Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Ditandatangani secara elektronik Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Menteri ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik INDONESIA.
Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 27 November 2025
MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA,
PURBAYA YUDHI SADEWA
Diundangkan di Jakarta pada tanggal Д
DIREKTUR JENDERAL PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KEMENTERIAN HUKUM REPUBLIK INDONESIA,
Ѽ
DHAHANA PUTRA
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2025 NOMOR Ж
LAMPIRAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 85 TAHUN 2025 TENTANG PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN BERBASIS AKRUAL NOMOR 20 AGRIKULTUR
PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN BERBASIS AKRUAL NOMOR 20 AGRIKULTUR
STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN BERBASIS AKRUAL PERNYATAAN NOMOR 20
AGRIKULTUR
DAFTAR ISI
Paragraf PENDAHULUAN ......................................................................... 1 − 6 Tujuan ........................................................................................ 1 Ruang Lingkup ............................................................................ 2 − 6 DEFINISI .................................................................................. 7 − 12 PENGAKUAN DAN PENGUKURAN ............................................... 13 − 37 Surplus dan Defisit ..................................................................... 30 − 33 Ketidakmampuan untuk Mengukur Nilai Wajar secara Andal ...... 34 − 37 PENYAJIAN ................................................................................ 38 PENGUNGKAPAN ....................................................................... 39 – 55 Pengungkapan Tambahan untuk Aset Biologis yang Nilai Wajarnya tidak dapat Diukur dengan Andal …………………………53 – 55 TANGGAL EFEKTIF .................................................................. 56 LAMPIRAN A: DASAR KESIMPULAN (BASIC FOR CONCLUSION) LAMPIRAN B: CONTOH ILUSTRASI (ILLUSTRATIVE EXAMPLES) PERBEDAAN DENGAN IPSAS
STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN BERBASIS AKRUAL 1 PERNYATAAN NOMOR 20 2 AGRIKULTUR 3 Paragraf-paragraf yang ditulis dengan huruf tebal dan miring adalah 4 paragraf standar, yang harus dibaca dalam konteks paragraf-paragraf 5 penjelasan yang ditulis dengan huruf biasa dan Kerangka Konseptual 6 Akuntansi Pemerintahan.
7 PENDAHULUAN 8 Tujuan 9
1. Pernyataan standar ini bertujuan untuk mengatur perlakuan 10 akuntansi dan pengungkapan yang terkait dengan aktivitas agrikultur.
11 Ruang Lingkup 12
2. Pernyataan standar ini mengatur pengakuan, pengukuran, dan 13 penyajian pada laporan keuangan entitas pemerintah yang terkait 14 dengan aktivitas agrikultur sebagaimana berikut:
15 a) Aset biologis, kecuali tanaman produktif (bearer plant); dan 16 b) Produk agrikultur pada saat dipanen.
17
3. Pernyataan standar ini tidak diterapkan atas:
18 a) tanah yang digunakan dalam aktivitas agrikultur;
19 b) aset tidak berwujud yang terkait dengan aktivitas agrikultur;
20 c) aset biologis yang habis pakai atau persediaan untuk layanan; dan 21 d) aset hak guna yang muncul dari penyewaan tanah terkait dengan aktivitas 22 agrikultur.
23
4. Aset biologis digunakan dalam beberapa kegiatan yang dilakukan oleh 24 entitas pemerintah. Apabila suatu aset biologis digunakan untuk kegiatan 25 penelitian, pendidikan, transportasi, hiburan, rekreasi, kegiatan pengawasan 26 atau kegiatan lainnya yang bukan merupakan aktivitas agrikultur sebagaimana 27 disebutkan dalam paragraf 7, aset biologis tersebut tidak termasuk ke dalam 28 pengaturan standar ini. Jika aset biologis memenuhi definisi suatu aset, maka 29 pernyataan standar lain dipertimbangkan untuk menentukan perlakuan 30 akuntansinya seperti PSAP yang mengatur mengenai Aset Tetap atau PSAP yang 31 mengatur mengenai Persediaan.
32
5. Pernyataan ini diterapkan untuk produk pertanian yang dihasilkan 33 dari aset biologis pada saat dipanen. Selanjutnya, pengaturan setelah panen 34 mengikuti ketentuan dalam PSAP yang mengatur mengenai Persediaan atau 35 PSAP lainnya. Pernyataan ini tidak diterapkan atas pemrosesan produk 36 agrikultur setelah dipanen. Sebagai contoh, pengolahan kedelai menjadi tempe.
