
pos dia dis n ke mur da seb ama gan 2% han emb kul eng m;
0 cm an;
par 0–40 tana 1 y isi an d sesu e lap 20 r 4 an b ban an.
ya dar n;
bers sa gola m d rit d 0 cm ah:p yan mir ditu uaik pang 14, 4–6 berd nyak aitu ri lu sihk amp ahan dan di s m;
pas ng d ring utup kan , No m dau k 2 u se uas kan pai n n pa sek sir:p dica g d p d n d
o.19 ing un 3
20.0 eba s ar n d tan tan anja kelil pup amp deng deng deng 966 ggu, 3–4 000 agai real dari nah nah ang ling puk pur gan gan gan 6
4 0 i l i h h g g k r n n n
kebutuhan) selama ±2 minggu untuk menjaga kelembapan.
Selanjutnya sungkup dibuka bertahap sampai minggu keempat;
Pemeliharaan meliputi penyiraman, penyiangan, pemupukan daun, pengamatan dan pengendalian hama/penyakit dilakukan sampai minggu keenam (siap tanam);
Bedengan diberi naungan berupa atap dari daun alang-alang, daun kelapa (sesuai ketersediaan di lapang), paranet, atau di bawah tegakan dengan intensitas sekitar 50% (Gambar 4);
Benih siap dipindahkan ke lapang pada umur 4–6 minggu, mempunyai akar cukup, tunas sudah tumbuh dan berdaun 3–4 pasang.
III. PENGELOLAAN LAHAN
3.1Kesesuaian Lahan Budidaya nilam sebaiknya dilakukan di tempat yang memenuhi persyaratan agroklimat bagi pertumbuhan nilam sehingga nilam dapat tumbuh dengan baik, input lebih rendah dan dapat berproduksi tinggi. Tidak semua tipe lahan sesuai untuk nilam.
Potensi lahan untuk pengembangan nilam dapat ditentukan jika data mengenai keadaan tanah dan iklim (agroklimat) tersedia.
Gambar 4. Persemaian nilam langsung pada tanah di bawah tegakan Sumber: Balittro
Persyaratan agroklimat yang dibutuhkan oleh nilam seperti pada Tabel 1.
Tabel 1. Tingkat Kesesuaian Lahan Untuk Nilam Parameter Tingkat kesesuaian Sangat sesuai (S1) Sesuai (S2) Kurang sesuai (S3) Tidak sesuai (NS) Ketinggian (m,dpl.) Tanah
1.Jenis tanah
2.Drainase
3.Tekstur
4.Kedalaman air (cm)
5.pH
6.C-organik (%)
7.P205 (ppm)
8.K20 (me/100g)
9.KTK (me/100g) 100–400 Andosol, latosol Baik Lempung >100 5,5–7 2–3 16–25 >1,0 >17 0–700 Regosol, podsolik Baik Liat berpasir 75–100 5–5,5 3–5 10–15
0.6–1,0 5–16 >700 Lainny a Agak baik Lainny a 50–75 4,5–5 <1 >25 0,2–0,4 >700 Lainnya Terhambat Pasir < 50 <4,5 - - - -
<5 Iklim
1. Curah hujan (mm/th)
2. Hari Hujan/th
3. Bulan basah/ tahun
4. Kelembaban udara (%)
5. Temperatur 0C
6. Intensitas cahaya
2.300–
3.000 190–200 10–11 80–90 22–23 75–100
1.750–
2.300/ 3000–
3.500 170–180 9–10 70–80 24–25 -
1.200–
1.750/ >3500 <100 <9 <60 >25 - <1.200/ >3.500 - < 8 < 50 - -
3.2Penyiapan Lahan Penyiapan lahan merupakan serangkaian kegiatan pengolahan tanah sampai siap tanam. Penyiapan lahan untuk penanaman baru tergantung pada kondisi lahannya. Untuk penanaman baru, lahan bekas hutan sekunder, persiapan lahan harus memperhatikan kelestarian lingkungan.
Lahan siap tanam jika bersih dari bebatuan, gulma dan sisa tanaman, lahan gembur dan telah dilakukan pemupukan organik,
IV. PE Pe pe cu cu
4. be la ya Pe pe ENA ena ena urah uku .1Pe ede ahan ang ersi ersi Pe ke pa se Pe de Bi (dr me Be pa Ja Pe tan Pu tan tan ANA anam anam h h up t ena enga n, j g dia iap iap engo edal anja lam enga enga la l rain eng eden anja arak emb nam upu nam nam AMA man man huja ting ana an jara anju an an olah lam angn ma 2 apu an t laha nas gant nga angn k an buat m d uk o m s
m. AN n s n n an ggi.
ma tel ak t urk la Per han man nya 2 m uran tak an e) s tisip an d nya ntar tan deng orga seb eba nilam ku an lah tana kan ahan rsem n la m a s ming n di ara mu sele pas dib a di r be n lu gan anik bany aikn m d uran Ga te am
n d mai aha mini eki ggu, iber an 1 udah ebar si pe uat ises eden uban n uk k (p yak nya dibu ng amba erta da dila ian.
