Ketentuan-ketentuan dalam Peraturan Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Malang Nomor 6 Tahun 1989 tentang Penyelenggaraan Kebersihan dalam Kotamadya Daerah Tingkat II Malang diubah sebagai berikut :
1. Ketentuan pasal 1 diubah, sehingga keseluruhan Pasal 1 berbunyi sebagai berikut :
a. Daerah adalah Kota Malang;
b. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Kota Malang;
c. Kepala Daerah adalah Walikota Malang;
d. Pejabat adalah Pegawai yang diberikan tugas tertentu di bidang Retribusi Daerah sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku;
e. Tempat Penampungan Sementara yang selanjutnya dapat disingkat TPS adalah tempat penampungan sampah yang berasal dari lingkungan di desa//kelurahan sebelum diangkut ke TPA;
f. Tempat Pembuangan Akhir yang selanjutnya dapat disingkat TPA adalah tempat untuk menampung, mengolah dan memusnahkan sampah;
g. Sampah adalah limbah yang berbentuk padat atau setengah padat yang berasal dari kegiatan orang pribadi atau badan yang terdiri dari bahan organik dan anorganik, logam dan non logam yang dapat terbakar tetapi tidak termasuk buangan biologis/kotoran manusia dan sampah berbahaya;
h. Badan adalah suatu bentuk badan usaha yang meliputi Perseroan Terbatas, Perseroan Komanditer, Perseroan lainnya, Badan Usaha Milik Negara atau Daerah dengan nama dan bentuk apapun, persekutuan, perkumpulan, firma, kongsi, koperasi, yayasan atau organisasi yang sejenis, lembaga dana pensiun, bentuk usaha tetap, serta bentuk badan usaha lainnya;
i. Retribusi Jasa Umum adalah retribusi atas jasa yang disediakan atau diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk tujuan kepentingan dan kemanfaatan umum serta dapat dinikmati oleh orang pribadi atau badan;
j. Retribusi Pelayanan Persampahan dan atau kebersihan yang selanjutnya disebut retribusi adalah pembayaran atas jasa pelayanan persampahan dan atau kebersihan yang khusus disediakan atau diberikan oleh Pemerintah daerah untuk kepentingan orang pribadi atau Badan;
k. Wajib Retribusi adalah orang pribadi atau badan yang peraturan perundang- undangan retribusi diwajibkan untuk membayar retribusi;
l. Masa Retribusi adalah suatu jangka waktu tertentu yang merupakan batas waktu bagi wajib retribusi untuk memanfaatkan jasa perijinan tertentu dari pemerintah daerah yang bersangkutan;
m. Klasifikasi golonngan adalah kriteria untuk menentukan besar kecilnya retribusi yang didasarkan kepada lebar jalan, jenis usaha dan volume sampah yang ditimbulkan;
n. Surat Pendaftaran Obyek Retribusi Daerah yang selanjutnya dapat disingkat SPdORD, adalah surat yang digunakan oleh wajib retribusi untuk meloporkan data obyek retribusi sebagai dasar penghitungan dan pembayaran retribusi
sebagai dasar penghitungan dan pembayaran retribusi yang terutang menurut Peraturan Perundang-undangan Retribusi Daerah;
o. Surat Ketetapan Retribusi Daerah Kurang Bayarr Tambahan yang selanjutnya dapat disingkat SKRDKBT, adalah keputusan yang menentukan tambahan atas jumlah retribusi yang telah ditetapkan;
p. Surat Ketetapan Retribusi Daerah Lebih Bayar yang selanjutnya dapat disingkat SKRDLB, adalah surat keputusan yang menentukan jumlah retribusi lebih besar daripada retribusi yang terutang atau tidak seharusnya terutang;
q. Surat Tagihan Retribusi Daerah yang selanjutnya disebut STRD, adalah surat untuk melaksanakan tagihan retribusi dan atau sanksi administrasi berupa bunga dan atau denda;
r. Surat Keputusan Keberatan adalah surat keputusan atas keberatan terhadap STRD, SKRDKBT, SKRDLB atau terhadap pemotongan atau pemungutann oleh pihak ketiga yang diajukan oleh Wajib Retribusi;
s. Pemeriksaan adalah serangkaian kegiatan untuk mencari, mengumpulkan dan mengelola data dan atau keterangan lainnya dalam rangka pengawasan kepatuhan pemenuhan kewajiban retribusi daerah berdasarkan peraturan perundang-undangan retribusi daerah;
t. Penyidik Tindak Pidana di Bidang Retribusi daerah adalah serangkaian tindakan yang dilakukan oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil yang selanjutnya disebut Penyidik, untuk mencari dan mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tindak pidana di bidang retribusi daerah yang terjadi sebelum menemukan tersangkanya.