37 Meskipun pemrosesan tempe tersebut terlihat alami seperti proses transformasi 38 biologis (fermentasi), namun tidak termasuk dalam kategori kegiatan agrikultur 39 seperti yang dimaksudkan dalam pernyataan ini.
40
6. Tabel di bawah ini merupakan contoh aset biologis, produk agrikultur, 41 tanaman produktif serta produk hasil olahan panen:
42
Hewan dan Tanaman Produk Agrikultur Produk hasil olahan Panen Aset Biologis Tanaman Produktif Domba -- Wol Benang, Kain Sapi perah -- Susu Keju Sapi potong -- Daging potong Sosis Ikan -- Daging ikan Produk olahan ikan Rumput Laut
Panenan rumput laut Agar-agar rumput laut Tanaman tebu -- Panenan tebu Gula Tanaman padi -- Gabah Beras Tanaman jagung -- Buah Jagung Olahan Jagung Tanaman kedelai -- Kedelai Tempe, Tahu -- Tanaman buah- buahan Buah petikan Buah olahan -- Tanaman teh Daun teh Teh -- Tanaman anggur Buah anggur Minuman anggur -- Pohon kelapa sawit Tandan buah segar Minyak kelapa sawit -- Pohon karet Getah karet Produk olahan karet DEFINISI 1
7. Istilah berikut digunakan dalam Pernyataan Standar ini dengan 2 pengertian:
3 Aktivitas agrikultur adalah manajemen transformasi biologis dan hasil 4 panen dari suatu aset biologis yang dilakukan oleh entitas untuk:
5 a) penjualan;
6 b) distribusi tanpa atau dengan biaya; atau 7 c) perubahan menjadi produk agrikultur atau menjadi tambahan aset 8 biologis untuk dijual atau distribusi tanpa atau dengan biaya.
9 Produk agrikultur adalah hasil panen dari aset biologis entitas.
10 Tanaman produktif adalah tanaman hidup yang:
11 a) digunakan dalam produksi atau penyediaan produk agrikultur;
12 b) diharapkan untuk menghasilkan produk untuk lebih dari satu 13 periode; dan 14 c) memiliki kemungkinan yang sangat jarang untuk dijual sebagai 15 produk agrikultur kecuali untuk penjualan sisa yang jarang terjadi.
16 Aset biologis adalah hewan atau tanaman hidup.
17
Transformasi biologis terdiri atas proses pertumbuhan, degenerasi, 1 produksi dan sesuatu yang menghasilkan perubahan yang 2 mengakibatkan perubahan kualitatif atau kuantitatif suatu aset biologis.
3 Biaya penjualan adalah tambahan biaya yang diatribusikan secara 4 langsung untuk pelepasan aset, tidak termasuk beban pembiayaan dan 5 pajak penghasilan. Pelepasan dapat terjadi melalui distribusi tanpa atau 6 dengan biaya.
7 Kelompok aset biologis adalah gabungan dari hewan atau tanaman hidup 8 yang serupa.
9 Panen adalah pelepasan produk agrikultur dari suatu aset biologis atau 10 penghentian proses hidup aset biologis.
11 Nilai Wajar adalah nilai tukar aset atau penyelesaian kewajiban antar 12 pihak yang memahami dan berkeinginan untuk melakukan transaksi 13 wajar.
14
8. Berikut ini tidak termasuk tanaman produktif:
15 a) tanaman yang dibudidayakan untuk dipanen sebagai produk agrikultur 16 (misalnya pohon yang ditanam dan akan ditebang sebagai potongan kayu);
17 b) tanaman yang dibudidayakan untuk menghasilkan produk agrikultur ketika 18 terdapat kemungkinan yang sangat kecil (more than remote likelihood) bahwa 19 entitas akan memanen dan menjual tanaman sebagai produk agrikultur, 20 selain sebagai penjualan sisa (contoh: pohon yang dibudidayakan baik untuk 21 buah maupun potongan kayu); dan 22 c) tanaman semusim (contoh: jagung dan padi).
23
9. Ketika tanaman produktif tidak lagi menghasilkan, aset tersebut dapat 24 ditebang dan dapat dijual sebagai sisa, sebagai contoh batang tanaman produktif 25 yang dijual sebagai kayu bakar. Penjualan sisa insidental tersebut tidak akan 26 menghalangi tanaman tersebut dari pemenuhan definisi tanaman produktif.