an d ima tar , ke rika 1–2 h te r 30 eny t se suai nga ng kura pupu k 1 dil utuh ma ar 5 Sum ata an lu aku . Ta dim al 30 emu an a ton erge 0–4 yeba etin ika an d tan an 3 uk –2 laku hka aka . Sal mber rap uba kan ahap mula 30 0–3 udia apa n ka ena 0 c aran nggi n d dibu nam 30 kan kg uka an c ak lura r: Ba 15 pi ang n s pan ai 1 cm 35 an d abila apta ang m, n p i 20 deng uat m di x 3 nda g/lu an p cur kan n dr alittro yan g tan seb n-ta 1–2
m. cm diol a ta an/ air dal peny 0–3 gan sel ilak 0 x ang uba pad rah m raina o ng nam elu aha bu Ni . S lah ana /ha r dib lam yak 30 c n ko leba kuk x 30 , ko ang da a huj meng ase p dis m te m pan ulan ilam Sete kem hny a;
bua m 50 kit;
cm, ond ar 4 kan 0 cm omp pa awa jan gala pada sesu elah ata n pe n s m elah mb ya b at s 0 cm , le disi 40– 2 m;
pos ada al m n ya ami a per uaik h se au ersi sebe ber h it ali;
bers salu m, u ebar lah 50 min ) di 1– mus ang re rtana kan esu be iapa elu raka tu sifa uran unt r 1 han cm ngg iber –2 sim rel esik ama n d uai d ersa an l m ar lah at m n pe tuk –1, n at
gu s rika mi hu atif ko k an ni 20 eng den ama laha tan ser han masa emb me 5m au sebe an p ingg ujan f tin kem ilam 14, gan ngan aan an nam rab di am bua enc m se keb elu pad gu
n. P nggi mat , No n k n u d yai m s but idia (pH ang ega eda but m w da lu se Pad i, a ian
o.19 kond kur deng tu:
am ya amk H<5 gan ah d ngk tuh wak uba belu a s apab n ya 966 disi ran gan mpai ang kan 5,5) air dan kan an.
ktu ang um aat bila ang 6 i n n i g n ) r n n u g m t a g
Penanaman sebaiknya dilakukan dengan cara tidak langsung, melalui proses bertahap dari Persemaian benih di polibeg atau di bedengan yang kemudian dipindahkan ke lapangan. Benih yang ditanam di setiap lubang tanam yaitu benih yang telah berakar dan telah mempunyai daun sebanyak 2–4 helai. Benih tersebut ditanam sedalam +15 cm. Padatkan tanah disekitar benih agar tanaman kokoh. Untuk 1 lubang tanam hanya ditanam 1 benih yang telah memenuhi persyaratan tanam.
a. Waktu Tanam Waktu tanam yang tepat yaitu awal musim hujan karena nilam peka terhadap kekeringan. Agar proses adaptasi tanaman tidak mengalami hambatan sebaiknya penanaman benih ke lapang dilakukan pada pagi atau sore hari.
b. Jarak Tanam
b.1 Monokultur Jarak tanam bervariasi, dan disesuaikan dengan kondisi lahan;
Pada lahan datar, jarak antar barisan di dalam bedengan 90–100 cm. Jarak tanam di dalam barisan yaitu 50–100 cm, sedangkan pada lahan yang kurang subur jarak tanam lebih rapat;
Jarak tanam di dalam barisan pada lahan yang agak miring (150) lebih rapat, 40–50 cm (arah baris sesuai kontur tanah);
Pada lahan yang subur (banyak humus) jarak tanam sebaiknya 100 x 100 cm, karena pada umur 5–6 bulan, kanopi sudah bertemu.
b.2 Polikultur Nilam dapat ditumpang sarikan dengan berbagai jenis tanaman (tanaman semusim dan tanaman tahunan).
Untuk tumpang sari dengan tanaman tahunan, jarak tanam antar barisan disesuaikan dengan lahan yang terbuka. Untuk tumpang sari dengan tanaman semusim non perkebunan disesuaikan dengan jarak tanam nilam dalam barisan.
4.2. P P p b s a b Pola Pen poli bud say
a. P in V p p
b. P ra p c ta k k b ta a c a Ta nana iku dida yura Pol Pena nten Vari peny pem Pol Pena aky pola cropp ana kaca kela baw ana akan aha ana am ltur aya an a la T ana nsif ieta yak mupu la T ana yat a ta ppin ama ang apa ah ama n b aya am an r, lo atau Tana ama f, as kit, uka Tana ama den anam ng), an g-ka saw teg an berp m ni bai oron u ta am an la un car an d am an nga m bu sem acan wit, gak tah prod min Gam Sum ilam ik ng ana Mo pol han nggu ra d dise Pol sec n lu cam udi mu nga ka kan hun duk imu mbar mber:
m d sec den ama onok la n m ul, dan esu liku cara uas mpu iday sim an m akao ta nan ksi um r 6. P Bali dap cara nga an la kul mo mau p n wa aik ultu a p san uran ya m, mau o, j anam ya de 7 Pena ittro pat a t an ain ltur onok upu pem aktu kan ur poli yan n ( lor tan upu ati, man ang enga 75% anam 17 di tum tan nya r kult un mupu u P den ikul ng (mix ron nam un pa n t ma an %.
man ilak mpan nam
a. tur ikl uka Pane nga ltur sem x c ng man tan ala tahu asih bai Jar kuk ngs man m im an, en an ti r d mpit ropp (al p nam dan una h b ik rak an sari pe mem ya p yan ing diter
t. P pin ley alaw man n ka an, beru bila d se
t erk merl ang peng ng t kat rap Pola ng), cr wija n ta aret se umu a m dan ecar um ebu uka se gen tepa ke kan a Ta tum ropp a s ahu
t. B ebai ur men w ra mpan una an esua ndal at.
