Peraturan Badan ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Badan ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik INDONESIA.
Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 21 Agustus 2019
KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN,
ttd
PENNY K. LUKITO
Diundangkan di Jakarta pada tanggal 22 Agustus 2019
DIREKTUR JENDERAL PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA,
ttd
WIDODO EKATJAHJANA
LAMPIRAN I PERATURAN BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN NOMOR 22 TAHUN 2019 TENTANG INFORMASI NILAI GIZI PADA LABEL PANGAN OLAHAN
TATA CARA PENCANTUMAN INFORMASI NILAI GIZI
I.
INFORMASI YANG DICANTUMKAN PADA TABEL ING
1. TAKARAN SAJI Keterangan mengenai Takaran Saji merupakan informasi pertama yang tercantum dalam format ING.
a. Pencantuman Takaran Saji dicantumkan berupa jumlah zat gizi dalam Satuan Metrik (antara lain mg, g, ml) dan dapat diikuti satuan URT, seperti berikut :
“Takaran saji ... g (... sendok makan)” atau “Takaran saji ... ml (... gelas)”.
Contoh :
“Takaran saji 14 g (2 sendok takar)” “Takaran saji 200 ml (1 gelas)” Jika takaran saji juga dicantumkan dalam URT, maka URT dicantumkan dalam bilangan bulat.
b. Pembulatan unit Satuan Metrik Takaran Saji
a. Kurang dari 10 g atau 10 ml, dibulatkan ke kelipatan 0,1 g atau 0,1 ml terdekat (1 desimal).
Contoh : 7,68 g dibulatkan menjadi 7,7 g
b. Lebih dari 10 g atau 10 ml, dibulatkan ke kelipatan 1 g atau 1 ml terdekat (tanpa desimal).
Contoh :
25,3 ml dibulatkan menjadi 25 ml 32,5 g dibulatkan menjadi 33 g
2. JUMLAH SAJIAN PER KEMASAN
a. Pengertian Jumlah sajian per kemasan menunjukkan jumlah Takaran Saji yang terdapat dalam satu kemasan Pangan.
b. Pencantuman Jika kemasan Pangan berisi lebih dari 1 (satu) Takaran Saji, maka pencantuman jumlah sajian per kemasan adalah sebagai berikut:
”... sajian per kemasan” Contoh:
Suatu kemasan Pangan berisi 5 (lima) Takaran Saji, maka pencantuman jumlah sajian per kemasan adalah sebagai berikut:
”5 sajian per kemasan” Jika kemasan Pangan berisi sajian tunggal, maka Pangan tersebut tidak wajib mencantumkan informasi mengenai jumlah sajian per kemasan.
c. Pembulatan jumlah sajian per kemasan Ketentuan tentang pembulatan ukuran jumlah sajian per kemasan adalah sebagai berikut:
Pembulatan dilakukan ke kelipatan 1 terdekat (tanpa desimal).
Contoh :
- Isi bersih suatu produk sebesar 100 ml dengan Takaran Saji 30 ml, perhitungan jumlah sajian per kemasan produk adalah 3,33. Pencantuman jumlah sajian per kemasan produk tersebut adalah sebagai berikut :
”3 sajian per kemasan” - Isi bersih suatu produk sebesar 150 g dengan Takaran Saji 60 g, perhitungan jumlah sajian per kemasan produk adalah 2,5.
Pencantuman jumlah sajian per kemasan produk tersebut adalah sebagai berikut :
”3 sajian per kemasan” - Isi bersih suatu produk sebesar 700 ml dengan Takaran Saji 125 ml, perhitungan jumlah sajian per kemasan produk adalah 5,6. Pencantuman jumlah sajian per kemasan produk tersebut adalah sebagai berikut :
”6 sajian per kemasan”
3. JUMLAH PER SAJIAN Uraian tentang zat Gizi yang dicantumkan dalam ING merupakan kandungan masing-masing zat Gizi per sajian. Oleh karena itu sebelum uraian tentang zat Gizi, tulisan sebagai berikut harus dicantumkan dengan huruf besar (kapital) dan tebal (bold) :
”JUMLAH PER SAJIAN”
4. JENIS DAN JUMLAH KANDUNGAN ZAT GIZI DAN NON GIZI Jenis dan jumlah kandungan zat gizi dan non gizi yang dicantumkan pada tabel ING terdiri dari:
a. Zat gizi yang harus dicantumkan
b. Zat gizi yang harus dicantumkan dengan persyaratan tertentu
c. Zat gizi atau komponen lain yang dapat dicantumkan
d. Zat gizi atau komponen lain yang belum ditetapkan dalam ALG
5. PERSENTASE AKG Persentase AKG merupakan persentase kontribusi zat gizi dalam satu sajian produk dibandingkan dengan jumlah kebutuhan zat gizi tersebut dalam sehari.
6. CATATAN KAKI
a. Pengertian Catatan kaki merupakan informasi yang menerangkan bahwa persentase AKG yang ditunjukkan dalam ING dihitung berdasarkan kebutuhan energi 2150 kkal untuk kelompok umum. Kebutuhan energi tersebut dapat lebih tinggi atau lebih rendah, disesuaikan dengan kebutuhan.
b. Pencantuman Contoh tulisan yang dicantumkan adalah sebagai berikut :
*Persen AKG berdasarkan kebutuhan energi 2150 kkal. Kebutuhan energi anda mungkin lebih tinggi atau lebih rendah Catatan kaki dicantumkan pada bagian paling bawah, ditulis dengan huruf miring (italic) dan merupakan informasi terakhir di dalam kotak ING.
Catatan kaki tidak perlu dicantumkan untuk Pangan yang ditujukan bagi bayi dan anak sampai usia 3 tahun.
Catatan kaki untuk Pangan yang ditujukan untuk ibu hamil dan/atau ibu menyusui adalah 2510 kkal (ibu hamil) dan 2615 kkal (ibu menyusui).
II.
KETENTUAN PENCANTUMAN ZAT GIZI DAN NON GIZI A. ZAT GIZI YANG HARUS DICANTUMKAN
1. ENERGI TOTAL Energi total merupakan jumlah energi yang berasal dari lemak total, protein, dan karbohidrat.
a. Pencantuman Kandungan energi total dicantumkan dalam satuan kilokalori (kkal) per sajian dengan tulisan tebal (bold).
b. Pembulatan nilai energi total
a. Kurang dari 5 kkal per sajian, dinyatakan sebagai 0 kkal.
Contoh : Kandungan energi total sebesar 4 kkal per sajian, maka pencantuman nilai energi total sebagai berikut :
”Energi total 0 kkal”
b. 5 kkal sampai 50 kkal per sajian, dibulatkan ke kelipatan 5 kkal terdekat.
