PENYEDIAAN DAN PEMANFAATAN BBN JENIS BIODIESEL
(1) Penyediaan dan pemanfaatan BBN Jenis Biodiesel dalam kerangka pembiayaan oleh Badan Pengelola Dana bertujuan untuk:
a. mewujudkan pemenuhan penahapan kewajiban minimal pemanfaatan BBN Jenis Biodiesel secara berkelanjutan; dan
b. penyelenggaraan penyediaan dan penyaluran Dana Pembiayaan Biodiesel secara tepat sasaran, tepat waktu, dan tepat manfaat.
(2) Penyediaan dan pemanfaatan BBN Jenis Biodiesel secara berkelanjutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, meliputi:
a. aspek lingkungan;
b. aspek ekonomi; dan
c. aspek sosial.
(3) Indikator dan kriteria aspek lingkungan, aspek ekonomi, dan aspek sosial sebagaimana dimaksud pada ayat (2), ditetapkan oleh Menteri melalui Dirjen EBTKE.
(1) Badan Usaha BBM wajib melakukan pencampuran BBN Jenis Biodiesel dengan BBM Jenis Minyak Solar sesuai dengan persentase yang ditetapkan oleh Menteri.
(2) Badan Usaha BBM dalam penyaluran, wajib menyalurkan BBM Jenis Minyak Solar yang dicampur BBN Jenis Biodiesel sebagaimana dimaksud pada ayat
(1).
(3) Badan Usaha BBM sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:
a. Badan Usaha BBM yang melakukan kegiatan usaha pengolahan minyak dan gas bumi yang menghasilkan BBM Jenis Minyak Solar; dan/atau
b. Badan Usaha BBM yang melakukan kegiatan usaha niaga minyak dan gas bumi.
(4) Badan Usaha BBM yang melakukan kegiatan usaha niaga minyak dan gas bumi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b, terdiri atas:
a. Badan Usaha BBM yang melakukan impor BBM Jenis Minyak Solar; atau
b. Badan Usaha BBM yang melakukan pembelian BBM Jenis Minyak Solar dari Badan Usaha BBM yang melakukan kegiatan usaha pengolahan minyak dan
gas bumi yang menghasilkan BBM Jenis Minyak Solar sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a.
(5) Badan Usaha BBM yang melakukan pembelian BBM Jenis Minyak Solar sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf b, harus terlebih dahulu mendapatkan penetapan alokasi volume BBN Jenis Biodiesel.
(6) Badan Usaha BBM yang melakukan kegiatan usaha pengolahan minyak dan gas bumi yang menghasilkan BBM Jenis Minyak Solar sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a, dapat menjual BBM Jenis Minyak Solar kepada Badan Usaha BBM sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf b, dengan memperhatikan optimalisasi pemanfaatan BBM Jenis Minyak Solar dalam negeri.
(7) Ketentuan volume BBM Jenis Minyak Solar yang dijual sebagaimana dimaksud pada ayat (6), dikecualikan dari kewajiban pencampuran BBN Jenis Biodiesel dengan BBM Jenis Minyak Solar oleh Badan Usaha BBM sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a.
(8) Kewajiban pencampuran volume BBM Jenis Minyak Solar yang dijual sebagaimana dimaksud pada ayat (6), dilaksanakan oleh Badan Usaha BBM sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf b.
(1) Badan Usaha BBM yang menyalurkan BBM Jenis Minyak Solar dengan peruntukan tertentu dikecualikan dari kewajiban pencampuran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) dan penyaluran BBM Jenis Minyak Solar yang dicampur BBN Jenis Biodiesel sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2).
(2) Peruntukan tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat
(1), meliputi:
a. pembangkit listrik yang belum dapat menggunakan campuran BBN Jenis Biodiesel;
b. kebutuhan BBM Jenis Minyak Solar untuk operasional di ketinggian 2.400 mdpl (dua ribu empat ratus meter di atas permukaan laut) dan
dengan suhu di bawah 15 oC (lima belas derajat celsius);
c. kebutuhan alat utama sistem pertahanan;
d. bahan bakar untuk kebutuhan engine performance test oleh pabrikan mesin atau bahan bakar pada mesin yang akan diekspor;
e. pengguna langsung yang menggunakan BBM Jenis Minyak Solar bukan sebagai bahan bakar; dan
f. BBM Jenis Minyak Solar dengan spesifikasi cetane number 51 di stasiun pengisian bahan bakar untuk transportasi darat.