esub n p anam mpa ping sep una Bila ikny mu ndap wak mo ng an, sis ai, lian Jar bur pad m P ang ng), erti an s a nil ya uda pat ktu 20 ono gil bu stem me n rak an da Poli g sa ba i:
j sep lam dit ka kan ta 14, okul lir uah m b eng ham k ta lah per ikul ari aik jagu pert m di tana aren n in ana , No ltur ma -bu bud ggun ma anam han rtan ltur (m d ung i k itan am na nte am
o.19 r d aup uah dida nak d m d
nam r ya multi deng g d kela nam pa nil ensi se 966 dan pun an, aya kan dan dan man aitu iple gan dan apa, m di ada am itas erta 6 n n a n n n n u e n n i a m s a
2014, No c G S .19 p ta D d s P d m p fl s
c. P m y p P s la m k Gam Sumb 66 pem ahu Dala dipe alin Pola dapa men peny lukt atu Per Perg mem yang peny Perg etel ain men kem Ga Su mbar ber:
mupu una am erha ng m a po at ngur yak tua uan rgili gilir mpe g b yak gilir lah sep ngur mbal amba mber
8. B Balit uka an h pe atik mer oliku me ran kit, asi lua iran an erta bers kit.
an pe per ras li.
ar 7.
r: Ba Budi ttro an haru ene kan rug ultu nek ngi r pem har as d n Ta Ta han sifat T ena rti p u . Tum alittro idaya an us d entu ke gika ur m kan resi man rga dan ana ana nka t a Tana anam pala unsu mpa o a lor ntar dipe uan ses an d mem n bi iko nfaa a da n wa ama ama an k auto ama man awij ur ang s rong a n erh n je suai dan mili iaya keg ata an aktu an ( an kesu otok an/ n n ja d ha sari n nila nila itun enis ian n tid iki a o gag n l me
u. Rot un ubu ksik /Ro nila dan ara.
nilam am d 18 am ngk s t lin dak beb oper gala aha enin tasi tuk uran k, otas m n ka S m de deng da kan tan ngku k se bera rasi an P an ngk i Ta k n n ta ser si sela aca Sete enga an t an de nam ung bag apa iona Pane leb katk anam nilam ana rta Tan am ang- elah an ka anam tan nga man gan gai a ke al en ih kan man m ah, me nam a 2 -kac h it acan man nam an c se da ina eleb (pe aki efis n p n) san me emu man 2 ta can tu ng k n tah man cerm ela an l ang biha mel bat sien rod nga engh utus n, ahu ngan nil kedel huna n s mat ya laha ha an, liha t se n, m duk at d hin s s sa un, n y lam lai d an (ja sem
t. ang an ama dia araa eran men ktivi dip ndar sikl anga de yang m d dan j ati d usim g te seh a da anta an) ngan ngur tas erlu ri ef us at nga g ti dapa agun dan p im tepa hing an p aran da n h ran s la uka fek ha di an idak at ng pala) ma at, gga pen nya an ham ngi aha an, ale ama anj tan k b dit ) aup pe a tid nyak a ya dap ma d res n p gu elop a d urk nam bany tan pun erlu dak kit.
aitu pat dan siko per una pati dan kan man yak am n u k u t n o r a i n n n k m
V.
PEMELIHARAAN TANAMAN Pemeliharaan tanaman di lapang meliputi penyulaman, penyiraman, penyiangan, pemupukan, pengamatan dan pengendalian hama/penyakit.
5.1Penyulaman Penyulaman dilakukan untuk mengganti tanaman yang mati atau yang kurang baik pertumbuhannya agar diperoleh pertumbuhan tanaman yang merata.
Penyulaman dilakukan pada waktu tanaman telah berumur 2–4 minggu.
5.2Penyiraman Pada masa pertumbuhan awal dan setelah Panen (1–2 bulan), nilam sangat membutuhkan air yang cukup.
Pemberian air disesuaikan dengan umur tanaman.
5.3Penyiangan Nilam memiliki akar serabut, kemampuan daya serap akarnya dipengaruhi oleh lingkungan di sekitarnya. Penyiangan dilakukan apabila gulma sudah tumbuh mengganggu. Penyerapan unsur hara lebih optimal bila disekitar perakaran nilam bebas dari gulma.
Selain itu, penyiangan dilakukan untuk mencegah tumbuhnya gulma yang menjadi inang hama atau penyakit nilam. Penyiangan dilakukan secara hati-hati agar tidak merusak perakaran.
5.4Pembumbunan Pembumbunan bertujuan untuk memperkokoh tegaknya nilam, memperbanyak tunas baru dan perakaran sehingga tanaman dapat tumbuh lebih baik. Pembumbunan dilakukan pada umur 3 bulan dan setelah Panen dengan menimbun setinggi 10–15 cm, agar cabang-cabang yang tertimbun mengeluarkan tunas baru.
5.5Pemberian Mulsa Pemberian mulsa dimaksudkan untuk menjaga kelembapan dan kesuburan tanah serta menghambat pertumbuhan gulma.
Pemberian mulsa dilakukan pada awal tanam dan setiap habis Panen terutama pada musim kemarau.
Mulsa yang dapat digunakan yaitu mulsa semak belukar atau alang-alang. Mulsa semak belukar lebih baik dibandingkan alang-alang karena lebih cepat mengalami pelapukan.
5.6Pemupukan
Salah satu aspek yang penting untuk pertumbuhan dan peningkatan produktivitas nilam yaitu pemupukan. Pemupukan harus memenuhi persyaratan yaitu: tepat waktu, tepat cara, dan tepat dosis. Apabila ketiga syarat ini tidak ditepati maka produksi akan kurang optimal. Pemupukan dilakukan sebelum penanaman, masa pertumbuhan dan setelah Panen.
Penggunaan pupuk anorganik yang berlebihan dalam waktu yang lama dapat menyebabkan tanah padat, sehingga harus diimbangi dengan pemberian pupuk organik.
Pupuk organik yang digunakan dalam budidaya nilam yaitu kotoran hewan, pupuk organik limbah tanaman, pupuk hijau, dan kompos.
Pupuk organik yang bermutu mempunyai ciri tidak berbau menyengat, remah, tidak membawa gulma dan hama penyakit.