27
10. Produk yang tumbuh pada tanaman produktif merupakan aset 28 biologis.
29
11. Aktivitas agrikultur meliputi beberapa aktivitas seperti peternakan, 30 kehutanan, tanaman semusim atau tahunan, budidaya tanaman perkebunan, 31 budidaya bunga, dan budidaya perikanan (termasuk peternakan ikan dan biota 32 air lainnya seperti rumput laut, mutiara, kerang, terumbu karang dan biota 33 sejenis). Karakteristik aktivitas agrikultur sebagai berikut:
34 a) memiliki kemampuan untuk berubah. Hewan dan tanaman hidup 35 mempunyai kemampuan untuk melakukan transformasi biologis;
36 b) manajemen perubahan. Manajemen mendukung transformasi biologis 37 dengan meningkatkan atau setidaknya menstabilkan kondisi yang 38 diperlukan agar proses tersebut dapat terjadi (sebagai contoh tingkat nutrisi, 39 kelembaban, suhu, kesuburan dan cahaya). Pembudidayaan seperti ini akan 40 membedakan aktivitas agrikultur dengan aktivitas lainnya (sebagai contoh 41 penangkapan ikan laut dan penebangan hutan) bukan merupakan aktivitas 42 agrikultur; dan 43 c) pengukuran perubahan. Perubahan kualitas (seperti keunggulan genetik, 44 kepadatan, kematangan, kadar lemak, kadar protein, dan kekuatan serat) 45 atau perubahan kuantitas (seperti keturunan, berat, meter kubik, panjang 46 atau diameter serat dan jumlah tunas) yang dihasilkan dari transformasi 47 biologis atau hasil panen diukur dan dipantau sebagai satu kegiatan rutin 48 entitas.
49
12. Transformasi biologis menghasilkan jenis keluaran seperti:
1 a) perubahan aset melalui: (i) pertumbuhan (peningkatan kuantitas atau 2 perbaikan kualitas hewan atau tanaman), (ii) degenerasi (penurunan 3 kuantitas atau penurunan kualitas hidup hewan atau tanaman), atau (iii) 4 perkembangbiakan (pengembangbiakan hewan atau tanaman hidup); atau 5 b) produksi produk agrikultur seperti getah, daun teh, wol, dan susu.
6 PENGAKUAN DAN PENGUKURAN 7
13. Entitas mengakui aset biologis atau produk agrikultur jika dan 8 hanya jika:
9 a) Entitas mengendalikan aset tersebut sebagai akibat dari peristiwa 10 masa lalu;
11 b) Besar kemungkinan manfaat ekonomi atau potensi jasa masa depan 12 yang berhubungan dengan aset tersebut akan mengalir ke entitas; dan 13 c) Nilai wajar atau biaya perolehan atas aset tersebut dapat diukur 14 dengan andal.
15
14. Nilai wajar suatu aset didasarkan pada lokasi dan kondisi terkini aset 16 tersebut. Sebagai contoh, nilai wajar ternak pada suatu peternakan adalah harga 17 pasar ternak tersebut dikurangi dengan biaya transportasi dan biaya lainnya 18 untuk memindahkan ternak tersebut dari peternakan menuju ke pasar atau 19 menuju lokasi di mana ternak tersebut akan didistribusikan dengan atau tanpa 20 biaya.
21
15. Dalam aktivitas agrikultur, pengendalian dapat dibuktikan dengan 22 kepemilikan hukum atas ternak dan merek atau penandaan atas ternak pada 23 saat perolehan, kelahiran atau penyapihan. Manfaat ekonomi atau potensi jasa 24 umumnya dinilai dengan pengukuran fisik yang signifikan.
25
16. Aset biologis diukur pada saat perolehan awal dan pada saat 26 tanggal pelaporan sebesar nilai wajar dikurangi biaya penjualan, kecuali 27 sebagaimana diatur dalam paragraf 34, di mana nilai wajarnya tidak 28 dapat diukur secara andal.
29
17. Ketika entitas memperoleh aset biologis melalui transaksi 30 nonpertukaran, aset biologis tersebut diukur pada saat perolehan awal 31 dan pada tanggal pelaporan sesuai paragraf 16.
32
18. Produk agrikultur yang dipanen dari aset biologis entitas diukur 33 dengan menggunakan nilai wajar dikurangi biaya penjualan pada saat 34 panen. Pengukuran dengan menggunakan nilai wajar tersebut merupakan 35 biaya pada tanggal tersebut ketika menerapkan PSAP yang mengatur 36 mengenai Persediaan.
