Dalam Peraturan Menteri ini, yang dimaksud dengan:
1. Jabatan Fungsional Perancang Peraturan Perundang- undangan yang selanjutnya disebut Jabatan Fungsional Perancang adalah jabatan yang mempunyai tugas, tanggung jawab, wewenang, dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melakukan kegiatan pembentukan peraturan perundang-undangan dan penyusunan instrumen hukum lainnya pada instansi pusat dan instansi daerah.
2. Perancang Peraturan Perundang-undangan yang selanjutnya disebut Perancang adalah pegawai negeri sipil yang telah diangkat dalam Jabatan Fungsional Perancang yang diberi tugas, tanggung jawab, wewenang, dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melakukan kegiatan pembentukan peraturan perundang-undangan dan penyusunan instrumen hukum lainnya.
3. Kurikulum yang selanjutya disebut kurikulum pelatihan fungsional perancang adalah rencana dan pengaturan mengenai capaian pembelajaran, proses, dan penilaian
yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan pelatihan fungsional perancang.
4. Pelatihan Fungsional Perancang adalah pelatihan yang memberikan pengetahuan dan keahlian fungsional yang berhubungan langsung dengan pelaksanaan tugas Jabatan Fungsional Perancang.
5. Mata Pelatihan yang selanjutnya disebut mata pelatihan fungsional perancang adalah materi ajar yang dibangun berdasarkan bahan kajian bidang keilmuan tertentu atau pertimbangan dari sekelompok bahan kajian atau sejumlah keahlian dalam rangka pemenuhan capaian pembelajaran yang dirumuskan dalam Kurikulum pelatihan fungsional perancang.
6. Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang hukum.
(1) Mata Pelatihan Fungsional Perancang dalam kelompok inti sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) huruf b untuk jenjang Perancang Ahli Pertama terdiri atas:
a. pengantar filsafat hukum;
b. teori hukum;
c. konsensus kebangsaan dalam pembentukan peraturan perundang-undangan, meliputi Pancasila, UNDANG-UNDANG Dasar Negara Kesatuan Republik INDONESIA Tahun 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik INDONESIA;
d. pengantar sistem hukum dan politik hukum nasional;
e. jenis, hierarki, fungsi, dan materi muatan peraturan perundang-undangan;
f. metodologi penormaan;
g. pengantar proses pembentukan peraturan perundang-undangan;
h. perencanaan pembentukan peraturan perundang- undangan;
i. penyusunan naskah akademik;
j. pemahaman terhadap peraturan tentang pembentukan peraturan perundang-undangan;
k. proses penyusunan peraturan daerah;
l. teknik penyusunan peraturan perundang-undangan;
m. bahasa peraturan perundang-undangan;
n. pengharmonisasian, pembulatan, dan pemantapan konsepsi rancangan peraturan perundang- undangan;
o. pembahasan rancangan peraturan perundang- undangan;
p. pengundangan peraturan perundang-undangan;
q. evaluasi peraturan perundang-undangan;
r. legislasi semu dan penetapan;
s. pengujian peraturan perundang-undangan;
t. pendapat hukum;
u. hak asasi manusia dalam penyusunan peraturan perundang-undangan;
v. bimbingan penyusunan tanggapan rancangan peraturan menteri atau yang sederajat, rancangan peraturan daerah dan rancangan peraturan kepala
daerah yang materi muatannya bersifat teknis dan prosedural;
w. kunjungan praktik kerja Perancang di:
1. Dewan Perwakilan Rakyat;
2. Dewan Perwakilan Daerah;
3. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah;
4. Mahkamah Konstitusi;
5. Mahkamah Agung;
6. kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang dalam negeri;
7. pemerintah daerah;
8. badan yang membidangi pembinaan hukum nasional;
9. direktorat jenderal yang membidangi peraturan perundang-undangan; atau
10. kementerian atau lembaga lain yang membidangi pembentukan peraturan perundang-undangan; dan
x. bimbingan penyusunan rancangan peraturan perundang-undangan; dan
y. seminar hasil penyusunan rancangan peraturan perundang-undangan.