Contoh : Kandungan energi total sebesar 22 kkal per sajian, maka pencantuman nilai energi total sebagai berikut :
”Energi total 20 kkal”
c. Lebih dari 50 kkal per sajian, dibulatkan ke kelipatan 10 kkal terdekat.
Contoh : Kandungan energi total sebesar 266 kkal per sajian, pencantuman nilai energi total sebagai berikut :
”Energi total 270 kkal”
2. LEMAK TOTAL Lemak total menggambarkan kandungan semua asam lemak dalam Pangan dan dinyatakan sebagai trigliserida.
a. Pencantuman Kandungan lemak total dicantumkan dalam gram per sajian dan dalam persentase AKG lemak total, dengan tulisan tebal (bold).
b. Pembulatan nilai lemak total
a. Kurang dari dari 0,5 g per sajian, dinyatakan sebagai 0 g.
Contoh : Kandungan lemak total sebesar 0,4 g per sajian, maka pencantuman nilai lemak total sebagai berikut:
”Lemak total 0 g”
b. 0,5 sampai 5 g per sajian, dibulatkan ke kelipatan 0,5 g terdekat.
Contoh : Kandungan lemak total sebesar 4,2 g per sajian, maka pencantuman nilai lemak total sebagai berikut :
”Lemak total 4,0 g”
c. Lebih dari 5 g per sajian, dibulatkan ke kelipatan 1 g terdekat.
Contoh : Kandungan lemak total sebesar 11,7 g per sajian, maka pencantuman nilai lemak total sebagai berikut :
”Lemak total 12 g”
c. Pembulatan nilai persentase AKG lemak total
a. Jika kandungan lemak total yang dicantumkan 0 g per sajian, maka nilai persentase AKG lemak total yang dicantumkan adalah 0 %.
b. Lebih dari 0 % per sajian, maka dibulatkan ke kelipatan 1 % terdekat.
Contoh : Nilai persentase AKG lemak total sebesar 4,5 % per sajian, maka persentase yang dicantumkan adalah 5 %.
3. LEMAK JENUH Lemak jenuh merupakan jumlah keseluruhan asam lemak yang tidak mengandung ikatan rangkap.
a. Ketentuan Dikecualikan untuk Pangan Olahan yang ditujukan bagi bayi dan anak sampai usia 3 tahun.
b. Pencantuman Kandungan lemak jenuh dicantumkan dalam gram per sajian dan dalam persentase AKG lemak jenuh, dengan tulisan tebal (bold).
c. Pembulatan nilai lemak jenuh
a. Kurang dari 0,5 g per sajian, dinyatakan sebagai 0 g.
Contoh : Kandungan lemak jenuh sebesar 0,3 g per sajian, maka pencantuman nilai lemak jenuh sebagai berikut :
”Lemak jenuh 0 g”
b. 0,5 g sampai 5 g per sajian, dibulatkan ke kelipatan 0,5 g terdekat.
Contoh : Kandungan lemak jenuh sebesar 3,7 g per sajian, maka pencantuman nilai lemak jenuh sebagai berikut :
”Lemak jenuh 4,0 g”
c. Lebih dari 5 g per sajian, dibulatkan ke kelipatan 1 g terdekat.
Contoh : Kandungan lemak jenuh sebesar 11,4 g per sajian, maka pencantuman nilai lemak jenuh sebagai berikut :
”Lemak jenuh 11 g”
d. Pembulatan nilai persentase AKG lemak jenuh
a. Jika kandungan lemak jenuh yang dicantumkan 0 g, maka nilai persentase AKG lemak jenuh adalah 0 %
b. Lebih dari 0 %, maka dibulatkan ke kelipatan 1 % terdekat.
Contoh : Nilai persentase AKG lemak jenuh sebesar 5,3 % per sajian, maka nilai yang dicantumkan adalah 5 %.
4. PROTEIN Kandungan protein menggambarkan kandungan semua asam amino dalam Pangan Olahan.
a. Pencantuman Kandungan protein dicantumkan dalam gram per sajian dan dalam persentase AKG protein, dengan tulisan tebal (bold).
b. Pembulatan nilai protein
a. Kurang dari 0,5 g per sajian, dinyatakan sebagai 0 g Contoh : Kandungan protein sebesar 0,2 g per sajian, maka pencantuman nilai protein sebagai berikut :
”Protein 0 g”
b. Lebih dari 0,5 g per sajian, dibulatkan ke kelipatan 1 g terdekat.
Contoh : Kandungan protein sebesar 3,2 g per sajian, maka pencantuman nilai protein sebagai berikut :
”Protein 3 g”
c. Pembulatan nilai persentase AKG protein
a. Jika kandungan protein yang dicantumkan 0 g, maka nilai persentase AKG protein yang dicantumkan adalah 0 %.
b. Lebih dari 0 %, maka dibulatkan ke kelipatan 1 % terdekat.
Contoh : Nilai persentase AKG protein sebesar 2,6 %, maka nilai yang dicantumkan adalah 3 %.
5. KARBOHIDRAT TOTAL Karbohidrat total meliputi gula, pati, serat pangan dan komponen karbohidrat lain.
a. Pencantuman Kandungan karbohidrat total dicantumkan dalam gram per sajian dan dalam persentase AKG, dengan tulisan tebal (bold).
b. Pembulatan nilai karbohidrat total
a. Kurang dari 0,5 g per sajian, dinyatakan sebagai 0 g.
Contoh : Kandungan karbohidrat total sebesar 0,45 g per sajian, maka pencantuman nilai karbohidrat total sebagai berikut :
”Karbohidrat total 0 g”
b. Lebih dari 0,5 g per sajian, dibulatkan ke kelipatan 1 g terdekat.
Contoh : Kandungan karbohidrat total sebesar 25,5 g per sajian, maka pencantuman nilai karbohidrat total sebagai berikut :
”Karbohidrat total 26 g”
c. Pembulatan nilai persentase AKG karbohidrat total
a. Jika kandungan karbohidrat total yang dicantumkan 0 g, maka nilai persentase AKG karbohidrat total adalah 0 %.
b. Lebih dari 0 %, maka dibulatkan ke kelipatan 1 % terdekat.
Contoh : Nilai persentase AKG karbohidrat total adalah 87,9 %, maka yang dicantumkan adalah 88 %.
6. GULA Gula merupakan jumlah semua monosakarida dan disakarida (seperti glukosa, fruktosa, laktosa dan sukrosa) yang terdapat dalam Pangan Olahan.
a. Pencantuman Kandungan gula dicantumkan dalam gram per sajian, dengan tulisan tebal (bold).