Pupuk dasar yang berupa pupuk kandang diberikan sekitar 10–20 ton/ha yang diberikan pada waktu sebelum tanam. Pupuk organik susulan setiap setelah Panen diberikan bersamaan dengan pembumbunan di sekeliling tanaman di bawah kanopi. Sedangkan pupuk anorganik diberikan dengan cara ditugal di sekeliling tanaman kemudian ditimbun dengan tanah.
Pupuk anorganik yang diberikan yaitu Urea, SP36, dan KCl ataupun pupuk majemuk.
Dalam menentukan dosis pupuk untuk nilam ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu tanah (jenis, tingkat kesuburan), kondisi iklim (curah hujan), dan umur tanaman. Waktu, jenis dan dosis pupuk yang dianjurkan selama tanaman dilapang dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Waktu, Jenis dan Dosis Pupuk Anjuran untuk Nilam Selama di Pertanaman No
Umur Tanam an (bulan) Pemupukan Jenis dan Dosis per Ha (kg) Ke Waktu Kandang U r e a S P - 3 6 1 0 Da sar 1-2 minggu sebelu m tanam 20 000 2 1 1 - 7 0 0 0 3 3 2 - 3 0 - 4 6 3 Setelah panen 1 0 0 0 5 10 4 Setelah panen 2 20 000 0 0 0 6 14 5 Setelah panen 3 0 0 0 7 18 - Setelah panen 4 - - Jumlah 40 000 0 0 2 0
5.7Pengenalan dan Pengendalian Hama, Penyakit dan Gulma
a. Pengenalan dan Pengendalian Gulma Gulma yang sering ditemui di lahan nilam yaitu Genjoran (Digitaria ciliaris), Lempuyangan (Panicum repens), Rumput Pahit (Axonopus compresus), dan Alang-alang (Imperata cylindrica).
Kerugian yang ditimbulkan gulma secara umum yaitu:
Menurunkan kuantitas dan kualitas produksi (hasil panen);
Mengeluarkan zat racun bagi tanaman pokok;
Sebagai inang perantara bagi perkembangan hama dan penyakit.
Pengendalian gulma pada nilam dapat dilakukan secara mekanis dengan dikoret atau dicabut.
Pengendalian gulma dengan menggunakan bahan kimia (herbisida) akan merusak lingkungan oleh karena itu pengendalian gulma yang paling tepat yaitu secara mekanis yang dilakukan dengan cara penyiangan. Namun cara ini memerlukan banyak tenaga dan waktu.
b. Pengenalan dan Pengendalian Hama Hama yang banyak menyerang nilam sebagai berikut:
Ulat Pemakan dan Penggulung Daun (Sylepta sp.) Morfologi Telur berwarna bening di permukaan atas daun menjadi coklat muda menjelang menetas, umur telur 3–4 hari. Ulat yang baru menetas transparan setelah makan daun berwarna hijau. Ulat menjadi kepompong setelah 19–22 hari, panjang tubuhnya +9 mm. Periode kepompong 5–7 hari. Ngengat berwarna abu-abu coklat keemasan dengan garis berwarna abu-abu muda melintang pada kedua sayapnya. Serangga dewasa dapat hidup 7–8 hari. Dua hari setelah menjadi ngengat lalu kawin dan selanjutnya meletakkan telur di atas permukaan daun.
Gejala serangan Ulat kecil menyerang lapisan epidermis daun sehingga daun terlihat transparan, serangan selanjutnya pucuk daun menggulung dan berlubang-lubang. Jika daun habis ulat akan menyerang batang muda sehingga kerusakan tanaman semakin besar.
Pengendalian Lakukan pengamatan rutin pada tanaman untuk mengetahui keberadaan dan gejala serangan hama ini. Jaga kebersihan kebun. Jika ditemukan ulat dan gejala serangan
a t P e M P t p d Bel Ada yai (Ac ber M B y h t b k b d d b n d S m b d s awa tran Peng ekst Meta Peng teru pem dau lala a 2 tu:
crida rsem Mor Bela yang hidu tubu berc kem berw dala diisi berw nim dan Sela mau berw dipe sete A al, nspa gen trak arh gen utam maka un a ang 2 (d be atu mbu rfolo alan g p upn uhn cak mera war am i d war mfa-n m anju upu war elih elah seg ara ndal k M hiziu ndal ma aian akib dua elala urita uny ogi ng poli nya nya ter aha rna tan deng rna nim men utny un p rna ara h 5– G gera an) d lian Mimb um lian bi n p bat ) je ang a).
yi di kay ifag te a ya rang an a me nah gan ku mfa ncap ya, pola gel a di –7,5 Gam a d dipe n d bam ani n da ila pes ada enis g ka Bia i ke yu g, m erdi aitu g pa ata erah h 2– n m unin ini pai n any lap i lab 5 b mbar S dibu etik dap mim isop apa ser stisi any s b ayu asan erim (Va men iri u ab ada au u h p –3 mas ng i m p nimf ya, sam bor bula
9. N S Sumb unu k lal pat mba plia at ju ran ida ya re elal u (V nya mbu Vala nyer ata bu- a fem ung ada kel sa keh meng pun fa-n keb mp rato an.