37
19. Penetapan nilai wajar atas aset biologis atau produk agrikultur dapat 38 dilakukan dengan mengelompokkan aset biologis atau produk agrikultur 39 berdasarkan atribut yang signifikan, sebagai contoh berdasarkan umur atau 40 kualitas. Suatu entitas memilih atribut yang sesuai dengan atribut yang 41 digunakan di pasar sebagai dasar penentuan harga.
42
20. Entitas dapat menyepakati kontrak untuk menjual aset biologis atau 43 produk agrikultur di masa yang akan datang. Harga yang tercantum dalam 44 kontrak tidak selalu relevan dengan pengukuran nilai wajar, karena nilai wajar 45 mencerminkan nilai pasar saat ini dimana pembeli dan penjual sepakat untuk 46 melakukan transaksi. Karena itu, nilai wajar aset biologis atau produk agrikultur 47 tidak perlu disesuaikan dengan kontrak tersebut. Dalam beberapa kasus, 48 kontrak penjualan aset biologis atau produk agrikultur dapat berupa kontrak 49 memberatkan, perlakuan akuntansi terkait kontrak memberatkan mengikuti 50
ketentuan standar akuntansi yang mengatur mengenai provisi, kewajiban 1 kontingensi, dan aset kontingensi.
2
21. Jika terdapat pasar aktif atas aset biologis atau produk agrikultur 3 pada lokasi dan kondisi terkini, harga pasar yang dipakai adalah dasar 4 penetapan harga pasar aset tersebut. Jika suatu entitas memiliki kesempatan 5 untuk masuk ke pasar aktif yang lain, entitas menggunakan harga yang paling 6 relevan. Sebagai contoh, jika suatu entitas memiliki kesempatan untuk masuk 7 ke dua pasar aktif, entitas akan menggunakan harga pasar yang diharapkan.
8
22. Jika tidak terdapat pasar aktif atas aset biologis atau produk 9 agrikultur, entitas menggunakan satu atau lebih pertimbangan berikut ini dalam 10 penentuan harga wajarnya:
11 a) Harga terbanyak pada transaksi di pasar saat ini, yang menginformasikan 12 tidak ada perubahan yang berarti pada kondisi ekonomi di antara tanggal 13 transaksi dan tanggal pelaporan;
14 b) Harga pasar aset yang sama setelah penyesuaian untuk menggambarkan 15 perbedaan; dan 16 c) Tolok ukur sektor seperti nilai kebun yang digambarkan per keranjang 17 ekspor, gantang atau hektar dan nilai ternak yang dinyatakan per kilogram 18 daging.
19
23. Dalam beberapa kasus, informasi yang digambarkan dalam paragraf 20 22 dapat memberikan hasil yang berbeda seperti pada nilai wajar dari suatu aset 21 biologis atau produk agrikultur. Suatu entitas mempertimbangkan alasan 22 perbedaan tersebut untuk memenuhi nilai estimasi yang paling dapat 23 diandalkan dari nilai wajar dalam suatu rentang estimasi yang relevan.
24
24. Dalam beberapa kondisi, harga pasar atau nilai aset biologis yang 25 ditetapkan belum tersedia. Pada kondisi ini suatu entitas menggunakan arus 26 kas bersih dalam menentukan nilai wajar.
27
25. Entitas dapat mengembangkan perhitungan untuk menyajikan nilai 28 wajar, diantaranya entitas memasukkan arus kas bersih yang diharapkan dalam 29 penentuan nilai wajar suatu aset untuk menghasilkan nilai aset yang relevan 30 dengan pasar setempat. Entitas mempertimbangkan hal ini dalam menentukan 31 tingkat diskon yang sesuai, yang akan digunakan dan dalam memperkirakan 32 arus kas bersih yang diharapkan.
33
26. Suatu entitas tidak memasukkan aliran kas yang digunakan untuk 34 pembiayaan aset, perpajakan atau penanaman kembali aset biologis setelah 35 panen.
36
27. Untuk memenuhi prinsip transaksi wajar, calon pembeli dan penjual 37 mempertimbangkan kemungkinan variasi aliran masuk kas. Oleh karena itu, 38 entitas memasukkan ekspektasi mengenai kemungkinan variasi arus kas ke 39 dalam arus kas yang diharapkan, atau tingkat diskonto, atau kombinasi 40 keduanya. Dalam menentukan tingkat diskonto, entitas menggunakan asumsi 41 yang konsisten dengan asumsi yang digunakan dalam memperkirakan arus kas 42 yang diharapkan, untuk menghindari dampak beberapa asumsi yang dihitung 43 ganda atau diabaikan.