Jenis monosakarida dan disakarida dapat dicantumkan di bawah gula.
b. Pembulatan nilai gula
a. Kurang dari 0,5 g per sajian, dinyatakan sebagai 0 g.
Contoh : Kandungan gula sebesar 0,25 g per sajian, maka pencantuman nilai gula sebagai berikut :
”Gula 0 g”
b. Lebih dari 0,5 g per sajian, pembulatan dilakukan ke kelipatan 1 g terdekat.
Contoh : Kandungan gula sebesar 7,4 g per sajian, maka pencantuman nilai gula sebagai berikut :
”Gula 7 g”
7. GARAM (NATRIUM)
a. Ketentuan Jumlah garam (natrium) dicantumkan sebagai natrium total.
b. Pencantuman Kandungan garam (natrium) dicantumkan dalam miligram per sajian dan dalam persentase AKG, dengan tulisan tebal (bold).
c. Pembulatan nilai garam (natrium)
a. Kurang dari 5 mg per sajian, dinyatakan sebagai 0 mg.
Contoh : Kandungan garam (natrium) sebesar 4 mg per sajian, maka pencantuman nilai garam (natrium) sebagai berikut :
”Garam (natrium) 0 mg”
b. 5 mg sampai 140 mg per sajian, maka dibulatkan ke kelipatan 5 mg terdekat.
Contoh : Kandungan garam (natrium) sebesar 28 mg per sajian, maka pencantuman nilai garam (natrium) sebagai berikut :
”Garam (natrium) 30 mg”
b. Lebih dari 140 mg per sajian, maka dibulatkan ke kelipatan 10 mg terdekat.
Contoh : Kandungan garam (natrium) sebesar 255 mg per sajian, maka pencantuman nilai garam (natrium) sebagai berikut :
” Garam (natrium) 260 mg”
d. Pembulatan nilai persentase AKG garam (natrium)
a. Jika kandungan garam (natrium) yang dicantumkan 0 mg, maka nilai persentase AKG garam (natrium) yang dicantumkan adalah 0 %.
b. Lebih dari 0 %, maka dibulatkan ke kelipatan 1 % terdekat.
Contoh : Nilai persentase AKG garam (natrium) sebesar 9,3 % persajian, maka persentase AKG garam (natrium) yang dicantumkan adalah 9 %
B. ZAT GIZI YANG HARUS DICANTUMKAN DENGAN PERSYARATAN TERTENTU
1. LEMAK TRANS Lemak trans merupakan jumlah keseluruhan asam lemak tidak jenuh yang mengandung satu atau lebih ikatan rangkap terisolasi dalam konfigurasi trans.
a. Ketentuan Kandungan lemak trans wajib dicantumkan apabila:
terdapat dalam jumlah yang berarti yaitu lebih dari 0,5 g per sajian; dan/atau mencantumkan Klaim tentang lemak, asam lemak, atau kolesterol.
b. Pencantuman Kandungan lemak trans dicantumkan dalam gram per sajian.
Kata “trans” ditulis dengan huruf miring (italic).
c. Pembulatan nilai lemak trans
a. Kurang dari 0,5 g per sajian, dinyatakan sebagai 0 g.
Contoh : Kandungan lemak trans sebesar 0,4 g per sajian, maka pencantuman nilai lemak trans sebagai berikut :
”Lemak trans 0 g”
b. 0,5 g sampai 5 g per sajian, dibulatkan ke kelipatan 0,5 g terdekat.
Contoh : Kandungan lemak trans sebesar 2,8 g per sajian, maka pencantuman nilai lemak trans sebagai berikut :
”Lemak trans 3,0 g”
c. Lebih dari 5 g per sajian, dibulatkan ke kelipatan 1 g terdekat.
Contoh : Kandungan lemak trans sebesar 9,3 g per sajian, maka pencantuman nilai lemak trans sebagai berikut :
”Lemak trans 9 g”
2. KOLESTEROL Kolesterol merupakan komponen lemak sterol yang terdapat dalam pangan hewani yang berguna bagi membran sel dan pembentukan hormon steroid.
a. Ketentuan Kandungan kolesterol wajib dicantumkan apabila :
terdapat dalam jumlah yang berarti yaitu lebih dari 2 mg per sajian; dan/atau mencantumkan Klaim tentang lemak, asam lemak atau kolesterol.
Dikecualikan untuk Pangan Olahan yang ditujukan bagi bayi dan anak sampai usia 3 tahun.
b. Pencantuman Kandungan kolesterol dicantumkan dalam miligram per sajian dan dalam persentase AKG, dengan tulisan tebal (bold).
c. Pembulatan nilai kolesterol
a. Kurang dari 2 mg per sajian, dinyatakan sebagai 0 mg.
Contoh : Kandungan kolesterol sebesar 1 mg per sajian, maka pencantuman nilai kolesterol sebagai berikut :
”Kolesterol 0 mg”
b. 2 mg sampai 5 mg per sajian, dibulatkan ke kelipatan 1 mg terdekat.
Contoh : Kandungan kolesterol sebesar 3,5 mg per sajian, maka pencantuman nilai kolesterol sebagai berikut:
”Kolesterol 4 mg”
c. Lebih dari 5 mg per sajian, dibulatkan ke kelipatan 5 mg terdekat.
Contoh : Kandungan kolesterol sebesar 27 mg per sajian, maka pencantuman nilai kolesterol sebagai berikut :
”Kolesterol 25 mg”
d. Pembulatan nilai persentase AKG kolesterol
a. Jika kandungan kolesterol yang dicantumkan 0 mg, maka nilai persentase AKG kolesterol adalah 0 %.
b. Lebih dari 0 %, dibulatkan ke kelipatan 1 % terdekat.
Contoh : Nilai persentase AKG kolesterol sebesar 4,8 % per sajian, maka nilai yang dicantumkan adalah 5 %.
3. SERAT PANGAN Serat pangan adalah polimer karbohidrat dengan tiga atau lebih unit monomer, yang tidak dihidrolisis oleh enzim pencernaan dalam usus kecil manusia dan terdiri dari:
polimer karbohidrat yang dapat dimakan (edible), yang secara alami terdapat dalam pangan; atau polimer karbohidrat, yang diperoleh dari bahan baku melalui proses fisik, enzimatik atau kimiawi yang telah terbukti secara ilmiah mempunyai efek fisiologis bermanfaat terhadap kesehatan;
atau
polimer karbohidrat sintetis yang telah terbukti secara ilmiah mempunyai efek fisiologis bermanfaat terhadap kesehatan.
a. Ketentuan Serat pangan wajib dicantumkan apabila terdapat dalam jumlah yang berarti yaitu lebih dari 0,5 gram per sajian.
b. Pencantuman Kandungan serat pangan dicantumkan dalam gram per sajian dan dalam persentase AKG.
c. Pembulatan nilai serat pangan
a. Kurang dari 0,5 g per sajian, dinyatakan sebagai 0 g.