Ngen Sylep ber: B 23 uh, lu d dil a ata e da uga ngan ka esid lang Vala a be una nga ran as -abu mu gu, a pa om bu hija gha cak nim ban ai h oriu Pe ngat pta ( Balitt B da dibu laku au an a di n t aren du p g y anga elal an ta a n ng b telu u k ur b se ang pok usa aua abis k p mfa nyak hita um erke (A), (C) tro B an uan uka den Bea lak terli na pes yang a n lang ana nigri berb ur, keco elak edan gkal k p ya n d kan poh be kan am di d emb ulat dau ng.
an nga ave kuka iha ak stisi g b nigri g a ama icor bag ni oke kan ng lnya ada ang den n d hon erva n ab kec dala ban t (B) un de n a euria an at s kan ida.
bias icor akti an.
rnis gai imf elata ng, per
a. T a k m ngan daun d aria bu-a cok am ngan dan ya enga agen a ba den sud m sany rnis f p s) m jen fa, an tibi rmu Telu eda meng n b n y dala si abu kelat tan n d geja C ang an nsia ass nga dah menu ya s) d pada mer nis da me ia b uka ur-t alam ger berc yang am ba u d tan nah di la ala s te pe a ha sian n p be uru me an a s rupa tan an emp bela aan telu man ras.
cak g s w aik an
n. T h le apa seran 20 rse estis ayat na.
pest erat unka enye bel sian aka nam ima pun akan sa ur d n 5 N -be eda akt da ku elu mb ang ngan 14, eran sida ati c tisid at.
an eran lala ng an man ago nyai ng b ayap dilet –8 Nimf rca ang tu alam unin ur-te bap da n , No ng a n cend da k Ha ku ng ang har ser
n. S
o. W i be berw p b takk cm fa ak h tu 2 m w ng, elur me ari
o.19 (da nab daw kim ati-h uali nil da ri d rang Sik War erca war baw kan m ya mu hita umb ha war ser r ya ene nim 966 aun bati wan mia, hati itas am aun dan gga klus rna ak- rna wah n di ang uda am;
buh ari.
rna ring ang etas mfa 6 n i n i s m n n a s a - a h i g a h a g g s a
y s G B g m P U m n P b m P m P d yang seki Geja Bela gigit men Peng Untu men nila Peng baw men Peng mus Peny dap g b itar ala alan tan nyer gen uk nan
m. gola wah ngh gen suh yem at e baru r 80 ser ng m m ran ndal m nam aha k am ndal h mpr efek G S u m 0 ha rang men mel ng b lian menc m ta an t ke mbat lian ala rota ktif Gamb Sumb Ga Su men ari.
gan nye ling bagi n ceg anam tana ata t pe n da ami an d me bar ber: B amba mber neta n eran gkar ian gah man ah as enet apa y dila engi
11. B Balitt ar 10 r: Ba as ng d r bat pe n p den seh tasa at ju yait kuk infe Bela tro
0. Be alittro 24 sam dar ber tang elet pen nga hing an t uga u kan eksi alang elala o mpa ri te rben g d taka nutu an c gga telu a d ja n pa i tu g Ac ang ai epi ntu an an up cara a k ur b ilak mu ada buh rida Vala ima dau uk cab te tan a m ken bela kuk ur pa h be turr anga ago un lon ban elur nah em a alan kan Me agi d elal rita a nig be ke njon g ta b di bali sin ng.
de etar dan lang ricor ersa ten ng.
ana bela se lik l nar enga rrhi n so
g. rnis aya nga B ama alan ekita lapi m an iziu ore h ap b ah d Bela an.
ng, ar p isan mata me um har ber dau alan di per n ta ahar ema an ri ag rlan un, ng anj rtan ana ri anfa niso gar ngsu bek ju urk nam ah d dap aatk opli spo ung kas uga kan man dari pat kan iae.
ora g s a n n i t n a
c. Pe Ni Pe pe T M T b d s s h 3 G H d k t P B m u u t p m p enge lam enya enge Pe Tung Mor Tun bagi deng stad sera hari 35–7 Geja Ham deng kepu ting Peng Bila mek untu ubi tung peta mem pred ena m le akit end eny gau rfolo ngau ian gan dia angg
i. S 77 ala ma gan utih gkat gen a po kan uk kay gau ani.
man dato alan bih t-pe dalia yaki u M ogi u m b n ce nim ga d Sera but ser tun n m h-p t se ndal opu is me yu u m P nfaa or C n da h se eny ann it La era mer awa epa mfa dew angg tir.
rang ngau men utih ran lian ulasi den enc dan mera Pen atka Coc an P ring aki nya ayu ah ( rah ah.
at p a b was ga gan u m nghi han ngan n i ha ngan cega n k ah gen an ccine Pen g m t seb u Ba Ga tu Su Tet hi P pada erla a 2 dew n mer isap n, n b ama n c ah kete sek ndal ser elid gen mend pe bag akte amb ungau umbe ran idu Popu a m ang 46– was ah p ca ber era a re cara me ela kali lian rang
d. ndal dap ntin gai b eri ar 1 u er: Ba 25 nych up ulas mus gsun –29 sa d me aira rlek at m end a p lua poh igus n s gga lian pat ng beri
2. N alittr hus ber si sim ng 96 h dap enye an kuk maka dah pem asny hon s d sec a mu n Pe gan y iku Nimfa ro sp rkel ham ke sel hari pat era dau k-lek a d , pe metik ya n da dapa ara usu eny nggu yang t:
a dan .) lom ma ema am i, da me ng un, kuk aun eng kan ser apa at m a h uh yaki uan g n se mpok in arau ma 4 an m ngh dau se k t n m gend n d rang at m men hay ala it n pe me rang k d ni b
u. U 46– ma hasi un ehin tida meng dali an gan men ning ati mi eny eny gga d di p bia Umu –60 sa p ilka mu ngg ak geri ian pe n h neka gka di yan yaki yera dewa per san ur ha pra an uda a d ter ing dil ema ham an atka ilak ng it d ang asa 20 mu nya telu ari, a pe telu da dau ratu dan laku angk
a. pop an kuk pot ari n 14, ukaa m ur da enel ur s an d un b ur, n ro uka kas Pen pula pen kan tens pad nila , No an meni 3–4 an lura seb dau berw a ont an s san nan asi nda d sial da h am
o.19 da ingk 4 ha sta an 1 any un t war apab tok.
seca da nam ha apat deng l ya ham d 966 aun kat ari, adia 1–2 yak tua rna bila ara aun man ama tan gan aitu ma.
dan 6 n t
a 2 k a a a a n n a n n u n
Pen ini tela air ling kur selu set G - - - - - - nyeb tim ah t hu gku ran uru elah Geja K ca m te Pa pa la Pa se Pa m Ja m Ir hi B se be bab mbu terk ujan unga ng b uh l h p ala elay aba meng erin ada ada ayu ada etel ada ming arin mem risan itam ila eper ersi bny ul k kon n, p an baik loka ena ser yua ang gala nfek a sa a pe dan a ta ah a ta ggu nga mbu n m m s ca rti ih.