44
28. Biaya perolehan terkadang dapat mendekati perkiraan nilai wajar, 45 terutama pada saat:
46 (a) sedikit transformasi biologis telah terjadi sejak biaya awal dikeluarkan 47 (sebagai contoh bibit yang ditanam segera sebelum tanggal pelaporan dan 48 hewan ternak yang dibeli sesaat sebelum tanggal pelaporan); dan 49 (b) dampak transformasi biologis pada harga diharapkan tidak material nilainya.
50
29. Aset biologis seringkali secara fisik melekat pada tanah (sebagai 1 contoh, pepohonan dalam hutan). Mungkin tidak terdapat pasar yang terpisah 2 untuk aset biologis yang melekat pada tanah, akan tetapi dimungkinkan 3 terdapat pasar aktif untuk aset gabungan yaitu aset biologis, tanah yang belum 4 dikembangkan dan pengembangan tanah sebagai satu kesatuan. Suatu entitas 5 dapat menggunakan informasi mengenai aset gabungan untuk mengukur nilai 6 wajar aset biologis. Sebagai contoh, nilai wajar tanah yang belum dikembangkan 7 dan pengembangan tanah dapat dikurangkan dari gabungan nilai aset untuk 8 memperoleh nilai wajar aset biologis.
9 Surplus dan Defisit 10
30. Surplus atau defisit yang timbul dari pengakuan awal aset 11 biologis pada nilai wajar dikurangi dengan biaya penjualan dan dari 12 perubahan nilai wajar dikurangi dengan biaya penjualannya diakui 13 sebagai surplus/defisit pada periode di mana surplus/defisit itu terjadi.
14
31. Defisit dapat timbul pada pengakuan awal aset biologis dibandingkan 15 dengan nilai wajar dikurangi biaya penjualan. Surplus dapat timbul dari 16 pengakuan awal aset biologis, seperti ketika anak sapi lahir.
17
32. Surplus atau defisit yang timbul dari pengakuan awal produk 18 agrikultur pada nilai wajar dikurangi dengan biaya penjualan diakui 19 sebagai surplus/defisit pada periode di mana surplus atau defisit itu 20 terjadi.
21
33. Surplus atau defisit dapat timbul pada pengakuan awal produk 22 agrikultur sebagai akibat dari hasil panen.
23 Ketidakmampuan untuk Mengukur Nilai Wajar secara Andal 24
34. Terdapat asumsi bahwa nilai wajar aset biologis dapat diukur 25 secara andal. Namun, asumsi tersebut tidak berlaku apabila pada saat 26 pengakuan awal aset biologis harga kuotasi pasar tidak tersedia dan 27 alternatif estimasi harga pasar tidak dapat diandalkan. Dalam kasus 28 tersebut, aset biologis diukur sebesar biaya perolehannya dikurangi 29 dengan akumulasi penyusutan. Ketika nilai wajar aset biologis dapat 30 diukur dengan andal, suatu entitas mengukur aset biologis tersebut 31 sebesar nilai wajar dikurangi dengan biaya penjualan.
32
35. Pengukuran aset biologis sebesar nilai wajar aset dikurangi biaya 33 penjualannya dapat berlaku hanya pada saat penilaian awal. Suatu entitas yang 34 sebelumnya telah mengukur aset biologis sebesar nilai wajar dikurangi dengan 35 biaya penjualannya, selanjutnya dapat mengukur nilai aset biologis sebesar nilai 36 wajar dikurangi biaya penjualan sampai dengan pelepasannya.
37
36. Dalam semua kasus, suatu entitas mengukur produk agrikultur pada 38 titik panen sebesar nilai wajar dikurangi dengan biaya penjualannya. Pernyataan 39 ini menggambarkan pandangan bahwa nilai wajar aset agrikultur pada titik 40 panen dapat selalu diukur dengan andal.
41
37. Dalam menentukan suatu biaya, akumulasi penyusutan, suatu entitas 42 dapat mempertimbangkan ketentuan yang terdapat pada PSAP yang mengatur 43 mengenai Aset Tetap dan PSAP yang mengatur mengenai Persediaan.
44 PENYAJIAN 45
38. Aset Biologis yang memenuhi kriteria sebagaimana diatur dalam 46 standar ini diklasifikasikan dalam kelompok aset lancar dan/atau aset 47 non lancar sesuai karakteristiknya.
48
PENGUNGKAPAN 1
39. Entitas mengungkapkan keseluruhan surplus atau defisit yang 2 timbul selama periode berjalan pada saat pengakuan awal aset biologis 3 dan produk agrikultur dan dari perubahan nilai wajar dikurangi dengan 4 biaya penjualan aset biologis.