Contoh : Kandungan serat pangan sebesar 0,4 g per sajian, maka pencantuman nilai serat pangan sebagai berikut:
”Serat pangan 0 g”
b. Lebih dari 0,5 g per sajian, dibulatkan ke kelipatan 1 g terdekat.
Contoh : Kandungan serat pangan sebesar 4,7 g per sajian, maka pencantuman nilai serat pangan sebagai berikut :
”Serat pangan 5 g”
d. Pembulatan nilai persentase AKG serat pangan
a. Jika kandungan serat pangan yang dicantumkan 0 g, maka nilai persentase AKG serat pangan adalah 0 %.
b. Lebih dari 0 %, dibulatkan ke kelipatan 1 % terdekat.
Contoh: Nilai persentase AKG serat pangan sebesar 7,5 % per sajian, maka nilai yang dicantumkan adalah 8 %.
C. ZAT GIZI ATAU KOMPONEN LAIN YANG DAPAT DICANTUMKAN Beberapa zat Gizi tidak wajib untuk dicantumkan dalam ING, namun jika akan dicantumkan maka harus memenuhi ketentuan sebagaimana diuraikan berikut ini.
1. ENERGI DARI LEMAK
a. Ketentuan
Kandungan energi dari lemak tidak perlu dicantumkan untuk Pangan Olahan yang ditujukan bagi bayi dan anak sampai usia 3 tahun.
b. Pencantuman Kandungan energi dari lemak dicantumkan dalam kilokalori (kkal) per sajian dan ditempatkan di bawah energi.
c. Pembulatan nilai energi dari lemak
a. Kurang dari 5 kkal per sajian, dinyatakan sebagai 0 kkal.
Contoh : Kandungan energi dari lemak sebesar 3 kkal per sajian, maka pencantuman nilai energi dari lemak sebagai berikut:
”Energi dari lemak 0 kkal”
b. 5 kkal sampai 50 kkal per sajian, dibulatkan kekelipatan 5 kkal terdekat.
Contoh : Kandungan energi dari lemak sebesar 17 kkal per sajian, maka pencantuman nilai energi dari lemak sebagai berikut:
”Energi dari lemak 15 kkal”
c. Lebih dari 50 kkal per sajian, dibulatkan kekelipatan 10 kkal terdekat.
Contoh : Kandungan energi dari lemak sebesar 108 kkal per sajian, maka pencantuman nilai energi dari lemak sebagai berikut:
”Energi dari lemak 110 kkal”
2. ENERGI DARI LEMAK JENUH
a. Ketentuan Kandungan energi dari lemak tidak perlu dicantumkan untuk Pangan Olahan yang ditujukan bagi bayi dan anak sampai usia 3 tahun.
b. Pencantuman Energi dari lemak jenuh dicantumkan dalam kilokalori (kkal) per sajian dan ditempatkan setelah energi dari lemak.
c. Pembulatan nilai energi dari lemak jenuh
a. Kurang dari 5 kkal per sajian, dinyatakan sebagai 0 kkal.
Contoh : Kandungan energi dari lemak jenuh sebesar 2 kkal per sajian, maka pencantuman nilai energi dari lemak jenuh sebagai berikut:
”Energi dari lemak jenuh 0 kkal”
b. 5 kkal sampai 50 kkal per sajian, dibulatkan ke kelipatan 5 kkal terdekat.
Contoh : Kandungan energi dari lemak jenuh sebesar 8 kkal per sajian, maka pencantuman nilai energi dari lemak jenuh sebagai berikut:
”Energi dari lemak jenuh 10 kkal”
c. Lebih dari 50 kkal per sajian, dibulatkan ke kelipatan 10 kkal terdekat.
Contoh : Kandungan energi dari lemak jenuh sebesar 58 kkal per sajian, maka pencantuman nilai energi dari lemak jenuh sebagai berikut :
”Energi dari lemak jenuh 60 kkal”
3. LEMAK TIDAK JENUH TUNGGAL Lemak tidak jenuh tunggal merupakan jumlah semua lemak tidak jenuh tunggal yang dihitung sebagai jumlah semua asam lemak dengan sedikitnya 1 ikatan rangkap pada posisi cis.
a. Pencantuman Lemak tidak jenuh tunggal dicantumkan dalam gram per sajian dan ditempatkan setelah lemak jenuh.
b. Pembulatan nilai lemak tidak jenuh tunggal
a. Kurang dari 0,5 g per sajian, dinyatakan sebagai 0 g.
Contoh : Kandungan lemak tidak jenuh tunggal sebesar 0,25 g per sajian, maka pencantuman nilai lemak tidak jenuh tunggal sebagai berikut :
“Lemak tidak jenuh tunggal 0 g”
b. 0,5 g sampai 5 g per sajian, dibulatkan ke kelipatan 0,5 g terdekat.
Contoh : Kandungan lemak tidak jenuh tunggal sebesar 2,8 g
per sajian, maka pencantuman nilai lemak tidak jenuh tunggal sebagai berikut :
“Lemak tidak jenuh tunggal 3,0 g”
c. Lebih dari 5 g per sajian, dibulatkan ke kelipatan 1 g terdekat.
Contoh : Kandungan lemak tidak jenuh tunggal sebesar 5,4 g per sajian, maka pencantuman nilai lemak tidak jenuh tunggal sebagai berikut :
“Lemak tidak jenuh tunggal 5 g”
4. LEMAK TIDAK JENUH GANDA Lemak tidak jenuh ganda merupakan jumlah semua lemak tidak jenuh ganda yang dihitung sebagai jumlah semua asam lemak dengan sedikitnya 2 ikatan rangkap cis-cis yang diselingi dengan gugus metilen.
a. Pencantuman Lemak tidak jenuh ganda dicantumkan dalam gram per sajian, dan ditempatkan setelah lemak jenuh.
b. Pembulatan nilai lemak tidak jenuh ganda
a. Kurang dari 0,5 per sajian, dinyatakan sebagai 0 g.
Contoh: Kandungan lemak tidak jenuh ganda sebesar 0,4 g per sajian, maka pencantuman nilai lemak tidak jenuh ganda sebagai berikut :
“Lemak tidak jenuh ganda 0 g”
b. 0,5 sampai 5 g per sajian, dibulatkan ke kelipatan 0,5 g terdekat.