Gam b) S S a y kare ntam perg lem k, asi ana rang an ke ami ksi;
aat erke n m anam terl anam set n suk meli sep aban su mbar Seran b yait ena min gera mba ak keb ama gan ter ca i k be emb mati man liha ma tela bat k se inta anj ng usu, r 13 ngan li u b ter nasi akan ab, an bun an n n rjad aban kela ersa ban i;
n b at g an b ah g tan edan ang jang ya , b . Ge n ber i bak rba
i. Pe n p cu m
n. S nilam di p ng ayua ama ngan eru geja beru geja g ng g ba g ja ang egit ejala rat, c 26 kter awa eny peke urah em Sera m y pad sec an aan n le umu ala s umu ala t dan kul atan arin la tu a pen c) Ta i R ole yeba erja h h mper ang yan da cara da ad ebih ur 1 sera ur terl n a lit a ng t nga ayu pu nyak anam Rals eh b ara a da huja rcep gan ng k tan a ti alam da c h la 1–3 ang 4–5 iha aka akar ters an y di la kit la man ston ben n d an a an t pat pe kedu nam idak m cab anju bu gan;
5 b at;
ar r se sera yan ipot bila ayu b mat nia nih dala alat ting pe nya ua k man k t wa bang ut s ulan
bula tan eku ang ng l tong a d bakt ti sol dar am t-al ggi enye akit kali m era aktu g ya selu n ke an k nam nde me layu g a dire eri a ana ri k lok at p da eba t m inya mud atur u 2 yang uruh ema kem man erny emp u s aka enda a) Se acea kebu kasi per n d aran menj
a. da r). T 2–5 g la h b atia mat n y ya perl sam an am erang aru un me tan drai n p adi dan Tan 5 h ayu agia n te ian yang men liha mpai tam di gan a um.
ind elal nian ina pen i leb n t nam hari da an erja n te g t nge atka ai k mpa i d awa Pen duk lui n, k se nyak bih tua man i s an tan adi rjad ters elup an w kam ak dala al, nya k ya alir kond tan kit be (d ak sete seh nam 6 h di 1 sera pas war mbiu len am akit ang ran disi nah ke erat dari kan lah hat, man hari 1–2 ang
rna um.
ndir air t g n i h e t i n h n i 2 g a r r
Pengendalian Pengendalian dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
- Menggunakan Varietas nilam toleran layu bakteri (Patchoulina 1 dan 2);
- Menggunakan benih dari lokasi yang tidak terserang penyakit;
- Memutus siklus hidup penyebab penyakit dengan tidak menanam nilam selama 2–3 tahun di kebun yang sudah terserang;
- Melakukan Pergiliran Tanaman dengan tanaman yang bukan inangnya seperti padi dan jagung;
- Memperbaiki saluran air pada saat curah hujan tinggi agar tidak terjadi genangan air yang dapat meningkatkan kelembaban tanah;
- Memusnahkan sumber penyakit dengan mencabut tanaman sakit lalu dibakar.
Pengendalian secara hayati dapat memanfaatkan agen hayati seperti Pseudomonas fluorescens, P.
cepasia, Micrococcus sp., dan Bacillus sp.
yang dapat menekan kerusakan hingga 68,75%.
Pada lahan pertanaman nilam dengan kejadian penyakit layu bakteri yang berat dapat menggunakan bakterisida (Streptomicin sulfat) dengan menyiram/menyemprot lahan/tanaman yang terserang.
Penyakit Budok Penyakit budok disebabkan oleh jamur Synchytrium pogostemonis, yang menyerang daun, tangkai daun, dan batang nilam. Penyakit ini dapat menurunkan produksi dan mutu minyak nilam.
Gejala serangan - Gejala serangan awal dapat dilihat sedini mungkin baik pada Persemaian maupun di lapang, ditandai adanya benjolan-benjolan kecil dan penebalan pada permukaan atas dan bawah daun, serta batang.
- Pada serangan lanjut, akan menghambat pertumbuhan vegetatif sehingga rumpun tanaman tidak bertambah besar, permukaan batang menebal, ruas batang memendek, pada ketiak cabang tumbuh tunas-tunas berdaun keriput dan kerdil.
Rumpun tanaman yang terserang pertumbuhannya terhenti, bahkan kanopinya cenderung mengecil.