(3) Peruntukan tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) dipergunakan untuk kepentingan sendiri dan tidak diperjualbelikan.
(4) Badan Usaha BBM sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berkewajiban melaporkan penyaluran BBM Jenis Minyak Solar, kepada Dirjen Migas dengan tembusan kepada Dirjen EBTKE.
(5) Pengguna peruntukan tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a sampai dengan huruf e harus melaporkan perencanaan dan penggunaan BBM Jenis Minyak Solar kepada Dirjen Migas dengan tembusan kepada Dirjen EBTKE.
(6) Pelaporan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dan ayat
(5) dilakukan setiap bulan.
(7) Dalam hal diperlukan Dirjen Migas dapat meminta pelaporan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dan ayat
(5) sewaktu-waktu.
(1) Pengadaan BBN Jenis Biodiesel oleh Badan Usaha BBM untuk pencampuran BBN Jenis Biodiesel dengan BBM Jenis Minyak Solar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1), dilaksanakan untuk dicampurkan menjadi:
a. jenis bahan bakar minyak tertentu untuk minyak solar; dan/atau
b. jenis bahan bakar minyak umum untuk minyak solar, berdasarkan kebijakan komite pengarah Badan Pengelola Dana.
(2) Pengadaan BBN Jenis Biodiesel oleh Badan Usaha BBM sebagaimana dimaksud pada ayat (1), diselenggarakan dengan periode setiap 12 (dua belas) bulan yang dimulai pada bulan Januari.
(3) Persiapan pengadaan BBN Jenis Biodiesel oleh Badan Usaha BBM sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dimulai paling lambat 90 (sembilan puluh) hari sebelum periode pengadaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dimulai.
(4) Periode pengadaan BBN Jenis Biodiesel sebagaimana dimaksud pada ayat (2), dapat diubah berdasarkan kebijakan komite pengarah Badan Pengelola Dana.
(5) Pengadaan BBN Jenis Biodiesel oleh Badan Usaha BBM sebagaimana dimaksud pada ayat (2), dilakukan melalui mekanisme penunjukan langsung dengan menerapkan prinsip transparansi, efektivitas, efisiensi, keadilan, dan berkelanjutan dalam penyediaan dan pemanfaatan BBN Jenis Biodiesel.
(1) Dirjen Migas menyampaikan usulan daftar Badan Usaha BBM yang akan melaksanakan pengadaan BBN Jenis Biodiesel sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) kepada Menteri.
(2) Usulan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) disampaikan kepada Dirjen EBTKE setelah mendapatkan persetujuan dari Menteri.
(3) Daftar Badan Usaha BBM sebagaimana dimaksud pada ayat (2), disampaikan secara tertulis, termasuk:
a. volume kebutuhan BBM Jenis Minyak Solar; dan
b. rencana titik serah Badan Usaha BBM.
(4) Penyampaian daftar Badan Usaha BBM sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ditembuskan kepada Badan Pengelola Dana.
(1) Untuk melaksanakan pengadaan BBN Jenis Biodiesel sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1), Menteri melalui Dirjen EBTKE MENETAPKAN daftar Badan Usaha BBN yang akan mengikuti pengadaan BBN Jenis Biodiesel.
(2) Badan Usaha BBN yang akan mengikuti pengadaan BBN Jenis Biodiesel sebagaimana dimaksud pada ayat (1), harus menyampaikan permohonan kepada Dirjen EBTKE dengan melampirkan persyaratan meliputi:
a. bukti bahwa BBN Jenis Biodiesel yang diproduksi atau disalurkan telah memenuhi standar kualitas atau spesifikasi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
b. surat pernyataan jaminan menyediakan BBN Jenis Biodiesel sesuai dengan kuota alokasi yang akan ditetapkan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri secara berkesinambungan;
c. surat pernyataan kemampuan produksi bulanan BBN Jenis Biodiesel; dan
d. surat pernyataan jaminan menyediakan cadangan BBN Jenis Biodiesel.