Contoh : Kandungan lemak tidak jenuh ganda sebesar 3,4 g per sajian, maka pencantuman nilai lemak tidak jenuh ganda sebagai berikut :
“Lemak tidak jenuh ganda 3,5 g”
c. Lebih dari 5 g per sajian, dibulatkan ke kelipatan 1 terdekat.
Contoh : Kandungan lemak tidak jenuh ganda sebesar 6,1 g per sajian, maka pencantuman nilai lemak tidak jenuh ganda sebagai berikut :
“Lemak tidak jenuh ganda 6 g”
5. SERAT PANGAN LARUT Serat pangan larut meliputi antara lain psyllium, beta glukan dari oats dan/atau barley, inulin dari chicory dan pektin dari buah- buahan.
a. Pencantuman Serat pangan larut dicantumkan dalam gram per sajian, serta ditempatkan setelah serat pangan.
b. Pembulatan nilai serat pangan larut
a. Kurang dari 0,5 g per sajian, dinyatakan sebagai 0 g.
Contoh : Kandungan serat pangan larut sebesar 0,25 g per sajian, maka pencantuman nilai serat pangan larut sebagai berikut :
”Serat pangan larut 0 g”
b. Lebih dari 0,5 g per sajian, dibulatkan ke kelipatan 1 g terdekat.
Contoh : Kandungan serat pangan larut sebesar 3,6 g per sajian, maka pencantuman nilai serat pangan larut sebagai berikut :
”Serat pangan larut 4 g”
6. SERAT PANGAN TIDAK LARUT Serat pangan tidak larut meliputi antara lain selulosa, lignin, dan pati resisten.
a. Pencantuman Serat pangan tidak larut dicantumkan dalam gram per sajian dan ditempatkan setelah serat pangan.
b. Pembulatan nilai serat pangan tidak larut
a. Kurang dari 0,5 per sajian, dinyatakan sebagai 0 g.
Contoh : Kandungan serat pangan tidak larut sebesar 0,4 g per sajian, maka pencantuman nilai serat pangan tidak larut sebagai berikut :
“Serat pangan tidak larut 0 g”
b. Lebih dari 0,5 per sajian, dibulatkan ke kelipatan 1 g terdekat.
Contoh : Kandungan serat pangan tidak larut sebesar 2,7 g per sajian, maka pencantuman nilai serat pangan tidak larut sebagai berikut :
“Serat pangan tidak larut 3 g”
7. GULA ALKOHOL Gula alkohol merupakan senyawa kimia yang mempunyai struktur seperti gula tetapi semua atom oksigennya berada dalam bentuk gugus hidroksil.
Gula alkohol meliputi silitol, sorbitol, manitol, maltitol, isomaltitol, laktitol, hidrolisat pati terhidrogenasi, sirup glukosa terhidrogenasi, eritritol atau kombinasi gula-gula tersebut.
a. Pencantuman Gula alkohol dicantumkan dalam gram per sajian dan ditempatkan setelah gula.
b. Pembulatan nilai gula alkohol
a. Kurang dari 0,5 g per sajian, dinyatakan sebagai 0 g.
Contoh : Kandungan gula alkohol sebesar 0,1 g per sajian, maka pencantuman nilai gula alkohol sebagai berikut :
”Gula alkohol 0 g”
b. Lebih dari 0,5 g per sajian, dibulatkan ke kelipatan 1 g terdekat.
Contoh : Kandungan gula alkohol sebesar 2,7 g per sajian, maka pencantuman nilai gula alkohol sebagai berikut :
”Gula alkohol 3 g”
8. VITAMIN DAN MINERAL
a. Ketentuan Kandungan vitamin dan mineral hanya dapat dicantumkan jika terdapat dalam jumlah paling sedikit 2% dari AKG per sajian.
b. Pencantuman Vitamin dan mineral dicantumkan dalam persentase AKG, dan ditempatkan di bagian bawah pada kelompok vitamin atau mineral.
c. Pembulatan nilai persentase AKG vitamin dan mineral
a. 2% sampai 10% AKG per sajian, dibulatkan ke kelipatan 2% terdekat.
Contoh : Nilai persentase AKG vitamin C sebesar 2,9% per sajian, maka nilai yang dicantumkan adalah 2%.
b. Lebih dari 10% AKG per sajian, dibulatkan ke kelipatan 5% terdekat.
Contoh : Nilai persentase AKG zat besi sebesar 17% per sajian, maka nilai yang dicantumkan adalah 15%.
D. ZAT GIZI ATAU KOMPONEN LAIN YANG BELUM DITETAPKAN DALAM ALG Zat Gizi atau komponen lain yang belum ditetapkan nilai ALG-nya atau tidak ada acuan lain yang dapat digunakan, maka ketentuan pencantumannya adalah sebagai berikut:
Untuk kandungan zat Gizi dan komponen turunan zat Gizi, dicantumkan dalam Satuan Metrik per sajian dan dapat diletakkan di bawah zat Gizi tersebut.
Untuk Pangan Olahan yang akan mencantumkan asam amino lebih dari 3 jenis, kandungan asam amino dapat dicantumkan di bawah kelompok vitamin dan mineral.
Untuk kandungan komponen lain, dicantumkan dalam Satuan Metrik per sajian dan diletakkan di bawah kelompok vitamin dan mineral.
III.
FORMAT ING Format ING pada Label yang diuraikan berikut ini meliputi antara lain bentuk, susunan informasi, dan cara pencantumannya. Format ING dikelompokkan berdasarkan:
A. LUAS PERMUKAAN LABEL
1. Format vertikal, untuk kemasan dengan luas permukaan Label lebih dari 100 cm2
Terdiri atas 3 (tiga) bagian, yaitu :
a. Bagian pertama memuat tulisan “INFORMASI NILAI GIZI” serta keterangan tentang Takaran Saji dan jumlah sajian per kemasan.
b. Bagian kedua menyajikan keterangan yang berkenaan dengan kandungan zat Gizi. Ukuran satuan yang dicantumkan untuk masing-masing zat Gizi sebagaimana diuraikan pada bagian sebelumnya.
Bagian ini dibagi atas 3 (tiga) sub bagian dan diawali dengan kalimat “JUMLAH PER SAJIAN”.
Sub bagian pertama memuat informasi yang berkenaan dengan energi.
Sub bagian kedua memuat keterangan yang berkenaan dengan lemak total, lemak jenuh, protein, karbohidrat total, gula, dan garam (natrium).
Sub bagian ketiga memuat keterangan tentang vitamin, mineral, dan komponen lainnya.
c. Bagian ketiga memuat catatan kaki.