Pengendalian Pengendalian dapat dilakukan secara terpadu melalui pencegahan dengan memperhatikan sumber bahan tanaman dan lahan yang akan di tanam nilam. Bahan tanaman sebaiknya tidak diambil dari kebun yang terserang budok. Pengendalian dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
- Menggunakan benih yang sehat dan bebas penyakit budok terutama gejala awal berupa bintik-bintik putih;
- Lakukan sortasi benih sebelum penanaman, untuk menyakinkan benih sehat dan bebas penyakit budok;
- Pengendalian dapat dilakukan secara teknis budidaya (khususnya pengolahan lahan, drainase yang baik);
- Lakukan pengelolaan kebun secara rutin terutama untuk memonitoring penyakit sehingga diketahui lebih dini gejala awal penyakit budok;
- Lakukan Pergiliran Tanaman dengan tanaman yang bukan inang penyakit budok;
- Bila tanaman sudah terserang, lakukan pencabutan dan pembakaran tanaman yang sakit (eradikasi) yang akan menjadi sumber inokulum penyakit;
- Pengendalian secara kimiawi dapat dilakukan dengan menggunakan fungisida di Persemaian, dengan cara merendam setek dalam fungisida (sebelum disemai);
Gambar 14. Gejala awal serangan penyakit budok (A), dan Gejala serangan berat penyakit budok (B) Sumber: Balittro A B
Pen Pen Nem - M B y a - P T Ni sp se ya G bo la da di lit da nya nya mat Melo Bag yang akar Prat Terja Gej Gej kem ben ter un ilam pot erin ang Guna oud arut ari ibu ter.
an d kit kit toda oido gian g d
r. tyle adi jala jala mer njol rser nsur m y dal ng t lai aka deau tan 10 at d Se dia yan in a ya ogy n ak dise ench luk a se a rah lan rang r N, yang lam terja inny an ux ka 0 g dar elan duk ng d ni m ang yne kar ebut hus ka-l eran ser han, ak g n , P, g t m sa adi ya t fun 1% apur g ka i 10 njut k se dise men g m inc yan t b s bra luk nga rang
a kar nem dan ers atu sa tida Gam Sum ngis %. B r to apu 00 g tny ecar eba nyeb eny cogn ng t beng ach a n an gan akar
r. G mato n K era lah atu ak.
mbar mber:
sida Bub oho ur t g te a la ra p abka bab yera nita ters gka hyur nekr n r m Geja oda K.
ang han, cab Ha r 15.
Bali 29 a be bur r d toho erus aru perl an o bkan ang a sera ak a rus rotis nem mem ala a n ne , ba ban al in Gej ittro erb r bo dan or d si/c utan lah oleh n p g pe ang aka ata s pa mat mbu ku nam ema ahk ng m ni d jala aha oud lar dala cop n 1 an, h N pert rak g ke ar a au R ada toda usu uni mpak atod kan men dise sera an deau ruta am pper da lar em tum kara eliha atau Rad a ak a uk ing k s da m dal nun ebab anga akt ux an t 5 r su an ruta ato mbu an n atan u b dop kar.
dau ata pa sepe men lam njuk bka n ne tif b dib teru lite ulph laru an s da uha nila n b bunc holu un au ada erti nun m sa kka an k emat ben bua usi.
er a hate uta siap an am y beng cak us s b te a d i ge njuk atu an g kare toda nom at d La air, e (C n 2 p di nila yait gka k ak sim berw erda daun ejal kka rum geja ena a 20 mil dari arut dan CuS 2 di isem am tu:
ak a kar milis warn apat n n la an mpu ala, a ter 14, ata i c tan an l SO4) dicam mpr te atau r at s na at b nila kek geja un , se rsu , No au am 1 laru ) da mp rotk rha u bu tau k ben am kur ala tan edan umb
o.19 bub mpur terd utan alam urk kan amb unc pu kun njola ya ang sp nam ngk batn 966 bur ran diri n 2 m 5 kan
n. bat.
cak uru ning an- ang gan pot- man kan nya 6 r n i 2 5 n k u g - g n - n n a
akar maupun batang bagian bawah oleh populasi nematoda sehingga proses metabolisme tanaman terhambat, dan daun terlihat memerah. Pada tanaman yang kahat hara, gejala terlihat merata dalam satu lahan, dan diawali dari daun yang tua.
Pengendalian - Pemupukan menggunakan kotoran ternak (ayam, sapi, kambing) dan sekam, serbuk gergaji, dan serbuk biji mimba dapat mengendalikan Meloidogyne incognita dan P.
brachyurus.
- Pemupukan dengan Urea dan SP-36 sebanyak 5 g/tanaman kemudian dikombinasikan dengan kotoran sapi dapat mengendalikan Meloidogyne incognita.
- Pemupukan dengan Urea dan SP-36 sebanyak 5 g/tanaman kemudian dikombinasikan dengan sekam dapat mengendalikan P. brachyurus - Memperbaiki sanitasi kebun dan menggunakan pestisida/herbisida pada saat pengolahan tanah dan penanaman.
- Mengombinasikan Karbofuran, bahan organik dan dolomit untuk menekan populasi nematoda sehingga produksi nilam meningkat.
- Memanfaatkan musuh alami Jamur Artrhobotrys sp, bakteri Pasteuria penetrans yang dikombinasikan dengan kotoran sapi, kotoran ayam, serbuk gergaji, dan ampas kedelai.
VI.
PANEN Pemanenan nilam dilakukan pada terna tanaman yaitu daun, batang, dan ranting. Pemanenan harus memperhatikan waktu, umur, dan cara pemanenan karena berpengaruh terhadap kuantitas dan kualitas minyak yang dihasilkan. Cara pemanenan yang tidak beraturan dapat menurunkan produksi dan kualitas minyak, serta pertumbuhan tanaman untuk Panen selanjutnya.
Saat Panen yang tepat ditandai dengan menguningnya sebagian daun karena masak fisiologis.
Pemanenan dilakukan pada saat umur tanaman sekitar 5–6 bulan setelah tanam.
Panen berikutnya dilakukan setiap 3–4 bulan. Waktu Panen terbaik pada pagi dan sore hari. Panen pada siang hari dapat mengakibatkan jumlah minyak
ya (m Ca ta m ce gu ya ba ta tu Pa al
6. ang mud ara ajam mem epat unti ang atan anah una ane lat d .1Pa S p p a b g di dah a m m, u mben t da ing g le ng h, t s b en h di k asc Sela pas pan
a. P T u s d B d
b. P iha me mem unt ntu an se bih dan ting baru har kebu ca P ain sca nen Peng Tern untu elam dilak Bah disu Pera asilk eng mane uk k tu me etek h ba n ca ggal u u rus un.