(3) Berdasarkan permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Dirjen EBTKE melakukan evaluasi.
(4) Berdasarkan hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3), Menteri melalui Dirjen EBTKE MENETAPKAN Badan Usaha BBN yang akan mengikuti pengadaan BBN Jenis Biodiesel.
(1) Salinan penetapan Badan Usaha BBN yang akan mengikuti pengadaan BBN Jenis Biodiesel sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7, disampaikan oleh Dirjen EBTKE kepada Badan Usaha BBM yang akan melaksanakan pengadaan BBN Jenis Biodiesel.
(2) Salinan penetapan Badan Usaha BBN sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ditembuskan kepada Dirjen Migas dan Badan Pengelola Dana.
(1) Berdasarkan penetapan Badan Usaha BBN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1), Badan Usaha BBM menyampaikan usulan Badan Usaha BBN yang akan ditunjuk untuk mengikuti pengadaan BBN Jenis Biodiesel kepada Menteri melalui Dirjen EBTKE.
(2) Penyampaian usulan Badan Usaha BBN sebagaimana dimaksud pada ayat (1), paling lambat 5 (lima) hari kerja sejak penyampaian penetapan Badan Usaha BBN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8.
(3) Pengusulan Badan Usaha BBN oleh Badan Usaha BBM sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan bagian dari proses pengadaan dengan mekanisme penunjukan langsung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (5).
(1) Dirjen EBTKE melakukan evaluasi atas usulan Badan Usaha BBN oleh Badan Usaha BBM sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1).
(2) Dalam melakukan evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat
(1), Dirjen EBTKE membentuk tim evaluasi pengadaan BBN Jenis Biodiesel.
(3) Tim evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2), beranggotakan perwakilan dari:
a. Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi;
b. Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi;
c. Sekretariat Jenderal, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral;
d. Badan Penelitian dan Pengembangan Energi dan Sumber Daya Mineral; dan
e. Badan Pengelola Dana.
(4) Tim evaluasi pengadaan BBN Jenis Biodiesel sebagaimana dimaksud pada ayat (3) mempunyai tugas:
a. melakukan evaluasi usulan Badan Usaha BBN;
b. menilai dan memberikan rekomendasi usulan Badan Usaha BBN; dan
c. menentukan volume alokasi BBN Jenis Biodiesel masing-masing Badan Usaha BBN untuk masing- masing Badan Usaha BBM.
(5) Besaran volume alokasi BBN Jenis Biodiesel sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf c, ditetapkan secara proporsional berdasarkan prinsip transparansi, efektivitas, efisiensi, keadilan, dan berkelanjutan.
(6) Hasil evaluasi, penilaian, rekomendasi, dan penentuan volume alokasi BBN Jenis Biodiesel sebagaimana dimaksud pada ayat (4), disampaikan kepada Dirjen EBTKE.
(7) Berdasarkan penyampaian hasil evaluasi, penilaian, rekomendasi, dan penentuan volume alokasi BBN Jenis Biodiesel sebagaimana dimaksud pada ayat (6), Dirjen EBTKE melaporkan kepada Menteri untuk mendapatkan persetujuan.
(8) Persetujuan Menteri sebagaimana dimaksud pada ayat
(7), berupa persetujuan atas total volume alokasi BBN Jenis Biodiesel untuk 1 (satu) periode pengadaan BBN Jenis Biodiesel.
(1) Setelah mendapatkan persetujuan Menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (8), dalam jangka waktu paling lambat 5 (lima) hari kerja Menteri melalui Dirjen EBTKE MENETAPKAN Badan Usaha BBM dan Badan Usaha BBN beserta alokasi volume BBN Jenis Biodiesel untuk masing-masing Badan Usaha BBM.
(2) Penetapan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1), disampaikan oleh Dirjen EBTKE kepada Badan Usaha BBM, Badan Usaha BBN, dan Badan Pengelola Dana.
(3) Penyampaian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan paling lambat 2 (dua) hari kerja sejak tanggal penetapan.