2. Lampiran dalam Pasal 10 Peraturan Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Malang Nomor 6 Tahun 1989 tanggal 8 Maret 1989 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut :
NO LINGKUNGAN GOLONGAN TARIP RETRIBUSI/Bln Keterangan
1. Rumah Kediaman Golongan I Golongan II Golongan III Golongan IV Golongan V Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
50.000,-
30.000,-
25.000,-
10.000,-
5.000,- NJOP lebih dari Rp. 2 M NJOP diatas Rp. 1 m s/d Rp. 2 M NJOP diatas Rp. 500 Juta s/d 1 M NJOP diatas Rp. 300 Juta s/d 500 juta NJOP diatas Rp. 200 Juta s/d 300 juta
2. 3.
4. 5.
6. 7.
8. 9.
Kesatrian/asrama Pondokan Hotel Rumah makan Rumah sakit Apotik/laboratorium Poliklinik/puskesmas Gedung bioskop Golongan VI Golongan VII Golonang VIII - Golongan I Golongan II Golongan III Golongan I Golongan II Golongan III Golongan IV Golongan V Golongan I Golongan II Golongan III Golongan IV Golongan V Golongan VI Golongan VII - - - - Golongan I Golongan II Golongan III Golongan IV Golongan V - - Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
3.000,-
2.000,-
1.000,-
15.000,-
20.000,-
15.000,-
10.000,-
125.000,-
100.000,-
75.000,-
50.000,-
25.000,-
125.000,-
100.000,-
75.000,-
50.000,-
25.000,-
15.000,-
10.000,-
150.000,-
100.000,-
100.000,-
50.000,-
125.000,-
100.000,-
75.000,-
50.000,-
25.000,-
7.500,-
25.000,- NJOP diatas Rp. 100 Juta s/d 200 juta NJOP diatas Rp. 50 juta s/d 100 juta NJOP dibawah Rp. 50 juta - Penghuni diatas 20 orang Penghuni diantara 10- 20 orang Penghuni dibawah 10 orang NJOP lebih dari Rp. 2 M NJOP diatas Rp. 1 m s/d Rp. 2 M NJOP diatas Rp. 500 Juta s/d 1 M NJOP diatas Rp. 300 Juta s/d 500 juta NJOP sampai Rp. 300 juta NJOP lebih dari Rp. 2 M NJOP diatas Rp. 1 m s/d Rp. 2 M NJOP diatas Rp. 500 Juta s/d 1 M NJOP diatas Rp. 300 Juta s/d 500 juta NJOP diatas Rp. 200 Juta s/d 300 juta NJOP diatas Rp. 100 Juta s/d 200 Juta NJOP sampai denngan Rp. 100 Juta Milik Swata Milik Pemerintah Khusus Rumah Bersalin NJOP lebih dari Rp. 2 M NJOP diatas Rp. 1 m s/d Rp. 2 M NJOP diatas Rp. 500 Juta s/d 1 M NJOP diatas Rp. 300 Juta s/d 500 juta NJOP sampai Rp 300 juta - Tanpa Golongan Tarif
10. 11.
12. 13.
14. 15.