Format :
INFORMASI NILAI GIZI
Takaran saji ... g/ml (... URT) …. Sajian per Kemasan JUMLAH PER SAJIAN
Energi total … kkal Energi dari lemak ... kkal Energi dari lemak jenuh ... kkal
% AKG* Lemak total ... g ... % Lemak trans ... g
Kolesterol ... mg ... % Lemak tidak jenuh tunggal ... g
Lemak tidak jenuh ganda ... g
Lemak jenuh ... g ... % Protein ... g ... % Karbohidrat total ... g ... % Serat pangan ... g ... % Serat pangan larut ... g
Serat pangan tidak larut ... g
Gula ... g
Gula alkohol
Garam (natrium) ... mg ... % Vitamin dan mineral
Vitamin A
... % Vitamin C
... % Vitamin lain
... % Kalium
... % Kalsium
... % Zat Besi
... % Mineral lain
... % Komponen lain Isoflavon
… mg
*Persen AKG berdasarkan kebutuhan energi 2150 kkal. Kebutuhan energi anda mungkin lebih tinggi atau lebih rendah.
2. Format horizontal, untuk kemasan dengan luas permukaan Label kurang dari atau sama dengan 100 cm2 Terdapat 2 (dua) format yang dapat dipilih untuk digunakan yaitu:
i. Format Tabular Keterangan yang dimuat dalam format ini disajikan dalam bentuk kolom dan baris.
Kolom pertama memuat tulisan “INFORMASI NILAI GIZI” serta keterangan tentang Takaran Saji, jumlah sajian per kemasan, dan keterangan mengenai energi.
Kolom kedua menyajikan keterangan yang berkenaan dengan lemak total, lemak jenuh, dan protein dalam persen AKG per sajian.
Kolom ketiga mencantumkan uraian yang berkenaan dengan karbohidrat total, gula, dan garam (natrium). Uraian mengenai vitamin dan mineral lainnya dimuat dalam kolom tersendiri dibawah kolom kedua dan ketiga.
Baris paling akhir adalah catatan kaki.
Format :
Takaran saji …g/ml (...URT) ... Sajian per Kemasan Energi Total ...
kkal Energi dari lemak ….. kkal Jumlah per sajian %AKG * Jumlah persajian %AKG* Lemak Total … g …% Karbohidrat total ...g ...% Kolesterol …mg ...% Gula ….g
Lemak jenuh …g ...% Garam (natrium) …mg ...% Protein …g ...%
Vitamin dan Mineral Vitamin A
...% Kalsium
...% Vitamin B6
...% Besi
...% Vitamin C
...%
Vitamin D
...%
*Persen AKG berdasarkan kebutuhan energi 2150 kkal. Kebutuhan energi anda mungkin lebih tinggi atau lebih rendah.
INFORMASI NILAI GIZI
ii.
Format Linier Dalam format linier, seluruh informasi dicantumkan dalam satu kolom.
INFORMASI NILAI GIZI Takaran saji : …g/ml (...URT), ... Sajian per Kemasan JUMLAH PER SAJIAN : Energi total …kkal, Energi dari lemak ….kkal, Lemak Total …g (….% AKG), Lemak Jenuh ….g ( …% AKG), Kolesterol …g ( ….% AKG), Protein …..g (...% AKG), Karbohidrat total …..g ( ...% AKG), Gula ….g, Garam (natrium) …g (…% AKG), Kalium …g (…% AKG), Vitamin A (….% AKG), Vitamin C (….%AKG), Vitamin D (….%AKG), Kalsium ... mg (…% AKG), Besi (….% AKG). Persen AKG berdasarkan kebutuhan energi 2150 kkal.
Kebutuhan energi anda mungkin lebih tinggi atau lebih rendah.
3. Jika luas permukaan Label lebih dari 100 cm2, namun bentuk kemasan tidak dapat mengakomodasi format vertikal, maka pencantuman ING dapat menggunakan format horizontal.
B. JENIS PRODUK
1. Formula Bayi dan Formula Lanjutan Dibandingkan dengan format lainnya, format ING untuk Formula Bayi dan Formula Lanjutan ditampilkan lebih sederhana. Memperhatikan peranannya yang sangat spesifik serta muatan informasi yang wajib dicantumkan, format ING untuk Formula Bayi dan Formula Lanjutan dibedakan dari Pangan Olahan lainnya.
Kandungan Gizi dicantumkan dalam ukuran sebagai per 100 g atau per 100 ml, dan per 100 kkal. Uraian zat Gizi diawali dengan protein, lemak, dan karbohidrat, diikuti dengan asam linoleat dan diakhiri dengan kelompok vitamin dan mineral.
Zat Gizi lain yang ditambahkan harus dicantumkan pada ING, sesuai dengan kelompok zat Gizi tersebut.
Format :
Informasi Nilai Gizi Satuan Jumlah Per 100 g/ 100 ml Per 100 kkal Protein g
Lemak total g
Asam Linoleat Asam α-Linolenat mg mg
Karbohidrat g
Vitamin:
Vitamin A mcg RE
Vitamin D3 mcg
Vitamin E mg α-TE
Vitamin K mcg
Vitamin B1 (Tiamin) mcg
Vitamin B2 (Riboflavin) mcg
Vitamin B3 (Niasin) mcg
Vitamin B5 (Asam Pantotenat) mcg
Vitamin B6 (Piridoksin) mcg
Asam Folat mcg
Vitamin B12 (Kobalamin) mcg
Vitamin C mg
Biotin mcg
Kolin mg
Myo-Inositol L-Karnitin mg mg
Mineral:
Kalsium mg
Fosfor mg
Magnesium mg
Besi mg
Seng mg
Mangan mcg
Tembaga mcg
Iodium mcg
Natrium mg
Kalium mg
Klorida mg
Selenium mcg
Komponen lain:
mg/mcg
Fruktooligosakarida (FOS) mg
Galaktooligosakarida mg
Informasi Nilai Gizi Satuan Jumlah Per 100 g/ 100 ml Per 100 kkal (GOS)
2. MP-ASI Jika MP-ASI diperuntukkan bagi 2 kelompok usia ALG, maka harus mencantumkan persentase AKG untuk kedua kelompok usia tersebut.
Format terdiri atas 2 (dua) bagian, yaitu:
a. Bagian pertama memuat tulisan “INFORMASI NILAI GIZI” serta keterangan tentang Takaran Saji dan jumlah sajian per kemasan.
b. Bagian kedua menyajikan keterangan yang berkenaan dengan kandungan zat Gizi. Persentase AKG yang dicantumkan hanya untuk protein, vitamin dan mineral.
