PENGELOLAAN LIMBAH DAN ZAT KIMIA PENGOPERASIAN BANDAR UDARA
Pengelolaan sampah yang ditimbulkan dari pengoperasian bandar udara meliputi:
a. Pengurangan sampah;
b. Pemilahan sampah;
c. Pengumpulan sampah;
d. Pengolahan sampah; dan
e. Pengangkutan sampah.
(1) Pengurangan sampah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf a terdiri atas kegiatan pembatasan timbulan sampah, pendauran ulang sampah, dan pemanfaatan kembali sampah di bandar udara.
(2) Pengurangan sampah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan cara:
a. menggunakan bahan yang dapat diguna ulang, bahan yang dapat didaur ulang, dan/atau bahan yang mudah diurai oleh proses alam;
dan/atau
b. mengumpulkan dan menyerahkan kembali sampah dari produk dan/atau kemasan yang sudah digunakan.
(3) Penyelenggara Bandar Udara harus membuat program untuk melakukan pengurangan sampah di bandar udara.
(1) Pemilahan sampah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf b merupakan kegiatan mengelompokkan dan memisahkan sampah sesuai jenisnya.
(2) Penyelenggara Bandar Udara wajib menyediakan sarana pemilahan sampah di bandar udara.
(3) Penyediaan sarana pemilahan sampah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berupa penyediaan fasilitas pewadahan sampah paling sedikit 5 (lima) jenis sampah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat
(1) huruf e.
(1) Pengumpulan sampah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf c merupakan kegiatan mengambil dan memindahkan sampah dari sumber sampah di bandar udara ke Tempat Penampungan Sampah Sementara (TPS) bandar udara atau ke Tempat Pengolahan Sampah dengan prinsip Reduce-Reuse- Recycle (TPS 3R).
(2) Penyelenggara Bandar Udara dalam melakukan pengumpulan sampah wajib menyediakan:
a. Tempat Penampungan Sementara (TPS);
b. Tempat Pengolahan Sampah dengan prinsip Reduce-Reuse-Recycle (TPS 3R); dan/atau
c. Alat pengumpul untuk sampah terpilah.
(1) Pengolahan sampah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf d merupakan kegiatan mengubah karakteristik, komposisi dan/atau jumlah sampah.
(2) Pengolahan sampah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi kegiatan:
a. pemadatan;
b. pengomposan;
c. daur ulang materi; dan/atau
d. daur ulang energi.
(3) Penyelenggara Bandar Udara dapat melakukan kegiatan pengolahan sampah bandar udara dengan menyediakan fasilitas pengolahan sampah skala kawasan yang berupa Tempat Pengolahan Sampah dengan prinsip reduce, reuse dan recycle (TPS 3R).
(4) Kegiatan pengoperasian TPS 3R bandar udara dapat dilakukan dengan:
a. penampungan sampah;
b. pemilahan sampah;
c. pengolahan sampah organik (composting);
d. pendaurulangan sampah non organik;
e. pengelolaan sampah spesifik rumah tangga sesuai dengan ketentuan yang berlaku; dan
f. pengumpulan sampah residu dalam kontainer untuk diangkut ke TPA.
(1) Pengangkutan sampah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf e merupakan kegiatan memindahkan sampah dari TPS bandar udara atau TPS 3R bandar udara ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) atau Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST).
(2) Dalam pengangkutan sampah ke TPA atau TPST, Penyelenggara Bandar Udara harus memperhatikan:
a. Bandar udara yang belum mempunyai TPS 3R, sampah dari TPS diangkut ke TPA;
b. Bandar udara yang sudah mempunyai TPS 3R, sampah residu dari TPS 3R diangkut ke TPA.
(3) Penyelenggara Bandar Udara dalam melakukan pengangkutan sampah dengan alat angkut sampah yang tidak mencemari lingkungan.
(1) Penyelenggara Bandar Udara dalam melakukan pengelolaan sampah dapat bekerjasama dengan
orang perseorangan warga negara INDONESIA, badan hukum INDONESIA dan/atau pemerintah daerah.
(2) Dalam melakukan kerjasama pengelolaan sampah sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Penyelenggara Bandar Udara harus memastikan bahwa orang perseorangan warga negara INDONESIA, badan hukum INDONESIA dan/atau pemerintah daerah mempunyai kemampuan untuk mengelola sampah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pengelolaan Air Limbah bandar udara meliputi:
a. Pengurangan Air Limbah;
b. Penyaluran Air Limbah;
c. Pengolahan Air Limbah; dan
d. Pembuangan Air Limbah.