5
40. Entitas memberikan penjelasan atas aset biologis yang dapat 6 membedakan antara aset biologis yang dapat dikonsumsi dan aset 7 biologis produktif serta antara aset biologis yang akan dijual atau akan 8 didistribusikan pada masyarakat tanpa atau dengan biaya.
9
41. Aset biologis yang dapat dikonsumsi adalah aset biologis yang akan 10 dipanen sebagai produk agrikultur, atau untuk dijual, atau akan diserahkan 11 kepada masyarakat. Sebagai contoh, aset biologis yang dapat dikonsumsi adalah 12 hewan ternak dan tanaman semusim seperti budidaya hewan ternak untuk 13 diambil dagingnya, ikan di keramba, jagung dan padi, produksi tanaman 14 produktif dan pohon yang tumbuh untuk diambil potongan kayunya. Aset 15 biologis produktif adalah aset biologis yang digunakan secara berulang atau 16 terus-menerus selama lebih dari satu tahun dalam suatu aktivitas agrikultur.
17 Aset biologis produktif bukan merupakan produk agrikultur namun merupakan 18 aset biologis yang dimiliki untuk menghasilkan produk. Contoh hewan yang 19 merupakan aset biologis menghasilkan yaitu hewan dan unggas yang 20 berkembang biak, sapi yang menghasilkan susu, dan domba yang menghasilkan 21 wol. Contoh tanaman yang merupakan aset biologis produktif yaitu tanaman 22 yang menghasilkan buah atau produk. Tanaman yang menghasilkan lebih dari 23 satu periode tidak termasuk aset biologis namun merupakan tanaman produktif 24 yang diklasifikasikan sebagai aset tetap.
25
42. Pengungkapan sebagaimana dinyatakan dalam paragraf 40 dibuat 26 dalam bentuk penjelasan kuantitatif yang dapat disertai penjelasan naratif.
27
43. Dalam membuat pengungkapan sebagaimana dinyatakan dalam 28 paragraf 40, entitas juga dianjurkan untuk membedakan aset biologis yang 29 menghasilkan ataupun yang belum menghasilkan. Pengungkapan ini akan 30 membantu menilai kapan suatu aset biologis akan menghasilkan aliran masuk 31 sumber daya atau potensi jasa di masa yang akan datang. Entitas 32 mengungkapkan dasar untuk membuat perbedaan semacam itu.
33
44. Aset biologis yang telah menghasilkan adalah yang telah dapat dipanen 34 (untuk aset biologis yang dapat dikonsumsi) atau yang telah dapat dipanen 35 secara teratur (untuk aset biologis produktif).
36
45. Jika tidak diungkapkan dalam informasi yang dipublikasikan 37 dalam laporan keuangan, entitas mengungkapkan:
38 a) sifat dari aktivitas setiap kelompok aset biologis; dan 39 b) ukuran atau estimasi non-keuangan dari kuantitas fisik dari:
40
i. setiap kelompok aset biologis pada akhir periode pelaporan; dan 41 ii. hasil dari produk agrikultur dalam periode berjalan.
42
46. Entitas mengungkapkan metode dan asumsi signifikan yang 43 diterapkan dalam menentukan nilai wajar setiap kelompok produk 44 agrikultur pada saat panen dan setiap kelompok dari aset biologis.
45
47. Entitas mengungkapkan nilai wajar dikurangi biaya penjualan 46 produk agrikultur yang dipanen dalam satu periode tanam, yang 47 ditentukan pada saat panen.
48
48. Entitas mengungkapkan:
49 a) Keberadaan dan nilai tercatat aset biologis yang kepemilikannya 50 dibatasi dan nilai tercatat aset biologis yang dijaminkan sebagai 51
syarat pinjaman;
1 b) Sifat dan tingkat pembatasan penggunaan oleh entitas atau 2 kapasitas untuk menjual aset biologis;
3 c) Jumlah komitmen untuk pengembangan atau perolehan aset biologis;
4 dan 5 d) Risiko keuangan atas manajemen strategis sehubungan dengan 6 aktivitas agrikultur.