(4) Penetapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), berlaku sebagai penunjukan langsung Badan Usaha BBN oleh Badan Usaha BBM dalam pengadaan BBN Jenis Biodiesel.
(5) Badan Usaha BBN yang telah mendapatkan penetapan sebagaimana dimaksud pada ayat (4), wajib menyalurkan BBN Jenis Biodiesel kepada Badan Usaha BBM.
(6) Penyaluran BBN Jenis Biodiesel sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dilaksanakan sesuai dengan:
a. alokasi volume BBN Jenis Biodiesel sebagaimana dimaksud pada ayat (1);
b. waktu dan spesifikasi BBN Jenis Biodiesel yang disepakati dalam kontrak; dan
c. titik serah BBN Jenis Biodiesel.
(7) Titik serah BBN Jenis Biodiesel sebagaimana dimaksud pada ayat (6) huruf c, ditetapkan oleh Dirjen Migas setelah berkoordinasi dengan Dirjen EBTKE.
(1) Penunjukan langsung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (4) menjadi dasar penandatanganan:
a. kontrak antara Badan Usaha BBN dengan Badan Usaha BBM; dan
b. perjanjian antara Badan Pengelola Dana dengan Badan Usaha BBN.
(2) Penandatanganan kontrak dan perjanjian sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilakukan paling lambat 14 (empat belas) hari kerja setelah penyampaian penetapan oleh Dirjen EBTKE sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (3).
(3) Salinan kontrak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, wajib disampaikan oleh Badan Usaha BBM kepada Dirjen EBTKE, Dirjen Migas, dan Badan Pengelola Dana.
(4) Penyampaian salinan kontrak sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilaksanakan paling lambat 14 (empat belas) hari terhitung sejak penandatanganan kontrak.
(1) Menteri melalui Dirjen EBTKE dapat melakukan perubahan penetapan Badan Usaha BBN dan/atau alokasi volume BBN Jenis Biodiesel sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1).
(2) Perubahan penetapan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1), dilakukan berdasarkan hasil evaluasi tim evaluasi pengadaan BBN Jenis Biodiesel.
(3) Tim evaluasi pengadaan BBN Jenis Biodiesel melaporkan hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2), kepada Dirjen EBTKE.
(4) Berdasarkan laporan sebagaimana dimaksud pada ayat
(3), Menteri melalui Dirjen EBTKE MENETAPKAN:
a. perubahan penetapan Badan Usaha BBN; dan/atau
b. perubahan penetapan alokasi BBN Jenis Biodiesel.
(5) Perubahan penetapan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1), dapat dilakukan pada periode pengadaan BBN Jenis Biodiesel yang sedang berjalan.
(6) Perubahan penetapan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dilakukan berdasarkan alasan paling sedikit:
a. kegagalan pengiriman BBN Jenis Biodiesel;
b. Badan Usaha BBN tidak beroperasi;
c. perubahan kebutuhan BBM Jenis Minyak Solar;
dan/atau
d. perubahan titik serah Badan Usaha BBM.
Dalam hal perubahan penetapan Badan Usaha BBN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (4) huruf a, menyebabkan penambahan Badan Usaha BBN di luar yang telah ditetapkan, Badan Usaha BBN harus menyampaikan permohonan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2).
Dalam hal perubahan penetapan alokasi BBN Jenis Biodiesel sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (4) huruf b, mengakibatkan perubahan total volume alokasi BBN Jenis Biodiesel, perubahan penetapan harus mendapatkan persetujuan Menteri.
(1) Untuk perubahan kebutuhan BBM Jenis Minyak Solar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (6) huruf c dan/atau perubahan titik serah Badan Usaha BBM sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (6) huruf d, dilakukan berdasarkan surat pemberitahuan dari Dirjen Migas.
(2) Surat pemberitahuan dari Dirjen Migas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), memuat paling sedikit:
a. daftar Badan Usaha BBM;
b. volume kebutuhan BBM Jenis Minyak Solar;
dan/atau
c. titik serah Badan Usaha BBM.
(3) Berdasarkan surat pemberitahuan dari Dirjen Migas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilakukan evaluasi
oleh tim evaluasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (2).