(2) Mata Pelatihan Fungsional Perancang dalam kelompok inti sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) huruf b untuk jenjang Perancang Ahli Muda terdiri atas:
a. filsafat hukum;
b. teori hukum;
c. konsensus kebangsaan dalam pembentukan peraturan perundang-undangan, meliputi Pancasila, UNDANG-UNDANG Dasar Negara Republik INDONESIA Tahun 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik INDONESIA;
d. sistem hukum dan politik hukum nasional;
e. metodologi penormaan;
f. perencanaan pembentukan peraturan perundang- undangan;
g. penyusunan naskah akademik;
h. penyusunan rancangan peraturan perundang- undangan;
i. pengharmonisasian, pembulatan, dan pemantapan konsepsi rancangan peraturan perundang- undangan;
j. pembahasan rancangan peraturan perundang- undangan;
k. evaluasi peraturan perundang-undangan;
l. legislasi semu dan penetapan;
m. pengujian peraturan perundang-undangan;
n. pendapat hukum;
o. peraturan perundang-undangan berperspektif hak asasi manusia; dan
p. bimbingan penyusunan tanggapan rancangan PERATURAN PEMERINTAH dan rancangan peraturan PRESIDEN, serta rancangan peraturan daerah yang materi muatannya bersifat lintas sektoral.
(3) Mata Pelatihan Fungsional Perancang dalam kelompok inti sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) huruf b untuk jenjang Perancang Ahli Madya terdiri atas:
a. filsafat hukum;
b. teori peraturan perundang-undangan;
c. konsensus kebangsaan dalam pembentukan peraturan perundang-undangan, meliputi Pancasila, UNDANG-UNDANG Dasar Negara Kesatuan Republik INDONESIA Tahun 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik INDONESIA;
d. sistem hukum dan politik hukum nasional;
e. metodologi penormaan;
f. perencanaan pembentukan peraturan perundang- undangan;
g. penyusunan naskah akademik;
h. penyusunan rancangan peraturan perundang- undangan;
i. pengharmonisasian, pembulatan, dan pemantapan konsepsi rancangan peraturan perundang- undangan;
j. pembahasan rancangan peraturan perundang- undangan;
k. evaluasi peraturan perundang-undangan;
l. legislasi semu dan penetapan;
m. pengintegrasian prinsip-prinsip hak asasi manusia dalam peraturan perundang-undangan; dan
n. bimbingan penyusunan tanggapan rancangan UNDANG-UNDANG dan rancangan PERATURAN PEMERINTAH pengganti UNDANG-UNDANG, serta rancangan peraturan daerah yang materi muatannya berisi hak dan kewajiban, pembebanan kepada masyarakat, dan pemberian sanksi pidana.
(4) Mata Pelatihan Fungsional Perancang dalam kelompok inti sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) huruf b untuk jenjang Perancang Ahli Utama terdiri atas:
a. filsafat hukum;
b. teori peraturan perundang-undangan;
c. konsensus kebangsaan dalam pembentukan peraturan perundang-undangan, meliputi Pancasila, UNDANG-UNDANG Dasar Negara Kesatuan Republik INDONESIA Tahun 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik INDONESIA;
d. sistem hukum dan politik hukum nasional;
e. metodologi penormaan;
f. kebijakan publik;
g. perencanaan penyusunan peraturan perundang- undangan dalam beberapa perspektif;
h. pengharmonisasian, pembulatan dan pemantapan konsepsi peraturan perundang-undangan; dan
i. bimbingan penyempurnaan tanggapan rancangan UNDANG-UNDANG dan rancangan PERATURAN PEMERINTAH pengganti UNDANG-UNDANG, serta rancangan peraturan daerah yang materi muatannya berisi hak dan kewajiban, pembebanan kepada masyarakat, dan pemberian sanksi pidana.