(1) Pengurangan Air Limbah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 huruf a merupakan kegiatan meminimalisasi air limbah dari setiap kegiatan di bandar udara.
(2) Pengurangan Air Limbah sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dapat dilakukan dengan:
a. efisiensi pemakaian air di bandar udara; dan
b. pemasangan peralatan hemat air di bandar udara.
(3) Penyelenggara Bandar Udara harus menerapkan kebijakan dan membuat program untuk melakukan pengurangan Air Limbah di bandar udara.
(1) Penyaluran Air Limbah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 huruf b merupakan kegiatan
menyalurkan Air Limbah dari sumber di bandar udara ke fasilitas pengolahan Air Limbah.
(2) Dalam penyaluran Air Limbah sebagaimana dimaksud pada ayat (1), harus memenuhi syarat:
a. Air permukaan tidak boleh terkontaminasi;
b. Air tanah tidak boleh terkontaminasi;
c. Tidak memberi kemungkinan terhadap berkembangbiaknya agen-agen penyakit; dan
d. Tidak mengganggu dari segi bau dan estetika.
(3) Penyelenggara Bandar Udara dalam melakukan penyaluran Air Limbah sebagaimana dimaksud pada ayat (1), wajib untuk:
a. membuat saluran Air Limbah yang tertutup dan kedap air;
b. memisahkan saluran Air Limbah dengan saluran drainase/air hujan; dan
c. mencegah terkontaminasi dengan ceceran bahan bakar minyak, pelumas dan lainnya.
(1) Pengolahan Air Limbah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 huruf c merupakan kegiatan menurunkan, meminimalkan dan/atau mengurangi kadar polutan yang terdapat dalam air limbah.
(2) Penyelenggara Bandar Udara dalam melakukan pengolahan Air Limbah sebagaimana dimaksud pada ayat (1), wajib menyediakan fasilitas pengolahan Air Limbah sesuai dengan skala Air Limbah yang dihasilkan di bandar udara.
(1) Pembuangan Air Limbah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 huruf d merupakan kegiatan membuang Air Limbah hasil pengolahan air limbah ke media lingkungan.
(2) Penyelenggara Bandar Udara dalam melakukan pembuangan Air Limbah sebagaimana dimaksud
pada ayat
(1), wajib memenuhi baku mutu Air Limbah.
(1) Penyelenggara Bandar Udara dalam melakukan pengelolaan Air Limbah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20, dapat bekerjasama dengan orang perseorangan warga negara INDONESIA, badan hukum INDONESIA dan/atau pemerintah daerah.
(2) Dalam melakukan kerjasama pengelolaan air limbah sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Penyelenggara Bandar Udara harus memastikan bahwa orang perseorangan warga negara INDONESIA, badan hukum INDONESIA dan/atau pemerintah daerah mempunyai kemampuan untuk mengelola Air Limbah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(1) Untuk meningkatkan pengelolaan Air Limbah di bandar udara, Penyelenggara Bandar Udara dapat melakukan kegiatan:
a. pendaurulangan Air Limbah; dan
b. pemanfaatan kembali Air Limbah.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai pendaurulangan Air Limbah dan pemanfaatan kembali air limbah diatur oleh peraturan perundang-undangan.
Pengelolaan limbah B3 bandar udara terdiri atas:
a. Pengurangan limbah B3;
b. Penyimpanan limbah B3;
c. Pengumpulan limbah B3;
d. Pengangkutan limbah B3;
e. Pemanfaatan limbah B3;
f. Pengolahan limbah B3; dan/atau
g. Penimbunan limbah B3.
(1) Pengurangan Limbah B3 bandar udara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 huruf a merupakan kegiatan penyelenggara bandar udara untuk mengurangi jumlah dan/atau racun dari limbah B3 sebelum dihasilkan dari suatu usaha atau kegiatan di bandar udara.
(2) Pengurangan Limbah B3 bandar udara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui:
a. Substitusi bahan;
b. Modifikasi proses; dan/atau
c. Penggunaan teknologi ramah lingkungan.
(3) Prosedur lebih lanjut mengenai pengurangan limbah B3 Bandar Udara dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(1) Penyimpanan Limbah B3 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 huruf b merupakan kegiatan menyimpan Limbah B3 yang dilakukan oleh Penyelenggara Bandar Udara dengan maksud menyimpan sementara Limbah B3 yang dihasilkannya.