Bagian ini dibagi atas 3 (tiga) sub bagian dan diawali dengan kalimat “JUMLAH PER SAJIAN”.
Sub bagian pertama memuat informasi tentang energi.
Sub bagian kedua memuat informasi tentang lemak dan turunannya, protein dan turunannya, karbohidrat dan turunannya, dan garam (natrium).
Sub bagian ketiga memuat keterangan tentang persentase AKG untuk protein, vitamin, dan mineral lainnya.
Format:
Contoh : MP-ASI yang diperuntukkan bagi 2 (dua) kelompok usia ALG INFORMASI NILAI GIZI
Takaran saji ... g/ml (... URT) ... Sajian per Kemasan JUMLAH PER SAJIAN
Energi total … kkal
Lemak total ... g Lemak trans ... g Protein ... g Karbohidrat total ... g Serat pangan ... g Serat pangan larut ... g Serat pangan tidak larut ... g Gula ... g Garam (natrium) ... mg
Usia 6 – 12 bulan Usia 12 – 24 bulan
% AKG % AKG Protein
... % ... % Vitamin dan mineral
Vitamin A
... %
... % Vitamin C
... %
... % Vitamin lain
... %
... % Kalium
... %
... % Kalsium
... %
... % Zat Besi
... %
... % Mineral lain
... %
... %
3. Formula Pertumbuhan Format terdiri atas 2 (dua) bagian, yaitu :
a. Bagian pertama memuat tulisan “INFORMASI NILAI GIZI” serta keterangan tentang Takaran Saji dan jumlah sajian per kemasan.
b. Bagian kedua menyajikan keterangan yang berkenaan dengan kandungan zat Gizi. Persentase AKG yang dicantumkan hanya untuk protein, vitamin, dan mineral.
Bagian ini dibagi atas 3 (tiga) sub bagian dan diawali dengan kalimat “JUMLAH PER SAJIAN”.
Sub bagian pertama memuat informasi tentang energi.
Sub bagian kedua memuat informasi tentang lemak dan turunannya, protein dan turunannya, karbohidrat dan turunannya, dan garam (natrium).
Sub bagian ketiga memuat keterangan tentang persentase AKG untuk protein, vitamin, dan mineral lainnya.
Format:
INFORMASI NILAI GIZI
Takaran saji ... g/ml (... URT ) …. Sajian per Kemasan
JUMLAH PER SAJIAN
Energi total … kkal
Lemak total ... g Lemak trans ... g Protein ... g Karbohidrat total ... g Serat pangan ... g Serat pangan larut ... g Serat pangan tidak larut ... g Gula ... g Garam (natrium) ... mg
% AKG Protein
... % Vitamin dan mineral
Vitamin A
... % Vitamin C
... % Vitamin lain
... % Kalium
... % Kalsium
... % Zat Besi
... % Mineral lain
... %
4. Minuman Khusus untuk Ibu Hamil dan/atau Ibu Menyusui Jika produk diperuntukkan bagi ibu hamil dan ibu menyusui, maka harus mencantumkan persentase AKG untuk kedua kelompok tersebut.
Format terdiri atas 3 (tiga) bagian, yaitu:
a. Bagian pertama memuat tulisan “INFORMASI NILAI GIZI” serta keterangan tentang Takaran Saji dan jumlah sajian per kemasan.
b. Bagian kedua menyajikan keterangan yang berkenaan dengan kandungan zat Gizi. Ukuran satuan yang dicantumkan untuk masing-masing zat Gizi sebagaimana diuraikan pada bagian sebelumnya.
Bagian ini dibagi atas 3 (tiga) sub bagian dan diawali dengan kalimat “JUMLAH PER SAJIAN”.
Sub bagian pertama memuat informasi yang berkenaan dengan energi.
Sub bagian kedua memuat informasi tentang lemak dan turunannya, protein dan turunannya, karbohidrat dan turunannya, dan garam (natrium).
Sub bagian ketiga memuat keterangan tentang vitamin, mineral, dan komponen lainnya.
c. Bagian ketiga adalah catatan kaki.
Format:
Contoh : minuman yang diperuntukkan bagi ibu hamil dan ibu menyusui INFORMASI NILAI GIZI
Takaran saji ... g/ml (... URT) ... Sajian per Kemasan JUMLAH PER SAJIAN
Energi total … kkal Energi dari lemak ... kkal Energi dari lemak jenuh ... kkal
% AKG*
Ibu Hamil Ibu Menyusui
Lemak total ... g ... % ... %
Lemak trans ... g
Lemak jenuh ... g ... % ... %
Protein ... g ... % ... %
Karbohidrat total ... g ... % ... %
Serat pangan ... g ... % ... %
Serat pangan larut ... g
Serat pangan tidak larut ... g
Gula ... g
Garam (natrium) ... mg ... % ... %
Vitamin dan mineral
Vitamin A
... % ... %
Vitamin C
... % ... %
Vitamin lain
... % ... %
Kalium
... % ... %
Kalsium
... % ... %
Zat Besi
... % ... %
Mineral lain
... % ... %
*Persen AKG berdasarkan kebutuhan energi 2510 kkal (ibu hamil) / 2615 kkal (ibu menyusui). Kebutuhan energi anda mungkin lebih tinggi atau lebih rendah.
5. Pangan Olahan yang Wajib Fortifikasi Format ING untuk pangan olahan yang wajib fortifikasi dicantumkan per 100 g atau per 100 ml. Zat Gizi yang wajib dicantumkan hanya zat Gizi yang wajib difortifikasikan. Zat Gizi lain dapat dicantumkan.
Format:
Contoh : untuk produk tepung terigu
6. Pangan yang Kemasannya Berisi 2 atau Lebih Pangan Olahan yang Dikemas Secara Terpisah dan Dimaksudkan Untuk Dikonsumsi Masing-masing (Assorted) Ketentuan penggunaan format ini adalah sebagai berikut :
a. Pangan yang termasuk dalam ketentuan ini termasuk Pangan Olahan yang berbeda rasa, berbeda topping, berbeda komposisi, tetapi masih dalam satu kategori yang sama.
Contoh: wafer dan biskuit, cokelat aneka rasa
b. ING dicantumkan berdasarkan hasil pengujian Pangan Olahan secara komposit.
Format terdiri atas 3 (tiga) bagian, yaitu :
a. Bagian pertama memuat tulisan “INFORMASI NILAI GIZI” serta keterangan tentang Takaran Saji dan jumlah sajian per kemasan.
b. Bagian kedua menyajikan keterangan yang berkenaan dengan kandungan zat Gizi. Ukuran satuan yang dicantumkan untuk masing-masing zat Gizi sebagaimana diuraikan pada bagian sebelumnya.