7
49. Entitas menyajikan rekonsiliasi perubahan nilai tercatat aset 8 biologis antara awal dan akhir periode berjalan. Rekonsiliasi meliputi:
9 a) Surplus atau defisit yang muncul dari perubahan nilai pasar 10 dikurangi dengan biaya penjualannya, menjelaskan secara terpisah 11 aset biologis menghasilkan dan aset biologis yang dikonsumsi;
12 b) Kenaikan karena adanya pembelian;
13 c) Kenaikan pada aset yang diperoleh dari transaksi nonpertukaran;
14 d) Penurunan karena adanya penjualan;
15 e) Penurunan pada saat aset didistribusikan dengan atau tanpa biaya;
16 f) Penurunan karena dipanen;
17 g) Kenaikan yang disebabkan dari penggabungan entitas;
18 h) Selisih neto pertukaran yang timbul dari translasi laporan keuangan 19 yang disajikan dengan mata uang yang berbeda; dan 20 i) Perubahan lainnya.
21
50. Nilai wajar dikurangi biaya penjualan aset biologis dapat berubah 22 akibat adanya perubahan fisik aset dan perubahan harga pasar. Penjelasan 23 terpisah dari perubahan fisik dan harga bermanfaat dalam menilai kinerja 24 periode berjalan dan prospek di masa yang akan datang, terutama ketika 25 terdapat siklus produksi yang melebihi satu tahun. Pada kasus ini, entitas 26 didorong untuk mengungkapkan baik per kelompok atau yang lainnya, jumlah 27 perubahan nilai wajar dikurangi biaya penjualannya yang dihitung dalam 28 surplus atau defisit sehubungan dengan perubahan fisik dan perubahan harga 29 aset biologis tersebut. Informasi ini secara umum kurang bermanfaat saat siklus 30 produksi kurang dari satu tahun (sebagai contoh: pembudidayaan ayam atau 31 penanaman padi).
32
51. Transformasi biologis menghasilkan beberapa tipe perubahan fisik 33 seperti pertumbuhan, degenerasi, produksi dan budidaya yang diamati dan 34 diukur. Setiap perubahan fisik berhubungan langsung dengan manfaat ekonomi 35 atau potensi jasa di masa depan. Perubahan nilai wajar aset biologis karena 36 panen juga merupakan perubahan fisik.
37
52. Aktivitas agrikultur sering dipengaruhi iklim, penyakit dan risiko alam 38 lainnya. Jika suatu peristiwa terjadi yang memberikan kenaikan pendapatan 39 atau beban secara material maka diungkapkan dalam laporan keuangan.
40 Contoh peristiwa semacam itu seperti wabah penyakit menular, banjir, 41 kekeringan parah atau kebekuan, dan serangan hama.
42 Pengungkapan Tambahan untuk Aset Biologis yang Nilai Wajarnya tidak 43 dapat Diukur dengan Andal 44
53. Jika suatu entitas mengukur aset biologis sebesar biaya 45 perolehan dikurangi dengan akumulasi penyusutan akhir periode, entitas 46 mengungkapkan aset biologis sebagai berikut:
47 a) gambaran dari aset biologis;
48 b) penjelasan alasan nilai wajar tidak dapat diukur secara andal;
49 c) jika memungkinkan, rentang estimasi di mana nilai wajar 50 kemungkinan besar berada;
51 d) metode penyusutan yang digunakan;
52
e) umur manfaat atau tarif penyusutan yang digunakan; dan 1 f) nilai tercatat bruto dan akumulasi penyusutan pada awal dan akhir 2 periode.
3
54. Jika, selama periode berjalan, suatu entitas mengukur aset 4 biologis sebesar nilai perolehan dikurangi dengan akumulasi penyusutan, 5 entitas tersebut mengungkapkan adanya surplus atau defisit yang diakui 6 pada saat pelepasan aset biologis dan rekonsiliasi yang diperlukan 7 sesuai paragraf 49 harus mengungkapkan nilai aset biologis secara 8 terpisah. Selain itu, rekonsiliasi harus mencakup nilai surplus dan defisit 9 terkait aset biologis tersebut:
10 (a) kerugian penurunan nilai;
11 (b) pembalikan kerugian penurunan nilai; dan 12 (c) penyusutan;
13
55. Apabila nilai wajar dari aset biologis sebelumnya diukur dengan 14 biaya perolehan dikurangi dengan akumulasi penyusutan dan menjadi 15 pengukuran yang dapat diandalkan selama periode berjalan, entitas 16 mengungkapkan untuk aset biologis tersebut:
17 a) gambaran aset biologis;
18 b) penjelasan tentang mengapa nilai wajar dapat diukur secara andal;
19 dan 20 c) pengaruh perubahan tersebut.
21 TANGGAL EFEKTIF 22
56. Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan (PSAP) ini berlaku 23 efektif untuk laporan keuangan atas pertanggungjawaban pelaksanaan 24 anggaran mulai Tahun Anggaran 2027.