(2) Setiap bandar udara yang kegiatannya menghasilkan Limbah B3 di bandar udara, Penyelenggara Bandar Udara wajib melakukan penyimpanan Limbah B3 dan mempunyai izin penyimpanan Limbah B3.
(3) Dalam melakukan penyimpanan limbah B3 sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Penyelenggara Bandar Udara harus memenuhi persyaratan dan tata cara pengemasan/pewadahan limbah B3 serta persyaratan penyimpanan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan-undangan.
(1) Pengumpulan Limbah B3 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 huruf c merupakan kegiatan mengumpulkan Limbah B3 dari Penghasil Limbah B3 di bandar udara sebelum diserahkan kepada Pemanfaat Limbah B3, Pengolah Limbah B3, dan/atau Penimbun Limbah B3.
(2) Setiap Penyelenggara Bandar Udara yang menghasilkan Limbah B3 wajib melakukan Pengumpulan Limbah B3 yang dihasilkannya.
(3) Dalam hal Setiap Penyelenggara Bandar Udara yang menghasilkan Limbah B3 tidak mampu melakukan sendiri Pengumpulan Limbah B3 yang dihasilkannya, Pengumpulan Limbah B3 diserahkan kepada Pengumpul Limbah B3.
(4) Dalam melakukan pengumpulan Limbah B3 sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Penyelenggara Bandar Udara harus memenuhi persyaratan pengumpulan Limbah B3 sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan-undangan.
(1) Pengangkutan Limbah B3 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 huruf d merupakan kegiatan memindahkan Limbah B3 dari sumber atau tempat penyimpanan limbah B3 di bandar udara ke pengumpul dan/atau pengolah dan/atau pemanfaat dan/atau penimbun limbah B3.
(2) Dalam pengangkutan Limbah B3 sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Penyelenggara Bandar Udara harus memenuhi persyaratan pengangkutan limbah B3 sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(1) Pemanfaatan limbah B3 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 huruf e merupakan kegiatan
penggunaan kembali, daur ulang, dan/atau perolehan kembali yang bertujuan untuk mengubah Limbah B3 menjadi produk yang dapat digunakan sebagai substitusi bahan baku, bahan penolong, dan/atau bahan bakar yang aman bagi kesehatan manusia dan lingkungan hidup.
(2) Dalam melakukan pemanfaatan limbah B3 sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Penyelenggara Bandar Udara harus memenuhi persyaratan pemanfaatan limbah B3 sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan-undangan.
(1) Pengolahan Limbah B3 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 huruf f merupakan proses untuk mengurangi dan/atau menghilangkan sifat bahaya dan/atau sifat racun.
(2) Dalam melakukan pengolahan Limbah B3 sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Penyelenggara Bandar Udara harus memenuhi persyaratan pengolahan Limbah B3 sesuai peraturan perundangan-undangan.
(1) Penimbunan limbah B3 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 huruf g merupakan kegiatan menempatkan Limbah B3 pada fasilitas penimbunan dengan maksud tidak membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan hidup.
(2) Dalam melakukan penimbunan Limbah B3 sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Penyelenggara Bandar Udara harus memenuhi persyaratan penimbunan Limbah B3 sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan-undangan
(1) Setiap Penyelenggara Bandar Udara yang menghasilkan Limbah B3, Pengumpul Limbah B3, Pemanfaat Limbah B3, Pengangkut Limbah B3, Pengolah Limbah B3, dan/atau Penimbun Limbah B3 wajib memiliki Sistem Tanggap Darurat.
(2) Dalam melakukan sistem tanggap darurat pengelolaan Limbah B3 sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Penyelenggara Bandar Udara harus memenuhi persyaratan tanggap darurat pengelolaan Limbah B3 sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan-undangan.
(1) Penyelenggara Bandar Udara dalam melakukan pengelolaan Limbah B3 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27, dapat bekerjasama dengan orang perseorangan warga negara INDONESIA, badan hukum INDONESIA dan/atau pemerintah daerah.
(2) Dalam melakukan kerjasama pengelolaan Limbah B3 sebagaimana dimaksud pada ayat
(1), Penyelenggara Bandar Udara harus memastikan bahwa orang perseorangan warga negara INDONESIA, badan hukum INDONESIA dan/atau pemerintah daerah mempunyai izin untuk mengelola limbah B3 sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan.
(3) Dalam hal Penyelenggara Bandar Udara melakukan pengelolaan Limbah B3 sendiri maka Penyelenggara Bandar Udara harus memiliki izin untuk mengelola B3 sesuai dengan ketentuan peraturan perundang - undangan.