Bagian ini dibagi atas 3 (tiga) sub bagian dan diawali dengan kalimat “JUMLAH PER SAJIAN”.
Sub bagian pertama memuat informasi yang berkenaan dengan energi.
Sub bagian kedua memuat informasi tentang lemak dan turunannya, protein dan turunannya, karbohidrat dan turunannya, dan garam (natrium).
Sub bagian ketiga memuat keterangan tentang vitamin, mineral, dan komponen lainnya.
c. Bagian ketiga adalah catatan kaki.
INFORMASI NILAI GIZI
JUMLAH PER 100 GRAM
Besi ... mg Seng ... mg Vitamin B1 ... mg Vitamin B2 ... mg Asam folat ... mcg
Format :
INFORMASI NILAI GIZI
Takaran saji ... g (... URT) …. Sajian per Kemasan JUMLAH PER SAJIAN
Energi total … kkal Energi dari lemak ... kkal Energi dari lemak jenuh ... kkal
% AKG* Lemak total ... g ... % Lemak trans ... g
Kolesterol ... mg ... % Lemak tidak jenuh tunggal ... g
Lemak tidak jenuh ganda ... g
Lemak jenuh ... g ... % Protein ... g ... % Karbohidrat total ... g ... % Serat pangan ... g ... % Serat pangan larut ... g
Serat pangan tidak larut ... g
Gula ... g
Gula alkohol
Garam (natrium) ... mg ... % Vitamin dan mineral
Vitamin A
... % Vitamin C
... % Vitamin lain
... % Kalium
... % Kalsium
... % Zat Besi
... % Mineral lain
... % Komponen lain Isoflavon
… mg
*Persen AKG berdasarkan kebutuhan energi 2150 kkal. Kebutuhan energi anda mungkin lebih tinggi atau lebih rendah.
7. Pangan Olahan yang Dianjurkan untuk Dikonsumsi Bersama Pangan yang Lain Ketentuan penggunaan format tersebut adalah sebagai berikut :
a. Pangan utama dan pangan campurannya dikemas dalam satu kemasan yang sama atau dikemas bersama dengan cara direkatkan satu sama lain.
b. ING dicantumkan pada 2 (dua) kolom secara terpisah untuk Pangan utama dan Pangan yang telah dicampur.
Format terdiri atas 3 (tiga) bagian, yaitu :
a. Bagian pertama memuat tulisan “INFORMASI NILAI GIZI” serta keterangan tentang Takaran Saji dan jumlah sajian per kemasan.
b. Bagian kedua menyajikan keterangan yang berkenaan dengan kandungan zat Gizi. Ukuran satuan yang dicantumkan untuk masing-masing zat Gizi sebagaimana diuraikan pada bagian sebelumnya.
Bagian ini dibagi atas 3 (tiga) sub bagian dan diawali dengan kalimat “JUMLAH PER SAJIAN”.
Sub bagian pertama memuat informasi yang berkenaan dengan energi.
Sub bagian kedua memuat informasi tentang lemak dan turunannya, protein dan turunannya, karbohidrat dan turunannya, dan garam (natrium).
Sub bagian ketiga memuat keterangan tentang vitamin, mineral, dan komponen lainnya.
c. Bagian ketiga adalah catatan kaki.
Format :
Contoh : Produk sereal yang dikemas bersama dengan produk susu bubuk. Dalam hal ini, produk sereal sebagai Pangan utama dan susu bubuk sebagai Pangan campurannya. ING yang dicantumkan adalah (i) ING sereal; dan (ii) ING sereal dan susu yang telah dicampur.
INFORMASI NILAI GIZI
Sereal Sereal + Susu Takaran saji ... URT (... g/ml) (... g/ml) … Sajian per kemasan JUMLAH PER SAJIAN
….
….
Energi total … kkal … kkal
% AKG*
% AKG* Lemak total ... g ... % ... g ... % Lemak trans ... g
... g
Lemak jenuh ... g ... % ... g ... % Protein ... g ... % ... g ... % Karbohidrat total ... g ... % ... g ... % Serat pangan ... g ... % ... g ... % Serat pangan larut ... g
... g
Serat pangan tidak larut ... g
... g
Gula ... g
... g
Garam (natrium) ... mg ... % ... mg ... % Vitamin dan mineral
Vitamin A
... %
... % Vitamin C
... %
... % Vitamin lain
... %
... % Kalium
... %
... % Kalsium
... %
... % Zat Besi
... %
... % Mineral lain
... %
... % *Persen AKG berdasarkan kebutuhan energi 2150 kkal. Kebutuhan energi anda mungkin lebih tinggi atau lebih rendah.
8. Pangan Olahan antara (intermediate product) Pangan Olahan antara (intermediate product) merupakan pangan olahan yang untuk dikonsumsi memerlukan pengolahan lebih lanjut dengan penambahan bahan pangan lainnya.
Contoh: tepung terigu, tepung maizena, tepung tapioka, minyak kelapa, minyak zaitun, gula, santan.
Format ING untuk Pangan Olahan antara (intermediate product) dicantumkan sebagai berikut:
Untuk produk padat, ING dicantumkan per 100 g.
Untuk produk cair, ING dicantumkan per 100 ml.
Untuk produk semi padat, ING dapat dicantumkan per 100 g atau per 100 ml.
Format:
INFORMASI NILAI GIZI JUMLAH PER 100 g
Energi total … kkal Lemak total
... g Lemak jenuh
... g Protein
... g Karbohidrat total
... g Gula
... g Garam (natrium)
... mg *Persen AKG berdasarkan kebutuhan energi 2150 kkal.
Kebutuhan energi anda mungkin lebih tinggi atau lebih rendah.
C. BERAT BERSIH Untuk Pangan Olahan dengan berat bersih atau isi bersih kurang dari satu takaran saji, berlaku ketentuan sebagai berikut:
a. Untuk Pangan Olahan dengan berat bersih atau isi bersih paling sedikit setengah (satu per dua) dari ukuran satu Takaran Saji, harus mencantumkan ING per saji dan per kemasan.
b. Pangan Olahan dengan nama jenis, nama dagang, dan produsen yang sama hanya boleh memiliki 1 (satu) ukuran kemasan Pangan Olahan dengan berat bersih atau isi bersih kurang dari satu Takaran Saji (≥ 0,5 - < 1).
Format terdiri atas 4 (empat) bagian, yaitu :
a. Bagian pertama memuat tulisan “INFORMASI NILAI GIZI”
b.