25
LAMPIRAN A: DASAR KESIMPULAN (BASIC FOR CONCLUSION) 1 (Dasar Kesimpulan ini melengkapi PSAP Agrikultur, namun bukan merupakan 2 bagian dari PSAP Agrikultur).
3 Latar Belakang 4 DK 1 Komite Standar Akuntansi Pemerintahan (KSAP) menyusun PSAP 5 Agrikultur dengan merujuk pada IPSAS 27 Agriculture.
6 Ruang Lingkup 7 DK 2 PSAP Agrikultur menambahkan contoh tanaman produktif pada tabel di 8 paragraf 6, di mana contoh tersebut tidak terdapat dalam IPSAS.
9 Pertimbangan menambahkan tabel tersebut adalah untuk memudahkan 10 pengguna standar membedakan aset biologis dengan tanaman produktif.
11 Definisi Agrikultur 12 DK 3 Definisi Agrikultur dalam PSAP ini merujuk pada IPSAS 27 Agriculture.
13 Penyajian 14 DK 4 Aset biologis disajikan dalam kelompok aset lancar dan/atau aset non 15 lancar sesuai karakteristiknya.
16 Surplus dan Defisit 17 DK 5 PSAP Agrikultur menggunakan istilah surplus dan defisit atas selisih nilai 18 awal dengan nilai wajar aset biologis atau produk agrikultur dikurangi 19 dengan biaya penjualan dan dari perubahan nilai wajar dikurangi dengan 20 biaya penjualannya. Penggunaan istilah surplus dan defisit ini berbeda 21 dengan istilah yang digunakan dalam IPSAS yaitu gain or loss.
22 Pertimbangan menggunakan istilah surplus dan defisit adalah karena 23 fungsi pemerintah yang tidak berorientasi pada keuntungan ekonomi 24 namun menekankan pada fungsi pemberian layanan kepada masyarakat.
25
LAMPIRAN B: CONTOH ILUSTRASI (ILLUSTRATIVE EXAMPLES) 1 (Lampiran ini merupakan bagian tidak terpisahkan dari PSAP Agrikultur) 2 Pemerintah Pusat Neraca Per 31 Desember 20x1
20x1 20x0 Aset Aset Lancar:
- Kas - Pendapatan yang Akan Diterima - Piutang - Persediaan - Aset Biologis Aset Non lancar:
- Tanah - Gedung dan Bangunan - Peralatan dan Mesin - Jalan, Irigasi dan Jaringan - Aset Konsesi Jasa - Properti Investasi - Aset Biologis - Aset Tak Berwujud Jumlah Aset
21x 21x 21x 21x 21x
21x 21x 21x 21x 21x 21x 21x 21x 21x
21x 21x 21x 21x 21x
21x 21x 21x 21x 21x 21x 21x 21x 21x Kewajiban:
- Kewajiban Jangka Pendek:
- Beban yang Masih Akan Dibayar - Pendapatan Tangguhan - Kewajiban Jangka Panjang:
- Utang SBSN - Utang SUN Jumlah Kewajiban
21x 21x
21x 21x 21x
21x 21x
21x 21x 21x Ekuitas:
Ekuitas Jumlah Ekuitas
21x 21x
21x 21x
MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
PURBAYA YUDHI SADEWA PERBEDAAN DENGAN IPSAS
PSAP 20: Agrikultur disusun merujuk pada pengaturan dalam International Public Sector Accounting Standards (IPSAS) 27 – Agriculture, yang berlaku efektif per 31 Januari 2021, kecuali:
1. IPSAS 27 Agriculture paragraf 6 memberikan penjelasan terkait contoh dari aset biologis, produk agrikultur, serta produk hasil olahan panen.
Penjelasan tersebut diadaptasi berupa perubahan dalam tabel.
2. IPSAS 27 Agriculture paragraf 30, 31, 32, 33, 39, 49, dan 54 terkait gain or loss yang timbul dari pengakuan aset biologis pada nilai wajar diadaptasi terminologinya menjadi surplus atau defisit untuk menghindari kerancuan istilah jika menggunakan keuntungan dan kerugian.
3. IPSAS 27 Agriculture tidak memiliki paragraf terkait penyajian namun pada PSAP Agrikultur ditambahkan paragraf 38 yaitu aset biologis disajikan dalam kelompok aset lancar dan/atau aset non lancar sesuai karakteristiknya, agar menjadi perhatian dan memudahkan implementasinya.