16. Gudang Kantor Pemerintah Kantor Swasta Komersil Kantor Swasta Sosial Tempat Pendidikan :
- Taman kanak-kanak - SD, SMP, SMA - Perguruan Tinggi Negeri - Perguruan tinggi swasta dan kursus Toko-toko Supermarket/swalayan Golongan I Golongan II Golongan III Golongan IV Golongan V - Golongan I Golongan II Golongan III Golongan IV Golongan V - Golongan I Golongan II Golongan III Golongan IV Golongan V Golongan I Golongan II Golongan III Golongan IV Golongan V Golongan VI Golongan VII Golongan I Golongan II Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
125.000,-
100.000,-
75.000,-
50.000,-
25.000,-
5.000,-
125.000,-
100.000,-
75.000,-
50.000,-
25.000,-
5.000,-
1.000,-
2.500,-
100.000,-
125.000,-
100.000,-
75.000,-
50.000,-
25.000,-
125.000,-
100.000,-
75.000,-
50.000,-
25.000,-
15.000,-
10.000,-
125.000,-
100.000,- NJOP lebih dari Rp. 2 M NJOP diatas Rp. 1 m s/d Rp. 2 M NJOP diatas Rp. 500 Juta s/d 1 M NJOP diatas Rp. 300 Juta s/d 500 juta NJOP sampai dengan Rp. 300 juta - NJOP lebih dari Rp. 2 M NJOP diatas Rp. 1 m s/d Rp. 2 M NJOP diatas Rp. 500 Juta s/d 1 M NJOP diatas Rp. 300 Juta s/d 500 juta NJOP sampai Rp. 300 juta Yayasan NJOP lebih dari Rp. 2 M NJOP diatas Rp. 1 m s/d Rp. 2 M NJOP diatas Rp. 500 Juta s/d 1 M NJOP diatas Rp. 300 Juta s/d 500 juta NJOP sampai Rp. 300 juta NJOP lebih dari Rp. 2 M NJOP diatas Rp. 1 m s/d Rp. 2 M NJOP diatas Rp. 500 Juta s/d 1 M NJOP diatas Rp. 300 Juta s/d 500 juta NJOP diatas Rp. 200 Juta s/d 300 juta NJOP diatas Rp. 100 Juta s/d 200 Juta NJOP sampai dengan Rp. 100 Juta NJOP lebih dari Rp. 2 M NJOP diatas Rp. 1 m s/d Rp. 2 M
17. 18.
19. 20.
Usaha-usaha lain :
a. salon kecantikan
b. billyard/bowling
c. potong rambut
d. gedung olah raga Bengkel atau reparasi Usaha pertukangan Pabrik/industri Golongan III Golongan IV Golongan V Golongan I Golongan II Golongan I Golongan II Golongan I Golongan II Golongan I Golongan II Golongan III Golongan IV Golongan V Golongan I Golongan II Golongan III Golongan IV Golongan V Golongan VI Golongan VII Golongan I Golongan II Golongan III Golongan IV Golongan V Golongan VI Golongan VII Golongan I Golongan II Golongan III Golongan IV Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
75.000,-
50.000,-
25.000,-
7.500,-
5.000,-
15.000,-
10.000,-
5.000,-
2.000,-
125.000,-
100.000,-
75.000,-
50.000,-
25.000,-
125.000,-
100.000,-
75.000,-
50.000,-
25.000,-
15.000,-
10.000,-
125.000,-
100.000,-
75.000,-
50.000,-
25.000,-
15.000,-
10.000,-
125.000,-
100.000,-
75.000,-
50.000,- NJOP diatas Rp. 500 Juta s/d 1 M NJOP diatas Rp. 300 Juta s/d 500 juta NJOP sampai Rp. 300 juta NJOP lebih dari Rp. 2 M NJOP diatas Rp. 1 m s/d Rp. 2 M NJOP diatas Rp. 500 Juta s/d 1 M NJOP diatas Rp. 300 Juta s/d 500 juta NJOP sampai Rp. 300 juta NJOP lebih dari Rp. 2 M NJOP diatas Rp. 1 m s/d Rp. 2 M NJOP diatas Rp. 500 Juta s/d 1 M NJOP diatas Rp. 300 Juta s/d 500 juta NJOP diatas Rp. 200 Juta s/d 300 juta NJOP diatas Rp. 100 s/d 200 Juta NJOP sampai dengan Rp. 100 Juta NJOP lebih dari Rp. 2 M NJOP diatas Rp. 1 m s/d Rp. 2 M NJOP diatas Rp. 500 Juta s/d 1 M NJOP diatas Rp. 300 Juta s/d 500 juta NJOP diatas Rp. 200 Juta s/d 300 juta NJOP diatas Rp. 100 s/d 200 Juta NJOP sampai dengan Rp. 100 Juta NJOP lebih dari Rp. 2 M NJOP diatas Rp. 1 m s/d Rp. 2 M NJOP diatas Rp. 500 Juta s/d 1 M NJOP diatas Rp. 300 Juta s/d 500 juta
21. 22.
Keramaian umum bersifat insidental Pedagang Kaki Lima Golongan V - - Rp.
Rp.
Rp.
25.000,-
100.000,- 200,- NJOP sampai Rp. 300 juta Sekali pertunjukan bersifat komersil Setiap hari
3. Pasal 13 ditambah ayat (3) dan harus dibaca sebagai berikut :
Aparat petugas yang berwenang menarik retribusi dari obyek retribusi, yang tidak melaksanakan kewajibannya sesuai dengan peraturan yang berlaku diancam hukuman sesuai dengan PERATURAN PEMERINTAH Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai negeri sipil.