Pane pr pa an geri na uk ma kuk an uling ajan kan guap en me una ngh k m any aba lkan untu dip en ra p anen ntara inga nila pel pe kan ya
g. B ngan Ga Sum b p).
dap eng as b hem mem yak ang n 1– uk per pan
n. a la an am layu enje se ang Bila n amb mber erk pat hin baru mat mbu . P tid –2 c pro hat nen, Ha ain:
ha uan emu elam g t a pe ar 1 : Bal kura m ndar
u. P ten utuh Pane dak cab odu tika , ku al-h asil n, d uran ma tela rlu
16. pe littro ang eng ri k Pem nag hka en dib bang uksi an, ual hal Pa den n b 3– ah yan Pen enge g, k ggu keru man a k an w den bab g u i ni den litas yan ane ngan baha 5 h dik ng nger erin 31 kare nak usak nena kerja wak nga bat ntu ilam nga s m ng n d n k an hari ker ditu ring ngan ena kan kan an d a, s ktu an hab uk m m s an miny ha dih kete dib i sa ring utu gan n a m n sa n ja den seda da me bis mer sela me yak arus am eba bali amp gang up ra has miny abit arin ngan ang an engg tet rang nju nye k ni s d par alan k 2 pai gink apa sil p yak t at ngan n m gkan me gun tapi gsa utny edia ilam dipe rkan n ± 2–3 ka kan at.
pane k n tau n ba men n d eme naka i dis ng ya.
aka m ju erha n d 30 ka ada n s en d nilam gu ata nggu deng erlu an sisa per Ke an t uga atik di a cm ali.
ar a seb di r m unti ang una gan ukan sa aka rtum ber tem a d kan atas m s Pen air aik rak 20 ber ing yan akan me n te bit an + mbu rsih mpat iten da s la sela nge kira nya 14, rsifa se ng n sa eng ena he +15 uha han t p ntu alam ant ama erin a-k a , No at etek pot abit ggun aga end 5 cm an t ala penc kan m tai a 5 gan kira lan
o.19 vol k ya tens t leb nak ke dakn m d tun at-a cuc n o pas jem 5 ja ngin 15 ngsu 966 atil ang sial bih kan erja nya dari nas- alat ian oleh sca mur am, nan 5%.
ung 6 l g l h n a a i - t n h a r n g
Perajangan bertujuan untuk meratakan kepadatan bahan dalam ketel penyuling, sehingga kapasitas ketel bertambah dan mengoptimalkan pengeluaran minyak nilam.
Perajangan dilakukan dengan memotong-motong terna keringangin dengan ukuran kira-kira 15 cm.
c. Penyimpanan Daun nilam yang telah dikeringkan perlu dilakukan pengepakan dan penyimpanan sementara waktu sebelum penyulingan.
Penyimpanan di atas para-para, di lantai beralaskan papan berkaki. Gudang penyimpanan tidak boleh pada daerah lembab dan sirkulasi udara yang baik.
Penyimpanan daun sebelum disuling tidak boleh lebih dari 3 bulan karena akan menurunkan kadar minyak nilam.
6.2Penyulingan dan Pengemasan Penyulingan yaitu proses pengambilan minyak atsiri dari bahan dengan bantuan uap air. Penyulingan dilakukan dengan cara air dan uap (kukus). Untuk kapasitas di atas 200 kg, sebaiknya menggunakan cara uap langsung dengan boiler. Pada cara kukus, untuk menjaga agar bahan tidak kering maka digunakan sistem kohabasi yaitu air destilat dikembalikan ke dalam ketel.
Kepadatan bahan di dalam ketel kira-kira 100 g/l.
Lama penyulingan kira-kira 7 jam pada cara kukus atau 5 jam pada cara uap langsung. Pada cara kukus, kecepatan penyulingan kira-kira 175 ml/menit. Pada cara uap langsung, tekanan dalam ketel dimulai 0,5 kg/cm2, kemudian dinaikkan secara bertahap hingga pada akhir penyulingan mencapai 1,5 kg/cm2. Minyak hasil penyulingan dipisahkan antara minyak dan air dengan wadah pemisah yang ada krannya dibagian bawah, bila minyak masih kelihatan keruh maka disaring dengan kain monel (kain sablon).
Minyak hasil penyulingan di kemas dalam botol gelas berwarna atau jerigen plastik masiv dari jenis polietilen. Untuk keperluan ekspor, digunakan kemasan dari aluminium atau drum besi yang dilapisi timah putih.
Gambar 17. Alat penyulingan milik petani di Desa Setianegara Sumber: Balittro Gambar 18. Alat penyulingan Sumber: Balittro
V 201 VII.
14, . PE Pe Pr be ni No P ENU edo ract erba ilam .19 Pen 10% UTU ma tice aga m ya 66 ngis % d UP an s/G ai p ang sian ari Tek GAP piha g ba n m vol knis P O ak aik d G S miny lum s B On dan dan Gam Sumb yak me w Bud Pa n s n be mbar ber: B da wad dida atch seba ena
19. Balit alam dah.
aya houl aga ar.
Boto ttro m ke
a N li) i ai a ol tem 34 ema Nila ini acua mpa asa am di an at pe an h Ya sus da M R A enyim har ang sun lam MEN REP AMR mpan us B n a m m NTE PUB RAN nan dib Baik atas mela ERI BLIK N SU min beri k ( k aks PE K IN ULA nyak i ru Goo kerja ana ERTA NDO AIM uang od asa aka ANI ONE MAN g k Ag ama an b IAN ESIA N koso gricu a d bud N A, ong ultu deng dida 5– ural gan aya – l n a